
"Violyn berhenti memfitnah Jeslyn!" bela kakek juga.
"Kenapa kalian semua tidak mempercayaiku? Kenapa kalian lebih percaya pada orang asing ini?!" bentak Violyn, mama Jessica.
"Bi! Cukup!" bentak Kristan yang ikut melunjakkan amarah.
"Ma..." panggil seseorang dibalik pintu. Ternyata itu Jessica. Jessica masuk dengan matanya yang membengkak karena menangis. Jalannya sempoyongan dan wajahnya memerah. Dia berjalan mendekati Kristan lalu jatuh di pelukannya. Namun Kristan langsung mendorong Jessica ke arah mamanya.
"Kristan!" panggil Violyn yang kesal,
"Kristan... Beri aku kesempatan, aku sangat sangat saaaangat mencintaimu. Tolong Kristan...Tolong... Aku sakit hati melihatmu dengan Jeslyn... Kalau aku ada salah tegur saja atau marahi aku. Tapi beri aku kesempatan sekali lagi plis" pinta Jessica. Badannya melemas dan air matanya kembali jatuh sambil menatap Kristan dengan sedih.
"Maaf Jessica, aku tidak bisa memberimu kesempatan. Aku sudah menikah" balas Kristan yang cuek.
"Bagaimana dengan janjimu padaku? Bahwa kau akan terus bersamaku?" tanya Jessica lagi. Pertanyaannya membuat alis Jeslyn menyerngit lalu menatap Kristan. Tapi Kristan hanya diam dan belum memberikan respon. Jeslyn melirik ke arah jari jari tangan Kristan dan melihat tangannya mengepal dengan kuat dan keras. Lalu dia kembali menatap wajah Kristan yang sudah diselimuti aura kekesalan.
"Aku memang berjanji akan terus bersamamu tapi aku tidak berjanji akan menikah denganmu. Kalau kau butuh bantuan katakan saja padaku dan aku bisa menolongmu tapi jangan minta posisi menjadi istriku" jawab Kristan kemudian yang raut wajahnya masih suram.
__ADS_1
"KRISTAN!" teriak Jessica yang kesal dan air matanya semakin deras berjatuhan.
"CUKUP!" teriak kakek juga yang sudah muak dengan drama ini. Kakek membubarkan semuanya dan menyuruh untuk istirahat di kamar masing masing, khususnya Kristan, Jeslyn, Jessica dan Violyn. Papa Jessica, suami Violyn, sudah lama meninggal sejak Jessica berusia 7 tahun. Dikarenakan kecelakaan pesawat dan mayatnya ditemukan setelah 10 hari dari kejadian. Sejak saat itu Violyn menjadi sangat tegas terhadap Jessica.
Papa Jessica tidak ada untuk menemaninya disaat dia sedang terpuruk seperti sekarang ini. Meskipun kesal pada Jeslyn dan Kristan, dia juga sangat merindukan ayahnya. Jessica dituntut oleh Violyn agar dia menjadi model yang cantik, pintar, dan terkenal. Setiap amarah yang dilontarkan Violyn pada Jessica yang tidak mampu meraih impian ibunya itu, membuat Jessica harus mengalami penderitaan yang berbagai macam. Meskipun tidak melukai fisik, tapi itu melukai batin. Tiap malamnya atau tiap dia sedih, dia pasti memanggil ayahnya.
"Pa... Kenapa papa meninggalkan aku? Aku sedih, aku takut, aku rindu papa. Mama jahat, Kristan jahat, kakek jahat, semuanya jahat! Cuma papa yang baik... Huhuhu " kata Jessica dalam hatinya saat ini.
Di dalam kamar Kristan dan Jeslyn...
Mereka berdua duduk dikedua sisi ranjang dan membuat jarak 1 meter satu sama lain. Ruangan hening katena tidak ada yang ingin berbicara terlebih dahulu. Keduanya merenungkan diri dan sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Namun, saat Kristan sudah membuka mulut dan siap berbicara, ponsel Jeslyn berdering.
15 menit kemudian...
"Oh oke oke, otw ya, bye" kalimat penutup Jeslyn. Setelah itu dia langsung berlari menuju lemari pakaian dan mengambil baju yang dia rasa cocok lalu segera masuk ke kamar mandi dan mengganti baju. Kristan yang ingin bicara saat Jeslyn selesai menelpon tidak jadi lagi karena Jeslyn terburu buru masuk ke kamar mandi. Kristan menunggu diluar sampai Jeslyn selesai sambil memikirkan lagi apa yang harus dilakukan supaya masalah ini cepet beres.
"Mau kemana?" tanya Kristan setelah melihat Jeslyn keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Mau ke cafe iloveyou 10000 dulu, aku mau ketemu sama teman dan rekan kerja" jawab Jeslyn yang sibuk mengurusi barang dan tasnya,
"Teman dan rekan kerja yang mana? Siapa?" tanya Kristan lagi,
"Itu loh yang mau adain kerja sama proyek dengan perusahaanmu. Kata sekretarismu, dia mau bertemu denganku dan ternyata dia itu teman SMA ku" jawab Jelsyn yang masih sibuk mondar mandir.
"Cowok?" tanya Kristan memastikan,
"Iya" jawab Jeslyn singkat dan biasa saja. Kristan sudah memasang raut wajah kesal dan cemburu sedangkan Jeslyn masih sibuk mondar mandir dan tidak mempedulikan Kristan. Jeslyn mondar mandir sambil tersenyum senyum karena teman SMA nya itu adalah teman dekatnya di SMA. Kristan yang mengamati Jeslyn dari belakang sudah memasang aura dingin dan siap meledakkan api.
"Aku duluan ya" kata Jeslyn yang terburu buru lalu hilang begitu saja. Kristan merasa malas harus mengejar Jeslyn karena masih kesal dengan peristiwa tadi. Tapi dipikirannya sudah mulai memikirkan bahwa Jeslyn akan bersenang senang dengan pria itu sampai melupakan suaminya sendiri. Dia pun segara bangkit lalu mengambil jasnya dan segera mengejar Jeslyn. Sayangnya, Kristan kehilangan jejak Jeslyn karena ia pergi terburu buru.
Kristan mengambil ponselnya disaku celana lalu menelpon Jeslyn. Tapi ponsel Jeslyn tak kunjung dia angkat. Kristan berjalan keluar hotel sambil terus berusaha menelpon Jeslyn. Dia bertanya ke pak satpam dan sopir pribadinya, pak Rei. Dia juga bertanya ke orang sekitar dan papa mamanya, tapi tidak ada yang tahu Jeslyn kemana. Dalam sekejap mata Jeslyn menghilang dan tidak ada yang mengetahui dimana keberadaannya sekarang.
Karena panik dan sibuk, Kristan menabrak seorang nenek yang sudah terlihat sangat tua dan berjalan membungkuk. Kristan yang menabrak nenek itu tidak sengaja menjatuhkan tas belanjaan sang nenek. Kristan segera meminta maaf dan memungut isi belanjaan milik nenek. Saat sedang mulai memungut, dia melihat ada sebuah kalung yang sangat cantik. Saat melihat kalung itu, di kepalanya terbayang Jeslyn yang memakai kalung cantik itu sambil tersenyum pada Kristan.
Namun Kristan segera menghapus hayalannya itu dan kembali memungut. Dia menaruh semuanya kembali ke tas nenek itu dan ketika selesai dia memberikannya kepada nenek.
__ADS_1
"Maaf nek, saya tadi terburu buru dan panik sampai tidak memerhatikan nenek yang lewat. Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak sengaja" kata Kristan lalu membungkuk pada nenek. Kristan tetap membungkuk sampai nenek mau berbicara. Tapi tidak ada respon dari nenek itu. Hingga Kristan menaikkan kepalanya lalu melirik pada nenek itu. Sang nenek tersenyum ramah pada Kristan, namun Kristan tidak mengerti senyum dari sang nenek.
"Kamu sedang mencari seseorang ya nak? Apa kamu mencari wanitamu?" tanya nenek kemudian.