Papa Ku CEO Yang Payah

Papa Ku CEO Yang Payah
Rahasia Ryan


__ADS_3

"Aihhsh sial, tempat ini memang tak di jaga manusia, tapi robooooottt" teriak Meisya menghindari sinar laser yang keluar dari mata robot tersebut.


Meisya biasa melihat robot keren, tapi di tempat ini.


bentuk robot itu....


"Robot jelek sialan" maki Meisya mengeluarkan pistolnya lalu mulai menembaki robot tersebut


Jika saja ia sedang tak tegang seperti saat ini, ia pasti sudah menertawai Meisya yang ekspresinya jelek sekali saat ini.


Meisya seperti seorang wanita yang sedang dendam pada mantan kekasihnya


bahkan setelah robot itu berhasil di lumpuhkan, wanita itu dengan gemas menendang, menarik hingga robot itu termutilasi dengan mengenaskan


"Apa sudah emosinya??" ejek Ryan menggelengkan kepala


"Tentu saja tapi aku kesal sekali.


robot itu mengapa buruk sekali" Dengus Meisya masih menendang rongsokan sisa mutilasi nya hingga menimbulkan suara nyaring setelah menghantam tembok


"Emosimu membuat kita terbunuh nona" ucap Ryan menghindari terjangan peluru panas yang berasal dari beberapa robot yang mirip dengan tong sampah, bergerak mendekati mereka berdua


"UPS sorry"


"Apa kau sedang PMS, kau menyebalkan", gerutu Ryan yang ingin tak menguras tenaga nya karena ia ingin segera menyelamatkan putrinya.


putri yang ia cari sejak lama.


"Kau mengintip????" tanya Meisya melotot sambil menutupi bagian bawahnya


"Kalau di dunia ini cuma tinggal satu wanita dan gue suruh ngintip


mending gue tidur.


body loe kurus rata" ejek Ryan kesal di tuduh mengintip


"Lagian siapa yang Sudi di intip sama loe, awas aja kalo misi udah selesai jangan jauh-jauh"


"Jangan jauh-jauh????" tanya Ryan mengerutkan keningnya dengan senyum usil


"Sial maksud gue loe jauh-jauh.


dasar cowok nyebelin" teriak Meisya sambil menghindar dan menembakkan pistolnya ke arah robot


Sreeeekkk,


"Ah sial, peluru gue habis" teriak Meisya


dooorrrr


dorrr


Dua robot tumbang, Meisya menghela nafas lega.


Ryan menyelamatkannya


"Isi peluru loe" teriak Ryan melempar tas pinggangnya ke arah meisya


"terima kasih"ucap Meisya lirih


"Apaaaa???"


"terima kasih" ucap Meisya


"Apaaaa????" bukan Ryan tak mendengar, ia sengaja mengerjai Meisya


"Bodo amat, dasar aneh.


nyesel gue bilang makasih"


"Ih enggak ikhlas" ledek Ryan membuat Meisya melirik kesal.


entah sejak kapan pria tampan yang terkenal irit bicara itu jadi pria bawel, usil dan menjengkelkan di ata Meisya


"Bodo amaaaaatttt" teriak Meisya.


kini ia kembali melancarkan aksinya


Ryan tertawa kecil.


ia juga tak tahu mengapa senang sekali menggoda Meisya

__ADS_1


Ryan memberi kode mereka maju, namun Meisya melengos, masih kesal


"Ah dasar wanita" gumam Ryan lalu mulai menyisir lokasi tersebut, hingga mereka kini tinggal selangkah sampai di lab


"Jangan maju dulu, tunggu" ucap Ryan.


ia lalu melemparkan tutup sampah ke arah depan mereka


"Crasssss


crasssshhh


crasssshhhh


rupanya tempat itu di lengkapi keamanan berupa sinyal laser.


"Ah **** , bagaimana kita maju kalo begini.


Alexa, apa kau belum melumpuhkan keamanan lantai ini???"


"On my way baby, 3,2,1 done.


kalian bebas sekarang


sistem sudah freeze.


bergerak cepat selamatkan Belle dan langsung bawa keluar . bawa Belle ke dalam mobil ku.


aku sudah mempersiapkan semua


ingat utama kan keselamatan kalian.


aku tak percaya jika lantai itu hanya ada robot saja.


Sisanya, serahkan pada team lain yang akan membereskan markas tersebut"


"Siap bos" jawab Meisya dan Ryan serentak.


"Ada pergerakan cepat ke arah kalian dari...."


"Sliiinggggg creewbbb


Belum selesai Alexi memberi arahan pada Meisya dan Ryan, mereka di kejutkan oleh pisau kecil yang terbang ke arah mereka dan juga sebuah bumerang yang kembali pada si empunya


Nampak di depan mereka seorang pria dan seorang wanita berpakaian serba hitam dengan topeng separuh di wajah mereka


"Hati-hati.


senjata mereka beracun" ucap Meisya yang melihat pohon dia sebelahnya yang langsung layu menghitam dan mati.


seperti terbakar.


"Meisya diatas mu......"teriak Alexa yang melihat pergerakan semu dari atap tepat diatas Meisya


"Braaaakkkkk


Sebuah pedang mengarah ke arah Meisya, untung saja Meisya dengan cepat melipat ke sisi kanan, sehingga pedang itu menghantam pot dan terbelah sempurna


"Astaga, apa itu beneran pedang???" teriak Meisya


"Itu katana, hati-hati


pedang itu bahkan bisa membelah baru" ucap Ryan yang sedang melawan dua orang di depannya.


satu pembunuh jarak jauh yang terus melemparkan pisau-pisau beracun.


semetara senjata yang awalnya berupa bumerang, kini berubah menjadi sepasang arit


"Dari mana kau tahu???" tanya Meisya sambil menghindar


"Aku kenal mereka" ucap Ryan


"Hahaha, ternyata shadow sword, aku Tan mengira aku masih hidup" ucap pria yang sejak tadi memburu Meisya dengan nafsu membunuh


"Ternyata aku masih di kenal oleh anak bawang sepertimu" cibir Ryan yang kini mengeluarkan sebuah tongkat yang berubah menjadi pedang.


Bedanya pedang itu sangat unik.


Meisya mencuri-curi lihat pertandingan Ryan dengan dua pembunuh itu


Berbeda dengan pedang pada umumnya.

__ADS_1


milik Ryan terlihat bisa seperti pada umumnya pedang, lurus, kuat, tajam.


namun di lain waktu akan fleksibel menyambar kulit lawat meninggalkan luka menganga yang sangat dalam.


Dari luka itu terlihat asap.


"Ryan sejak kapan kau bisa memakai pedang????"


"Wanita dungu, dia memang master pedang" ucap pria yang melawan Meisya


"Fokus pada pertandingan MU sendiri.


jangan merecoki mereka


lawannya aku " Dengus pria itu kesal


"Lalu apa masalahmu????"


"Kasu seperti monyet, meloncat menghindar terus.


apa hanya itu yang kau bisa???" omel pria itu.


Meisya melotot karena mendengar Ryan tertawa


"Bocah ingusan, lawannya memang monyet betina.


apa perguruan itu sudah kehabisan orang ahli sampai punya anggota seperti mu????" ejek Ryan membuat pria yang melawan Meisya justru menerjang ke arah Ryan


"Woi, lawan loe gue kampret


kenapa pada seneng banget mengerubungi tuh cowok resek sih??" tanya Meisya


"Haha, sial gue lawan tiga" ucap Ryan santai.


kini ia tak mau main-main


Ryan mengeluarkan keahlian yang selama ini dia sembunyikan.


Satu lawan tumbang dengan luka menganga lebar di perut ny


Sementara Meisya????


Di asik duduk sambil bersorak


"Ngapain loe jadi team hore, cepat ke ruangan itu"


"Ah menggangu sekali.


orang lagi liat live streaming juga" gerutu gadis itu dengan mulut manyun.


baru satu langkah, wanita yang tadinya fokus pada Ryan, kini melemparkan pisau nya ke arah Meisya


"Woi, loe ngapain lawan gue??"


"Berisik loe.******" ucap wanita itu dengan suara Bas


"Astaghfirullah ternyata wanita tulang lunak, ahli waris neraka" ucap Meisya menghindari lemparan pisau dari wanita itu


"Setan loe.


loe harus mati"pekik wanita itu penuh amarah.


"Siapa takut??


emang loe doang yang bisa??" ucap Meisya membalas serangan wanita itu. bedanya pisau meisya lebih kecil dan lancip.


pisau itu akan langsung mengeluarkan asap racun


"Apa ini?? loe mau bunuh gue??"tanya Ryan mengumpat karena ia masih harus melawan seseorang yang berasal dari alirannya.


tepatnya musuh bebuyutannya.


"Nih tangkap" ucap Meisya cuek.


ia melepas sesuatu sebesar buah Cherry berwarna hitam ke arah Ryan


"Meisya loe niat ngasih enggak sih, kenapa ke arah bocah ingusan itu???" maki Ryan yang langsung berusaha mengambil obat itu dengan melancarkan serangan intens agar pria itu mundur.


"Nah gitu dong lama ih" ucap Meisya sambil menjulurkan lidah meledek Ryan


"Meisyaaa, awaaaaaaaassssss....." teriak Ryan panik

__ADS_1


__ADS_2