PASANGAN Idaman Semua Orang

PASANGAN Idaman Semua Orang
Chapter 80 - Lupakan dan Teruskan -


__ADS_3

"Bisakah kau mencontohi adikmu, Cheylin? Dia sangat perhatian pada keluarganya. Sangat waspada dan tidak cuek. Bahkan saat pertama kali bertemu aku malah mengira dia anak pertama, tapi ternyata ada dirimu" ucap Kristan menusuk hati Jeslyn dengan tajam.


"Cheylin lagi? Heh! Baiklah, aku minta maaf sudah melakukan banyak kesalahan! Kamu meminta aku mencontohi dia? Kenapa tidak sekalian menjiplaknya supaya kau tambah senang! Aku juga akan melepas karirku dan hanya memperhatikan kalian. Apa sudah puas?" Jeslyn menunduk hormat sambil berkata demikian.


"Apa maksudmu?" balas Kristan yang menatap tajam Jeslyn.


"Kamu yang memintanya, kenapa bertanya balik padaku?" jawab Jeslyn sambil menyeringai. Dia berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil beberapa lembar kertas. Dia merobek kertas itu sekecil kecil mungkin dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Meskipun tidak rela, dia melakukannya dengan tubuh gemetaran.


"Aku sudah merobek semua rencanaku. Lalu apa lagi? Oh iya meniru adikku yang baik itu. Baiklah, saya akan undur diri untuk memasak makan siang. Maaf telah mengecewakan anda berkali kali, sepertinya saya sungguh tidak pantas. Semoga anda bahagia" ucap Jeslyn lagi sambil menunduk hormat pada Kristan.


"Heh! Apa kau marah?" sindir Kristan. Jeslyn menggeleng sambil berkata tidak.


"Hanya sakit hati " batin Jeslyn yang masih terdiam.


"Ya, kau memang sangat jago berakting bahkan sangat jago berbohong dan menyembunyikan hal sebenarnya. Sudah puas beraktingnya? Kau benar benar sangat pemberani HAHAHAHA!" Kristan tertawa sambil menutup wajahnya. Dia merasa sudah mulai gila.

__ADS_1


"Aku tidak berakting!" bentak Jeslyn sambil gemetaran.


"Tidak?! Aku sudah membaca semua data data dirimu! Bahkan teman temanmu berkata seperti itu! Ah sudahlah! Dasar keras kepala!" Kristan membalas dengan membentak lebih keras. Mata Jeslyn mulai berkaca kaca dan dia hanya bisa tertunduk. Tapi sebisanya dia menggerakkan kaki dan melangkah keluar dari kamarnya. Menuju dapur dan memulai memasak. Selama memasak, terkadang dia harus mengusap wajahnya, memotong dengan tidak baik karena gemetaran. Dia berusaha untuk menahan dan melupakan.


"Makan siang sudah jadi, turunlah" ajak Jeslyn di balik pintu kamar. Kristan tiba tiba keluar dengan pakaian rapi dan tas laptop di tangan kirinya.


"Aku ada kerjaan, tidak makan dirumah" balas Kristan lalu turun ke bawah menjumpai anak anak. Baiklah, Jeslyn masih bisa menerima. Dia tetap berpikir positif dan tidak menyerah untuk mendapatkan kembali hati suaminya yang juga dingin. Pada malam harinya, Jeslyn masih menunggu Kristan pulang tapi, malah tertidur di meja makan.


"Apa yang kau lakukan?" sapa Kristan dengan wajah datar menatap Jeslyn. Jeslyn menjawab bahwa dia sedang menunggu Kristan pulang untuk makan malam. Tapi Kristan menolak dan mengatakan dia sudah makan malam diluar.


Sampai dikamar, dia hanya sendirian berbaring diatas kasur besar. Kristan menemani Mike dan Natashya di kamar sebelah. Jeslyn mulai terjerat ke alam bawah sadarnya, memikirkan Kristan yang masih marah. Kata kata Kristan yang menusuk terus berdengung dikepalanya. Membuatnya menjadi gila, menangis dalam diam. Menutup matanya yang sudah basah sambil tersenyum entah pada siapa.


Melihat istrinya yang hanya terdiam, Kristan memutuskan untuk pergi melihatnya. Setelah sampai, dia melihat ada sedikit basah pada tempat tidurnya, tepat dibawah telinga Jeslyn.


"Apakah ada bocor ?" batin Kristan bingung. Lalu dia perlahan menjauhkan tangan Jeslyn yang mengahalangi wajahnya. Perlahan dia mengangkat dan tertegun setelahnya. Wajah Jeslyn basah dengan mata bengkak sehabis menangis.

__ADS_1


Keesokan harinya, Jeslyn kembali berusaha mendapatkan hati suaminya yang beku itu. Seperti seseorang yang ingin mendapatkan hati doinya, Jeslyn berjuang namun berakhir dengan penolakan dari Kristan terus menerus. 3 hari berturut turut dia berusaha memenangkan kembali hati Kristan dan sudah 3 hari juga Jeslyn menangis sendiri dalam kamar tiap malamnya. Gadis yang periang dan penuh semangat itu, kembali perlahan jatuh ke dalam jurang di masa lalunya. Dia menjadi pendiam dan penakut kembali. Padahal dia sudah bersusah payah keluar dari masa kecilnya yang kejam, lagi lagi dia dijatuhkan oleh orang kepercayaannya.


Tapi, setelah 3 hari itu Kristan kembali tidur di kamarnya bersama Jeslyn. Malam terasa sunyi, masing masing berusaha untuk segera tidur dan masuk ke mimpi indah. Kristan membelakangi Jeslyn dan Jeslyn cuma bisa menatap punggung Kristan. Ingin sekali dia meraihnya dan memeluknya, tapi tidak bisa. Setelah agak lama mereka terdiam, Jeslyn membalikkan badannya dan seperti biasa, dia menutup wajahnya dengan satu tangannya. Kembali menangis dalam diam, satu tangannya gemetaran tak berdaya.


"Kenapa 3 hari ini kau tidak memasak?" tanya Kristan membuka suara dalam keheningan itu. Jeslyn menarik napas perlahan agar tangisannya tidak terdengar.


"Cheylin terlalu hebat untuk ada di dapur. Dia tidak pernah menyentuh peralatan masak" jawab Jeslyn yang masih menutup wajahnya. Kristan tahu maksud dari perkataan Jeslyn, bahwa adiknya tidak bisa memasak. Betapa sakitnya diri kita ketika tidak dicintai, sampai harus meniru orang lain agar bisa dicintai. Seorang yang mencintai dirinya sendiri, harus mengubah dirinya demi orang lain yang dia cintai. Kristan berbalik dan menatap Jeslyn.


Dia sudah menebak belakangan ini Jeslyn menangis tanpa mengeluarkan suara. Air matanya perlahan mengalir turun dan membasahi kasur.


"Sungguh sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Jadi setiap malam kau seperti ini? Menyiksa diri sendiri ?" batin Kristan sambil menatap Jeslyn yang hanya terdiam dengan tangannya yang gemetaran.


"Atau aku yang terlalu keras? Sampai dia tidak ingin memberitahu segalanya lagi ?" tanyanya dalam hati yang sedih melihat Jeslyn menyiksa dirinya sendiri. Perlahan Kristan menyentuh jari Jeslyn yang daritadi gemetaran, membuat Jeslyn tersontak kaget. Tangannya semakin gemetaran karena digenggam Kristan. Berusaha tetap tenang seakan akan dia sudah terlelap dalam tidur. Perlahan lagi Kristan melepas tangan diwajah Jeslyn. Namun Jeslyn tidak menggerakkan tangannya.


"Jauhkan tanganmu" perintah Kristan. Tapi Jeslyn tidak menghiraukannya. Dia masih terdiam dan menutup wajahnya. Kristan mengusap pipi Jeslyn yang sudah basah, membuat tangannya semakin bergetar.

__ADS_1


"Kau sekarang menjadi takut ketika kusentuh. Dan setauku adikmu tidak pernah diam jika terjadi sesuatu" bisik Kristan. Jeslyn melepas tangannya yang digenggam Kristan.


"Dia memang tidak bisa diam. Sangat banyak mengeluh dan cerewet! Kalau kau suka, pergilah! Aku tidak menyukai sifatnya maupun orangnya!" bentak Jeslyn yang masih terlihat tenang dengan wajahnya yang tertutup.


__ADS_2