
Sore hari, pukul 14.00, acara pun selesai dan mereka bubar. Kristan membawa Jeslyn ke hotel yang mewah untuk menginap disana sehari.
"Kenapa gak pulang ke rumahmu aja?" tanya Kristan,
"Ga mau ah males" jawab Jeslyn,
"Males kenapa?" tanya Kristan lagi,
"Gak papa" jawab Jeslyn. Membuat Kristan bingung dan tidak ingin bicara lagi.
"Hadeh susah amat ngomong ama cewek, ini nih yang gak ku suka. Kenapa sih gak langsung bilang aja maunya apa ?!" batin Kristan kesal. Jeslyn cuma duduk diam disampingnya sambil menatap jendela ke luar.
"Ngomong ngomong aku belum tahu banyak hal tentang dirimu" kata Kristan,
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui" balas Jeslyn ketus,
"Ni anak kenapa deh?? Tadi seneng sekarang badmood an ?!" batin Kristan kesal dan bingung,
"Sebelum kita menikah aku sudah memeriksa data dirimu. Aku membaca biodatamu dan orang tuamu. Aku lihat kalau ibumu di data itu bernama Fenny sedangkan yang aku temui waktu itu bernama Fanny. Itu maksudnya gimana?" tanya Kristan,
"Kamu pengen tahu itu?" balas Jeslyn,
"Iya" jawab Kristan. Jeslyn tidak bersuara lagi. Kristan merasa bahwa sepertinya Jeslyn tidak ingin membicarakan itu.
"Ya sudah kalau tidak mau diceritain" kata Kristan,
"Mau kok. Cuma nunggu sebentar ya, aku lagi nyiapin jiwa dan raga" balas Jeslyn,
"Hah ?!" batin Kristan bingung,
"Huft..." Jeslyn menghela napas,
"Jadi mama kandung aku itu namanya Fenny, tapi dia meninggal saat aku berusia 2 tahun. Trus papa aku nikah lagi dan kebetulan nama mama kandung aku ama mama tiriku mirip mirip gitu, tapi mereka bukan saudara. Jadi begitulah, dan 3 saudaraku itu saudara tiri, bukan kandung" kata Jeslyn menjelaskan.
"Oh... Jadi alasan kamu malas pulang ke rumah karena gak mau ketemu mereka?" tanya Kristan,
__ADS_1
"Iya" balas Jeslyn. Setelah itu percakapan berhenti, Jeslyn terus menatap keluar jendela. Sedangkan Kristan sedang fokus berpikir dan mengendarai mobil.
"Ngomong ngomong kamu dapat ini mobil darimana?" tanya Jeslyn tiba tiba,
"Punya aku, barusan tadi aku beli" jawab Kristan,
"Kamu nyuruh koko Gilbert yang wakilin kamu pergi belikan?" tanya Jeslyn,
"Iya" balas Kristan. Percakapan kembali berhenti, masing masing sibuk dengan kesibukannya. Tapi tidak lama kemudian, mereka sampai ke suatu tempat.
"Ini dimana?" tanya Jeslyn bingung. Di depan mereka, tepat setelah mobil Kristan berhenti depan pagar. Ada sebuah rumah yang besar dan dikelilingi oleh lapangan yang luas dan kosong.
"Rumah kita" kata Kristan lalu tersenyum,
"Hah?! Kamu beli rumah juga?!" balas Jeslyn kaget,
"Lebih tepatnya rumah ini buat kamu. Happy Birthday Jeslyn" kata Kristan lalu tersenyum kembali. Jantung Jeslyn berdebar debar, wajahnya merona, mulutnya yang ingin membentuk senyuman lebar bergetaran. Rasanya ingin sekali tersenyum dan tertawa, namun tidak berani karena didepan ada Kristan.
"Makasih kamu udah kasih aku hadiah ini, tapikan aku bakal lebih sering tinggal dirumah kita yang di Jakarta. Trus rumah yang disini gimana? Jual aja deh" kata Jeslyn,
"Tapikan kita gak tinggal disana? Mereka juga digaji tiap bulan kan, kita rugi malah" balas Jeslyn,
"Aku gak papa kok" balas Kristan,
"Tapi aku gak mau!" balas Jeslyn. Kristan terdiam menatap Jeslyn.
"Oh tidak! Jangan jangan dia salah paham ?!" batin Jeslyn kaget saat melihat reaksi Kristan.
"Emm gini, bukannya aku gak suka hadiah dari kamu. Aku suka kok, suka banget! Seneng banget! Senaaaang bangeeet! Tapiiii aku lebih sukanya hemat duit, bukan habisin, gitu..." kata Jeslyn.
"Aku lebih suka tinggal di Jakarta aja sama kamu. Jadi jangan marah ya? Aku serius! Serius banget!" lanjut Jeslyn dengan serius. Tiba tiba Kristan memeluk Jeslyn dengan erat.
"Hah?! Tiba tiba? Ada apa??" tanya Jeslyn,
"Gak papa. Aku cuma sedikit kecewa dan sedih hadiahku ditolak olehmu" jawab Kristan dengan sendu.
__ADS_1
"Umm maaf ya. Hadiah kamu aku suka kok, tapi aku gak mau boros untuk hal hal gak guna gitu! Lagi pula kita bakal cerai 3 tahun lagi, aku gak mau ngutang besar besaran ama kamu" jelas Jeslyn lalu tersenyum.
"...Oh jadi gitu..." balas Kristan. Jeslyn menatap Kristan dan melihat raut wajahnya sangat menyeramkan. Matanya menyipit menatap Jeslyn, alisnya menyerngit, seketika atmosfer rasanya berubah menjadi dingin.
"Gawat! Kayaknya dia marah,tapi kenapa ??" batin Jeslyn takut. Tiba tiba Kristan mendekat tapi Jeslyn terus mundur hingga dia tidak bisa lagi mundur dan bersandar pada mobil.
Brak
"A - a - ada apa??" tanya Jeslyn gugup,
"Jeslyn Melissa Wira, aku peringatkan kau jangan main main denganku!" kata Kristan dan menatap tajam Jeslyn.
"Aku main main apa denganmu sampai kau marah begitu? Coba katakan!" balas Jeslyn. Kristan terdiam sambil menatap tajam Jeslyn. Tapi tiba tiba dia menarik tangan Jeslyn dan masuk ke hotel.
"Ikut aku, kalau udah sampai akan aku jelaskan" kata Kristan sambil menarik Jeslyn. Rumah yang dibeli Kristan berseberangan dengan sebuah hotel mewah.
"Ini aku mau dibawa kemana??? "tanya Jeslyn dalam hatinya. Kristan memesan 1 kamar hotel di resepsionis lalu setelah mendapatakan kunci, mereka langsung naik ke kamar mereka. Letak kamar mereka berada diantara kamar VIP yaitu di nomor 310 lantai 3.
BRAK!
Pintu tertutup keras akibat dorongan dari Kristan. Saat sampai Kristan melempar Jeslyn ke tempat tidur.
"Ah!" teriak Jeslyn,
"Apa yang kamu lakukan? Ada apa sih??" tanya Jeslyn yang mulai kesal. Kristan berdiri di depan jendela kamarnya sambil memegang dahinya. Jeslyn terdiam bingung menatap Kristan yang juga sedang bingung. Namun tiba tiba Kristan berjalan ke arah Jeslyn.
"Pergi mandi!" kata Kristan dengan nada memerintah,
"Emm oke" balas Jeslyn yang nurut saja karena takut. Setelah Jeslyn selesai mandi, disusullah Kristan masuk dan mulai mandi.
45 menit kemudian...
Jeslyn yang sedang duduk di meja sambil bermain laptop tiba tiba tangannya ditarik oleh suaminya lalu lagi lagi dilempar ke kasur.
"Ada apa lagi sih?!" tanya Jeslyn kesal,
__ADS_1
"Kamu mau tahukan permainan apa yang membuatku kesal??" tanya Kristan sambil naik ke atas Jeslyn. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka, apakah itu?? Jawablah dikolom komentar~