
"PA!" panggil Kristan pada ayahnya.
"Iya nak?" tanya ayah Kristan.
"Gak jadi" balas Kristan dengan polos. Alis ayah Kristan berkerut sambil menatap anaknya dengan sipit. Kemudian dia langsung berbalik dan menggeleng geleng kepala. Kristan tertawa kecil melihat ayahnya. Lalu dia pun ikut masuk kembali.
"Koko~" panggil Carrol dan Catline. Saat Kristan baru masuk, dia langsung disambut oleh kedua anak ini. Mereka masing masing memeluk kaki Kristan yang panjang. Lalu menyuruh Kristan untuk mendekati Jeslyn. Jeslyn sedang duduk disamping ayahnya dan mendengarkan ayahnya berbincang dengan orang tua Kristan mengenai anak anak mereka, Jeslyn, Kristan, dan saudara saudara mereka.
"Berapami umurnya Kristan sama yang lain?" tanya ayah Jeslyn.
"Kalau Kristan 19 tahun, kalau Jeni 18 tahun, kalau Rian 17 tahun, kalau Valent 16 tahun, sama Jeslyn" jawab ayah Kristan sambil menunjuk anaknya satu per satu.
"Kristan sama Jeslyn kan beda 3 tahun, kalau Rian sama Jeslyn beda 1 tahun, jadi siapa tau Jeslyn berminat toh sama salah satu anaknya ai hahaha" kata bibi Jane yang sedang bercanda. Tapi kata kata bibi Jane membuat Jeslyn dan Kristan malu tersipu dan tersenyum senyum manis. Rian nampak biasa saja sambil memperhatikan Jeslyn dan Kristan.
Bruk
"HUWAAA" teriak Catline yang menangis.
"Ya ampun Catline..." kata bibi Jane saat melihat Catline jatuh tersandung. Kristan langsung sigap membangunkan Catline yang tengkurap di lantai, begitu juga Jeslyn. Catline terjatuh didekat kursi Jeslyn, sehingga Jeslyn tidak perlu berdiri dan hanya mengangkat Catline saja. Kristan dan Jeslyn berusaha menenangkan Catline yang menangis. Lalu datanglah saudara kembarnya, Carrol dan memeluk Catline. Catline pun seketika berhenti menangis.
"Teletabis, berpelukan~" kata Kristan yang ingin menghibur Catline. Air mata Catline berhenti jatuh, dan terbitlah senyuman lebar diwajahnya. Jeslyn tertawa kecil lagi yang melihat sifat Kristan yang konyol. Kristan yang berjongkok disamping kedua anak itu, tiba tiba dipeluk oleh mereka. Dan Jeslyn tersenyum melihat keharmonisan mereka disamping Kristan.
__ADS_1
"Pemandagan ini..." batin ayah Jeslyn. Ayah Jeslyn tertegun saat melihat putrinya tersenyum bahagia bersama orang lain, apalagi dia melihat kalau anaknya seperti bukan anak kecil lagi, rapi seperti orang yang sudah berumah tangga.
"Astaga putraku... senyuman lebarmu dan tindakanmu saat ini..." batin ayah dan ibu Kristan.
"Untung saja tidak ada orang kantor disini. Kalau ada lalu mereka melihat sikapku yang kekanakan tadi, tamatlah sudah! Langsung jadi trending topik di perusahaan !" batin Kristan.
"Bukan hanya tampan, tajir, dan cerdas. Tapi juga sangat imut dan penyanyang rupanya. Hahaha !" kata batin Jeslyn sambil tersenyum. Catline dan Carrol pun diberikan pada Jeni dan Rian untuk menjaga mereka. Kristan pun kembali duduk ke tempatnya.
Tidak lama kemudian, angpao pun dibagi oleh orang tua untuk anak anak. Lalu bersalaman lagi dan mengucapkan 'Gong Xi Fat Chai'. Setelah itu Kristan dan keluarganya pun berpamitan dan pergi mengunjungi tempat lain lagi. Begitu juga Jeslyn dan keluarganya, setelah makan bersama mereka akan mulai mengunjungi rumah rumah kerabat mereka. Dulu Kristan dan keluarga masih tinggal di Makassar, namun saat usia Kristan sudah 20 tahun mereka pun pindah kembali ke Jakarta.
...***** KEMBALI KE TAHUN 2028 *****...
"Jadi gitu ceritanya. Saat kau memberiku teh kotak itu dan tersenyum, aku-" Kristan tiba tiba berhenti bicara mengucapkan kata selanjutnya.
"Aku cuma tebak asalan doang. Tapi... kamu anggap serius..." balas Jeslyn yang gugup. Sekarang suasana di dalam kamar terasa canggung. Kristan menelan salivanya kemudian pikirannya menyuruh untuk menyerang Jeslyn secara mendadak. Namun tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak.
"Udah malam, aku mau istirahat. Kembalilah ke kamar" pinta Jeslyn yang gugup. Dia berjalan mendekati pintu dan membukakannya untuk Kristan. Kristan pun bangkit dan berjalan perlahan lahan. Sebelum Kristan keluar dari kamar Jeslyn, dia langsung memeluk dan mencium istrinya itu di kening.
"Selamat malam, mimpi indah" kata Kristan sambil mengelus elus rambut istrinya. Jeslyn hanya terdiam kaget dan tidak bisa bergerak. Sedangkan Kristan sudah berjalan keluar dan menutup pintu. Setelah Kristan keluar, Jeslyn pun berlari ke arah kasur dan menghempaskan dirinya. Dia memeluk salah satu bantal dan menengadah ke langit langit kamarnya. Pipinya merona mengingat ciuman Kristan tadi, lalu dia berguling guling ditempat tidur sambil memeluk bantal itu didekat wajahnya. Karena baper, pikiran Jeslyn pun traveling kemana mana.
"Emm dia anggap tebakan ku serius, apa jangan jangan dia menyukaiku juga ?" pikirnya,
__ADS_1
"Tapi.. kenapa tadi diam saja pas udah tau ??" pikirnya lagi,
"Apa jangan jangan dia malu?? Uuuh~ Tapi kalau dia tadi menyerangku tiba tiba..." pikirnya lagi dan mulai membayangkan apa yang terjadi.
"Hus hus pikiran jelek! Pergi !" katanya dalam hati sambil menggeleng gelengkan kepala. Dia kembali tidur terlentang dan menatap langit langit malam. Dan perlahan menutupkan matanya dan tertidur.
...***** Sementara Kristan *****...
"Astaga... Hampir saja! Hampir saja aku menyerangnya disofa " batin Kristan sambil tertidur terlentang menatap langit langit kamar juga. Kemudian dia memeluk bantal gulingnya dan menarik selimutnya menyelimuti tubuhnya.
"Seandainya yang kupeluk ini Jeslyn..." batinnya lagi yang penuh harap. Tapi khayalan Kristan itu untuk saat ini tidak akan terjadi, karena sedang terjadi suasana canggung diantara mereka. Dia menghembuskan nafas kecewa lalu memejamkan mata untuk tidur.
Keesokan paginya
Jeslyn bangun pukul 07.00 pagi lalu berdoa 2 menit kemudian bersiap untuk berolahraga 3 menit dan berolahraga 30 menit. Setelah selesai berolahraga, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dia menyiapkan 4 lembar roti tawar, 2 butir telur yang sudah dibuat menjadi telur mata sapi, 1 buah sosis yang dipotong potong, dan 4 lembar keju iris. Dia menyusunnya menjadi sandwich di atas toaster lalu memanggang roti itu. Sambil menunggu roti itu selesai dipanggang, dia menyiapkan 2 gelas susu dan meletakkannya di meja.
Setelah itu, dia kembali memeriksa roti panggangnya. Tiba tiba sepasang tangan mengulur dan melingkari pinggang Jeslyn. Jeslyn menoleh dan melihat suaminya yang sangat tampan ketika baru bangun tidur memeluknya dan bersandar dibahunya.
"Ini sudah jam 7 lewat 40 menit, pergi mandi sana lalu sarapan" kata Jeslyn sambil mengelus pipi suaminya yang bersandar padanya. Tapi Kristan tak kunjung melepaskan pelukannya. Jeslyn meletakkan roti itu masing masing ke 1 piring.
"Apa hari ini aku cuti saja? Kemarin traumaku kambuh, trus ada Clara, aku merasa lelah! Istriku apa boleh aku cuti sehari saja?" pinta Kristan dengan manja.
__ADS_1
"Emm okey kamu sebaiknya cuti saja dulu untuk refresing otak. Tapi gak boleh sering bolos kerja ya, kamu harus semangat kerjanya, nanti aku juga kerja dikantor jadi bisa bantu kamu. Lusa kamu harus masuk bareng aku dan kalau Clara datang lagi, biarkan aku yang membereskan wanita itu!" kata Jeslyn dengan serius. Saat ingin membelah roti menjadi 2 bagian, suara pisau membelah bertepatan saat Jeslyn mengakhiri perkataannya.
"Hmmm sepertinya aku tidak bisa membiarkan istriku menangani wanita wanita mana pun. Bisa bisa ruangan yang dipake mereka saat gulat bisa hancur lagi seperti waktu itu "pikir Kristan yang tersontak kaget saat Jeslyn membelah roti.