
Camilla langsung menerobos masuk ke dalam ruang perawatan setelah di tahan sepuluh menit oleh kedua anaknya.
bahkan Ryan ikut-ikutan menahan bersama Meisya, Camilla tak habis pikir bagaimana mereka lebih membela pria asing itu dibanding dirinya yang. khawatir dengan keadaan Hanna, mamanya
"Mama.....
ma......" Camilla yang menerobos masuk langsung terhenti langkahnya dengan mimik wajah bingung.
pasalnya mamanya yang baru saja siuman seminggu lalu kini memeluk pria itu sambil menangis
Camilla bisa melihat tatapan mamanya, sebagai wanita ia paham makna dari tatapan itu,
tatapan kerinduan dan kesepian
Alexi Carter dan Hanna Li menoleh karena mendengar teriakan Camilla.
mereka lalu melepaskan pelukan mereka dan menjauh
"Sa... sayang??"
"Ma,
Si...siapa pria itu, mengapa mama memeluknya???" tanya Camilla terdengar tak suka
"Sayang, mama bisa jelaskan, mendekat lah" ucap Hanna lirih, ia menoleh kearah Alexi Carter dan tersenyum
kedua tangan mereka bertautan layaknya anak muda yang sedang kasmaran.
Camilla mencoba membaca situasi.
sejak ia kecil mamanya selalu menghindar setiap kali ada pria mendekatinya, bahkan Camilla Samapi berfikir jika mamanya wanita tegar dan setia, tapi kini.....
"Sayang mendekat lah" ulang Hanna meminta putri semata wayangnya mendekat.
perlahan walau ragu Camilla berjalan mendekat.
"Mama tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana papamu, dan hari ini mama akan katakan.
Beliau papa kandungmu sayang" ucap Hanna Li menatap Alexi Carter penuh cinta.
Camilla mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya tak percaya.
Lidahnya kelu, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ma, minum dulu, ayo kita duduk" ucap Alexa memberi kode pada Meisya untuk memeriksa kondisi Camilla.
mamanya itu terlihat sangat shock sampai hanya menganga dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
Begitu banyak yang ia ingin sampaikan dulu saat memikirkan jika bertemu dengan Alexi Carter.
Ya Alexi Carter, papa kandung yang sudah meninggalkan mereka sehingga Camilla dan mamanya hidup kesusahan dan penuh caci maki.
Camilla ingin mencekik, memakai, menendang, tapi ia tak mampu
kenyataan ini seakan membuat jiwanya tergoncang
"Kakek duduklah, mama ku seperti nya sangat shock" ucap Alexa khawatir
"Pergi....." ucap Camilla dengan suara bergetar
"Sayang......" Hanna Li menitikkan air mata, ia tahu betapa menderitanya Camilla baik saat ia masih kecil maupun saat ia sudah menginjak dewasa.
Gadis kecilnya yang malang harus menerima caci, maki teman, ornagtua bahkan tetangga karena ia lahir tanpa ayah.
Camilla berusaha tegar walau di hatinya ia sangat sakit dan marah
"Pergiiiiii....." ucap Camilla lagi
"Camilla sayang..."
"Ma, please jangan bela dia.
dia tak pantas untuk kita
__ADS_1
lihat saja pakaian yang ia kenakan sangat mahal, lihat penampilannya, dia hidup serba berkecukupan.
sementara kita????
Apa dia pernah ingat punya anak dan istri!??
dia mencampakkan kita ma.
buat apa dia datang sekarang????
Aku tak butuh pria itu, bagiku papaku sudah mati sejak aku dilahirkan" ucap Camilla penuh kebencian
Sementara Hanna hanya menangis, ia menangis sedih melihat putrinya yang begitu membenci papanya.
ia menyesal tak mengatakan sesungguhnya pada Camilla dan hanya memikirkan luka hatinya sejak kepergian Alexi.
"Hanna sayang, tenangkan dirimu.
wajar putri kita membenciku"
"Aku bukan putrimu tuan.
papaku sudah mati sejak lama" teriak Camilla menyeka air matanya.
"Camilla........" Hanna merasa kepalanya pusing dan ja jatuh pingsan
"Mama..."
"Hanna......." teriak Camilla dan Alexi Carter begitu melihat Hanna pingsan
"Minggir....
jangan pernah sentuh mamaku dengan tangan kotor mu"teriak Camilla mendorong Lexi Carter hingga menabrak kursi di belakangnya, beruntung Ryan dengan gesit menopang tubuh pria paruh baya itu
"Mama,.... jangan emosi, kita bicarakan lgi setelah nenek sadar"
"Kalian berdua....
mama kecewa" ucap Camilla
Setelah siuman Hanna Li mencari keberadaan Alexi Carter, kekasihnya
"Mama, aku disini ma"
"Sayang, dengarkan mama sekali ini saja please.
Papamu dalam hal ini tak bersalah nak.
papamu justru sama seperti kita korban kebiadaban Chandra wong"
"Maksud mama????
mama jangan membela pria itu ma.
toh Tampa dia kita bisa hidup sampai saat ini"
"Tidak sayang, mama tak membelanya, dia juga tahu salah, tapi bukan murni kesalahannya.
Semua berawal dari....." Hanna mulai menceritakan kronologis semuanya,
Camilla mendengarkan dalam diam.
Ia juga sangat merindukan sosok papa yang selama ini ia impikan.
tapi semua seperti mimpi saat ini.
Camilla merenungi semua perkataan mamanya
Sejak meninggalkan rumah sakit, Camilla tak banyak bicara, ia hanya diam.
Sampai dua hari Camilla memilih mengurung diri di kamarnya.
Alexa sampai khawatir dan menghampiri mamanya yang terlihat sedang terpaku diam menatap taman belakang rumah mereka
__ADS_1
"Ma....
Apa mama sibuk??" tanya Alexa lirih
"Sayang, sini dekat mama" ucap Camilla memeluk Alexa
"Mama lagi mikirin kakek ya???
Aku gak tahu apa pun, tapi yang ku tahu kakek tulus meminta maaf ma.
ya walau aku gak ngerti bagaimana orang dewasa berfikir.
tapi mendengar cerita nenek rasanya gak adil kita menyalahkan semuanya pada kakek"
Camilla terkejut dengan perkataan putrinya.
bagaimanapun Alexa masih berusia belum genap tujuh tahun, tapi dia bisa berpikiran terbuka dan dewasa, sementara dia.....
"Apa menurutmu kakek harus mama maafkan???" tanya Camilla
"Setiap orang berhak mendoakan kesempatan kedua.
jika mama berat untuk memaafkan, setidaknya beri kakek kesempatan untuk menunjukkan niatnya.
jikalau kakek hanya berbohong saat itu juga mamam bisa menendang kakek dari kehidupan kita" ucap Alexa membuat Camilla melongo bengong.
Putrinya ini...
"Sayang, apa kau gadis imut mama???
Apa ada yang mengajari mu????" tanya Camilla
"Ma....
Aku sudah mau tujuh tahun,aku sudah besar" ucap Alexa cemberut membuat Camilla gemas dan mencium pipi gembil Alexa bertubi-tubi
"Mama....
ilernya menempel di wajahku" teriak Alexa berontak, namun bukanya berhenti, Camilla makin senang menciumi pipi Alexa
Sementra di depan pintu Alexi junior dan senior tersenyum.
Alexa memang bisa diandalkan.
Alexi mencibir dalam hati jika adiknya itu licik sekali, sementara Alexi senior memuji cucunya sangat pandai.Dua pemikiran yang berbeda.
Alexa keluar dengan senyum kemenangan.
ia menghampiri kakek dan kakak ya
"Bagaimana???"
"Kau luar biasa gadis manis" ucap Alexi Carter
"Kakek aku bukan kucing, tidak usah pake manis segala.
dia kucing tetangga sebelah" ucap Alexa protes membuat Alexi Carter tertawa terbahak-bahak
Bahagia hati Alexi Carter memiliki cucu seperti Alexa
Sungguh ia sangat beruntung, jika tuhan mencabut nyawanya saat ini ia ikhlas,
"Huh biasa saja" Dengus Alexi
"Kak, kau bilang saja iri dengan kepiawaian ku????"
"Benar, kakakmu iri sayang" ucap Alexi Carter membela cucu perempuannya
"Kakek kau yang terbaik, aku mulai suka kau" ucap Alexa menjilat dan memeluk Alexi Carter
"Dasar bocil" ucap Alexi
"Jadi, rencana kita bagaimana??? tanya Alexi mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Besok akan ada kejutan manis untuk keluarga Wong, kita nantikan.
sesuatu yang menarik jangan sampai kau lewatkan" ucap Alexa tersenyum licik