
Ketika puas berkhayal dan tersadar akan sesuatu, Jeslyn langsung menuju tujuan. Di depan pintu ruang kerja Kristan, Jeslyn menarik napas kemudian menghembuskannya. Menyiapkan diri untuk berbicara dengan Kristan. Setelah siap, dia mengetuk pintu dan setelah ada izin dari Kristan dia pun masuk.
"Kamu sibuk gak??" tanya Jeslyn dari pintu,
"Em? Gak, ada apa?" balas Kristan santai,
"Ayo kita bicara soal yang 3 hari lalu" kata Jeslyn,
"Maaf, aku benar benar tidak bermaksud untuk membuatmu kesal..." kata Kristan sambil mendekati Jeslyn,
"Huft..." Jeslyn menghela napas lalu menjelaskan tentang prinsip hidupnya itu. Setelah dia selesai menjelaskan, dia berpamitan pada Kristan.
"Mauku temani?" tanya Kristan,
"Tidak perlu, kamu fokus saja kerja tugasmu. Ngomong ngomong besok aku cuti sehari ya" balas Jeslyn,
"Kenapa?" tanya Kristan khawatir,
"Aku mau pulang hari ini, besok aku ada acara di kotaku, boleh ya?" jawab Jeslyn,
"Oke. Aku akan ikut denganmu" balas Kristan sambil merapikan barangnya,
"Eh gak perlu repot repot, kau pasti sibuk. Kerjakan saja tugasmu, bye" kata Jeslyn sambil tersenyum lalu pergi.
"Padahal aku ingin ikut...." gumam Kristan sedih. Jeslyn langsung pulang dan menyiapkan pakaian besok, 1 jam kemudian dia selesai dan langsung berangkat. Dia sampai di kotanya pukul 13.00 dan sudah berada di rumahnya.
"Kristan mana nak?" tanya ayah Jeslyn,
"Oh dia ada di Jakarta, aku menyuruhnya untuk tidak perlu ikut. Dia pasti sibuk jadi aku gak izinin dia ikut sama aku" jawab Jeslyn,
"Tapi dia itu suamimu! Masa dihari ulang tahunmu dia gak hadir, gak bertanggung jawab amat jadi suami" kata ibu tiri Jeslyn,
"Kan papi yang milihin" gumam Jeslyn,
"Sudah sudah!" kata ayah Jeslyn. Setelah itu Jeslyn pergi mengatur tempat acara di restoran xxx sambil makan siang disana juga.
Keesokan harinya...
"Emmm" Jeslyn yang baru bangun. Jeslyn kemudian pergi mandi dan bersiap untuk ke restoran. Setelah dia mengenakan set pakaian yang telah disiapkannya kemarin, dia turun ke bawah. Atasan berwarna putih dengan rumbaian sederhana dan berlengan panjang, rok kotak kotak kuning, tas selempang coklat, sepatu merah yang imut, dan pita merah di rambutnya. Rambut yang diikat setengah, parfum beraroma sakura, dan semangat yang membara, Jeslyn sudah tidak sabar menemui keluarga dari ibu kandungnya.
__ADS_1
Ngomong ngomong, keluarga yang kemarin mengobrol dengan Jeslyn berasal dari keluarga mamanya. Jadi Jeslyn hanya mengadakan pesta bersama keluarga mamanya. Dan, katanya mama kandung Jeslyn telah meninggal saat dia masih kecil. Lalu papanya menikah lagi hingga Jeslyn mempunyai ibu dan saudara tiri. Jeslyn merasa lega karena sudah bebas dari siksaan ibu tirinya, tapi juga merasa sesak karena dinikahkan dengan orang yang tidak dicintainya.
"Sayang~"sambut tante Jeslyn. Jeslyn segera membalas dengan senyuman termewahnya dan masuk. Di meja yang besar, telah berjejerlah keluarga besar dari keluarga ibu kandung Jeslyn. Semuanya membawakan hadiah untuk Jeslyn. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Nampak seseorang yang terlihat sangat familiar.
"Nyonya?!" panggil orang itu,
"Gilbert?!" balas Jeslyn kaget. Jeslyn dan Gilbert saling memandang tak percaya.
"Eh Gilbert kenapa manggil Jeslyn nyonya?" tanya tante Mei,
"Hah?! Dia istri majikanku?!" jawab Gilbert yang juga kaget. Tante Mei ikutan kaget dan menatap keduanya.
"Jadi, Gilbert adalah koko sepupuku?!?" tanya Jeslyn,
"Iya" jawab tante Mei,
"Ko... kok bisa kita gak saling kenal?" tanya Jeslyn sambil tersenyum kaku,
"Karna udah gak lama bertemu? hahaha" balas Gilbert kaku. Lalu mereka mulai mengobrol ngobrol bersama keluarga besar, namun tidak lama kemudian seseorang datang dengan buket bunga besar. Buket mawar tiba tiba muncul dihadapan Jeslyn, lalu dia menolehkan kepala dan melihat siapa yang mengirimkannya.
Seorang pria dengan sepatu hitam mengkilat, celana dan jaket bergaris putih navy, kemeja putih bersih dan dasi navy, wajah tampan dan rambut yang tertata rapi. Tiba tiba Kristan muncul dan memberikan Jeslyn buket mawar.
"A - apa yang kau lakukan disini?!" tanya Jeslyn kaget,
"Selamat ulang tahun Jeslyn, semoga makin cantik, makin jago banyak hal, sukses dalam karir, dapat menjadi kebanggaanku dan keluarga, dilimpahkan rezekimu. Amiin. Happy Birthday sayang" lanjut Kristan lalu mengecup kening Jeslyn. Sweet banget pasangan ini, sampai sampai orang disekitar menjadi iri dan ikutan malu.
"Umm makasih" balas Jeslyn malu malu,
"Ini hadiah untukmu" kata Kristan sambil menyodorkan dua benda di tangannya. Di sebelah kiri ada buket mawar merah yang cantik dan disebelah kanan ada sebuah kotak merah persegi. Saat dibuka, ternyata isinya adalah sebuah kalung yang bagian tengahnya terdapat ruby merah berbentuk hati, dan dibelakangnya ada ukiran nama mereka. Jeslyn dan Kristan.
Jeslyn melongo menatap kalung itu, merasa tersentuh dan terkejut. Jeslyn sangat menyukai kalung itu, keindahan yang terpancar bersama pesan yang tersirat membuatnya tidak berhenti menatap kalung itu.
"Ini untukku?!" tanya Jeslyn,
"Iya" balas Kristan. Jeslyn kaget dan sangat senang, dia tersenyum senyum sendiri sambil menatap kalung itu. Kristan yang melihat Jeslyn tersenyum seperti itu membuatnya juga ikut tersenyum.
"Sini kupakaikan" kata Kristan,
"Baiklah" balas Jeslyn. Kristan mencabut kalung itu dari kotaknya. Jeslyn mulai mengurai rambutnya ke samping. Kristan mulai melingkarkan kalung itu di leher Jeslyn, Kristan menyambungkan kedua sisi dibelakang leher Jeslyn. Saat Jeslyn berbalik, Kristan terkejut melihat kalung itu dileher Jeslyn. Dia terlihat sangat cantik dengan kalung itu. Kalung itu nampak sangat indah dipakai oleh Jeslyn, diantara kedua tulang selangka lehernya, membuat Kristan menelan salivanya.
__ADS_1
"Tuan?" panggil Gilbert,
"Eh? Kamu kok ada disini?" tanya Kristan bingung,
"Aku ternyata sepupu nyonya, tuan" jawab Gilbert polos,
"Koko, jangan manggil nyonya deh. Manggil Jeslyn aja, aku gak enak. Koko lebih tua jadi aku harus menghormati koko" kata Jeslyn,
"Hah?! Kamu kakak sepupu Jeslyn?!" tanya Kristan kaget.
"Iya tuan" balas Gilbert sambil tersenyum,
"Kalau gitu kamu tidak perlu jadi sekretarisku lagi" lanjut Kristan.
"Apa?! Kenapa?!" tanya Jeslyn dan Gilbert serentak karena kaget,
"Kamu kakak sepupu Jeslyn artinya kakak sepupuku juga. Untuk menghormatimu makanya aku gak bisa terima kamu jadi sekretarisku, jadi direktur utama aja gimana?" lanjut Kristan sambil menaik turunkan alisnya. Tiba tiba Jeslyn dan Gilbert menghela napas, dikiranya kalau Gilbert akan dipecat.
"Oh makasih,tuan?" balas Gilbert,
"Panggil nama aja, koko" balas Kristan lalu tersenyum. Gilbert membalas pernyataan itu dengan senyuman dan Jeslyn juga ikut tersenyum.
"Anak anak kemari! Mari kita mulai acara tiup lilinnya" ajak tante Mei. Semuanya berkumpul di meja besar itu dan Jeslyn berada di bagian depan memimpin meja.
"Baiklah aku akan meniup lilinnya sekarang" kata Jeslyn sambil menarik nafas,
"Make a wish dulu dong~" kata koko Jerome,
"Oh iya, hahaha" balas Jeslyn sambil tertawa kecil. Dia mengatup tangannya lalu mulai berdoa.
"Ya Tuhan..." batin Jeslyn memanjatkan permohonan. Setelah dia selesai berdoa, dia menarik napas panjang lalu meniup lilin.
Fyuuh...
Lilinnya padam dan semua orang bertepuk tangan.
Prok prok prok..
Jeslyn terseyum bahagia sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian dia mengambil pisau dan mulai memotong kue. Saat selesai memotong 1 potongan kue, tiba tiba ada sebuah challenge dari pamannya yang membuat raut wajah Jeslyn tiba tiba murung.
__ADS_1
"Kristan, kalau kau sungguh mencintai Jeslyn dan kamu merasa bertanggung jawab sebagai suaminya, hadiahi istri kecilmu ini sebuah ciuman romantis" kata paman Jeslyn sambil tersenyum senyum. Yang lain ikut berkata setuju, mereka bersorak agar Jeslyn dan Kristan ciuman.
Namun mereka tidak tahu keadaan Kristan dan Jeslyn yang sebenarnya menikah bukan karena cinta, tapi karena perjodohan. Bahkan Gilbert pun, yang tahu akan kondisi mereka malah ikut menyorakkan challenge itu. Apakah challenge ini akan berhasil?