
"Kak Zen, kak Mike udah nikah dan bentar lagi kak Natashya. Lalu kalau boleh tau kak Zen bagaimana?" tanya Jen ragu ragu.
"Memangnya kenapa?" balas Zen sambil menyerngitkan alisnya.
"Emm aku hanya kepikiran, kalau kak Zen sudah nikah berarti aku harus nyusul" jawab Jen sedikit sedih nampak diwajahnya.
"Lalu? Kenapa?" tanya Zen lagi,
"Aku gak mau nikah..." jawab Jen yang membuat keheningan sesaat.
"Kau tidak perlu langsung menyusulku menikah jika kau belum mau" ucap Zen sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju Jen. Jen hanya terdiam di depan pintu, sampai Zen berdiri di depannya. Jen mendongak kepalanya ke atas menatap mata kembarannya. Zen menerbitkan senyum di wajahnya untuk Jen, lalu mengelus kepala adiknya yang cuma beda 1 hari.
"Aku gak mau nikah" ucap Jen lagi yang membuat Zen tersontak kaget.
"Kenapa?" Zen bertanya dengan lembut.
"Entahlah. Aku cuma gak mau aja, gak ada alasan khusus" jawab Jen yang memeluk dirinya. Zen mulai berpikir dengan jawaban Jen. Mungkinkah dia berkata seperti itu hanya karena dia belum menemukan orang yang dicintainya? Atau ada sebuah masalah yang tidak ia ketahui sampai dia tidak ingin menikah. Meskipun menikah tidak wajib, tapi Kristan menginginkan anaknya semua menikah agar saat Kristan dan Jeslyn menjelang usia tua dia dapat melihat anak anaknya bahagia dengan keluarga baru mereka.
"Apa? Jen tidak ingin menikah?" kata Kristan dibalik pintu. Zen dan Jen yang berada di dalam ruangan langsung kaget dan mundur dari pintu. Pintu terbuka dan terlihat Kristan yang sedang menahan emosi dan Jeslyn dibelakangnya sudah khawatir.
"Jen, pikirkanlah dulu baik baik. Jika semua saudaramu sudah sibuk dengan keluarga mereka masing masing dan orang tuamu ini sudah tiada, kau akan bersama siapa? Apa kau siap hidup sendirian dan tidak memiliki sandaran? Apa kau tau betapa kejamnya kehidupan seiring kau melangkah maju?" oceh Kristan yang masih menahan amarah.
__ADS_1
"Tapi pa, Jen tidak mau!" ucap Jen melawan.
"Jen, umurmu sudah 22. Kau harus mulai memilih pasangan hidupmu. Jika sampai umur 25 tahun kau belum menemukannya, papa akan menjodohkanmu dengan anak dari teman papa. Papa tidak mau tau, kamu harus menikah nak" ucap Kristan lagi. Membuat emosi dalam diri Jen meledak.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau menikah. Apalagi dijodohkan! Ak- aku pernah... menyukai temanku saat SMP, tapi dia ternyata pacar sahabatku. Lalu saat SMA aku menyukai kakak kelasku, tapi dia cuma menyukai gadis yang cantik dan populer. Dan saat kuliah, aku menyukai... dosen muda dikampus tapi ternyata dia sudah beristri" ucap Jen membuat semua orang melongo.
"Jen, kamu tidak merusak hubungan suami istri itukan? Kamu tidak menjadi pihak ketiga dari dosen itukan?" tanya Zen yang cemas. Jen menggeleng geleng.
"Perjalanan kisah cintaku tidak semulus wajahku. Kisah cintaku tidak seindah kisah cinta orang lain" ucap Jen lagi lagi membuat semua orang menganga. Zen menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala.
"Kalau urusan pemerintahan jago, urusan ngebadut juga jago, urusan akal licik juga jago. Kenapa urusan cinta jadi bego "batin Zen dengan wajah datar.
"Astaga, putri siapa ini?" gumam Kristan yang ikut pusing,
"Sudah sudah, mama baru tau kisah cintamu begitu tragis" ucap Jeslyn sambil mengelus pundak putrinya. Jeslyn tahu Jen, kalau urusan percintaan dia jadi polos polos bego. Mau diapa lagi? Orang tuanya saja waktu muda sangat dingin dan berprestasi, bukan berkaitan dengan hal percintaan. Tapi ketika sudah saling kenal, bucinnya malah tidak terkontrol. Ya ya, Jeslyn paham.
"Mama dan papa juga saling mencintai setelah dijodohkan nak. Coba kamu kenalan saja dulu dengan anak teman papa" ucap Kristan setelah keheningan beberapa saat.
"Aku gak mau pa! Aku sudah cukup sakit hati. Disetiap pria yang kusuka sudah kuperjuangkan, tapi selalu berakhir dengan penolakan. Tiga kali, tiga kali aku jatuh ke jurang tanpa dasar. Lalu berusaha untuk naik kembali, semua yang kulalui sangat berat" ucap Jen yang berada dalam pelukan Jeslyn dengan pipinya yang basah. Zen lagi lagi menepuk jidatnya sambil bergeleng geleng.
"Entahlah... Adikku yang terlalu dramatis atau takdirnya yang buruk " batin Zen menyerah.
__ADS_1
"Huft... Sudahlah, biarkan Jen tenang dulu" ucap Jeslyn dengan lembut.
"Tapi intinya papa tetap akan memperkenalkan dirimu pada anak teman papa" ucap Kristan sambil memijat pelipisnya.
"Kristan! Bisakah kau bicarakan perjodohannya nanti saja? Aku lebih setuju Jen tidak menikah sama sekali. Biarkan dia mencari jodohnya, bahkan sampai tua! Karena takdirnya ada ditangan Tuhan, bukan ditanganmu" sindir Jeslyn dengan tajam.
"Jeslyn! Jangan terlalu memanjakannya! Aku sudah menyetujuinya untuk menjadi presiden, tapi aku tidak menyetujui dirinya untuk tidak menikah. Apa kau bisa memikirkan keadaannya dimasa depan saat ia hanya sendiri tanpa pasangan hidup? Apa kau peduli pada putrimu??" balas Kristan yang ikut meledak.
"Aku tentu saja peduli! Aku paham dengan perasaan putriku! Lalu bagaimana denganmu? Yang terus memaksa anaknya sendiri untuk menikah, apa kau sudah tidak menyayangi Jen?" sindir Jeslyn lagi.
"Apa maksudmu? Aku sudah pasti menyayanginya. Dan membiarkannya hidup bahagia bersama keluarga barunya di masa depan adalah bentuk kepedulianku. Berbeda denganmu yang selalu menyetujuinya, memberinya kebebasan sampai tidak tahu batasan" sindir Kristan dengan tajam.
"Aku? Memberinya kebebasan sampai tidak tahu batasan? Lalu bagaimana denganmu yang memprioritaskan kesempurnaan daripada kasih sayang? " balas Jeslyn yang meledak ledak. Semua kata kata keluar dari mulut mereka tanpa toleransi sedikit pun.
"Kau! Memangnya aku salah ucap? Kita memang dijodohkan dan lihatlah kau sudah memiliki empat anak! Disaat perjodohan pertama kali kita bertemu, aku juga tidak mau menerimanya. Itu papamu yang memintanya dan aku setuju karena mama memaksaku. Kalau tidak, aku akan tetap mencintai Clara!" ucap Kristan membuat Jeslyn terdiam. Kata katanya menusuk sampai lubuk hati terdalam, membuatnya diam seribu bahasa. Membahas kembali kenangan buruk di masa lampau, membuat Jeslyn diam tak bergeming. Membuat Jen dan Zen menjadi kesal dengan perkataan papanya.
"Kau..." ucap Kristan terbata bata. Dia baru sadar sudah bertengkar dengan istrinya begitu hebat. Dia sudah mengeluarkan kata kata yang melukai hati istri tercintanya.
"Lihat! Ini yang aku benci dari pernikahan apalagi perjodohan! Papa sangat jahat!" kata Jen yang geram melihat pertengkaran ini. Karena terlalu ribut, para pelayan langsung naik keatas untuk memeriksa, bersama Mike yang baru datang.
"Diam Jen!" bentak Kristan pada putri bungsunya.
__ADS_1
"Pa, Ma, ada apa?" tanya Mike dan langsung masuk menghalang Kristan mendekati Jeslyn. Kristan terdiam sambil mengepalkan tangannya.
"... Bukannya kita sudah mengajukan kontrak cerai setelah 3 tahun menikah? Kenapa kau tidak menceraikanku saja saat itu. Dengan bercerai, hal seperti ini tidak akan terjadi. Mereka anakmu, bukan budakmu. Setidaknya jika kita bercerai, mereka tidak ada untuk merasakan penderitaan" ucap Jeslyn membuat semua anaknya tertusuk.