Papa Ku CEO Yang Payah

Papa Ku CEO Yang Payah
Melihat Camilla


__ADS_3

Setelah lelah menangis, Jennie akhirnya tertidur meringkuk seperti anak kecil setelah menangis.


Sassy menatap bos nya dengan sedih.


Sekalipun Sassy bukan wanita seutuhnya, tapi ia mengerti bagaimana rasanya tak di cintai, tak di hargai.


Sassy menatap ponselnya, kemudian ia terlihat menghubungi seseorang, tak lama kemudian panggilan berakhir.


"Jangan salahkan gue berbuat jahat sama loe Charlie.


loe yang mendorong gue berbuat hal seperti ini!!!!" gumam Sassy mengepalkan tangannya yang berotot.


"Jennie sayang, loe sabar ya cyin.


pria gak tahu diri itu akan menerima akibatnya" ucap Sassy dengan sorot mata penuh kebencian,


lalu melembut saat melihat wajah lelah Jennie.


Sassy membelai rambut panjang Jennie dengan penuh kasih sayang.


"Loe gak pantas mendapat perlakuan seperti ini Jen.


Gue gak terima, gak pernah bisa terima ini" ucap Sassy lirih.


Sementra di ruang kerja Charlie


Charlie melempar vas bunga diatas mejanya.


dadanya naik turun menahan emosi.


Ia di hina oleh seorang Sassy yang bahkan hidupnya saja tak jelas.


Charlie sangat marah hingga darahnya mendidih, walau sejujurnya di alam hatinya Charlie membenarkan ucapan Sassy.


Ya, Charlie tak pernah perduli dengan Jenni, tak pernah mau tahu bagaimana perasaan Jennie padanya.


Bukan karena Charlie tak tahu, i tahu dengan jelas bahwa Jennie menerima perjodohan ini karena ia mencintai Charlie, namun entah mengapa ada perasaan bersalah di hati Charlie jika ia sedikit saja memperhatikan Jennie , sekuat apapun ia berusaha menerima Jennie, nyatanya Charlie tak bisa.


Di hari Charlie hanya ada Camila, wanita yang amat ia cintai walau kini Charlie tak tahu dimana wanita itu berada.


Akhirnya meeting hari itu di tangguhkan, Charlie memilih pulang, namun saat di dijalan pikirnya berubah.


Ia belok arah menuju sebuah cafe yang dulu biasa ia datangi bersama Camilla saat masih bersama.


Charlie duduk dan memesan makanan yang sama seperti saat ia kesana bersama Camilla.


Charlie terhanyut dalam memori masa lalu


ia menikmati makanan yang ia pesan sambil mengenang masa lalunya.


tiba-tiba ia mencium parfum familiar yang biasa Camilla pakai.


Carlie mengedarkan pandangan, melihat seorang wanita dengan menggandeng dua anak kecil di tangannya, bahasa tubuh dan suara wanita itu, sontak Charlie bangkit


Bruughh


praaaangggg


"****" maki Charlie


ia tak melihat pelayan yang membawa minum hingga menabraknya.


Kemeja mahal Charlie terkena tumpahan kopi.


"Maaf pak, maaf saya gak sengaja"


"Ah sial benar, " gumam Charlie mencari keberadaan wanita tadi, ia melihat wanita itu sudah tak terlihat lagi


"Pak saya akan bertanggung jawab, maafkan saya" ucap pelayan itu ketakutan


"Sudahlah, bukan salahmu juga, lupakan.


tolong berisikan saja lantainya, aku pergi" ucap Charlie memberikan lima lembar uang pada pelayan itu lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Pelayan tadi malah melongo, ia menatap uang yang di berikan Charlie dengan bingung.


Karena bisanya kaum beruang akan mencari kesalahan mereka sekalipun bukan salah pelayan, mereka tak mau di salahkan.


Namun....


"Udah jangan bengong, beresin tuh lantai.


berati ini rezeki loe" ucap rekannya membuat pelayan itu mengangguk lalu bergegas membersihkan tumpahan kopi dan gelas yang pecah.


Charlie berlarian seperti orang gila, ia tak melihat wanita tadi, Charlie kehilangan jejak.


Ia sangat yakin itu Camilla, suara, bahasa tubuh, parfum.


walau wanita itu berambut pirang, namun Charlie yakin jika itu Camilla.


Bisa saja Camilla mengganti model warna rambutnya yang biasa hitam.


"Hanna Li, ya Hanna Li.


mungkin saja Camilla datang karena mamanya sakit.


Kenapa Charlie bodoh sekali tak berfikir itu???


Tiba-tiba sebuah mobil melintas, Charlie menoleh dan melihat wajah wanita yang ia cari tadi.


jantungnya berdegup kencang.


Itu Camilla....


dia istrinya.


mobil langsung melaju kencang.


Charlie mengejar mobil itu sambil memanggil nama Camilla sepeti orang gila, namun mobil itu tak berhenti


"Sayaaaaang....


"Sayaaaaang....."


Charlie bergegas menuju mobilnya, ia langsung melajukan kendaraanya berharap bisa mengejar mobil yang di kendarai Camilla, namun nihil.


walhasil Karen ugal-ugalan di jalan Charlie di berhentikan penegak hukum dan kena sangsi.


Charlie mengumpat, ia kini memiliki hobi mengomel dan mengumpat.


Dengan kesal ia memukul stir mobilnya.


"Bego, bego, bego...


Sial.banget gue.


gue yakin itu Camilla.


dan anak itu..???


Apa mereka anak gue???


Tapi dua??? apa mereka kembar??


Atau camilla sudah menikah lagi???


Enggak, gak mungkin.


Camilla cinta banget sama gue, dan kepergiannya karena sesuatu tapi bukan perselingkuhan gue sangat yakin.


Camilla pergi pasti karena keluarga gue" gumam Charlie lirih.


"Hallo bos???"


"Udah baca pesan singkat gue???"


"Maaf belum bos"

__ADS_1


"Chris, ini urgent dan loe belum baca.


lihat dan cari sekarang juga.


gue mau infonya udah ada di meja kerja gue dalam satu jam" ucap Charlie langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Charlie langsung melajukan kendaraanya menuju kantor dengan pikiran tak menentu.


sudah tiba di depan perusahaanya, Charlie urung turun, ia kembali memutar kendaraanya menuju mansion miliknya, mansion yang sudah empat tahun ini ia tinggalkan.


Charlie berharap bisa melihat Camilla di sana, walau itu tak mungkin!!!!!.


Sementara di sebuah ruang kantor


Chris memaki kesal, satu jam mencari informasi???


Pa Charlie pikir ia detektif yang bis tahu dengan mudah???


Apa dia pikir mencari informasi sama seperti menyeduh kopi instan???


Tidak kah dia memiliki sedikit empati pada bawahannya yang selalu di tekankan kecepatan dan keakuratan terutama dirinya.


Chris merasa kepalanya mau pecah.


satu tugas belum selesai sudah mendapat tugas lainnya.


Mau tak mau ia juga harus menekan anak buahnya agar mendapatkan apa yang di minta atasannya, Charlie.


Sementara di sebuah mobil


"Apa kau dengar tadi????"


"Hmmm" saut Alexi cuek


"Itu papa..."


"Bukan, kita tak punya papa.


Dia hanya pria yang kebetulan menghamili mama kita" ucap Alexi menatap adiknya


"Kau aneh" Dengus Alexa tak habis pikir.


"Kau pikir kau tidak aneh juga apa????


Dengar adikku yang gemoy, kau dan aku memiliki papa yang payah, tapi aku tak mau mengakuinya


Jadi jangan berharap aku seperti dirimu yang melunak aktena merindukan kasih sayang papa payah itu, apa kau paham????


"Alexi jelek, kau membuat pipiku kendur" ucap Alexa mendorong kakaknya menjauh sambil mengelus pipinya yang di cubit gemas oleh Alexi


"Pipi lemak"


"Biarin aja, apa kau mau ku adukan mama??"


"Anak-anak apa yang kalian ributkan sih???


Mama sedang menyetir, harap tenang ok???


Sekalipun mama sedang menelpon, mama bis mendengar ucapan kalian" ucap Camilla


"Baik ma"


"Sesama saudara itu harus akur, ayo saling berpelukan" ucap Camilla memerintah kedua anak kembarnya setiap kali mereka bertengkar.


Camilla ingin menanamkan rasa menyayangi sesama saudara sekalipun mereka beda pendapat tapi tidak saling memusuhi.


Keduanya lalu berpelukan


"Maafkan aku kak"


"Maafkan aku adek manis" ledek Alexi membuat Alexa melotot


"Apa jadinya mama jika tahu kau memasang alat penghalus suara sehingga suara papa yang memanggil mama tadi tak terdengar

__ADS_1


"Kau tak akan berani, bocil" ledek Alexi yang tahu adiknya hanya mengancam


__ADS_2