
Alexi Carter tersenyum menatap selembar kertas yang di berikan asistennya.
Senyumnya terus mengembang bak dompet awal bulan.
Pasalnya ia baru saja menerima kepastian tentang Alexa dan Alexi, walau ia yakin keduanya keturunan keluarga Carter, namun tetap saja bukti otentik ini membuatnya makin bahagia.
"Selamat bos, akhirnya anda memiliki keluarga anda lagi" ucap si asisten ikut bahagia
",Jangan ucapkan selamat sekarang, keluargaku terancam hancur di akibatkan musuh bebuyutan ku.
Kau baru bisa mengucapkan selamat saat kakek tua sialan itu menderita.
buat dia mati tak bisa hidup pun tersiksa bagai di neraka dunia"
"Tentu saja bos, kita sudah memiliki bukti kejahatan lain dari pria itu dan juga kejahatan yang ia lakukan dulu pada anda, semuanya sudah saya persiapkan dengan wanita menjengkelkan itu"
"Hahaha, Meisya????
Dia gadis baik, kau jangan membencinya atau kau akan jatuh cinta" goda Alexi Carter pada anak buahnya
"Tidak akan pernah, anda terlalu berfikir jauh" sangkal asisten tersebut tegas
"Dengar Carl, kau sudah ku anggap anakku sendiri.
jika bisa kau akan ku jodohkan pada putriku.
tapi sayangnya menurut informasi ayah biologis si kembar juga korban keserakahan Chandra wong, kakeknya sendiri.
walau aku tak menyukai pria itu karena memiliki darah wong dalam dirinya, namun tak bisa ku pungkiri jika dia menantuku, ah menyebalkan sekali mengetahui aku punya menantu bodoh seperti dia" gerutu Alexi Carter melihat profil Charlie Wong
"Sepertinya dia ingin kembali pada nona muda"
"Kita lihat apa yang bisa ia lakukan.
lagi pula aku tak punya hak melarang atau menyetujui.
aku hanya ayah biologis Camilla, namun bukan ayah yang baik karena membiarkan istri dan anakku sebatang kara, membiarkan Hanna membesarkan putri kami seorang diri, aku sungguh tak berguna" desah Alexi Carter penuh penyesalan.
"Tuan ini bukan salah anda, keadaan yang membuat semuanya seperti ini"
"Ya, tapi tetap saja aku merasa bodoh dan tak berdaya" keluh Alexi Carter
"Anda bisa merubahnya.
saat ini keluarga anda butuh anda tuan.
apa yang menjadi masa lalu tak akan bisa di ubah karena sudah tergores kan.
namun apa yang menjadi masa depan masih bisa kita ubah. Kita punya hak untuk menggoreskan cerita kita sendiri" ucap Carl
__ADS_1
"Ya Tuhan, sejak kapan kau dewasa nak
aku sampai lupa kapan terakhir kali kita berbincang.
maafkan aku tidak bisa menjadi ayah angkat yang baik untukmu Carl"
"Bagi saya anda yang terbaik Tuan Carter" ucap Carl lembut
"Jangan panggil aku Tuan, toh kita tidak berada di negara itu.
Panggil saja aku ayah, itu membuatku nyaman" ucap Alexi Carter tersenyum
"Ay... ayah"
"Ya begitu lebih baik.
mulai sekarang panggil aku ayah" ucap Alexi Carter bangkit dan memeluk Carl, pemuda yatim piatu yang ia pungut di jalan.
Carl didik dan di sekolahkan oleh Alexi Carter.
Carl juga menguasai semua bela diri dan menjadi sosok tangguh yang membanggakan bagi Alexi Carter.
Keesokan Harinya
Alexi Carter dan Carl ingin menuju ke rumah sakit dimana Hanna Li di rawat.
ia ingin mengunjungi wanita yang amat ia cintai itu baru memulai semuanya, pembalasan pada Chandra wong dan antek-anteknya
Alexa sangat antusias begitu tahu kakeknya adalah orang yang sangat penting dan berkuasa.
satu kekuatan kini bertambah di kubu nya.
Mobil yang mereka naikin berhenti di sebuah rumah sakit, Alexi langsung menuju ruangan dimana Hanna di rawat.
Tanpa ia ketahui Camilla dan si kembar juga berada disana.
Alexa dan Alexi belum memberitahu mamanya prihal kakek mereka.
mungkin ini kesempatan bagus sekaligus waktunya mereka bertemu.
Pintu ruangan terbuka dan Alexi Carter masuk, ia sempat terkejut melihat ada kedua cucunya dan juga seorang wanita yang sangat cantik, seperti Hanna saat muda, hanya saja wanita ini lebih cantik dengan mata birunya yang seperti laut.
"Maaf anda cari siapa???" tanya Camilla yang terkejut dengan kedatangan dua pria asing
"Hanna Li" ucap Alexi Carter tenang.
ia melirik ke arah kedua cucunya yang pura-pura tak melihat
"Dasar setan kecil, kalian mengerjai kakek kalian ya???" gumam Alexi Carter dalam hati
__ADS_1
"Siapa anda ingin bertemu mama saya?" tanya Camilla sudah dalam posisi siaga.
ia langsung menarik kedua anaknya mendekat.
Camilla dalam posisi melindungi
"Tenang saja nak, aku ingin melihat mamamu setelah itu kita perlu berbicara" ucap Alexi Carter merasa masam di hatinya.
mungkin pengalaman buruk pernah menimpa anaknya sehingga kini anaknya langsung memiliki kewaspadaan tinggi saat ada orang asing mendekat.
tanpa sadar tangan Alexi Carter mengepal keras menahan perasaan yang bergejolak di hatinya
"Sialan kau Chandra, kau buat putriku ketakutan seperti ini" gumam Alexi Carter emosi
"Saya tak mengenal anda tuan, dan seingat saya mama juga tak memiliki kerabat atau siapapun.
jadi tolong tinggalkan ruangan ini" ucap Camilla memohon dengan suara bergetar.
ia memasukkan tangannya dan menekan panggilan ke Ryan.
Ryan masuk dan melihat Alexi Carter
pria itu hanya mengangguk sopan dan menghampiri Camilla.
Camilla melihat interaksi itu dengan heran.
pasalnya Ryan tak pernah begitu sopan pada siapapun, tak terkecuali pada Reymond, ia bersikap sopan dalam arti hormat.
"Ryan apa kau mengenal pria itu???" tanya Camilla setengah berbisik.
Ryan bingung menjawab apa, ia melirik kearah Alexa dan Alexi meminta bantuan
"Mama akan tahu nanti, yang jelas kakek tua itu bukan orang jahat" ucap Alexi menenangkan mamanya
"Apa kalian mengenalnya,???? apa disini aku saja yang tahu siapa pria itu??" tanya Camilla tak suka
"Ayo ma, kita keluar.
Beri kesempatan pria itu bertemu nenek" ucap Alexa menggandeng tangan mamanya keluar dari ruangan tersebut.
Camilla ingin menolak, namun Alexi membantu Alexa mendorong mama mereka meninggalkan ruang perawatan itu
"Sayang, bagaimana jika pria itu berbuat sesuatu pada nenekmu???"
"Itu tidak akan" ucap Alexa penuh keyakinan.
Baru lima menit mereka duduk di luar ruang perawatan, terdengar suara tangis berasal dari dalam membuat Camilla bangkit
"Lihat, kalian anak nakal.
__ADS_1
dengar nenek kalian menangis"