
Akhirnya pihak pengadilan sepakat menjatuhi Ferdinan dengan hukuman mati,
Ferdinan tertawa sumbang, namun di sudut matanya, air mata menetes.
Ferdinan tak pernah membayangkan jika nasibnya akan berakhir dengan hukuman mati.
Saat ia ingin bertaubat, justru saat itu ia tersandung kasus dan menguak perjalanan hidupnya yang kelam.
Ferdinan mencurigai satu orang dibalik datangnya bukti-bukti kejahatannya.
dia tersenyum sinis menatap Chandra wong.
sebuah pernyataan meluncur bebas dari bibirnya
tak ada lagi beban di hatinya, jika besok dia akan di hukum mati, maka tak ada penyesalan yang tersisa.
"Chandra wong mengapa kau masih diam saja.
bukankah kau seharusnya berada disini bersamaku,??? duduk di kursi pesakitan????" teriak Ferdinan lantang
Semua mata memandang ke arah Chandra wong membuat kakek tua itu gelagapan.
ia tak pernah menyangka Ferdinan akan berkicau.
padahal sebelumnya...
Seperti biasa Chandra menggunakan kekuatannya untuk membungkam Ferdinan dengan menyandra anaknya, ya Anak Ferdinan dan istrinya yang terakhir kali datang ke mansion keluarga Wong.
Chandra menggunakan mereka sebagai tameng untuk melindungi dirinya, tentu saja itu inisiatif dirinya agar Ferdinan tak berkutik.
namun naas, prediksinya yang awalnya berjalan lancar, kini berbalik menyerangnya.
Chandra lupa jika seseorang terdesak, ia akan melakukan segala cara.
dan kini Ferdinan sudah terpojok dan tak dapat berkutik lagi, ia tak mau tenggelam sendiri sementara Chandra bebas wara-wiri menghirup udara bebas.
sekalipun harus ke neraka, ia akan tetap menyeret Chandra ikut bersamanya.
"Maafkan aku syang, aku mengambil keputusan egois.
namun jika aku mati, aku tak ingin kau sedih di sana.
kita akan berkumpul lagi di alam lain" ucap Ferdinan memejamkan matanya.
Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya, dengan wanita ini Ferdinan merasakan yang namanya jatuh cinta hingga Ferdinan memutuskan memiliki anak dengannya.
Ferdinan juga banyak berubah karena wanita ini, dan kini....
jika ia di jatuhi hukuman mati, tak ada lagi harapan bersama dengan kekasih dan anaknya itu.
Ferdinan lebih memilih membawa mereka bersamanya.
__ADS_1
"Kau gila!!!!!" bentak Chandra wong kembali tenang
"Gila????
kau yang gila kakek tua.
jika aku mati, kau akan ku seret bersamaku ke liang lahat!!!!!" teriak Ferdinan sambil tertawa terbahak-bahak
tawanya membuat bulu kuduk merinding.
tawa seorang yang putus asa dan dendam kesumat .
mata Ferdinan memerah di penuhi kebencian dan amarah
"Kau benar-benar gila!!!" ucap Chandra tak mampu berkata apa-apa
"Bawa tersangka kembali ke sel tahanan" ucap hakim geram dengan tingkah Ferdinan.
hakim muak dengan kasus yang melibatkan keluarga wong, ia tak habis pikir bagaimana sebuah keluarga berisi orang-orang yang berhati jahat, mungkin kecuali pria yang duduk di bangku peserta sidang.
pria itu tidak memiliki catatan kriminal dan hidup lurus sejauh itu, dia adalah Charlie wong.
bahkan berkat dia Sherly menyadari kesalahannya.
"Sampaikan salam ku pada malaikat maut" cibir Chandra sambil menyeringai lebar
"Hakim ketua...
"Yang mulia jangan dengarkan Ferdinan, dia hanya ingin mencari kambing hitam dan menyeret ku" bantah Chandra bangkit
"Yang mulai, tolong dengarkan perkataan ku yang terakhir.
aku tersangka dengan vonis mati.
aku hanya ingin jika ini keadilan, maka Chandra wong juga harus mendapatkan hukumannya" teriak Ferdinan bersimpuh
"Tuan Ferdinand, ini ruang sidang bukan ajang untuk mengadu.
semua ada prosedur hukumnya sampai perkara masuk ke ranah persidangan"
"Yang mulia, tolong.
anggap ini permintaan terakhirku.
aku ingin menuntut keadilan juga.
bukankah Dimata hukum semua orang sama?????
maka tolong bantu aku.
Chandra wong lebih dari sekedar iblis.
__ADS_1
dia adalah dalang dari sebagian kejahatan yang aku lakukan.
aku punya bukti tidak terbantahkan!!!" ucap Ferdinan sungguh-sungguh membuat hakim menatapnya dengan pandangan sulit di artikan.
"Yang mulia, izinkan saya yang menangani" ucap jaksa penuntut
"Kalian sudah termakan omongan kosong Ferdinan.
dia sudah hilang akal sehingga mau memfitnahku!"
"Tolong bantu orang itu.
aku yakin dia tak bekerja sendiri" ucap Charlie berdiri dari tempat dimana ia duduk.
semua mata menatapnya dan sedikit terkejut
"Charlie......" gumam Ferdinan lirih
"Charlie....
dasar cucu sialan.
kau mau menjerumuskan kakek mu sendiri?????" bentak Chandra Panji, karena kini ferdinan mendapat dua orang yang mendukungnya, si jaksa dan Charlie
"Dia bukan kakekmu Charlie.
Chandra wong bukan kakekmu" teriak Ferdinan kencang membuat Charlie dan seluruh orang yang masih ada dalam ruang persidangan itu terkejut bukan main.
ada apa lagi dengan keluarga wong, keluarga nomor satu di negara ini.
Sena wong pucat pasi
ia merasa sangat malu dan marah.
Jika aib di masa lalu ya terbongkar, dengan apa ia harus menjawab pertanyaan para ketua keluarga dari pihak ibunya yang sudah menunjuknya sebagai pemimpin keluarga.
Sena geram bukan main
ingin rasanya ia membungkam Ferdinan selamanya
sayangnya ini di tempat umum, sehingga Sena hanya bisa mendengus kesal.
"Jaga ucapanmu menantu sialan" ucap Sena berusaha tenang walau dalam hatinya ketar ketir.
"Hahaha, apa kau takut??????"
"Sialan kau, dasar gila.
aku sependapat dengan suamiku bahwa orang ini sudah gila" ucap Sena kebakaran jenggot.
sementara Chandra memutar bola mata malas.
__ADS_1
giliran terdesak saja ia