
Selama perjalanan, mereka cuma diam. Jeslyn ngambek dan Kristan malah senyum senyum sendiri. 15 menit kemudian mereka sampai di catatan sipil,
"Bang... gue belum bilang gue setuju..."kata Jeslyn tak berdaya menatap Kristan.
Kristan tak mempedulikan perkataan Jeslyn. Kristan malah asik tengok kiri tengok kanan. Dan akhirnya Jeslyn pun ikut bingung. Setelah Jeslyn ngikut Kristan tengok kiri tengok kanan dia bertanya padanya,
"Liatin apa sih?" tanya Jeslyn,
"Kok gue ngerasa pintu luarnya ketutup rapat ya? Apa emang lagi tutup?" jawab Kristan masih tidak percaya,
"Iya mungkin tutup. Udah kita pulang aja, aku ada pekerjaan dikantor. Cepat puter balik mobilnya" balas Jeslyn bersemangat karena mereka tidak jadi foto.
"Tunggu disini, gue pergi cek. Jangan coba coba kabur ya". Balas Kristan yang bikin Jeslyn kesal dan tak berdaya.
Kristan turun dari mobil dan mendekati pintu biro catatan sipil itu. Sedangkan Jeslyn sedang merenungi nasibnya yang tak berdaya di mobil. Lalu tak sengaja Jeslyn membalikkan pandangan ke pinggiran jalan. Dia melihat seorang nenek dan 2 anak disampingnya, yang satu perempuan dan yang satunya lagi laki laki.
Nenek itu terbaring di jalan dan kedua anak itu tampak sedang menangis. Jeslyn merasa kasihan. Dia juga melihat kearah Kristan yang tak kunjung balik. Lalu akhirnya dia turun dari mobil dan menghampiri nenek dan 2 anak itu.
"Dek...kalian kenapa?" tanya Jeslyn gugup. Dia takut ditipu. Sejak kecil, Jeslyn sering dimanfaatkan oleh teman - temannya karena sifatnya yang terlalu ramah dan tidak enakan.
"Kak... tolong nenek kami... hiks hiks..." jawab anak perempuan itu yang memohon pada Jeslyn sambil berusaha menahan tangisannya.
"Nenek kalian kenapa dek?" tanya Jeslyn sambil berusaha membangunkan nenek itu.
"Kami gak tahu kak, tiba tiba saja nenek melemas dan jatuh tertidur hiks..." jawab anak itu.
Jeslyn berusaha membuat nenek itu sadar sambil bertanya apa yang terjadi pada nenek itu. Tiba tiba Kristian datang dan marah pada Jeslyn.
"Kamu ini ngapain sih? Kan udah kubilang tunggu aku dimobil. Jangan coba coba melarikan diri!" kata Kristan marah dan menarik tangan Jeslyn untuk bangkit.
"Catatan sipil buka, ayo foto sekarang" lanjut Kristan sambil menarik tangan Jeslyn untuk pergi. Namun anak laki laki itu menahan sebelah tangan Jeslyn.
"Kak... Tolong kami..." pinta anak laki laki itu. Jeslyn menatap kasihan mereka. Jeslyn meminta tolong pada Kristan dengan menjelaskan yang terjadi pada mereka. Setelah Jeslyn menjelaskan, dia memohon mohon pada Kristan agar dia mau mengantarkan mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
Kristan ikut merasa kasihan dan juga merasa bersalah karena sudah salah paham pada Jeslyn. Kristan setuju untuk membantu mereka. Namun dia mengatakan pada Jeslyn, "Tapi catatan sipil bakal tutup sebentar lagi, gimana kalau kita foto dulu?".
"Kalau ditunda lagi, nenek ini bisa kenapa kenapa dan tambah parah. Udah kita bawa mereka aja dulu, entar kalau masih ada waktu kita foto. Atau besok aja bisa kan" jawab Jeslyn.
Kristan mengalah dan menggendong nenek itu menuju mobil. Sedangkan Jeslyn mengajak kedua anak itu agar ikut dengannya. Kristan kembali ngebut menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, tak lama kemudian dokter mengatakan bahwa nenek itu demam tinggi dan perutnya kosong.
Sambil menunggu nenek itu sadar, Kristan pergi membeli makanan. Dan Jeslyn berusaha menghibur anak anak itu dan mengobrol dengan mereka. Ternyata kedua anak itu adalah cucunya, keluarga dari sang nenek satu satunya. Orang tua mereka pergi entah kemana saat sesudah ibu mereka melahirkan anak laki laki itu.
Dan setelah itu, ibu mereka tak pernah muncul lagi. Sedangkan ayahnya, dikabarkan bahwa dia telah tiada sejak anak perempuan itu masih balita. Dari dua bersaudara, anak perempuan itu mengatakan bahwa dia adalah anak pertama dan anak laki laki itu adalah adiknya.
Kristan kembali membawa makanan dan kami makan bersama sambil menunggu nenek sadar. Kristan membeli nasi uduk dicampur ayam panggang dan beberapa cemilan dan obat. Kami mulai menyantap makanan kami, terutama kedua anak itu. Kata mereka, mereka belum pernah makan makanan seenak dan sebanyak ini.
Jeslyn dan Kristan hanya bisa tersenyum ringan sambil mengelus kepala mereka. Kristan dan Jeslyn juga mulai makan. Setelah selesai makan, kedua anak itu melihat lihat sekitar kamar sedangkan Kristan dan Jeslyn masih menyantap makanan.
Setelah Kristan dan Jeslyn selesai makan juga, kedua anak anak sudah mulai lelah. Jeslyn menyuruh mereka tidur di tempat tidur sebelah tempat tidur pasien. Jeslyn menceritakan cerita dongeng lalu menyanyikan lagu rohani agar kedua anak itu bisa tertidur. Jeslyn tidak menyanyikan lagu tidur karena dia tidak tahu dan tak mau menyanyikan lagu "Nina bobo".
Jeslyn adalah anak yang penakut sejak kecil. Jika dia melihat atau mendengar hal hal aneh, dia mulai berpikiran negatif dan overthinking, makanya dia gitu. Lalu tak lama setelah anak anak itu tertidur, Jeslyn juga ikutan tidur. Dia bersandar pada dinding dengan anak laki laki diatas pangkuannya dan anak perempuan tidur disampingnya.
Ini membuat Kristan ingin mencubit pipi Jeslyn, merasa gemes pada Jeslyn. Namun karena orangnya sudah tertidur lelap dan takut membangunkan orangnya. Dia tidak jadi mencubit pipi Jeslyn, namun dia memotret wajah Jeslyn yang sedang tertidur.
Sesudah memotret wajah Jeslyn dan setelah puas tertawa, Kristan menyelimuti anak anak itu dan memberikan jasnya untuk Jeslyn. Kristan kembali fokus pada pekerjaannya dan terkadang melirik pada mereka juga.
Dua jam kemudian, mereka semua bangun bersamaan padahal gak janjian. Kristan mendekati nenek itu dan menanyakan kondisinya.
"Saya sudah merasa lebih baik nak, makasih ya nak, sudah nolong saya. Makasih juga udah jaga cucu saya uhuk... uhuk..." jawab nenek yang masih lemas.
"Sama sama nek, ini saya ada beli makanan, dimakan ya nek" balas Kristan ramah. Kedua cucunya dan Jeslyn mendekati Kristan dan nenek. Cucunya bahagia karena mendengar neneknya sudah merasa lebih baik. Lalu kedua anak itu membungkuk badan dan berterima kasih pada Kristan dan Jeslyn. Jeslyn berjongkok lalu mengelus kepala mereka dan berkata "sama sama" sambil tersenyum ramah. Kristan menyusul juga, melakukan hal yang sama seperti Jeslyn.
"Nak, bolehkah nenek mengetahui nama kalian?" tanya nenek sambil tersenyum.
"Boleh. Nenek bisa panggil saya Jeslyn dan nenek bisa manggil dia Kristan" kata Jeslyn penuh semangat.
"Oalah...nak Jeslyn sama nak Kristan ini suami istri ya?" tanya nenek yang membuat Jeslyn tidak tahu harus berkata bagaimana.
__ADS_1
"Belum jadi istri nek, masih calon" jawab Kristan sambil merangkul pundak Jeslyn dan tersenyum. Perlakuan dan jawaban Kristan membuat Jeslyn malu tersipu sampai sampai dia menunduk dan tak berani mengangkatkan kepala.
"Oalah... nenek merasa kalian berdua cocok. Yang satu tampan yang satu cantik sama sama baik pula. Pasti anaknya nanti imut imut dan baik baik iyakan? hahaha" balas nenek lalu tertawa ringan.
"Ha ha ha ha" balas Jeslyn dan Kristan yang tertawa kaku.
"Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, semoga kalian hidup bahagia, rezeki melimpah, punya anak yang baik dan sehat. Amiiin." lanjut nenek mendoakan Kristan dan Jeslyn karena sudah menolongnya.
"Amiiin." dan di aminkan oleh Kristan dan Jeslyn.
"Kakak kakak, nanti kalau udah nikah ajak dedek bayi main sama kami boleh ya?" tanya polos anak laki laki itu.
"I - iya nanti kami mempertemukan kalian haha..." jawab Jeslyn kaku.
"Adik adik, kakak belum tahu nama kalian loh. Coba beritahu kakak siapa nama kalian?" tanya Kristan.
"Lah? Jadi kamu belum tahu nama mereka?" tanya Jeslyn tak percaya.
"Iya neng. Emang lu tau siapa?" balas Kristan.
"Taulah. Udah gue nanyain daritadi bos. Yang cewe, kakaknya, namanya Gisel. Yang adiknya si cowo menggemaskan namanya Gerald" jelas Jeslyn percaya diri.
"Ooo napa lu gak bilang ama gue?" tanya Kristan,
"Lu ga nanya" balas Jeslyn ketus. Kristan cuma bisa bersabar dengan perilaku Jeslyn.
"Nenek, Gisel, Gerald, kami mau pamit pulang yah. Udah sore, nanti Jeslyn pulangnya kemaleman" pamit Kristan dengan sopan. Nenek memberi izin dan anak anak mengucapkan selamat tinggal.
"Tunggu kak!" panggil Gerald,
"Ada apa Gerald?"tanya Jeslyn,
"Yang bayar biaya rumah sakit siapa?" tanya Gerald polos. Nenek kaget dengan pertanyaan cucunya. Jeslyn dan Kristan saling memandang. Nenek menepuk jidatnya sambil geleng geleng. Jeslyn berusaha menahan tawa. Merasa anak ini hebat juga, bisa menyebutkan hal hal apa saja dengan polos, sungguh pemberani!
__ADS_1