
Setiap tahun Wardana Group mengadakan liburan kantor, biasanya mereka pergi ke sebuah resort milik perusahaan setiap tahunnya. Tahun ini agendanya sama, yakni di Bali. Semua karyawan yang bernaung di Wardana Group menyambut gembira liburan kali ini, karena liburan biasanya hanya dua hari tapi setelah mereka mendapat CEO baru liburan di naikkan jadi tiga hari ditambah Weekend jadi empat hari, liburan kali ini sebagai karyawan mendapat voucher belanja dan berbagai hadiah lainya. Akan ada banyak game seru dan kegiatan nantinya.
Setelah kejadian hari itu Luna semakin menjauhi Okan, ia tidak mau ada masalah ataupun gosip lagi di kantor. Walau Intan sudah dapat sanksi karena karena kelancangan bibirnya . Namun, Luna masih merasa bersalah karena Pak Maman ikut kena dampaknya, pria malang itu akhirnya kehilangan pekerjaan bahkan kehilangan mata pencahariannya. Hari itu Okan meminta Shin memanggil Luna diam-diam untuk datang ke ruangannya sebelum acara liburan. Luna menolak halus dengan alasan semua staf di kantor mengawasinya dengan ketat.
Akhirnya Okan meminta Naira untuk bertemu, mengajak wanita itu menemaninya.
“Apa kamu mau ikut acara liburan dari kantor kami?” Okan mengajak Naira ke Bali untuk menepis gosip yang beredar tentang hubungannya dengan Luna.
“Sebenarnya Aku pengen bangat, tapi hari itu aku akan ke Batam,” tolak Naira.
“Ok. Baiklah.”
Okan memutuskan pergi sendiri. Setelah semua karyawan di briefing, mobil rombongan akhirnya berangkat menuju bandara untuk menghemat waktu perusahaan juga sudah menyediakan transportasi udara.
**
Setelah terbang beberapa jam Jakarta -Bali akhirnya mereka tiba di sebuah resort
Luna dan Sinar segera berlari menuju Lift hotel yang berada di area resort juga, mereka berdua tidak sabar untuk masuk ke kamar hotel yang berada di lantai paling atas yakni kamar 14, saat buka kamar mata kedua wanita itu langsung melongo.
“Wah … kamarnya keren bangat! Lun kenapa kita dapat kamar sebagus ini. Siapa yang pilih?” tanya Sinar.
“Entah, Pak Bayu yang ngasih kuncinya,” ujar Luna dengan polos.
“Lun … kita dapat kamar Suite Room, Ini keren bangat! seumur-umur baru kali aku dapat kamar begini,” ucap Sinar kagum, ia menyibakkan gorden kamar. Seketika mata mereka dimanjakan pemandangan yang luar biasa.
“Wah .., pantai!” Sinas masih melompat-lompat
“Memangnya ini yang paling bagus?” tanya Luna polos.
“Bukan sih … masih ada lagi, mungkin Pak Okan menempati kamar penthouse room atau presidential suite. Tapi yang kita tempati ini sudah sangat keren, kita bisa masak,” ujar Sinar menoleh fasilitas dapur di kamar mereka.
“Wah keren, terimakasih untuk orang yang memilih kamar ini,” ucap Luna menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk itu. Dalam benaknya Bimo yang memilih kamar mewah itu untuknya, Luna tidak tahu Okan yang memilih kamar untuknya.
__ADS_1
“Apa mungkin Pak Okan yang pilih buat kamu?”
“Jangan katakan seperti itu lagi, kamu tidak tahu kalau dinding juga punya kuping? Nanti … aku di tuduh lagi tidur sama pak Bos, dia pasti malu karena dapat gosip memalukan seperti itu,” ujar Luna.
Ia melompat-lompat kegirangan diatas ranjang disusul Sinar melakukan hal yang sama.
Sebelumnya Sinar jauh-jauh hari sudah dibujuk kekasihnya untuk menempati satu kamar, karena mereka sama-sama karyawan Wardana group, tadinya Sinar masih berpikir untuk setuju dengan ajakan sang kekasih, karena ia memang bucin habis sama kekasihnya yang tampan itu. Namun sekarang ia menolak dengan tegas, ditambah lagi Luna tidak punya pasangan akhirnya mereka berdua satu kamar.
“Sin, kamu tidak akan menyesal jika diputuskan sama pacarmu yang ganteng itu?” tanya Luna, memastikan perasaan sang sahabat.
“Ah, tak penting, biarkan saja.”
“Tapi aku melihat dia menggandeng pasangan baru,” tutur Luna.
“Biarkan saja, itu artinya dia bukan jodohku. Ayo cepat kita akan keluar Aku akan langsung berenang di pantai,” ujar Sinar dengan sikap tergesa-gesa.
Setelah menyimpan koper dan mengunci pintu mereka berdua turun dari hotel menuju pantai.
Luna dan Sinar berdecak kagum saat mereka menginjakkan kaki di pantai Bali.
“Kita akan bersenang-senang melupakan semua masalah!” teriak Luna.
“Ya! Kita akan guling-gulingan di pasir itu,” tunjuk Sinar ke arah pantai.
Mereka berdua seperti orang yang baru lepas dari kandang, berlari melompat di pantai. Okan dan kedua pengawalnya baru tiba di hotel di lantai paling atas nomor 15 kamar di sebelah Luna.
Lalu Okan turun di susul kedua anak buahnya, saat duduk di cafe hotel matanya akhirnya melihat Luna.
Ia tersenyum melihat kegembiraan kedua sahabat. Seketika kedua alis Okan terangkat kaget, tiba-tiba Luna melepaskan pakaiannya dan menyisakan dalaman yang berwarna senada, ia ikut main voli pantai dengan beberapa bule perempuan.
“Lun apa kamu bisa?” tanya Sinar.
“Kamu tidak tahu desaku di pinggir pantai dan satu kampungku menyebutku mutiara pantai,” ujar Luna menyentuh hidung Sinar.
__ADS_1
“Apa kamu juga bisa bahasa inggris?”
“Bisa sedikit karena aku sering jadi tour guide saat di kampung dulu\, jadi bertemu sama bule sudah hal biasa untukku.|”
“Kamu keren … sok atuh mainkan,” ujar Sinar.
“Kamu tidak mau ikut?” tanya Luna.
“Aku tidak bisa,” tolak Sinar
Melihat Luna bermain voli dengan beberapa bule perempuan, Sinar merasa bangga punya teman yang bisa diandalkan, terlebih Luna jago bermain voli, bahkan team Luna memperoleh kemenangan.
Okan menatap tanpa berkedip, ia bahkan menghiraukan kedua pengawal yang duduk bersamanya, saat beberapa pria bule mengambil gambar Luna diam-diam Luna menatap tajam.
“Dia jago main voli,” puji Shin untuk pertama kalinya lelaki pendiam itu memuji Luna.
“Aku tidak menduga kalau Luna punya dada besar, dia seksi,” ujar Fudo tanpa sadar.
“Ckk ….” Okan berdecak kesal menatap anak buahnya, sepertinya ia tidak suka saat ada orang lain melihat tubuh Luna.
“Maksud saya bodynya ternyata bagus Bos, biasanya kan dia selalu berpakaian longgar jadi tidak terlihat,” ucap Fudo, ia buru-buru meralat perkataannya sebelum Okan menelannya hidup-hidup.
Luna memiliki tubuh sintal dan kulitnya yang eksotis, itulah yang disukai kebanyakan para pria bule, jadinya banyak pria Bule yang tampan ikut menonton pertandingan tersebut dan mengarahkan kameranya pada Luna, melihat hal itu ternyata ada yang merasa kepanasan. Okan beberapa kali mengusap-usap dagunya dengan gelisah.
“Orang-orang barat biasanya suka dengan wanita yang berkulit hitam manis.,” ucap Fudo membuat Okan semakin kepanasan.
“Semua pada ambil foto Luna,” lanjut Fudo, pria yang satu ini ingin melihat reaksi bos Okan.
“Ckkk kamu berisik. Saya jadi tidak bisa melihat pertandingannya,” ujar Okan kesal ia berdiri dan ikut dalam kerumunan.
“Bilang saja kamu cemburu,” ujar Fudo, ia tertawa setelah Okan berdiri.
Bersambung
__ADS_1
bantu like komen dan berikan hadiah ya