
"Sabar itu ada batasnya loh. Kamu daritadi nguji kesabaranku mulu" bisik Kristan. Kristan melakukan hal yang sama pada Jeslyn, dia menghembuskan nafasnya ke telinga Jeslyn. Wajah Jeslyn jadi ikutan merah merona. Panas panas...
"Hah? Apa sih? Aku gak ngerti!" balas Jeslyn kesal dan malu.
"Kenapa kamu mendekat ke wajahku? Trus elus elus keningku, trus bisik dan bernafas ke telingaku? Sedang menggodaku? Kalau terjadi apa apa sama kamu, aku gak tanggung jawab ya. Jadi jangan diulangin lagi!" jawab Kristan.
"Kamu mikir apa sih. Orang aku cuma ngecek kamu doang. Kan tadi juga udah dibilangan, kamu tu demam..."jawab Jeslyn jadi kesal.
Kristan mengecek keningnya. Dia tidak sadar kalau dia demam. Tapi dia memang merasa bahwa tubuhnya lemas dan badannya terasa panas, terutama wajahnya.
"Tunggu disini. Aku ambilin obat sama air" kata Jeslyn yang segera beranjak dari tempat duduknya. Dan kembali secepat mungkin membawa obat dan air. Kristan meminum obat dan air itu. Perlahan lahan dia merasa kantuk, lalu tersandar pada bahunya Jeslyn. Jeslyn yang kaget dan bingung harus ngapain setelah melihat Kristan tertidur di pundaknya, duduk tenang dan tidak berani bergerak sambil berpikir.
"Kristan... Hey bangun!" panggil Jeslyn.
Namun Kristan tak kunjung bangun. Jeslyn sudah berusaha berkali kali membangunkannya, tetapi tidak berhasil juga.
"Kok tiba tiba pingsan gitu ya? Perasaan tadi baik baik aja..."pikir batin Jeslyn, merasa heran pada Kristan.
"Kok bisa bisanya langsung tertidur gini? Padahal obatnya juga punya rekasi kantuk sekitar 1 jam setelah diminum..." lanjut batin Jeslyn. Jeslyn berpikir dan tetap merasa heran. Dia menduga kalau Kristan sedang berpura pura.
"Kamu jangan pura pura ya..." bisik Jeslyn ke telinga Kristan. Tapi tidak ada pergerakan dari Kristan.
"Jangan pura pura pingsan, jangan pura pura gak dengar, jangan pura pura BEGO!" lanjut Jeslyn yang masih membisikkan kalimat itu pada Kristan. Namun di kata terakhir kalimatnya, dia berteriak sambil mencubit perut Kristan. Kristan akhirnya terbangun dan menjerit kesakitan. Setelah itu Kristan mengatakan bahwa dia hanya bercanda lalu tertawa tawa senang. Padahal, Jeslyn yang disampingnya sudah bisa dibilang malaikat maut. Tatapan tajam dengan wajah datar itu, membuat atmosfer bumi sangat dingin. Kasihan Kristan, udah sakit telinga, sakit perut, sakit hati pula.
"Ada ada aja" sambung Jeslyn.
"Pulang sono. Udah malam banget, aku juga ngantuk" lanjut Jeslyn yang disusul dengan menguap.
"Aku nginep disini aja ya? Badanku lemas banget, gak bisa ngendarain mobil. Kalau aku pulang sekarang, trus terjadi apa apa sama aku gimana? Orang terakhir yang kutemui itu kamu loh~" jawab Kristan.
Jeslyn membalikkan wajah dan mempelototi Kristan. Kristan malah memperlihatkan raut wajah tidak berdaya nya dan sedikit memohon pada Jeslyn. Jeslyn menolak berkali kali dan Kristan juga memohon berkali kali. Jeslyn mengatakan kalau mereka tidak boleh tinggal bersama sebelum menikah, tidak baik!
__ADS_1
"Gue gak bakal apa apain lo kok. Astaga, gue cuma numpang tidur satu hari doang karena gue sakit. Boleh ya???" jawab Kristan masih sambil memohon mohon. Jeslyn lagi lagi menolak.
"Lagian kita 2 minggu lagi nikah kok. Gue juga udah bilang, kalau gue gak cinta sama lo. Ngapain takut gitu sih?" lanjut Kristan yang udah kedengaran kesal.
"Intinya tetap gak baik! Laki laki mana pun bisa melakukan hal aneh pada perempuan meskipun bukan dengan perumpuan yang dia cintai" balas Jeslyn teguh pada pendirian.
"Aku lagi sakit, masa kamu tega mengusirku? Ingat! Aku ini calon suami mu. Aku gak cinta sama kamu! Aku juga gak selera sama kamu! Kamu ini kegeeran banget" balas Kristan marah. Lalu ruangan menjadi hening tiada suara. Hanya suara jam dinding dan tokek aja yang kedengaran.
"Ya udah kamu tinggal aja disini satu malam. Tapi ingat ya! Gak boleh macam macam! Dan kamu tidur di sofa sana!" kata Jeslyn sambil menunjuk nunjuk sofa yang tadi. Karena terlalu emosi dan fokus menunjuk nunjuk sofa itu, Kristan malah udah menghilang dari sampingnya.
"Aku tidur dikamar kamu aja, lagipula aku lagi demam. Harus cari yang anget anget" balas Kristan yang ternyata udah masuk duluan ke kamar Jeslyn.
"Heh! Keluar kamu! Gak bisa gitu!" kata Jeslyn penuh amarah sambil mengetuk pintu keras. Kristan membuka pintu dan Jeslyn langsung masuk. Sampai di dalam dia menatap Kristan sangat marah. Kristan menatap Jeslyn sedih dan mereka saling bertatapan dengan perasaan yang berbeda di hati.
"Apa aku terlalu keterlaluan ya ?" batin Kristan.
Beberapa detik kemudian, Kristan memegang kepalanya. Nampaknya dia sedang sakit kepala. Disaat itu, hujan pun turun bersamaan petir dan guntur. Jeslyn masih menatap Kristan sedangkan Kristan sudah mulai goyah dan akan jatuh.
"Jangan pura pura!" kata Jeslyn setelah keheningan beberapa detik.
"Sakit..." suara Kristan kecil. Namun suaranya kedengaran oleh Jeslyn. Jeslyn yang masih kesal tetap khawatir.
"Gawat! Kenapa disaat seperti ini sih? Badanku panas sekali..." batin Kristan merasa kesakitan dan kepanasan.
Kristan segera mengambil handphone nya yang berada di saku baju. Menekan tombol tombol pada handphone sambil gemetaran, lalu menelpon seseorang.
"Hey kamu kenapa lagi?" tanya Jeslyn lalu ikut jongkok.
"Gilbert! Cepat ke alamat yang aku kirimkan! Aku kambuh lagi, cepat!" kata Kristan pada telepon itu.
"Kamu kenapa?" tanya Jeslyn mulai panik dan khawatir.
__ADS_1
"Lepaskan!" bentak Kristan menghempaskan tangan Jeslyn.
"Ih aku niatnya mau nolong kamu loh" balas Jeslyn heran. Setelah itu, mereka terdiam. Jeslyn menatap Kristan yang merasa kesakitan. Tangannya yang berhasil memegang tangan Kristan tadi, merasa badannya panas. Jeslyn berdiri lalu menyiapkan dan merapikan tempat tidurnya. Lalu kembali pada Kristan. Segera dia membangkitkan Kristan lalu membawanya ke kasur.
Kristan akhirnya terbaring pada kasur kesayangan Jeslyn. Tapi saat ini Jeslyn tidak peduli, kemudian dia membungkus tubuh Kristan degan selimut.
"Kamu kenapa sih? Jangan main main dong, aku khawatir nih" kata Jeslyn yang sudah panik. Lagi lagi dia mengecek kening Kristan, dan badannya sangat panas.
"Tunggu disini. Aku ambilin obat" kata Jeslyn memberitahukan Kristan. Setelah mengucapkan kalimatnya, petir dan guntur ikut melintas yang mengagetkannya.
"TIDAK!" teriak Kristan yang lagi lagi mengagetkan Jeslyn. Dari sini kita bisa tahu, kalau Jeslyn takut sesuatu yang bersuara besar dan tiba tiba, dia juga sebenarnya takut dibentak.
"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Jeslyn mulai panik.
"TIDAK!" lagi lagi teriak Kristan.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu, membuat Jeslyn tambah panik. Karena terlalu paniknya, dia membolak balikkan kepalanya antara ke arah Kristan dan pintu. Kristan, pintu, Kristan, pintu, Kristan, pintu. Lalu akhirnya menuju pintu secepat mungkin lalu membuka pintu itu.
"Apa Tuan Kristan disini?" tanya pria itu. Pria dengan tinggi lebih 10 cm dari Jeslyn. Dengan badan yang lurus dari atas ke bawah dan dari samping. Rambut gondrong yang diikat, matanya yang sipit ditambah kacamata berbentuk persegi. Menggunakan pakaian jas hitam putih disertai sarung tangan putih. Penampilannya sangat rapi dan terlihat bahwa dia seorang yang pasti sangat teliti dalam menjalankan suatu hal.
"Em kamu Gilbert?" tanya Jeslyn ragu,
"Nama nona Jeslyn kan? Calon istri tuan Kristan? Iya saya Gilbert, saya sekretaris sekaligus teman tuan Kristan. Salam kenal nona" balas Gilbert lalu tersenyum.
Jeslyn segera mengangguk angguk dan tersenyum. Namun setelah itu, dia mengingat bahwa kondisi Kristan lagi kurang baik. Jeslyn langsung menyuruh Gilbert untuk membawanya ke rumah sakit.
"Gilbert, tuan mu ini kenapa ya? Daritadi teriak teriak 'Tidak Tidak ' . Aku jadi bingung maunya apa..." tanya Jeslyn.
"Nanti saya ceritakan nona, ceritanya panjang" balas Gilbert singkat.
__ADS_1
Jderrr Jderr
"Tuan, tidak akan lama lagi" lanjut Gilbert. Suara guntur dan petir menyambar lagi, Jeslyn melongo kaget sambil mempelototi Gilbert. Calon suaminya gak bakal lama lagi, Jeslyn seketika merasa bersalah dan sedih. Kemudian menangis keras banget, sampai Kristan ikut kaget.