
Keesokan paginya, seperti biasa, Jeslyn yang bangun terlebih dahulu daripada Kristan. Pelan pelan bangun lalu menuju kamar mandi untuk menyikat gigi, mencuci muka dan mandi. Tiga puluh menit kemudian ketika Jeslyn sudah selesai mandi, Kristan masih tertidur lelap diatas tempat tidur. Jeslyn berjalan keluar dan menikmati suasana hening dan tenang dilorong hotel lantai 4 sekitar kamarnya.
Tapi tiba tiba muncul wanita yang semalam bersama Kristan, Jessica, sepupunya. Jessica sedang melakukan yoga didepan jendela besar tempat kemarin mereka berbincang. Jeslyn merasa kesal ketika mengingat kejadian kemarin, dan tanpa berpikir panjang dia menghampiri Jessica. Pandangan Jessica yang menatap keluar jendela menjadi teralih ke arah Jeslyn yang menghampirinya.
"Halo kakak ipar" salam Jessica,
"Apa yang kalian lakukan kemarin?" tanya Jeslyn,
"Ups~ Kristan tidak memberitahumu ya?" balasnya sambil menyeringai.
"Tidak perlu memberitahuku jika kamu tidak mau. Tapi, jangan coba coba dekati suamiku. Kamu gak maukan dikatai oleh orang orang sebagai pelak*r?" balas Jeslyn secara to the point.
"Cih... Yang lebih dulu bertemu dengan Kristan itu aku. Yang lebih dulu mengenal Kristan itu aku. Yang menyatakan perasaan duluan itu aku. Selalu aku yang pertama, tapi kenapa kamu yang menikah dengannya?" balas Jessica yang kesal. Senyum tipis terbit diwajah Jeslyn. Dia berjalan mendekati wanita yang ingin merebut suaminya itu.
"Karena yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir~ HAHAHA" bisik Jeslyn lalu berbalik pergi dengan penuh gembira. Jessica merasa kesal lalu mengejar Jeslyn, menarik tangannya lalu membalikkan tubuhnya.
"Heh! Kalau begitu kamu juga jangan senang dulu. Karena belum tentu Kristan menyukaimu juga HAHAHA" balas Jessica lalu tertawa. Jeslyn menyipitkan matanya memandang Jessica. Tiba tiba dia menyandarkan Jessica pada tembok lalu menghalangnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir!" bentak Jessica yang kaget.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan cinta Kristan, karena cintanya selalu tulus. Dia mencintaiku dan kami sudah proses menjadi calon orang tua" bisik Jeslyn sambil mengelus elus perutnya. Melihat gerakan Jeslyn yang mengelus perutnya, mata Jessica membelalak tidak percaya. Marah, kecewa, sakit hati, dan gelisah meliputi dirinya sekarang. Tubuhnya gemetar dan tersungkur jatuh. Jeslyn menjauh darinya dan memandangnya dari jarak 2 meter.
"Tidak mungkin... Tidak... INI PASTI TIDAK NYATA! KAU BOHONG!" teriak Jessica yang menggila.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku pergi, bye dan jangan pernah mendekati Kristan Arthur Wijaya, suamiku lagi!" balas Jeslyn lalu kembali berjalan meninggalkan Jessica. Merasa tidak adil dan tidak percaya, Jessica bangkit lalu mengejar Jeslyn lagi. Dia menarik Jeslyn lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
"Auch!" teriak Jeslyn yang kesakitan. Kakinya terkilir dan susah digerakkan. Jessica mengambil vas bunga disekitar situ lalu mengangkatnya.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Kristan, maka siapa pun tidak boleh memilikinya! JANGAN HARAP KAU BISA BERSAMA KRISTAN SELAMANYA!! "teriak Jessica yang marah. Perlahan tapi pasti, tangannya yang memegang vas bunga turun dan mengarah pada Jeslyn. Jeslyn sudah ketakutan dan tidak bisa bergerak, dia cuma bisa menutupi wajah dan kepalanya menggunakan kedua tangannya.
"Ada apa ini?" tanya kakek. Kristan menatap Jessica dengan tajam dan penuh ancaman.
"Jangan harap ada yang namanya lain kali. Jika kamu masih menyakiti istriku lagi, maka konsekuensinya akan lebih besar" bisik Kristan dengan tajam.
"Apa mak-" tanya Jessica namun dia tiba tiba ditampar keras oleh Kristan. Semua orang kaget dan tidak bisa berkata kata, menutup mulut mereka yang membentuk huruf O dengan kedua tangan. Kristan kemudian berjalan ke arah Jeslyn lalu menggendongnya. Membawanya kembali ke kamar dengan sangat berhati hati.
__ADS_1
"Sayang anakku, apa yang terjadi? Mengapa Kristan menamparmu?" tanya ibu Jessica. Semua orang dikeluarga sangat menyayangi dan menghormati Kristan, namun juga takut pada Kristan ketika marah karena dia sangat menyeramkan. Wajahnya yang tampan bisa saja menjadi seram karena tatapannya yang tajam. Itulah yang menjadi keunikan Kristan. Tidak ada kumis maupun jenggot, wajahnya putih mulus bersih dan tampan.
Namun Jessica hanya terdiam saat ditanyai mamanya. Dia malah menepis tangan mamanya lalu pergi meninggalkan semuanya. Karena khawatir, mamanya ikut mengejar Jessica.
Di dalam kamar...
Bruk!
Kristan melempar buku buku dan dokumen diatas meja. Mondar mandir sambil memegang keningnya, merasa kesal.
"Siapa yang menyuruhmu menghampirinya? Siapa yang menyuruhmu mencari masalah dengannya? Aku sudah bilang aku bisa menjelaskannya. Kami tidak ada hubungan apa apa! Lihat! Karena kecerobohanmu kau jadi seperti ini. Sekarang keluarga besar juga menjadi khawatir karena masalah ini. Bisa gak sih jangan cemburuan gitu mulu? Aku capek ngurusnya! Tiap saat ada cewek yang datang menghampiriku kau selalu mencari masalah dengan mereka. Kau kan bisa bertanya padaku dulu? Kita bisa bicarakan baik baik tanpa menimbulkan masalah!" ceramah Kristan dengan nada tinggi.
Kata kata Kristan menusuk dan mengiris ngiris hati Jeslyn. Rasanya sakit dan pedih. Ingin sekali Jeslyn menangis dan membiarkan air matanya terjatuh, namun dia tidak rela diejek seperti itu.
"Kamu menyalahkanku? Ini salah Jessica dan wanita wanita yang dekat denganmu! Setiap dekat denganmu mereka selalu ingin merebutmu dariku! Lalu, kenapa memangnya jika aku cemburu berlebihan? Kamu sendiri juga berlebihan saat mantanku datang menemuiku" balas Jeslyn yang kesal dan berusaha menahan air mata.
"..." Kristan tidak dapat berkata kata. Dia cuma berdiri terdiam dan merenung. Setelah keheningan beberapa saat diantara mereka, Kristan berlutut dihadapan Jeslyn lalu meraih kakinya yang terkilir. Dengan lembut dan berhati hati, Kristan memijat kaki istrinya yang terkilir itu.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanya Kristan. Jeslyn menggeleng gelengkan kepalanya.
"Lain kali jangan diulangi. Ada masalah bicara padaku, jangan lakukan sendiri. Aku gak suka kamu terluka begini, hatiku sakit" lanjut Kristan. Kata katanya menyentuh dan meluluhkan hati. Jeslyn yang awalnya panas karena kesal. Setelah Kristan memijat kaki Jeslyn, dia berdiri lalu mendorong Jeslyn ke tempat tidur. Naik ke atasnya lalu mencium aroma wangi disekitar rambut dan telinga Jeslyn.