
"Eh.. Iya nek.. Apa ne-" jawab Kristan namun tiba tiba dipotong oleh nenek itu.
"Tadi saya melihat dia pergi bersama seorang pria, mungkin temannya. Dan sepertinya mereka menuju restoran diujung sana, coba kamu kesana" kata nenek itu lalu tersenyum.
"Tapi nek, istri saya rambutnya sepinggang terus tingginya sekitar 160. Memakai sweater putih, rok cream panjang, dan long blazer coat coklat" kata Kristan. Namun nenek hanya tersenyum sambil menunjuk arah cafe tadi. Kristan pun terdiam harus mempercayai nenek itu atau tidak. Dia merasa bingung dengan perilaku sang nenek.
"Kamu pasti sangat mengenal istrimu ya. Kalian pasangan baru ya?" tanya nenek,
"Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu, aku juga tidak terlalu mengenalnya" jawab Kristan yang sedikit sedih. Nenek itu tersenyum lalu mengambil sesuatu dikantong belanjaannya tadi. Dia merogoh sangat dalam seperti ingin mengambil sesuatu yang jauh didasar. Perlahan lahan tangan nenek itu pun terangkat dan keluar dari kantong.
Barang yang dia ambil ternyata sebuah kertas dan pulpen. Dia memberikan itu pada Kristan sambil tersenyum, seperti biasa. Kristan lagi lagi merasa heran akan nenek itu. Dia menolak pemberian nenek itu meskipun hanya berupa kertas dan pulpen saja karena itu mencurigakan. Tapi nenek itu tetap memaksa agar Kristan menerimanya.
"Ambil ini, kau akan membutuhkannya suatu saat nanti. Nenek tahu kamu orang yang selalu menyembunyikannya, tapi gunakan ini untuk tunjukan padanya. Jujur padanya, jangan sembunyikan" kata nenek itu. Nenek itu menarik tangan Kristan lalu memberikannya secara paksa.
"Tuan!" panggil seseorang dari belakang. Kristan menolah dan melihat Pak Rei datang menghampirinya dengan tergesah gesah. Dia memberitahukan bahwa ada orang yang sempat melihat Jeslyn pergi ke restoran diujung jalan xx. Perkataan Pak Rei mengingatkannya pada sang nenek misterius itu. Dia berbalik dan melihat nenek sudah menghilang dari belakangnya. Menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok nenek tadi, tapi tetap tidak menemukannya.
"Kok ngeri ya..." batin Kristan yang bingung dan mulai merinding. Namun karena tidak menemukan sosok nenek tadi, dia segera berangkat bersama Pak Rei menuju restoran tempat Jeslyn berada. Saat berada didalam mobil dan perjalanan menuju restoran, Kristan tersadar bahwa dia terus membawa kertas dan pulpen yang diberikan oleh nenek misterius tadi.
"Apa maksudnya memberikanku ini? Aku menyembunyikan apa pada siapa ?"pikir Kristan. Seingatnya, dia tidak menyembunyikan apa pun pada siapa pun kecuali masalah pribadi yang akan selesai nantinya. Dia akan mengatakan yang sejujuranya jika dia memang tidak menyukainya atau membutuhkan orang lain.
Tidak lama kemudian mereka sampai di restoran ujung jalan yang merupakan restoran elit bintang 5. Kristan masuk dengan tergesa gesa dan segera mencari keberadaan istrinya. Meminta pada pelayan untuk ikut mencari istrinya dan mengancam akan membuat restoran itu bangkrut jika istrinya tidak ditemukan. Padahal Jeslyn cuma ingin bertemu dengan teman SMA nya, tapi Kristan sudah panik seperti istrinya telah diculik orang.
__ADS_1
"Tuan, nona Jeslyn ada diruangan VVIP nomor 1" kata seorang pelayan tiba tiba. Kristan pun kembali jalan dengan tergesa gesa ke ruangan tersebut. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak teratur, ketakutan dan kegelisahan tiba tiba menyelimuti dirinya. Jalan dan lorong yang panjang menuju ruangan itu membuatnya tiba tiba merasa kesal. Saat Kristan sudah tiba di depan pintu, tanpa mengetuk pintunya, Kristan langsung mendobrak pintu dan terbukalah pintu itu dengan lebar.
Panorama yang dilihat Kristan membuatnya terkejut dan tidak bisa bergerak di depan pintu. Bola matanya mengecil menatap istri kesayangannya itu. Teman SMA Jeslyn merangkul pinggang Jeslyn dan sedang merayunya. Dapat dilihat, Jeslyn sedang berusaha melepaskan diri dan terus memberontak namun pelukan pria itu hampir sama kuatnya dengan Kristan. Tapi untungnya Kristan tiba tiba datang dan rencana lelaki itu tidak berjalan lancar. Karena kaget, pelukan pria itu tiba tiba melonggar sedikit, dan inilah kesempatan Jeslyn melepaskan diri.
Dia menginjak kaki Clive dengan keras lalu Clive pun merasa kesakitan dan melepas rangkulannya. Setelah berhasil lepas, dia berjalan cepat ke arah Kristan dengan sedikit menangis. Bersembunyi dibelakang Kristan dan memegang jas Kristan dengan ketakutan. Kristan langsung berbalik dan memeluk Jeslyn dengan erat. Pak Rei bersama pengawal - pengawal pribadi Kristan langsung berdiri didepan untuk melindungi Jeslyn dan Kristan.
...***** Beberapa Menit Yang Lalu *****...
Saat Jeslyn sudah sampai di restoran, teman SMA nya itu menyambutnya dengan hangat disebuah ruangan. Pria, teman SMA Jeslyn itu bernama Clive. Jeslyn melepas jaketnya dan meletakkannya pada belakang kursi. Kemudian saat sudah duduk didalam ruangan, mereka pun bercakap cakap ringan mengenai kabar, pekerjaan, dan pasangan.
"Gimana kabarmu? Udah lama gak ketemu, kamu tau gak sekarang aku jadi apa?" tanya Clive.
"Hahahaha aku baik. Gimana denganmu? Profesimu kalau gak salah jadi CEO kan??" balas Jeslyn dengan ramah.
"Iya! By the way, gimana nih udah ada rencana nikah gak? Hahahaha" balas Jeslyn yang ingin menjahili Clive. Clive dulu teman cowok yang dekat dengan Jeslyn saat SMA, tapi hanya sebatas teman dan tidak lebih. Clive dari dulu tampan dan sampai sekarang pun tetap tampan. Dulu banyak cewek cewek yang ingin menjadi pacarnya namun dia tolak semua.
"Hmmm belum dapat yang cocok. Kamu aja gimana?" balas Clive menjahili Jeslyn,
"Iiih gak mauuu. Cintaku hanya untuk dia seorang~ Hahahaha" balas Jeslyn.
"Seandainya aku lebih dulu melamarmu, kita pasti sudah bidup bahagia dan cintamu hanya untuk diriku seorang" balas Clive,
__ADS_1
"Halah! Mimpi kamuuu" balas Jelsyn yang sudah mulai pasang muka dingin. Clive berdiri dari tempat duduknya dan juga mengajak Jeslyn untuk berdiri.
"Maukah kamu berdansa denganku lady?" tanya Clive yang sepeti seorang pangeran.
"Waah pangeran sedang mengajak putri berdansa? Maaf bang, ku tak tahu cara berdansa hahahaha" balas Jeslyn lalu tertawa.
"Tidak apa, aku bisa mengajarimu. Mengajarimu untuk melupakan dia dan mencintaiku juga bisa" jawab Clive.
"Cih, gak usah. Aku temenin dansa tapi jangan marah kalau ku injak ya" balas Jeslyn lalu berdiri. Clive tersenyum sambil mengangguk angguk setuju. Musik pun diputar dan mereka mulai berdansa. Meskipun tangan Clive sudah melingkar di pinggang Jeslyn, Jeslyn tetap berusaha menjaga jarak tubuh. Tapi perlahan pelukan Clive semakin kencang. Jeslyn berusaha tenang dan tidak salah prasangka. Namun semakin lama semakin kuat, Jeslyn pun kesal.
"Clive rangkulanmu terlalu ketat, lepaskan aku. Aku sudah lelah berdansa" kata Jeslyn yang menahan kekesalannya.
"Jeslyn, sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak dulu. Aku menolak semua wanita hanya untuk dirimu. Aku benar benar sangat menyukaimu, sejak kau datang dan mengisi hari hariku. Kau orang pertama yang tidak bosan denganku. Aku yakin bahwa kita cocok namun aku tidak berani mengatakan perasaanku. Saat kau telah menikah aku juga merasa menyesal karena aku tidak bilang dari dulu. Tolong, bercerailah dan kita mulai dari awal. Aku sangat mencintaimu, ku mohon berikan aku kesempatan!" pinta Clive dengan wajahnya yang sedikit kesal dan sedih.
"Kesempatan kesempatan, cerai cerai, pala KAU !!" batin Jeslyn yang emosi.
"Jeslyn, ayolah~ Terima diriku, jadikan aku yang temanmu ini sebagai suamimu. Kita pasti bahagia sayang, sini kucium~" goda Clive.
"Gobl*k pala kau tol*l !! Cium cium, cium sana emak lu " umpat Jeslyn dalam hatinya yang kesal.
Braak !!
__ADS_1
Kristan datang dengan matanya yang melotot pada tangan Clive yang merangkul dipinggang istrinya.
"LEPASKAN ISTRIKU!" teriaknya.