Papa Ku CEO Yang Payah

Papa Ku CEO Yang Payah
Tak Tahan Lagi


__ADS_3

Seminggu sudah Sena wong tak sadarkan diri, ia masih berada di rumah sakit dengan pengamanan ketat.


Pihak berwajib khawatir Sena akan menjadi target pembunuhan mengingat bukti yang mereka kumpulkan dari brankas Di ruang rahasia tepatnya di


mension utama keluarga Wong di mana Sena wong tinggal.


beberapa orang sudah berhasil di lingkup dan kini sedang dalam proses pengadilan beberapa lagi masih berkeliaran di luar dan sedang dalam pengejaran polisi


kegemparan terjadi di tanah air akibat buku rahasia yang mencatat semua dosa para petinggi tanah air.


Alexa dan Alexi bekerja sama dengan pihak terkait untuk melacak keberadaan para penjahat negara yang melarikan diri atau bersembunyi.


mereka juga membantu aparat penggali bukti-bukti lain yang bisa digunakan untuk memberatkan para penjahat itu.


Alexa mengirim Meisya untuk menjaga Senna Wong di rumah sakit sebab Candra sudah kembali ke dalam sel tahanan dan kondisinya sudah membaik.


Sandra tersenyum miris mendengar kabar tentang Sena Wong.


bagaimanapun Sena wong sudah menjadi istrinya selama puluhan tahun walau ia lebih mirip sebagai suami di atas kertas


Candra tahu Bagaimana reaksi racun yang diberikan oleh Mahardika pada setiap korbannya.


namun racun yang diberikan pada Xena wong berbeda.


itu racun yang sangat ganas dan menggerogoti sedikit demi sedikit korbannya namun rasa sakitnya lebih dahsyat karena seperti ada serangga yang menggigiti setiap tubuhnya.


Simon mengunjungi Chandra untuk memberitahu tentang rencananya menikah.


iya juga meminta restu kepada Candra wong membuat Chandra merasa malu sekaligus senang karena Simon masih menganggapnya papa.


Simon setengah aja tak memberi tahu perihal kebenaran bahwa dia adalah putra Abigail.


si man tak mau Chandra merasa tertekan dan depresi yang berakibat buruk untuk Candra Wong.


Simon hanya ingin Chandra menjalani hukumannya dengan tenang dan bertaubat.


setelah mengunjungi Chandra Simon dan Charlie mengunjungi Sherly. untuk pertama kalinya Simon bertemu dengan kakak tirinya yang berasal dari Papa yang berbeda. baik Sherly maupun Simon bukan anak Chandra Wong.


Sherly terlihat lebih segar dan bersemangat.


iya sangat senang dengan kunjungan putra dan juga adik tirinya.


sementara di tempat berbeda


Meisya kembali mendetoks racun yang terdapat pada tubuh Sena wong.


Meisya melihat reaksi pada tubuh Sena wong.


wanita tua itu terlihat menggerakkan jarinya.


walau sudah mengeluarkan sebagian racunnya tubuh Sena tidak dikatakan baik-baik saja.


beberapa pembuluh darahnya pecah dan dari luka itu timbul nanah besar yang akhirnya pecah dan menimbulkan bau anyir yang amat sangat tajam.


bisa dipastikan jika pun Sena selamat dan sadar ia dalam kondisi cacat.


bahkan juga mungkin wanita itu akan bisu selamanya.


sebab racun itu sudah membuat tubuh Senna wong lumpuh begitu juga lidah wanita itu kaku seperti orang yang stroke.


Jika saja Sena wong tidak sejahat itu mungkin Meisya akan berusaha mencari cara untuk menyembuhkan wanita tua bangka itu.

__ADS_1


namun mengingat dosa-dosanya Meisya seakan enggan ia bukan membenci Sena wong tapi ia membenci kelakuan wanita tua itu.


"Ehhhhhhh"karangan kecil lolos dari mulut Sena.


"panggil dokter"ucap Meisya memerintahkan anak buahnya.


tak lama dokter datang dan langsung memeriksa kondisi kesehatan Sena.


mereka takjub Dengan cara bagaimana Meisya mengobati wanita tua itu.


sebab dengan cara medis seharusnya Sena sudah mati sejak seminggu yang lalu.


namun Nesya mempunyai caranya sendiri yang terlihat sedikit ekstrem yaitu menyayat beberapa bagian tubuh untuk mengeluarkan racun yang terdapat pada tubuhnya.


"Bagaimana kondisinya??? tanya Meisya to the point.


walaupun ia tahu Meisya tak mau melangkahi wewenang dokter yang menangani Sena.


dokter itu sudah mengizinkan ia mendetoks Sena saja Meisya sudah sangat beruntung. ia tak mau bertingkah kurang ajar


"Kondisi pasien sudah membaik, anda sungguh hebat.


saya salut dengan teknik pengobatan anda.


mungkin jika hanya medis saya sangsi pasien akan selamat"


"Dokter terllau memuji, ilmu saya belum sampai seujung kuku"


"Nona Meisya anda terlalu merendah.


saya serius


saya kagum dengan anda" ucap dokter muda itu dengan wajah serius


"Bagaimana jika saya traktir makan, saya ingin nona Meisya berbagi tips sedikit jika saya menghadapi pasien seperti itu"


"Meisya dok, panggil saja Meisya"


"Kalau begitu panggil saja saya Anjar" ucap dokter muda itu menjulurkan tangan, Meisya menyambut jabatan tangan dokter Anjar, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tak suka, tatapan penuh cemburu


"Mamaaaaaaaaa


mama meisyaaaaa" Meisya terkejut, ia mengenali suara cempreng itu dan benar saja, saat menoleh ia melihat Belle dan Ryan.


Meisya seperti istri yang ketangkap basah suaminya sedang selingkuh


"Bell...


Belle" ucap Meisya tergagap


"Kau Punya anak????" tanya dokter Anjar shock.


ia menilai usia Meisya masih dua puluh lima tahun, dan anak didepannya sekitar tujuh atau delapan tahun.


apa Meisya menikah muda???


Anjar menelan salivanya dengan sulit


"Hai dokter tampan, apa kau sedang berbincang dengan mamaku???" tanya Belle sambil bergelayut manja di lengan Meisya


"Bu..buk...

__ADS_1


Eh iya" ucap Meisya tak mau menyakiti hati Belle.


ia menyayangi Belle dan tentu saja papanya juga"


"Astaga aku telat dong, baru ma aku taksir" ucap Anjar jujur membuat Meisya merona malu


"Aku anak papaku, itu papaku dok


karena mama Meisya sudah milik papa bagaimana jika dokter menungguku besar nanti kita pacaran" ucap Belle membuat Meisya tersendak


"Uhuk uhuk"


"Sayang, apa kamu baik-baik saja??" tanya Ryan penuh perhatian membuat Meisya tersendak lagi dan seorang suster sampai memberinya Mesiya minum.


Meisya menatap ayah dan anak di depannya yang terlihat mencurigakan


" Apa mereka salah makan atau mabok??


bisa-bisanya berprilaku aneh gitu dan mas Ryan juga, sejak kapan mesra gitu??


kok aku jadi merinding ya" gumam Meisya melihat seringai di wajah calon suami dan anak sambungnya


"Karena nona Meisya sudah di jemput saya permisi, mari" ucap dokter Anjas meninggalkan ruangan tersebut


"Pa aku mau keliling lihat situasi" ucap Belle langsung pergi tanpa menunggu papanya menjawab


"Anak pintar, tanpa papa usir sudah pergi


tahu saja papa mau beri hukuman pada mama mu ini yang masih genit pada pria lain" gumam Ryan menyeringai lebar.


"Mas, kok kesini????"


"Kenapa??? enggak boleh???


atau takut ketahuan sudah punya suami dan anak jadi tidak bisa genit lagi??"


"Ih mas kok ngomong nya gitu sih, siapa yang genit coba??" ucap Meisya menunduk


"Owh enggak genit??


terus tadi siapa yang pakai pegangan tangan terus senyum-senyum sampai ketawa senang sama dokter tadi???"


"Mas kau memata-matai aku??" ucap Meisya menatap Ryan


"Aku tidak memata-matai kamu hanya saja kebetulan aku datang di saat yang tepat, jika tidak aku yakin calon istriku ini akan pergi berkencan dengan pria lain, aku tidak suka" ucap Ryan membuang pandangannya ke arah lain, ini pertama kali dalam hidupnya ia bisa megungkapkan perasaanya


"Mas cemburu???" tanya Meisya senang bukan main


"Kalau mau cemburu kenapa???"tanya Ryan spontan membuat ia langsung sadar dan malu


"Kalau mau cemburu aku suka"


"Cup" Meisya mencium pipi Ryan membuat Ryan kaget bukan kepalang, tapi ia merasa banyak kupu-kupu terbang di hatinya


Ryan sangat bahagia.


"Aku hanya genit sama calon suamiku saja" ucap Meisya membuat Ryan senang


tiba-tiba Ryan membopong Meisya seperti memanggil beras


"Mas turunkan, kau mau bawa aku kemana???

__ADS_1


"Ke penghulu, karena aku tak mau menunggu lama lagi" teriak Ryan yang langsung mendapat sorakan beberapa orang yang mendengar


__ADS_2