
Beberapa hari kemudian, Luna akhirnya menjauh dari Okan, bukannya hanya menjauh, wanita ceria itu bahkan seolah-olah menghilang dari pandangan Okan dan ketiga teman-temannya. Kalau biasanya mereka selalu bertemu dengan mereka di lift dan taman. Sejak beberapa hari kemudian Luna tidak pernah kelihatan lagi.
“Aku tidak pernah melihat gadis muda itu lagi,” ujar Fudo yang berjalan di belakang Okan.
“Mungkin dia marah karena kamu bohongin,” timpal Shin yang berjalan di samping Fudo.
“Tapi Aku kan menyebut namaku dan namamu dengan benar,” sahut Fudo membela diri.
“Tapi kamu menyebut nama Bos dengan nama Jhon, ck … lagian kenapa kamu harus bohong hari itu,” balas Shin.
Okan hanya diam ia berjalan menuju ruangannya, walau mulutnya diam tetapi sesungguhnya ia merasa kehilangan karena tidak melihat Luna beberapa hari ini, bahkan saat mereka lewat bilik meja kerjaLuna juga kosong. Tadinya ingin bertanya tapi tidak ingin kedua anak buahnya curiga padanya.
Tiba di ruangannya Okan berdiri menatap taman. Wanita berambut gelombang itu sudah empat hari tidak duduk di taman tersebut.
‘Kemana dia sebenarnya. Apa yang terjadi?’ tanya Okan dalam hati.
“Apa perlu kami mencari tahu tentang dia Bos?” tanya Shin, ternyata lelaki pendiam itu sudah tahu kalau bosnya sering berdiri di sana hanya untuk melihat Luna.
“Siapa?” tanya Okan pura-pura cuek.
“Luna.”
“Tidak perlu, ada hal yang jauh lebih penting dari gadis itu,” ucap Okan ia kembali duduk di kursi kebesarannya.
Ia membuka laptop dan mulai sibuk bekerja.
“Shin, suruh Bayu ke ruangan saya membawa salinan proposal minggu lalu,” pintah Okan.
“Baik Bos.”
Shin mengangkat gagang telepon dan meminta Bayu datang ke ruangan Bos.
Di ruangan lain Bayu tampak gugup.
“Apa yang terjadi? Apa Aku melakukan kesalahan?” tanya Bayu panik sembari mengangkat tumpukan berkas yang dikerjakan Luna minggu lalu.
Sebenarnya Okan tidak ada urusannya dengan Bayu mengenai pekerjaan, biasanya ia akan berurusan dengan Tika atasan Bayu . Hanya saja Okan penasaran dengan sosok Bayu yang pernah disebutkan Luna dan membuat wanita itu marah.
“Pagi Pak,” sapa Bayu berdiri di depan Okan.
“Pagi,” sahut lelaki tampan itu, belum mengalihkan matanya dari laptop, saat ia menoleh ke depan. Ternyata dugaannya salah, Bayu yang disebutkan Luna ternyata memiliki paras yang tampan dan sudah terlihat dewasa.
__ADS_1
“Jadi ini lelaki yang menyebabkan gadis muda itu berteriak di gedung atap hari itu,” ujar Fudo pelan dan Okan bisa mendengar.
“Yang lato-latonya didoakan kejepit pintu sampai pecah,” sahut Shin dan Fudo tertawa.
“Ada apa Bapak memanggil saya?”
“Bagaimana dengan proposal yang kamu kirim ke PT. Ozell?” tanya Okan.
“Oh, sudah dibalas Pak. Mereka sudah menanggapi, Pak.”
“Coba berikan saya salinannya.”
Bayu menyerahkan setumpuk map merah ke atas meja Okan dan map itu sepertinya tidak asing dimata mereka bertiga. Itu barang yang dibawa Shin saat dalam lift waktu itu, Okan membuka satu persatu dan mencoba membaca isi dalam map, saat tumpukan terakhir ia melihat sebuah jepitan rambut di jadikan sebagai penjepit lembaran map. Okan bisa tahu itu milik Luna , saat itu ia melihat satu jepitan masih terpasang di kepala dan satu lagi di kertas, mungkin ia menggunakannya sebagai penanda saat ia mengerjakannya. Okan mengambil jepitan dan memasukkannya ke laci meja.
“Baiklah saya sudah memeriksa, semua bagus. Hanya ada beberapa ketikan proposalnya typo,” ujar Okan.
“Maaf Pak, Luna mengerjakanya tidak teliti.”
“Iya, iyalah kamu meminta mengerjakan sebanyak itu, apa gak gempor tangannya gadis itu,” celetuk Fudo.
Okan tidak menyinggung ataupun bertanya tentang Luna. Namun saat ia ingin keluar, tiba-tiba Fudo bertanya’
“Pak Bayu, Saya tidak pernah melihat Luna. Apa dia sudah tidak kerja lagi?”
“Oh, karena saat itu dia menyebabkan kegaduhan di kantor, jadi Bu Tika membering skors selama satu minggu Pak,” ujar Bayu.
“Oh, baiklah. Bapak keluar,” ujar Fudo.
Akhirnya pertanyaan mereka terjawab Luna dapat skors dari pekerjaan karena menyebabkan kegaduhan di kantor.
“Kasihan bangat anak itu, saya yang salah. Dia memang benar-benar gak tau kalau bos adalah CEO ,” ujar Fudo.
Okan masih diam, tapi dalam hatinya ia merasa bersalah, kalau saja ia jujur mungkin Luna tidak bercanda dan mengobrol akrab dengannya hari itu.
Tapi apa yang salah dengan itu? Okan juga sangat terhibur hari itu, Luna tidak ada niat mau menggodanya, ia benar-benar tidak tahu kalau Okan adalah bos besar perusahaan mereka.
Disisi lain.
Seorang gadis mudah tidur guling-gulingan dengan sikap malas di atas ranjang. Setelah membereskan pekerjaan rumah tangga dengan Bu Ana, ia bermalas-malasan ria di kamarnya. Lalu berjalan kembali ke ruang tamu ia tidur di sofa dengan kaki keatas dan kepala kebawah dengan gaya selonjoran. Ia beberapa kali merayu kedua pria itu untuk membujuk Bu Tika agar memperbolehkannya kerja.
“Om aku malas di rumah,” ujar Luna lagi, ia membujuk Bimo. Bimo baik pada Luna ia menganggap Luna sebagai keponakan, berbeda dengan Bram lelaki itu masih galak terkadang padanya.
__ADS_1
“Kalau malas ada banyak kerjaan Luna, bantuin Bu Ana memotong rumput halaman belakang,” ujar Bimo yang duduk menonton televisi.
“Sudah.”
“Bersihkan kolam renang?”
“Sudah.”
“ Cuci pakaian, masak, setrika,” ujar Bimo menyebutkan semua pekerjaan rumah tangga yang biasa Luna kerjakan.
“Sudah juga.”
“Lalu yang belum apa?” tanya Bimo.
“Berangkat kerja ke kantor, Om.”
“Kamu diskors satu minggu Luna, ya, kamu harus jalani.
Lun .. itu untuk kebaikanmu, Om sudah bilang kamu harus menjauhi Okan, kalau dia sampai tahu kalau kamu adik Dave orang yang menculik Non Chelia dan Naira kekasihnya dia akan menyakitimu. Dia lelaki dingin dan kejam. Pak Leon dan Bu Hara ingin kamu sembuh dulu dan menculik itu tidak mengincarmu lagi, baru kamu bisa pergi, penjahat itu juga ingin melenyapkanmu juga untuk menghilangkan bukti.”
“Tapi kan bukan Dave yang menyakiti kami saat itu.”
“Tapi yang melakukan penculikan pertama kan dia,” balas Bimo
“Ya sih.”
“Okan tahunya seperti itu, yang dia tahu Dave dan Danis lah musuhnya.”
Luna juga tidak tahu kalau saat itu dia Bos … aku tidak tahu kalau dia Okan Wardana, kan. selama ini aku belum pernah lihat.”
“Saat itu kan ada acara penyambutan untuk Okan. Masa kamu gak lihat,” ujar Bimo.
“Memang Aku gak lihat Om aku gak ikut ke aula pertemuan saat itu, aku mengerjakan tugas dari Pak Bayu. Lalu apa yang harus aku lakukan, Om?” tanya Luna
“Menjauh dan menghindar darinya, kakimu belum sembuh total Lun, pen penyangga kakimu harus setiap bulan diganti agar kamu bisa sembuh dan kamu tahu biaya pengobatan kakimu?”
“Aku tahu Om.”
“ Tenang saja, Okan tidak mau datang ke rumah ini , dari dulu dia benci datang ke rumah ini. Jadi kamu aman di sini, turuti semua yang Pak Leon dan Hara katakan, jangan pergi kemana-mana.”
“Baik Om.”
__ADS_1
Luna akhirnya menjalani hukuman satu minggu skors dan potong gaji dan terancam gak bisa ikut acara liburan kantor.
Bersambung