
"Jeslyn!/Nyonya!" panggil mereka serempak. Para pelayan memanggil Jeslyn nyonya sedangkan Kristan, Nathan, dan Gilbert memanggil nama.
"Tidak apa apa... Aku tidak apa apa... Tendangan Nathan tidak terlalu kena sasaran, aku ada menghindari sedikit jadi gak terlalu sakit. Aku gak papa" kata Jeslyn yang memeluk perutnya dan merasa kesakitan. Kristan langsung gercep dan menggendong Jeslyn.
"Panggil dokter keluarga Wijaya, cepat!" titah Kristan. Gilbert langsung mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang.
"Ambil air minum lalu bawa ke kamar. Yang lain kembali bekerja, bersihkan meja makan!" suruh Kristan lagi lalu berjalan ke arah kamar. Kepala pelayan langsung bergegas berlari mengambil air putih dan pelayan lain kembali sibuk dengan pekerjaan masing masing. Nathan pun mengikuti Kristan dari belakang dan merasa gugup.
"Jeslyn aku minta maaf aku gak bermaksud untuk nendang kamu. Tadi-" kata Nathan tiba tiba namun terpotong,
"DIAM!" balas Jeslyn. Keduanya langsung hening terdiam. Saat sampai didepan kamar, Nathan membantu membuka dan menutup pintu. Dia juga membantu menaruh bantal agar bisa disandari Jeslyn.
"Kamu pukang saja, sisanya aku bisa urus" kata Kristan pada Nathan,
"Aku harus minta maaf pada Jeslyn dulu" balas Nathan,
"Kenapa kau sangat keras kepala sekali? Dia terluka gara gara kamu, biarkan dia istirahat dulu. Aku akan memberimu kesempatan untuk meminta maaf padanya nanti, pulanglah!" balas Kristan mulai kesal.
"Nathan aku ingin bicara berdua denganmu. Kristan bolehkah kau biarkan kami bicara sebentar?" tanya Jeslyn. Meskipun masih merasa sedikit kesal, Kristan menghembuskan nafas lalu segera keluar kamar membiarkan mereka berbicara.
"Waktu kalian cuma 5 menit" pesan Kristan sebelum dia keluar.
"Jeslyn aku benar benar minta maaf. Aku gak ada niat untuk nyakitin kamu, sekali lagi maaf" kata Nathan tiba tiba,
"Iya aku tahu, aku sudah maafkan" jawab Jeslyn,
"Kamu masih murah hati seperti dulu" lanjut Nathan,
"Meskipun aku murah hati, bukan berarti aku tidak bisa menjadi jahat seperti iblis" balas Jeslyn dingin. Nathan mendekati Jeslyn dan duduk disampingnya.
"Nathan" panggil Jeslyn tiba tiba,
"Ya? Apa ada yang sakit?" tanya Nathan cemas.
__ADS_1
"Nathan tolong mengertilah. Aku suda menikah, berhentilah mengejarku terus" kata Jeslyn. Seketika raut wajah Nathan yang cemas berubah menjadi sedih. Suasana hening dan Nathan merasa canggung.
"Hubungan kita sudah putus saat itu. Maka sekarang itu hanyalah sebuah kenangan dan masa lalu. Kesalahanmu ini sudah kumaafkan, tapi tolong... Tolong berhenti mengejarku dan membuat Kristan kesal" lanjut Jeslyn lagi. Nathan masih terdiam merenung.
"Apa kau mencintai dia? Apa kau bahagia bersamanya?" tanya Nathan tiba tiba. Sekarang malah Jeslyn yang terdiam, namun beberapa detik kemudian Jeslyn menjawab dengan penuh percaya diri.
"Ya. Aku mencintainya! Aku bahagia bersamanya! Semoga dengan jawabanku ini, kau tidak mengganggu hubungan kami lagi" jawab Jeslyn dengan serius. Nathan terdiam lagi lalu membalikkan badan. Untuk beberapa saat mereka terdiam.
...******* Sementara Kristan *******...
"Hump! Sudah 3 menit, sisa 2 menit,cepatlah berlalu!" gumam Kristan.
"Koko! Kira kira apa yang adikmu dan mantannya bicarakan?" tanya Kristan yang kesal,
"Tenang saja. Jeslyn pasti cuma ingin jujur tentang sesuatu" jawab Gilbert.
"Jujur tentang apa?" tanya Kristan lagi,
"Entahlah" balas Gilbert sambil mengangkat kedua bahunya. Kristan terus bolak balik di depan pintu kamar menunggu waktu berlalu.
"Waktu habis" kata Kristan sambil menatap Jeslyn dan Nathan. Nathan pun berjalan kearah Kristan lalu berdiri disampingnya.
"Aku sudah berjanji akan menyerah mengejar Jeslyn. Jadi tolong jaga dia baik baik, buat dia bahagia. Jika dia tidak bahagia, maka aku akan membawanya pergi dari sini" bisik Nathan,
"Heh! Tidak akan kubiarkan kau membawanya pergi. Karena dia akan bahagia bersamaku, pergilah!" balas Kristan dengan suara kecil dan tersenyum. Jeslyn menyerngitkan alisnya sambil menatap Kristan. Bertanya tanya dalam hatinya "mengapa dia tersenyum senyum sendiri ?".
Nathan pun beranjak keluar kamar dan pergi. Gilbert pun ikut keluar lalu menutup pintu kamar. Sekarang hanya tersisa Jeslyn dan Kristan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kristan,
"Tidak penting" balas Jeslyn lalu tersenyum. Kemudian Jeslyn menggerakkan tanggannya dan menyuruh Kristan menghampirinya. Kristan berjalan mendekati Jeslyn lalu duduk dikasur disamping Jeslyn.
"Ada apa? Perutmu masih sakit? Bertahanlah, dokter keluarga Wijaya akan datang sebentar lagi" tanya Kristan. Jeslyn menggeleng geleng. Dia menggerakkan tangannya lalu menyentuh kepala Kristan.
__ADS_1
"Lukamu banyak banget, harus segera diobati. Tolong ambilkan aku kotak P3K" kata Jeslyn. Tapi Kristan malah melongo menatap Jeslyn.
"Kenapa diam saja?! Pergi ambil sana!" kata Jeslyn lalu memukul lembut Kristan.
"I - iya iya..." balas Kristan lalu berjalan keluar pintu. Namun tiba tiba pintu terbuka seperti habis didobrak.
"Kristan!" panggil seorang pria. Pria itu sama tinggi dengan Kristan. Dia menggunakan jas putih yang panjangnya diatas lutut pria itu. Menggenggam sebuah tas ditangan kanannya dan tangan kirinya menempel pada pintu.
"Kelvin?!?! Apa yang kamu lakukan disini?!" tanya Kristan sangat kaget.
"Oh aku lupa memberitahumu. Aku dipilih oleh ayahmu untuk menjadi dokter khusus keluarga Wijaya karena aku sangat hebat dalam medis. Dan kebetulan dokter kalian yang lalu meminta pensiun jadi aku setuju aja untuk bekerja jadi dokter kalian deh" jawab Kelvin. Kristan melongo kaget.
"Ngomong ngomong siapa yang sakit? Mana pasienku?" tanya Kelvin.
"Dia!" kata Kristan dan Jeslyn kompak. Mereka juga saling menunjuk, Kristan menunjuk Jeslyn dan Jeslyn menunjuk Kristan. Dokter Kelvin jadi bingung dan menatap mereka berdua secara bergantian.
"Oh berarti kalian berdua adalah pasienku" kata Kelvin lalu meletakkan tas yang dia pegang itu.
"Jadi siapa yang mau diperiksa dulu?" tanya Kelvin. Kristan langsung segera menunjuk Jeslyn. Jeslyn menyerngitkan alisnya dan menunjuk dirinya bertanya pada Kristan. Kelvin kemudian mendekati Jeslyn.
"Kamu istri Kristan kan?" tanya Kelvin ramah. Jeslyn mengangguk angguk malu.
"Gue teman SMA nya dulu, nona cantik bisa manggil saya Kelvin" kata Kelvin lalu memberikan wink pada Jeslyn.
"Ehem! Dokter Kelvin, tolong segera lakukan tugas anda. Jika tidak, gaji anda bisa saya potong bahkan anda bisa saya pecat" kata Kristan yang cemburu. Dia sudah menatap Kelvin dengan tatapan tajam.
"J - ja - jadi apanya yang sakit non?" tanya Kelvin gugup. Lalu Jeslyn memberitahukan kalau perutnya sakit.
"Kenapa bisa sakit? Sejak kapan?" tanya Kelvin lagi sambil mengambil stetoskop. Kemudian Jeslyn menatap Kristan, namun Kristan terlihat biasa saja dengan wajah sedikit kesal. Lalu Jeslyn pun menceritakan kejadian tadi kalau suaminya dan mantan pacarnya bertengkar. Lalu setelah selesai bercerita, Kelvin membalas dengan mengangguk angguk.
"Oke silahkan baring, saya akan mulai memeriksa" kata Kelvin lalu Jeslyn pun berbaring. Kelvin mulai memeriksa Jeslyn, dia meraba perut Jeslyn menekan nekan dan bertanya pada Jeslyn apakah sakit atau tidak.
"Sakit gak?" tanya Kelvin,
__ADS_1
"Sakit dikit" jawab Jeslyn santai.
"HEI!" teriak Kristan yang mengagetkan Jeslyn dan Kelvin.