PASANGAN Idaman Semua Orang

PASANGAN Idaman Semua Orang
Chapter 58 - Rindu Merindu -


__ADS_3

Seminggu kemudian, Jeslyn mempersiapkan segala sesuatu untuk mendaftarkan dirinya di universitas impiannya di Amerika. Karena sehari setelah sampai, suasana hati Jeslyn masih tidak baik sehingga dia malas melakukan aktivitas tersebut. Sedangkan Vivi sedang membersihkan rumah dan membuat sarapan. Vivi diangkat menjadi teman Jeslyn sekarang. Vivi tidak digaji, tapi mereka berdua berjuang bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Enak? Tidak, rasanya biasa saja. Karena Vivi tetap harus bekerja, bukan nyantai.


Begitu pula Jeslyn, namun Vivi menerima permintaan Jeslyn dengan senang hati. Vivi sudah biasa berjuang sendiri dari kecil, begitu juga Jeslyn. Kedua orang yang mandiri disatukan, apakah kedepannya akan berjalan lancar?


"Aku akan pergi kerja juga nyonya! Aku kerja dan mengurus rumah. Nyonya belajar dan bekerja. Aku senang bisa membantu nyonya, tak perlu sungkan" kata Vivi dengan senyuman lebar yang ceria. Jeslyn merasa tersentuh dan tersenyum pada Vivi. Setelah itu, mereka berbincang dan bercanda tawa sedikit, lalu fokus pada pekerjaan masing masing lagi.


4 jam kemudian...


Ketika Jeslyn merasa lelah mengerjakan CV nya, dia memutuskan untuk jalan jalan sebentar keluar dan Vivi menjaga rumah. Jeslyn berjalan jalan disekitar rumahnya, melihat tetangga - tetangganya berkebun, bermain bersama anak mereka, dan alam yang sangat asri. Disuatu jalan, Jeslyn melihat penjual es krim lalu menghampirinya.


"Permisi, saya ingin pesan 1 es krim pelangi dengan meses coklat diatasnya dan 1 es krim vanila dengan susu coklat diatasnya" kata Jeslyn dengan ramah menggunakan bahasa Inggris.


"Baik, mohon tunggu sebentar" balas penjual itu. Jeslyn melihat teknik yang dipakai oleh penjual itu dalam membuat es krim. Set set set... gerakannya sangat lincah sampai membuat Jeslyn tercengang.


"Mama!" teriak seorang anak kecil.


"Es kriiim" kata anak itu lagi. Jeslyn tak sadar bahwa ada keluarga kecil disampingnya. Anak perempuan yang imut dan manis menginginkan es krim, membuat Jeslyn ingin mencubit pipinya yang menggemaskan.


"Sabar ya nak. Lihat, paman itu sedang membuatkanmu es krim. Kamu harus sabar menunggu paman itu selesai, oke?" kata mamanya. Papanya juga berkata demikian, menyuruh anaknya untuk bersabar. Melihat keluarga yang harmonis ini mengingatkannya pada Kristan.


"Apakah aku juga harus bersabar? Berapa lama? Berapa kali ?" batin Jeslyn. Setelah gadis kecil itu bersabar, akhirnya es krim kesukaannya pun jadi. Keluarga itu pun pergi dan melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh tawa. Sekarang Jeslyn yang harus menunggu, sambil menunggu es krimnya jadi, dia mengkhayal tentang masa depannya nanti seperti apa.


Rasa cemas mulai membelenggunya. Pikirannya melayang kemana mana. Menebak akan berpisah dan menebak akan hidup bahagia.


"Apa kamu ada masalah nak?" tanya penjual es krim itu tiba tiba.

__ADS_1


"Eh.." Jeslyn yang tidak tahu harus berkata apa.


"Tidak apa, kamu bisa bicarakan dengan saya. Saya bukan orang jahat, saya sudah cukup lama berkeluarga. Melihat dari ekspresi wajahmu, mungkin kamu yang masih muda ini punya masalah dengan keluarga? Saya bisa memberimu nasehat" kata penjual es krim itu dengan ramah.


"Emm" Jeslyn yang masih berpikir.


"Kamu sudah menikah ya?" tanya penjual es krim itu lagi. Jeslyn membalasnya dengan mengangguk angguk.


"Saya melihat cincin dijari manismu. Sepertinya kamu ada masalah dengan suamimu?" kata penjual itu. Dan lagi lagi Jeslyn mengangguk.


"Hmm sudah saya duga. Nak, sebagai suami istri artinya kalian sudah dipersatukan Allah, dan tidak dapat dicerai beraikan oleh manusia. Jadi jangan berpikir untuk bercerai dengan suamimu kecuali jika dia selingkuh darimu. Bicarakan baik baik dengan suamimu, supaya kalian kembali bahagia" kata penjual itu. Jeslyn hanya bisa mengangguk angguk, dia merasa kalau mulutnya sulit terbuka.


"Ini es krimnya nona" kata penjual itu dengan ramah dan menyodorkan es krim.


"Terima kasih" balas Jeslyn yang kaget.


Jeslyn berjalan menuju sebuah bangku depan rumahnya. Disana sudah ada Vivi yang duduk menunggu Jeslyn. Dia menyodorkan es krim vanila ke Vivi dan ikut duduk lalu mulai menikmati es krimnya.


"Nyonya, maaf jika pertanyaan saya lancang. Tapi saya ingin sekali mengatakan ini, apa boleh?" kata Vivi tiba tiba.


"Tanyakan lah" balas Jeslyn yang lemas.


"Apa nyonya tidak merindukan tuan Kristan?" pertanyaan Vivi membuat Jeslyn berhenti menikmati es krimnya. Jeslyn mengambil nafas yang panjang dan Vivi menelan salivanya. Jeslyn menghembuskan nafasnya lalu melihat ke arah Vivi.


"Jujur, aku merindukannya" jawab Jeslyn. Matanya mulai memerah, air matanya mulai menetes. Jeslyn tidak dapat menahan air matanya lagi ketika mengatakan hal barusan.

__ADS_1


"Uwaaah nyonya jangan nangis! Vivi hanya bertanya" kata Vivi yang panik. Jeslyn mengusap air matanya, mencoba tidak menjatuhkannya lagi. Namun mengingat kejadian dengan suaminya, air matanya jatuh lagi dan lagi. Vivi segera masuk dan mengambil sebungkus tisiu lalu memberikannya pada Jeslyn.


"Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosiku jika sudah ngelunjak" kata Jeslyn tiba tiba. Vivi tiba tiba memeluk Jeslyn menenangkan dirinya.


"Makasih Vivi" kata Jeslyn sambil menyeka air matanya dan tersenyum.


"Tidak apa nyonya, jangan nangis lagi. Kalau tuan Kristan tahu aku membuat nyonya menangis, aku akan diceramahi 7 turunan 8 bengkokkan 9 tikungan" kata Vivi yang sudah mulai membayangkan dengan wajah konyolnya.


"HAHAHAHA" Jeslyn tertawa mendengar itu. Vivi juga ikut tertawa melihat majikannya, eh temannya tertawa lepas.


"Udah ah aku lelah tertawa... Ngomong ngomong jangan panggil aku nyonya, panggil aku Jeslyn" kata Jeslyn setelah berhenti tertawa.


"Gak ah nyonya, saya takut sama tuan" balas Vivi.


"Heh? Kamu lebih takut dengan orang yang tidak bertemu denganmu daripada orang yang ada didepanmu?!" kata Jeslyn sambil sok berkuasa.


"Takut juga sih, cuma tuan lebih menyeramkan" gumam Vivi yang terdengar Jeslyn.


"HAHAHAHA apakah Kristan sebegitu menakutkannya bagimu??" balas Jeslyn yang tertawa lagi.


"Nyonya tau gak? Aku akan menceritakan sesuatu mengenai tuan Kristan" balas Vivi tiba tiba dengan semangat gosip yang membara.


"Apa apa???" balas Jeslyn yang ikut bersemangat. Vivi menceritakan perilaku Kristan yang konyol saat masih belum menikah. Sifat yang kadang kejam, lemah lembut, dan membagongkan. Sambil mendengar Vivi bercerita, Jeslyn kadang sampai tertawa terbahak bahak mendengarnya. Satu jam mereka duduk diluar, bergosip tentang Kristan setelah menghabiskan es krim.


Namun ada yang dilupakan Vivi. Apa itu? Ternyata dia sedang bertelponan dengan Kristan dan dia melupakan bahwa dia belum mematikan telponnya. Sehingga Kristan mendengar seluruh percakapan mereka. Mulai dari Jeslyn menangis sampai dia tertawa terbahak bahak. Kristan yang terdiam diseberang telpon sana sudah menetaskan air mata sambil tersenyum senyum sendiri. Sangat bahagia mendengar istrinya tertawa lepas seperti itu dan lebih bahagianya lagi tahu bahwa istrinya merindukannya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar ingin memeluknya..." batin Kristan yang sudah ngelunjak lunjak diseberang sana.


"Tapi tugasku banyak..." dilema batinnya lagi. Apa yang akan Kristan lakukan??


__ADS_2