
Setelah sampai di dalam mobil, Kristan pun menjalankan mobil dan menuju bandara. Setelah Kristan selesai melakukan rapat, dia menaruh barang barang ke dalam bagasi mobil lalu menjemput Jeslyn. Untuk beberapa saat, suasana nampak sangat hening dan canggung. Jeslyn kesal dengan perilaku Kristan, dan Kristan merasa bersalah atas perilakunya, namun keduanya tidak ada yang ingin bicara.
"Apa maksud perkataan kamu tadi?" tanya Jeslyn yang masih marah.
"Aku cuma bercanda, lupakan saja" jawab Kristan santai.
"Lupakan? Hah! Kamu gak lihat tatapan teman teman aku yang penuh pertanyaan di mata mereka? Nanti kalau kami ketemuan lagi trus mereka nanya aku, aku harus jawab gimana hah?" balas Jeslyn yang penuh amarah,
"Bilang aja kalau aku bohong, pengen jahilin kamu, sudah itu abaikan aja" jawab Kristan santai.
"Kamu bisa gak sih serius dikit?! Kamu sebegitu sukanya ngejahilin aku ya? Kamu udah berulang kali jahilin aku tahu! Kamu ini nganggep aku apa? Mainan? Jadi kamu bisa berbuat seenaknya padaku? Gitu?!" balas Jeslyn yang yang penuh amarah. Jeslyn semakin kesal hingga berdebat dengan Kristan.
"Kamu tanya aku bisa serius dikit? Aku bisa menjadi orang yang sangat sangat serius! Kamu sendiri bisa gak berpikir lebih dewasa? Kamu udah gede tapi kelakuan masih seperti anak kecil, kekanak kanakan! Manja! Aku gak pernah anggep kamu mainan!" balas Kristan yang ikutan marah.
"Oh jadi kamu gak suka aku yang kayak gini? Jadi kamu sukanya yang bagaimana? Sini perlihatkan padaku, nanti akan ku ikuti supaya kamu juga bisa menghormatiku! Tidak tahu sopan santun!" balas Jeslyn semakin marah,
"Oh atau jangan jangan kamu suka yang seperti Angel? Wanita yang suka memakai pakaian mini lalu memamerkan tubuhnya didepan para lelaki? Lalu malam malamnya pergi bermain di bar dengan semua cowok? Kamu mau aku kayak gitu?" lanjut Jeslyn,
"TUTUP MULUTMU! Jangan sembarangan bicara. Aku tidak suka wanita yang seperti Angel! Lebih baik kau menutup mulutmu atau kupotong lidahmu!" kata Kristan dengan tatapannya yang tajam dan kejam. Tatapan Kristan sudah penuh dengan amarah, tatapannya mengatakan kalau dia ingin membunuh orang.
Jeslyn terdiam ketakutan,matanya mulai berkaca kaca. Jeslyn membalikkan kepalanya ke arah jendela. Dia berusaha agar tidak menjatuhkan air matanya dan tidak mengeluarkan suara tangisan. Hatinya sangat terluka karena perkataan Kristan. Kristan juga merasa sakit pada dadanya namun masih diliputi oleh amarah.
Dulu Kristan dikenal sebagai orang yang dingin dan kejam sebelum dia mengenal Jeslyn. Setelah dia mengenal Jeslyn sifat dinginnya bisa saja hilang, bisa saja muncul kembali, begitu juga dengan kekejamannya. Tatapan Kristan ketika marah dan penuh kebencian itu sangat menakutkan. Tidak ada yang berani menatap Kristan balik setelah dia menunjukkan tatapannya itu. Bahkan anak kecil yang melihat tatapan itu akan langsung menangis terjerit jerit.
__ADS_1
Setelah 15 menit hening akibat dari perdebatan itu, mereka pun sampai kembali di bandara. Kristan langsung melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Namun dia tidak melihat pergerakan Jeslyn untuk turun dari mobil. Akhirnya Kristan berjalan ke pintu bagian Jeslyn dan membukakannya. Dia melihat Jeslyn tertidur ke arah jendela dan oleh sebab itu dia belum turun.
"Bangun!" panggil Kristan sambil menggoyang goyangkan tubuh Jeslyn dengan pelan. Jeslyn pun akhirnya bangun lalu segera turun dari mobil. Mereka pun berjalan masuk tapi tiba tiba Jeslyn menghentikan langkahnya dan Kristan.
"Tunggu, ini mobil siapa?" tanya Jeslyn,
"Aku sewa. Karena kita pakainya cuma 1 hari, aku sudah memberitahukan pemiliknya untuk mengambil mobil mereka dibandara ini. Sebentar lagi pasti mereka datang, tidak usah dipikirkan" jawab Kristan. Jeslyn menghembuskan nafas lelah lalu duduk dikursi tunggu. Tiba tiba ponsel Jeslyn berdering dan rupanya itu panggilan dari mantannya.
"Halo? Ada apa?" tanya Jeslyn,
"Kamu dimana sekarang? Boleh ketemuan gak?" tanya Nathan,
"Maaf gak bisa. Aku ada dibandara mau balik ke Jakarta" balas Jeslyn singkat. Nathan terdiam sehabis mendengar perkataan Jeslyn. Dia merasa bingung harus mengatakan apa. Ingin melarangnya namun bukan siapa siapanya, ingin membiarkannya pergi namun tak rela.
"Siapa?" tanya Kristan,
"Nathan" jawab Jeslyn. Kristan menyerngitkan alisnya dan menatap Jeslyn dengan penuh kecemburuan.
"Aku ingin bicara denganmu" kata Jeslyn tiba tiba,
"Ada apa?" balas Kristan bertanya,
"Aku ingin keluar dari perusahaan. Dan aku ingin tetap disini, aku gak ingin balik" kata Jeslyn yang agak ragu dan takut.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa gara gara mantanmu itu?" balas Kristan mulai kesal lagi.
"Bukan dia! Tadi ada temanku yang bilang padaku kalau dia membutuhkan bantuanku, dia menyuruhku untuk bekerja diperusahaan nya. Jadi bagaimana?" balas Jeslyn.
"Tidak boleh!" jawab Kristan singkat lalu pergi,
"Tunggu! Kenapa gak boleh? Aku cuma ingin membantunya, kenapa kamu gak ngasih izin? Kamu ini jahat banget ya" kata Jeslyn yang mulai kesal lagi.
"Aku bilang tidak berarti tidak! Terserah kamu mau nganggep aku apa, intinya kamu tidak boleh keluar dari perusahaanku" kata Kristan lalu pergi dengan cepat ke arah counter untuk memesan tiket. Jeslyn memalingkan wajah dari Kristan karena merasa kesal. Namun 15 menit kemudian, Kristan belum balik juga. Jeslyn melihat kanan kiri dan dia melihat Kristan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.
"Jeslyn" panggil seseorang. Jeslyn membalikkan wajah ke arah sumber suara itu. Seorang pria dengan sepatu kets putih, celana coklat panjang dan lebar, kemeja putih yang longgar, kacamata hitam, dan rambutnya yang agak acak - acakan, terlihat seperti style korea.
"Jeslyn" panggil orang itu lagi,
"Kamu siapa?" tanya Jeslyn,
"Aku akan membawamu ke rumahku. Jangan takut, ini aku Nathan" jawab pria itu. Nathan langsung menggemgam tangan Jeslyn lalu mulai berjalan sambil menarik Jeslyn. Namun tiba tiba Kristan muncul dan menahan Jeslyn dengan menggapai tangan Jeslyn yang satunya.
"Siapa kamu? Kau mau membawa istriku kemana?" tanya Kristan dengan dingin dan tatapan mematikan.
"Aku Nathan. Kami baru saja bertemu setelah bertahun tahun, Jeslyn juga pasti lelah karena acara tadi, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengannya. Aku tidak ingin dia pergi denganmu. Kalau kamu sibuk di perusahaanmu, kamu saja yang pergi. Tinggalkan Jeslyn disini bersamaku, aku akan menjaganya" jawab Nathan dengan wajah serius. Kristan mengerutkan dahinya, menyerngitkan alisnya dan semakin tajam menatap Nathan.
"Mulai lagi ni..." kata batin Jeslyn dengan tidak berdaya. Dia membalikkan balikkan pandangan diantara kedua pria itu, tidak tahu harus melakukan apa. Malas menanggapi kedua pria itu, sama sama membuatnya kesal.
__ADS_1
"Lepas!" kata Kristan sambil merebut tangan Nathan agar terlepas dari tangan Jeslyn.