
Suara tabrakan keras terdengar di sisi kanan kedai hingga sebuah mobil melaju ke dalam kedai masih dengan kecepatan sedang, bisa di bayangkan betapa kencangnya mobil itu hingga sudah menabrak sisi kanan kedai tersebut sana lajunya masih kencang.
untuk sepersekian detik Meisya sangat terkejut, namun gerakan refleknya mendorong Charlie karena mobil tersebut mengarah ke arahnya. beberapa detik berikutnya ia langsung menerjang reruntuhan, ia teringat Alexa yang baru saja keluar kedai ice cream.
"Alexaaaaaaa,
Alexaaaaaaaa" teriak Meisya khawatir.
ia mengobrak-abrik reruntuhan dengan cemas.
mendengar teriakan Meisya, Charlie juga langsung teringat putrinya,
Charlie juga melakukan yang sama.
ia mengangkat dan mengais reruntuhan kedai ice cream tersebut
"Alexaaa, Alexa...
Sayang" panggil Charlie frustasi.
ia sangat ketakutan sesuatu terjadi pada putrinya.
jika terjadi sesuatu pada Alexa, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Chris yang langsung sadar dengan apa yang terjadi melakukan hal yang sama, ketiganya tak perduli berat atau terluka tangan mereka.
"Charlie, dia disini, tolong" teriak Chris yang melihat kaki seorang anak kecil .
sebuah tembok besar runtuh dan mengenai kaki Alexa.
beruntung ia berlindung di sebuah troli belanja sehingga tubuh dan kepala aman hanya luka ringan
Charlie dan Chris langsung mengangkat bongkahan reruntuhan tersebut dan langsung mengangkat tubuh lemah Alexa, melarikannya menuju mobilnya
"Tuan Charlie biar saya...." ucap Mesiya mengikuti Charlie
"Saya papanya, urus orang sialan itu yang membuat putriku cidera" ucap Charlie langsung meninggalkan pelataran parkir menuju rumah sakit di ikuti oleh Chris yang langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Samar-samar Alexa melihat Charlie.
di tengah sakitnya bibirnya tersenyum.
ia merindukan pelukan seorang papa.
Ia kini merasakan betapa hangatnya pelukan papanya
"Papa...." ucap Alexa lirih
"Tenang papa disini, kau aman sekarang.
sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit," ucap Charlie berusaha menghibur, walau dalam hati Charlie sangat cemas. gadis kecil itu terlihat tak berdaya, baru beberapa waktu lalu putrinya itu bersikap dewasa.
Alexa tetaplah seorang gadis kecil yang belum genap tujuh tahun.
Alexa mengangguk lemah dan langsung pingsan tak sadarkan diri
"Alexa, Alexa sayang bangun nak" ucap Charlie dengan mata berkaca-kaca.
ia tak pernah merasa sangat ketakutan seperti ini
__ADS_1
"Crish sialan, cepat kebut
putriku tak sadarkan diri"
"Ini sudah maksimal, jika aku memaksakan diri yang ada kita bertiga yang akan masuk rumah sakit.
bersabarlah, kita sudah dekat" ucap. Chris mencoba tenang walau ia sebenarnya juga panik.
Sesampainya di lobby rumah sakit, Charlie langsung berteriak minta tolong.
beberapa perawat datang dan langsung mendorong Alexa ke ruang tindakan
kini Charlie terduduk lemas dengan pikiran kalut
"Chris, bunuh orang yang sudah membuat putriku cidera seperti ini" ucap Charlie dengan wajah memerah karena marah
"Orang kita dan gadis itu sudah mengurusnya" ucap Chris yang sudah mendapatkan laporan terkait pelaku penabrakan.
"Chris, apakah putriku akan baik-baik saja???" tanya Charlie dengan suara bergetar, takut, marah, kesal jadi satu
"Dia anak yang kuat.
dia akan baik-baik saja.
orang kita mengklarifikasi jika ini seperti..."
"Sabotase???" tebak Charlie
"tepat, dan targetnya bisa saja kau atau memang nona muda"ucap Chris
"Sial, cari tahu dalangnya dan balas mereka berkali-kali lipat" ucap Charlie mengepalkan tangannya.
"Lalu supir truk itu???" tanya Charlie
"Dia dalam pengaruh obat, dia mengatakan jika ada yang memberhentikannya dua block dari tempat kejadian.
seorang wanita." terang Chris
"sisir lokasi radius dua puluh kilo
kita akan lihat si supir murni karena di sabotase atau memang dia pelakunya dan sengaja menyuntikkan zat narkoba"ucap Charlie tak mau menyimpulkan berdasarkan perkataan si pelaku.
ia mengenal sebuah organisasi yang rela mati demi misinya sukses.
Organisasi itu milik neneknya, ya milik keluarga Ye, keluarga mafia yang berkedok pedagang
"Baik, kalau begitu gue permisi" ucap Chris lalu pamit.
Charlie hanya mengangguk, pandangannya menatap kedepan, dimana Alexa menjalani operasi pada kakinya
"Sial, sial, gue akan buat hidup orang yang mencelakai anak gue kaya di neraka" gumam Charlie lirih sambil mengepalkan tangannya
Satu jam kemudian
Mesiya datang dengan tergesa-gesa, wanita itu terlihat berantakan.
kemeja yang ada bercak darah dan tangannya terluka akibat mengais puing-puing reruntuhan toko yang terdapat kaca. atau mungkin darah dari pelaku.
Charlie melihat wanita itu sangat tangguh, yang pastinya gerakan reflek waktu mendorongnya di alam kedai tadi adalah gerakan seseorang yang menguasai bela diri
__ADS_1
"Bagaimana Alexa??? tanya Mesya to the point makasih dengan nafas tersengal
"Bersihkan dirimu dan obati lukamu.
Alexa sudah di tangani. dia sudah selesai menjalani operasi.
kini dia baik-baik saja" ucap Charlie melihat Meisya tak bergeming dari tempatnya.
Charlie tahu bahwa Meisya sangat menyayangi Alexa.
wanita itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan Alexa.
"Bersihkan dirimu atau putriku akan ketakutan melihat kau kacau seperti itu.
dia tadi menanyakan mu, jadi ...."
Mesiya tak mengatakan apapun, ia berjalan menuju toilet membersihkan darah di tangan serta sikunya.
Charlie menggeleng pelan, sedikit heran tak takjub putrinya bisa merekrut orang seperti Meisya.
Beberapa anak buah Alexa datang juga.
mereka langsung mengamankan rumah sakit itu, secara pribadi Charlie meminta mensterilkan beberapa kamar yang berada dalam radius seratus meter dari kamar Alexa di rawat, semua memungkinkan karena Charlie adalah salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit itu.
ia bisa saja meminta satu lantai di sterilkan dari semua orang, tapi Chris melarangnya,
1 bukan karena tak perduli tapi banyak orang yang butuh perawatan di rumah sakit juga, mereka harus bijak sekalipun pemilik rumah sakit ini.
Satu jam kemudian Alexa sudah siuman, atas permintaan Meisya, Charlie harus pergi karena Alexi dan Alexi Carter akan tiba.
untuk saat ini lebih baik menyembunyikan kerjasama yang terjalin dengan Charlie, itu lebih baik untuk semua.
jika saja mereka tahu Alexa kecelakaan akibat bertemu dengan Charlie akan runyam jadinya.
namun mata tajam Alexi Carter yang berpengalaman tak bisa di bohongi.
ia mengutus anak buahnya mengumpulkan informasi di lapangan, bagaimana cucunya bisa kecelakaan.
dan dengan cepat berita itu sampai di telinganya.
berbeda dengan cucunya, Alexi Carter mengerti mengapa Charlie tidak di libatkan, dia juga tak mau menyalahkan Charlie.
yang Alexi mau adalah mencari dan memberi pelajaran pada siapapun yang berani mengusik orang-orang tersayangnya.
"Kakek, kakak, kalian datang" ucap Alexa cengengesan
"Dasar kau gadis kecil nakal.
kau membuat jantung kakek hampir copot" gerutu Alexi Carter mengelus puncak kepala cucunya
ia menduga gadis kecil itu akan merengek layaknya anak kecil yang sakit, tapi yang di lihat???
Alexa tetap Alexa, hanya bedanya ia tiduran dengan kaki di balut kasa dan kening juga
"Huh dasar kakek tua, kasih perekat yang banyak agar jantung kakek kuat" ucap Alexa asal ngomong, Alexi Carter terkekeh.
cucunya bisa membuat selorohan artinya lukanya tak terlalu serius.
"Kau sakit tapi mulutmu sehat, artinya kau baik-baik aja" cibir Alexi
__ADS_1
"Alexa..... huhuhu" Alexa dan Alexi Carter menoleh mendengar seseorang yang datang sambil menangis