
"Ma..." panggil Mike yang sakit hati. Tidak ada jawaban, semuanya terdiam. Kepala pelayan menyuruh semua orang untuk turun dan membiarkan keluarga mereka berbicara. Lalu kepala pelayan menelpon Natashya.
"Nona, cepatlah pulang! Tuan dan nyonya besar sedang bertengkar. Bahkan nyonya membahas mengenai kontrak perceraian" bisik kepala pelayan pada ponselnya. Natashya bergegas meninggalkan cafe dan pulang menemui mereka. Karena Natashya sudah pandai mengendarai mobil, dengan kecepatan penuh ia melaju menuju rumah.
"Sebenarnya dari dulu sampai sekarang, perasaanmu tidak berubah kan?" tanya Jeslyn tiba tiba. Namun Kristan masih terdiam sambil mengepal erat tangannya.
"Ternyata seperti itu. Baiklah, aku terima. Lupakan saja, semuanya bubar" lanjut Jeslyn lalu pergi keluar. Lagi lagi dia membunuh perasaanya untuk orang lain. Memilih diam daripada melanjutkan. Dengan wajahnya yang datar dan matanya yang tidak menunjukkan adanya kehidupan, dia berjalan keluar ruangan dengan tersenyum menunjukkan kelelahan. Karena mengungkit masa lalu, dia teringat juga masa lalunya jauh sebelum bertemu Kristan. Hatinya tercabik cabik, selama ini dia memang sering terluka, namun tidak sedalam ini. Terlalu sakit, dia tidak dapat mengekpresikan kesedihannya. Bisakah ini dikatakan orang terpercayanya menghianatinya?
"Tunggu!" perintah Kristan.
"Masalah perceraian, masa lalu, perdebatan hari ini, membuatku lelah, aku ingin bicara padamu sekarang. Jadi tolong, yang lain keluar" lanjut Kristan.
"Apa? Perceraian? Apa yang mau papa bicarakan? Aku tidak mengizinkan papa mendekati mama!" balas Mike dan menghalangi Kristan.
"Nak, tolong keluarlah. Aku berjanji akan bicara baik baik dengan mama kalian" ucap Kristan lagi meyakinkan anak anaknya.
"Ma! Pa!" teriak Natashya yang baru sampai di depan pintu.
"Kalian semua keluar!" bentak Kristan. Natashya langsung menarik Mike untuk keluar dan Zen meminta Jen juga untuk keluar.
"Biarkan papa dan mama bicara dulu kak Mike! Kalau tidak masalah ini akan berlanjut terus dan makin parah!" bisik Natashya yang sangat mempercayai Kristan.
__ADS_1
"Jadi jika papa meminta cerai dengan mama, kau juga akan terus mengikuti perintah papa? Kalau begitu aku akan ikut mama!" balas Mike dengan tatapan dingin dan tajam. Mereka semua sudah keluar, pintu tertutup, dan Kristan mendekati Jeslyn. Jeslyn membelakangi Kristan dan daritadi hanya terdiam.
Tanpa berpikir panjang dia langsung memeluk Jeslyn dari belakang. Memeluk sangat erat lalu menumpahkan air matanya.
"Maaf.. Maaf, aku sungguh bodoh! Berkali kali melukaimu! Maaf!" ucap Kristan dan terus memeluk Jeslyn dan menangis. Jeslyn melepas genggaman Kristan dengan lembut.
"Besok baru kita bicarakan lagi. Aku lelah, aku akan beristitahat di kamar Jen" kata Jeslyn lalu langsung keluar dan menutup pintu. Kristan di dalam sendirian, ketakutan akan traumanya dimasa lalu perlahan muncul lagi. Mengingat kedua wanita pertama yang dia cintai pergi, membayangkan Jeslyn juga pergi meninggalkannya. Kristan ikut keluar kamar dan ingin kembali ke kamarnya. Tapi dia berhenti sejenak dan melihat Jeslyn membelakanginya, pergi meninggalkannya.
Setelah keduanya masuk ke ruangan yang berbeda, orang orang dibawah yang mengamati penuh keheningan. Mike dan Jen bergegas menuju kamar dimana terdapat mama tersayangnya. Sedangkan Natashya berlari menuju kamar papanya bersama Zen.
"Ma" panggil Mike dengan lembut. Dilihatnya, Jeslyn sedang berbaring dan menutup mata. Mike meraih tangan mamanya dengan lembut dan menggenggamnya.
"Ma, papa bicara apa sama mama? Apa pun keputusan yang mama buat, Mike akan ikut mama" bisik Mike sambil memberikan senyuman tulus.
"Em... Baiklah, mama istirahatlah. Jen, jaga mama. Aku pergi dulu, selamat malam ma, Jen" ucap Mike lalu tersenyum dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Maafin Jen ma. Gara gara Jen, mama dan papa bertengkar" kata Jen sambil menunduk didepan Jeslyn.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Mama tidak menyalahkanmu karena sudah jujur mengatakan perasaanmu. Sudahlah, tidur cepat" ucap Jeslyn sambil memberi senyuman. Malam yang panjang ini pun perlahan berlalu, rasanya benar benar sangat panjang.
Keesokan harinya, Kristan diam diam masuk ke kamar Jen dan menyuruh Jen keluar. Perlahan dia naik ke tempat tidur dan memeluk Jeslyn dari belakang. Seketika mata Jeslyn terbuka dan berbalik.
__ADS_1
"Tolong biarkan seperti ini. Aku tahu aku salah, tolong maafkan aku. Jangan pergi" bisik Kristan yang sedang dalam pelukan Jeslyn. Jeslyn hanya terdiam dan tidak membalas pelukan Kristan. Dia menatap sinis suaminya lalu kembali berbalik dan tidur.
"Maaf" ucap Kristan lagi. Tapi Jeslyn tidak menghiraukannya. Jeslyn merasa punggungnya basah dan dia menebak, Kristan sedang menangis.
"Jangan menangis di punggungku! Pergi sana!" ucap Jeslyn tajam. Membuat Kristan semakin patah hati. Dia melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Kini ia tidak berani memeluk istrinya sendiri, dan dadanya mulai kembali sesak. Kristan hanya meringkuk di belakang Jeslyn dan menatap punggung istrinya. Tidak pernah Jeslyn semarah ini setelah mereka saling mencintai, ini pertama kalinya Kristan melihat Jeslyn murka. Keheningan menerpa pasangan ini. Dulu, Kristan juga pernah marah pada Jeslyn.
Beberapa hari sebelumnya, mereka mengunjungi papa Jeslyn agar bisa bermain dengan cucunya. Lalu setelah kembali ke Jakarta, masalah baru muncul karena kecerobohan Jeslyn.
"Sayang, aku tau kamu senang karena ulang tahun Natashya sudah dekat. Pergi membeli ini itu untuk menjadi hadiahnya, tapi kau lebih memperhatikan barang barang itu dibanding Natashya. Apa kau lihat Natashya hampir saja di tabrak, hah? Untung saja aku cepat berlari dan mengambilnya, kalau tidak.." oceh Kristan di dalam kamar mereka dan menahan emosi. Natashya yang masih berumur 4 tahun itu ketakutan, tapi akhirnya bisa tertidur tenang di dalam kamar untuk sementara.
"Iya maaf, aku gak sengaja. Aku terbawa suasana sampai lupa. Maaf.." ucap Jeslyn yang takut.
"Jeslyn kau harus meningkatkan kewaspadaanmu! Ini bukan yang pertama kalinya. Sebelum menikah, kamu juga pernah ceroboh pergi menyelematkan wanita di lorong lorong itu. Setelah itu, kau hampir dilecehkan oleh temanmu sendiri. Sekarang kau juga tidak menjaga anakmu dengan baik? Untung saja aku selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu dari kebodohanmu itu! Bisakah kau mengerti?" oceh Kristan lagi dengan meninggikan sedikit suaranya.
"Iya aku ceroboh aku bodoh, maafkan lah istrimu ini. Aku janji gak bakal ulangin" balas Jeslyn yang masih cemas.
"Janji? Janji yang sebelumnya saja kau ingkari" ucap Kristan dengan tajam. Jeslyn bertanya tanya janji yang mana yang dimaksud Kristan.
"Melihat ekspresimu pasti kau sudah lupa. Ini juga salah satu sifat yang tidak kusukai! Kau janji akan menuruti perkataanku dan mau mendengarku. Tapi kau biasanya malah tidak berbicara padaku dulu dan langsung mengambil keputusan. Apa kau tidak mengerti perasaanku? Aku khawatir padamu! Kau tidak bisa menjaga diri, kau sangat cuek!" lanjut Kristan mengoceh pada Jeslyn.
"I - iya maaf. Aku juga manusia biasa, bisa melakukan kesalahan. Lain kali kalau aku salah, ingatkan saja padaku nanti aku perbaikki. Tolong jangan marah lagi" ucap Jeslyn gugup.
__ADS_1
"Huft... Terkadang kau lembut terkadang kau tegas, ditambah dengan sikap cuekmu, aku jadi ingin tahu bagaimana perasaan anak anak padamu. Kau sangat aneh. Memberikan aturan aturan yang tidak jelas dengan alasan demi kebaikan mereka. Tapi sendirinya sibuk dengan karir sampai melupakan keluarga. Aku lelah sehabis pulang kerja, anak anak ribut mencari dirimu, tapi kau tidak goyah untuk berhenti sejenak dari bisnis kecilmu itu. Aku tidak melarangmu untuk berbisnis, tapi ingat tanggung jawabmu yang lain Jeslyn!" lagi lagi Kristan mengoceh tiada henti. Namun Jeslyn hanya terdiam dan menunduk.
"Bisakah kau mencontohi adikmu, Cheylin? Dia sangat perhatian pada anak anaknya"