
"Uh!"
"Kamu kenapa?" tanya Jeslyn yang bingung. Jeslyn menjadi bingung dan kesal daritadi sikap Kristan aneh sekali.
"Aku kenapa sih?! Kenapa tiba tiba aku jadi gini?? Udahlah lupakan !"pikir Kristan,
"Gak jadi" balas Kristan lalu menjauh dari Jeslyn,
"Ni anak.... Untung suami sendiri, haduh..." batin Jeslyn yang kesal. Namun tiba tiba Jeslyn teringat sesuatu.
"Hey! Besok mau olahraga gak? Kita olahraga berat besok pagi pagi~" kata Jeslyn lalu tersenyum menggoda,
"Olahraga apa?" tanya Kristan dengan nada gugup. Kristan menelan salivanya dan otaknya udah jalan jalan dari ujung pukul ujung dunia.
"Gym lah" balas Jeslyn. Saat mendengar jawaban Jeslyn, Kristan kaget sekaligus merasa lega.
"Aku kira olahraga apa..."batin Kristan yang sudah malu merona,
"Terserah" jawab Kristan. Jeslyn membalasnya dengan senyuman lalu pergi merapikan barang di koper. Disore hari yang tenang ini, setelah Jeslyn dan Kristan merapikan barang mereka pergi ke bawah dan jalan jalan disekitar taman hotel.
Ditaman itu juga ada rumah kaca yang isinya berbagai macam bunga. Karena Jeslyn tertarik dengan rumah kaca itu, mereka pun masuk dan melihat lihat. Di depan pintu setelah masuk, para pengunjung di sambut oleh bunga tulip yang berwarna warni dan cantik. Lalu di ujung belakang, ada barisan bunga matahari yang berdiri tegap seakan ingin memberikan pelukan. Lalu di bagian kiri kanan rumah kaca ada bunga lavender yang tertanam di pot dan diletakkan diatas meja lalu dijejerkannya dibagian samping tersebut.
Dibagian atasnya tapi bukan atapnya, ada deretan bunga mawar merah yang terangkai di seluruh dinding. Lalu dibagian atapnya, ada tanaman tanaman yang bergelantungan tanpa bunga, tapi tetap sangat indah. Dan dibagian tengahnya, ada bunga anggrek, melati, camelia yang berbaris rapi sesuai jenis bunga masing masing.
"Kakak cantik, terima lah bunga ini. Bunga ini sangat cocok denganmu" kata seorang anak laki laki berumur 8 tahun,
"Terima kasih~" balas Jeslyn lalu tersenyum. Anak laki laki itu memberikan Jeslyn setangkai bunga tulip merah. Saat anak itu memberikan Jeslyn bunga, Kristan mempelototi anak itu. Tapi anak itu membalasnya dengan bibir yang menjulur keluar dan matanya melirik keatas alias mengejek.
"Anak siapa ini?? Berani beraninya dia " batin Kristan kesal yang menatap perilaku anak itu.
"Sayangku, terimalah bunga mawar ini. Kamu lebih cantik dengan bunga mawar ini" kata Kristan. Dia mengambil setangkai bunga mawar lalu diletakkannya di belakang telinga Jeslyn. Bunga mawar yang dipakai oleh Jeslyn terlihat sangat cantik. Ditambah lagi dengan dress hitam bertema blosom yang dipakainya.
"Waaah kakak cantik sekali~ Aku sampai sangat menyukai kakak!" kata anak kecil itu,
"Hahaha~ Makasih pujiannya adik manis~" balas Jeslyn,
"Hei bocah, pergi sana! Dia istriku, jangan ganggu dia!" kata Kristan sambil mempelototi anak itu.
__ADS_1
"Kakak dia siapa? Kenapa wajahnya seram..." tanya anak kecil itu yang mulai takut.
"Oh dia hahaha. Kamu tidak perlu takut dia cuma bercanda kok. Udah sana kembali sama papa mama kamu, mereka pasti udah cariin" kata Jeslyn dengan ramah.
"Baiklah, aku pergi dulu kakak cantik~" kata anak kecil itu lalu mencium punggung salah satu tangan Jeslyn dengan anggun seperti seorang pangeran yang akan meninggalkan putrinya karena urusan pekerjaan. Jeslyn kagum akan tindakan anak kecil ini. Biasanya kalau ada orang yang mencium tangan Jeslyn sembarangan dia akan marah. Tapi kali ini dia tidak marah, karena wajah anak itu sangat imut, dia tak sanggup marah kepada anak kecil yang imut itu~.
"Bocah ini... Ingin sekali ku geplak kepalanya! Berani sekali dia mencium tangan istriku! Aku saja belum pernah memcium tangannya! Jshagdksgdj " gerutu Kristan dalam hatinya. Kristan cemburu karena ada yang berani menyentuh istrinya, meskipun hanya seorang anak anak. Untung saja dia hanya anak kecil yang polos dan bodoh, kalau bukan, pasti sudah dihajar habis habisan oleh Kristan.
Lalu anak kecil itupun pergi. Kristan melirik Jeslyn, bola matanya bergerak ke samping bawah karena Jeslyn lebih pendek dari Kristan. Kristan melihat Jeslyn sedang tersenyum senyum menatap bunga tulip pemberian anak kecil itu.
"Hey! Sesuka itukah kau pada bunga tulip? Aku akan membelikanmu sekebun!" kata Kristan yang cemburu,
"Ih jangaaan! Aku gak terlalu suka tulip, aku sukanya mawar" kata Jeslyn,
"Benarkah? Bukan karena anak kecil itu?" tanya Kristan. Jeslyn membalas dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Berarti kau suka mawar pemberianku?" tanya Kristan lagi sambil tersenyum,
"Iya. Tapi bukan karena orangnya " jawab Jeslyn. Tiba tiba senyum Kristan menghilang dan wajahnya berubah menjadi kesal. Tapi sedetik kemudian senyumnya muncul lagi.
"Tadi aku lihat kamu sangat menyukai anak itu. Apa kamu tidak mau punya satu milik kita berdua?" tanya Kristan menggoda Jeslyn,
"Siapa yang mau melakukan itu? Ya nggak lah!" balas Kristan bingung.
"Terus kamu mau dapat darimana?" balas Jeslyn makin bingung.
"Kamu gak tahu?? Tapi biasanya pasutri itu melakukan itu" balas Kristan sedikit gugup.
"Gak, aku gak tahu. Itu itu apa hah?!" balas Jeslyn mulai kesal.
"Jangan - jangan dia masih polos dan tidak mengerti sama sekali tentang itu ?!" batin Kristan. Kemudian Kristan mendekat ke telinga Jeslyn dan membisikkan sesuatu. Setelah selesai, wajah jeslyn langsung merah merona bersama telinganya. Kristan tersenyum melihat reaksi Jeslyn dan ingin menggodanya.
"Huft~" Kristan menghembuskan napas di telinga Jeslyn berkali kali dengan lembut. Itu membuat Jeslyn merasa aneh dan tidak nyaman. Tubuhnya mulai melemas karena Kristan, Jeslyn tidak sanggup berbicara dan rasanya ingin memejamkan mata dan tertidur.
"Hei... Hentikan!" pinta Jeslyn yang melemas,
"Kalau aku gak mau?" balas Kristan sambil tersenyum. Lalu dia kembali bernafas di telinga Jeslyn, membuat Jeslyn semakin melemas.
__ADS_1
"Kristan, kumohon hentikan" pinta Jeslyn lagi dengan nada menggoda. Nadanya secara tidak sadar terdengar menggoda, namun karena sudah sangat lemas dia tidak berbicara dengan benar. Kristan kemudian menatap Jeslyn, wajah dan telinganya sudah memerah, nafasnya tidak teratur, tubuhnya melemas.
Kristan menelan salivanya, dimata Kristan saat ini Jeslyn seperti menggodanya dan itu membuatnya tidak tahan. Setelah itu dia langsung menarik Jeslyn ke dalam pelukannya.
"Aku sudah berhenti, jadi tenangkan dirimu. Nanti orang orang malah akan salah paham" kata Kristan yang memeluk Jeslyn dengan lembut. Jeslyn berusaha fokus dan menenangkan dirinya, begitu juga Kristan yang berusaha menahan dirinya. Membutuhkan waktu sampai 5 menit dan mereka akan kembali normal.
"Ayo kita jalan lagi" ajak Jeslyn,
"Oke, kamu sudah gak apa apa kan?" balas Kristan,
"Udah, makasih ya. Yuk jalan" balas Jeslyn lalu menarik tangan Kristan keluar dari rumah kaca. Waktu tidak dirasa berjalan sangat cepat, sekarang sudah malam, waktunya makan malam. Tapi saat mereka berjalan diluar taman untuk menuju ke ruang makan di hotel, ada kembang api yang memancar di langit.
Duaar duar duarr
"Waah cantik sekaliii~"kata Jeslyn sambil memandang kembang api itu,
"Tapi kenapa ada kembang api?" tanya Jeslyn. Kristan terdiam namun dia mengambil ponselnya dan seperti mengecek sesuatu di ponselnya itu.
"Itu kembang api untukmu" jawab Kristan.
"Hah?!" balas Jeslyn tang kaget.
"Aku memesan khusus untukmu sebagai hadiah lainnya" kata Kristan yang pipi dan telinganya mulai merah. Jeslyn tertawa kecil melihat tingkah laku Kristan.
"Makasih ya" kata Jeslyn sambil tersenyum manis. Saat melihat Jeslyn tersenyum seperti itu, wajah Kristan semakin merah.
Pssshh
Jeslyn tertawa kecil lagi melihat wajah Kristan yang merah karena malu. Tapi tiba tiba Kristan merangkul pinggang Jeslyn lalu menariknya ke tubuhnya.
"A - apa yang kau lakukan??" tanya Jeslyn yang kaget sekaligus malu.
"Ulangi apa yang kau katakan tadi, aku ingin dengar bagaimana kau berterima kasih padaku seperti tadi" kata Kristan yang malu - malu.
"Pfft... Hahaha... Oke oke~" balas Jeslyn,
"Terima kasih Kristan" kata Jeslyn lagi dengan senyum lebarnya yang manis dan pipinya yang merona. Kristan melongo melihat Jeslyn lalu menelan salivanya.
__ADS_1
"Uhm!"
Kristan langsung mencium Jeslyn dan tangannya berpindah disamping telinga Jeslyn. Kristan merangkul Jeslyn dengan erat dalam pelukannya, seperti tidak ingin melepaskannya. Keduanya menutup mata dan menikmati ciuman itu, meskipun awalnya Jeslyn meronta ronta tidak ingin. Namun tubuhnya tidak bekerja sama dengannya dan lebih memilih untuk bersatu dengan Kristan.