Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Tertembak


__ADS_3

Stanley sengaja membawa Neil ke sebuah klinik,  bukan ke rumah sakit untuk mengantisipasi anak buah  Ketua menyisir rumah sakit di sekitar hotel.


Awalnya dokter wanita yang masih mudah itu menolak menanggani Neil, ia membuat banyak alasan, Meminta Stanley membawa Neil ke rumah sakit  yang lebih besar,  dokter dan kedua perawat tampak ketakutan melihat tiga pria yang memilik pistol di pinggang mereka masing-masing, dokter curiga mereka kumpulan perampok.


“Tenang dokter …  kami tidak membunuh wanita cantik seperti kamu, kami hanya meminta agar dokter  merawat rekanku sebelum dia mati kehabisan darah,” tutur Stanley dengan tenang.


“Saya tidak punya alat,” ujar wanita itu  ketakutan, jelas sekali terlihat kalau ia berbohong.


“Klinik kalau tidak ada alat-alat kesehatan atau peralatan rumah sakit, itu namanya bukan klinik Dokter … tapi warteg,” ucap Azka geram, ia menyisihkan jaketnya dan memperlihatkan pistol di pinggangnya,  solah-olah ia ingin mengatakan kalau ia punya benda berbahaya dan  meminta mereka menuruti semua permintaannya.


“Baiklah saya akan menangani dia, bisa tolong keluar?


“Tidak, kami tetap di sini. Dengar,  tidak ada yang boleh menelepon polisi.” Azka menatap tajam pada kedua perawat.


Mereka hanya mengangguk., “setelah dokter memberi penanganan padanya, barulah kami keluar,” ucap Azka.


Sementara Stanley duduk di kursi menatap salah seorang perawat. Tapi, bukan karena ia cantik,  itu karena  bayangan adik perempuannya mengingatkannya pada wanita yang berdiri di samping dokter.


“Baiklah, kami akan melakukan. Sus,  tolong bersihkan lukanya dan persiapkan alatnya,” pinta dokter.


“Baik,  Dok.”


Wanita berseragam perawat itu kesal saat menyadari Stanley melihatnya dengan penuh penyelidikkan, ia tidak tahu,  kalau Stanley  membayangkan itu Luna, adiknya.


Setelah berhasil mengeluarkan peluruh dari pundak Neil, mereka ingin membawanya keluar dari sana.


“Biarkan dia istirahat sebentar lagi,” ucap dokter, dari wajahnya Stanley tahu kalau dokter itu akan menghubungi polisi.


“Kalau kamu menelepon polisi aku akan membakar tempat ini, jadi, matikan teleponnya,” ucap Stanley, ia melepaskan selang infus dari tangan Neil.


“Kalian belum tahu apa yang terjadi, jangan sok telepon polisi!” bentak Azka kesal, ia melotot tajam pada kedua suster


“Kalau polisi sampai menangkap kami, aku akan memberi perhitungan pada kalian bertiga,” ucapnya lagi mengancam.


“Ini saya membayar biaya perawatan teman saya, sisanya lu pakai beli kaca mata baru,” balas Billy ketus.


Ketiga wanita yang berprofesi melayani kesehatan itu hanya diam dan tidak berani menelepon polisi. Billi mengangkat tubuh Neil ke dalam mobil, sementara Azka mengendarai  membawa jauh dari sana, mereka sengaja datang dari jakarta ke Bali mengendarai mobil karena orang-orang suruhan Ketua  ada di mana-mana.

__ADS_1


“Kita mau ke mana?” tanya Stanley saat  Azka mengendarai mobil sport hitam itu menuju pelosok di satu desa di Bali.


“Tenang, aku punya teman di sini, sebelum kita ke sini saya sudah mengabari dia dulu,  Neil butuh tempat yang nyaman untuk istirahat, setelah dia pulih baru kita lanjut perjalanan.”


“Saya tidak ingin orang lain ikut dapat masalah, gara - gara saya, Azka.”


“Tidak akan ada masalah, tenang saja.”


Setelah beberapa lama perjalanan,  akhirnya mobil mereka tiba di sebuah rumah sederhana, hanya beberapa rumah yang ada di sana dan sebuah kuil  sembahyang.


“Selamat datang Bro, mari masuk,” sambut seorang pria yang memiliki cacat, ia kehilangan satu tangan.


‘Wajah lelaki itu … sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?’ Stanley mencoba mengingatnya tetapi  tidak  berhasil.


Mereka di sambut dengan baik sama istri  lelaki bertangan satu  itu,   lingkungan desa itu asri dan tenang.


“Silahkan  bawa masuk,  ibu saya lagi mengobati orang yang terluka,” ujarnya lagi.


Billy membantu Neil  masuk ke rumah, lelaki itu sudah siuman.


“Apa kita tidak merepotkan?’ tanya Billy melirik Azka.


“Ya itu benar, ibu saya pasti senang ada tamu yang datang ke rumah kami.”


Tidak ingin merepotkan tuan rumah, Stanley mengajak Billy ke mini market terdekat memborong kebutuhan sehari-hari.


“Ah, ini untuk jualan?’ tanya lelaki itu terplongo.


“Ini untuk kebutuhan selama kami di sini, tidak ingin merepotkan,” ujar Billy membawa belanjaan ke dalam rumah.


Sementara Stanley  berdiri di luar, ia memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka,  sebenarnya  ia tidak suka melibatkan orang lain dalam masalah, kalau saja bukan Azka yang menyetir ke tempat itu ia juga tidak akan mau.


“Jangan khawatir Bro, ini daerah terpencil, tidak banyak orang yang mengetahui tempat ini karena jauh dari kota,” ujar Made.


“Lelaki itu punya mata-mata di mana-mana. Saya gak  ingin, orang lain dapat masalah,” ucap Stanley, ia tetap waspada.


Azka  menelepon temannya yang jadi mata-mata di penjara, ia seorang petugas lapas yang selalu mengawasi para napi, menurut temannya ada tiga orang yang ditugaskan untuk menghabisi Stanley dan kedua rekannya, ia mengirim foto  orang suruhan ketua.

__ADS_1


“Bukankah ini napi juga?”


“Ya, aku tidak tahu bagaimana  dia bisa keluar, hanya kepala lapas yang mengetahuinya, jadi berhati-hatilah,” bisik  pria tersebut.


“Ah, saya bingung dengan kalian para polisi, kenapa tahanan penjara bisa keluar masuk,” ujar Azka  menggeleng.


“Lebih bagus lagi, kalau lelaki itu  tidak punya akses di luar penjara.”


“Kamu meminta kami melenyapkan kedua orang tersebut?”


“Ya, sebelum dia membunuh  kalian, lebih baik lenyapkan duluan, Tapi berhati-hatilah, lelaki itu dikenal  sangat sadis.”


“Baiklah, akan kami cari cara,” ujar Azka mematikan telepon.


Saat Azka ingin  berbalik badan …


“Astaga! Gila, kamu mengagetkan aku,” desis Azka mengusap dada.


Ternyata Stanley  berdiri di belakang  mendengar semuanya pembicaraan  Azka dengan polisi.


“Apa berhubungan dengan polisi?” tanya  Stanley, menyengitkan kedua alis matanya.


“Ya, aku memberinya imbalan uang, kita akan mencari cara untuk menyingkirkan kedua orang suruhan Ketua.”


“Aku akan melakukannya, kamu tetap di sini, akulah yang dia diincar,” ujar Stanley.


“Aku ikut bersamamu.”


“Kita belum bisa keluar kemana-mana, polisi  menyelidiki mayat yang kita singkirkan tadi.”


“Jangan khawatir, Made punya kapal motor, kita gunakan jalur laut.” mobil biar tetap di sini.


“Kalau temanmu punya kapal malam ini kita keluar dari sini, jangan menyepelekan Ketua, dia akan menemukan kita.”


“Itu tidak mungkin,” bantah Azka.


Tato yang dipasang ditubuh kami  bertiga akan menunjukkan lokasi kita, Seketika wajah mereka langsung menegang, Azka dan Made menatap tato ditubuh mereka bertiga, jika diraba terasa sangat timbul, tato   keanggotaan Black Moon itu seperti sebuah GPS, siapapun yang  jadi anggota Ketua tidak akan bisa lepas darinya. Menyadari hal itu Azka  buru-buru membawa mereka keluar dari rumah Made, membawa ke kapal milik teman lamanya, itu artinya,  mereka menukarkan mobil mewah dengan sebuah kapal.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2