
"Kau kaget kan???
hahaha dasar lacur
anak seorang lacur maka akan tetap menjadi lacur mengikuti orang tuamu.
kau seperti mengulang kisah kelam orangtuamu!!!!!!!
"Angkaaaat tangaaan!!!!" teriakan seorang pria galak membuat anak buah Mahardika kaget bukan kepalang.
senyum mengejek yang tadi terpasang berganti dengan senyum kecut dengan wajah pucat pasi.
anak buah Mahardika saling memandang satu sama lain. Mereka pasukan zombie, julukan untuk anggota kepercayaan Mahardika.
mereka rela berkorban nyawa demi majikannya.
Sena melihat gelagat kepala pimpinan nya akan bunuh diri segera mengeluarkan sisa tenaga yang tersisa untuk menghalangi pria itu bunuh diri
dua benang tertancap di mulut pria itu, ia tak bisa menutup mulutnya untuk bunuh diri
"Nenek tua sialan, dia menotok aliran darahku.
benang ini beracun" ucap pria itu melotot dengan penuh kemarahan ke arah Sena yang sedang pucat.
ya Sena sedang merasakan seluruh tubuhnya sakit.
Bahkan ia sampai muntah darah beberapa kali.
Jika bukan karena obat yang ia minum sebelumnya.
mungkin rasa sakitnya akan lebih hebat dari yang ia rasakan kini.
Arergghhh
BRUGHHH
BRUGGGHHH
BRUUUGHHHH
BRUGHHHHHHHH
empat mayat bergeletakan hampir secara bersamaan.
pihak berwajib kebingungan. mereka tak tahu apa yang tak terjadi, tiba-tiba satu persatu menjerit dan tumbang tak berkutik lagi.
"Lapor Ndan Mereka ma..mati" ucap salah seorang polisi pada pimpinannya
"Sial, mereka bunuh diri.
Tahan pria itu kita perlu dia hidup-hidup" ucap komandan polisi pada anak buahnya.
Beberapa orang langsung bergerak mendekati anggota pemimpin penyusup itu, mereka lebih terkejut, pria itu sedang mengerang kesakitan dengan wajah robek. mulutnya terlihat menganga karena di paksa tertarik ke atas
"Cabut, cabut gigi geraham kedua setelah taring.
mereka menanam racun di sana yang mereka gunakan untuk bunuh diri" ucap Sena lirih.
ia harus mengeluarkan sisa tenaga terakhirnya, memastikan Mahardika ikut terseret dalam kasusnya.
sehingga jika ia mati, maka kematiannya tidak sia-sia.
jikalau itu gagal.
maka Sena sendiri yang akan menjadi malaikat maut untuk bajingan tua itu.
bukti semua kejahatan Mahardika serta bisnis gelap dan harga gelapnya ada di dalam brankas
__ADS_1
"Sembilan satu sembilan satu tujuh kosong ti....ga....." ucap Sena berbisik pada salah seorang polisi yang mendekatinya.
ia lalu pingsan tak sadarkan diri
Sena merasa dagingnya terkoyak.
nafasnya sesak karena dadanya sangat sakit bak ditusuk seribu jarum.
kepalanya pun begitu.
obat yang di berikan oleh anak buah Mahardika sudah bekerja di tubuhnya. Kini yang Sena mau hanya mati!!!!!
ya mati , karena ini sangat menyakitkan
"Ndan, target pingsan" teriak polisi itu pada komandannya
Komandan polisi itu membuka maskernya, ternyata ia masih muda.
dengan tenang ia memeriksa Sena, alisnya berkerut
"Dia di racun, siapapun pelakunya sepertinya ingin wanita tua ini mati" ucap sang komandan lirih
"Apa yang harus kita lakukan Ndan???" tanya anak buahnya dengan wajah panik.
Sang komandan meminta anak buahnya mendudukkan Sena.
dengan gerakan lihai komandan itu menotok beberapa syaraf di tubuh Sena.
Ia juga mengeluarkan sebuah pil
" apa itu Ndan????"
"Ini adalah obat detoksifikasi racun, hanya saja obat ini sepertinya kurang kuat.
dan juga wanita tua ini sepertinya sudah tahu akan di racun, dia sudah meminum obat anti racun.
tapi sekali lagi racun ini begitu kuat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ndan????"
"Karena orang itu ingin sekali wanita tua ini mati, pasti dia target tersembunyi kita, bisa jadi tokoh utama di balik kasus wanita tua ini.
Apa ambulance sudah datang???, bawa segera ke rumah sakit, dia harus tetap hidup untuk menjalani hukumannya" ucap pria itu
" Siap Ndan" ucap pria itu lalu memanggil rekannya
"Owh ya Ndan, ini angka yang wanita itu sebutkan sebelum pingsan.
sepertinya rangkaian password atau sejenisnya.
ia menunjuk ke arah lukisan.
aku pikir disana ada sesuatu"
"Kerja bagus, terima kasih" ucap sang komandan mengapresiasi kerja anak buahnya
"Siap Ndan Sudah kewajiban saya, permisi" ucap pria itu lalu segera membawa Sena ke ambulance untuk di bawa ke rumah sakit.
Sementara komandan polisi itu langsung memeriksa sebuah lukisan sesuai petunjuk anak buahnya.
namun di belakang lukisan itu tidak ada brangkas atau tombol apapun.
sang komandan berfikir keras.
ia memandang lukisan itu, sebuah lukisan wanita yang...
tunggu, wanita itu memandang ke arah....
__ADS_1
sang komandan meletakkan kembali lukisan itu ke tempatnya dan mengikuti arah kemana lukisan itu memandang sebuah patung , sang komandan mencoba memeriksa patung itu, saat tanpa sengaja ia menekan bagian dada patuh itu, tembok di belakang yang terbuat dari kayu terbuka dan terlihatlah sebuah brankas.
"Bos kamu menemukan brangkas itu" ucap anak buah nya
"Komandan itu membuka brangkas tersebut dengan kode yang di berikan
klik klik klik
terbuka....
didalam brangkas tersebut terdapat permata , dan juga beberapa surat-surat penting dan buka
semua barang di sita dan di bawa ke markas.
berdasarkan bukti tersebut, polisi menemukan beberapa penjahat negara, surat penangkapan segera keluar.
termasuk penyitaan aset besar-besaran.
seperti prediksi Alexa, semua aset keluarga wong dan ye di sita, beruntung beberapa sudah diamankan oleh Alexi dan Alexa sehingga sisa keluarga Ye dan wong masih bisa hidup nyaman.
Satu persatu orang-orang yang terlibat di tangkap, termasuk Mahardika.
pria tua itu seharusnya akan maju sebagai orang berkuasa nomor dua di negara ini sayangnya ia terbukti melakukan banyak kejahatan.
Beberapa bukti misterius datang ke markas kepolisian membuat Mahardika dinyatakan bersalah tanpa.bis ajukan banding dan juga tidak bisa di dampingi pengacara, semua yang di katakan ya akan di jadikan bukti melawannya di pengadilan.
Mahardika meraung marah, karirnya hancur, keluarga nya hancur dan yang jelas hukuman mati tepat di depan matanya.
Sementara di sebuah rumah sakit
"Bagaimana perkembangannya???"
"Semua barang bukti sudah di kirim dan mereka langsung bertindak
tuan Mahardika sudah di dalam penjara bersiap menerima vonis hukum"
" Bagaimana wanita tua itu" tanya Alexa menatap layar ponselnya
"Dia???dia tak akan mati sekalipun dia ingin mati.apa kau puas bos???"
"Itu lebih baik, biar dia merasakan bagaimana sakitnya orang-orang yang pernah dia sakiti dulu, biar dia terus menghitung kesalahan demi kesalahannya.
Biarkan dia menyesali perbuatannya ah itu jika dia menyesal sih" ucap Alexa santai.
"Om Simon apa kau keberatan??" tanya Alexa pada Simon yang berada di sebelahnya
"Tidak, terima kasih sudah menolong dia" ucap Simon tanpa menyebut nama Sena atau memanggil Sena mama.
"Bagaimanapun jahatnya dia nenek buyutku, ah mengapa kamu tidak mau ku panggil kakek sih???" protes Alexa yang di balas tatapan malas Simon
"Dengar anak kecil, aku belum tua ok???
usiaku masih dua puluh tujuh tahun
aku belum menikah, bagaimana kau bisa memanggilku kakek??? kau mematikan pasaran ku saja" gerutu Simon yang di balas tawa Alexi
"Om,. tetap saja seharusnya kami panggil kau kakek Simon karena kau adik nya nenek Sherly"
"Tidak mau, awas saja kau bocah kecil memanggilku kakek, ku kelitiki kalian sampai menangis" ancam Simon serius
"Kakek" ucap Alexi yang lngsung membuat Simon menggelitik nya
"Hahah kakek Simon udah tua, mana nenek Kezia??" ledek Alexa juga.
mereka bertiga terlibat kejar-kejaran.
semua orang hanya menggeleng sekaligus senang.
__ADS_1
akhirnya semua masalah rumit selesai juga.
Charlie tersenyum senang, ia bangga Simon tidak terpengaruh dengan semuanya, walau ia tahu Simon masih terluka dengan kenyataan yang di hadapinya, tapi Charlie percaya, waktu akan menyembuhkan luka Simon.