Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Melenyapkan Musuh


__ADS_3

Suara letusan itu cukup keras bahkan mengagetkan burung-burung yang hinggap di pohon, mereka terbang menjauh dari lelaki yang dilanda kemarahan itu, Leon masih  menenteng senjata laras panjang itu.


Lalu mengarahkan  ke arah musuh dan menembaki  mereka tanpa ampun. Wajah Leon menghitam tatapan matanya tajam,  pundak naik turun menahan amarah.


“Aku ingin mereka lenyap semua!” teriak Leon keras.


“Sisir tempat!” pinta Toni mengingatkan orang-orangnya.


“Baik Bos.” Para lelaki berjaket hitam itu kembali mengokang senjata mereka masing- masing dan menenteng dengan dua tangan  menatap kanan-kiri dengan sikap siaga.


Leon kembali mengenakan kaca elektromagnetik itu, seorang  musuh bersembunyi dibalik pohon besar, kacamata yang ia pakai bisa mendeteksi suhu tubuh manusia dengan jarak jauh, saat lelaki itu ingin melarikan diri Leon membidik tepat di kepala.


Dor!


Menembak tepat di kepala musuh bagian samping, ia menembaknya dari jarak jauh, musuh belum sempat berkutik, tapi tembakan  dari senjata Leon akhirnya mengirimnya ke alam baka. Leon maju terus tidak takut  ada serangan balik dari musuh.


Toni dan Bimo lebih waspada, tidak ingin sang bos terluka maka itu mereka mengawal Leon dengan ketat,  mereka membentuk formasi silang dan maju ber sama-sama  dan menyisir hutan tersebut.


Danis berhasil melarikan diri setelah melompat ke aliran sungai.


“Jangan biarkan mereka lolos  satupun !” teriak Leon.


“Baik Bos.” Toni memblokade jalan dengan cara mengangkat  pohon untuk  menutupi jalan agar kendaraan mereka tidak bisa melintas, namun sebelum mereka kabur  Leon sudah  menghabisi mereka satu persatu.


Leon naik keatas pohon menggunakan teropong senjata melihat jarak jauh, dengan mata memerah dan rahang  mengeras Leon  tidak bisa menahan amarahnya, menembaki semua musuh dari atas pohon, ia juga bisa melihat dari teropong  senjata   canggih itu menunjukkan keberadaan musuh yang bersembunyi diantara semak menyamar jadi rumput hijau, taktik perang ala tentara yang digunakan musuh .


“Apa mereka tentara?” tanya Leon pada Toni.


“Saya tidak tahu Bos, tapi dari jenis senjata yang mereka gunakan … sepertinya mereka sebagian ada tentara .”


“Bos … apa kita mundur saja?” tanya Bram.


“Tidak ada kata mundur dalam kamusku Bram, Aku tidak perduli walaupun mereka tentara atau pasukan rahasia. Mereka membunuh Zidan itu artinya mereka musuhku,” ujar Leon.


Ia menembaki  rimbunan rumput di mana para musuh bersembunyi dengan cara menyamar jadi rumput seperti yang  mereka lakukan pertama menyamar jadi pohon. Tapi kali ini tehnik itu tidak akan berguna untuk Bos Leon lelaki berbadan kekar itu itu membombardir persembunyian mereka dengan tembakan panjang dan dikombinasikan dengan granat, seketika musuh  modar semua, tidak ada yang tersisa, hanya Danis yang berhasil melarikan diri dengan cara terjun ke sungai, namun satu tembakan  dari Toni mengenai kaki kaki kirinya.

__ADS_1


“Bos, semuanya sudah tewas tidak ada yang tersisa, mari kita kembali, biarkan anak-anak mengurus mereka,” ujar Toni.


Leon berdiri,  tangan masih menenteng senjata laras panjang tersebut, tatapan matanya masih tajam menatap tubuh musuh yang sudah tidak tak bernyawa itu.


“Bereskan semua,” pinta Leon dengan tatapan sinis.


Toni mengarah tatapan matanya pada anak buahnya, memberi kode untuk membereskan musuh.


Raut wajah Leon kembali sedih saat melihat Zidan diangkut ke dalam pesawat.


“Bos ….” Toni menghela napas.


“Siapkan pemakaman untuknya,” ujar Leon dengan suara kecil.


“Bos, kamu terluka.” Toni menunjuk kaki Leon yang terkena  tembakan, ia bahkan tidak merasakan luka tersebut, luka kehilangan sahabat terbaik ternyata jauh lebih sakit dari kakinya.


“Jangan khawatir, Aku tidak apa-apa.”


Leon melenyapkan semua musuhnya, hanya Danis yang lolos, lelaki penghianat itu melarikan diri setelah ia tahu Leon datang,  kalau saja ia masih tetap di sana saat Leon membombardir tempat itu. Sudah pasti Danis putra Zidan akan lenyap sama seperti teman-temanya.


“Bos Aku menemukan ini dari salah satu dari mereka,” ujar Bimo  menyerahkan sebuah kain hitam belambang bulan.


“Black Moon … jadi gadis muda itu benar,” ujar Leon.


“Apa lelaki tua itu masih hidup? bukannya dia dipenjara seumur hidup?” tanya Toni.


“Sepertinya seseorang membebaskannya  dari penjara.”


“Sial… sampai kapan hukum di negeri ini bisa dibeli dengan uang?” ucap Toni dengan marah.


“Selamanya, selagi manusia  masih menjadikan uang diatas segalanya dan para pejabat masih korupsi jangan harap  negeri akan aman,” ujar Leon.


“Bagaimana Bos?”


“Itu artinya kita akan berdiri kembali. Kumpulkan semua orang-orang kita, hubungi Nana,” ujar Leon.

__ADS_1


Bos Mafia itu bangun kembali setelah puluhan tahun lamanya mereka  hidup tenang, kini mereka akan terjun lagi ke dunia hitam.


Di sisi lain.


Demi melindungi Chelia dari penjahat, Bimo meminta dr. Billy membawa Chelia dan Luna diam-diam ke rumah Leon, karena ia ingin menangkap anak buahnya yang berkhianat.


“Apa yang terjadi, Dok?” tanya Hara saat Chelia di pindahkan ke rumah.


“Pak Leon meminta kami membawa ke rumah, jangan khawatir, hanya berjaga-jaga saja,” ujar dr. Billy menghibur Hara yang ketakutan.


“Kalau dia meminta dia membawa ke rumah, pasti sudah terjadi sesuatu,” ucap Hara asal menebak. Namun tebakannya benar, telah terjadi sesuatu yang sangat besar. Zidan meninggal demi melindungi Okan dan Leon tertembak di bagian kaki, semenatara Okan melarikan diri, ia ketakutan setelah melihat Zidan meninggal karena dirinya.


“Kami tidak tahu apa-apa, kita tunggu saja Pak Leon,” ucap dr. Billy dengan lembut, ia takut kalau ia mengatakan kalau Zidan sudah meninggal, sebenarnya Billy sudah tahu Leon sudah meminta untuk mempersiapkan rumah duka untuk Zidan di hotel.


“Dokter mau kemana, lalu yang merawat Chelia di sini siapa?”


“Nanti  akan ada dokter yang datang,” ujar dr. Billy.


Tetapi Hara ingin melihat dokter itu sekarang, ia takut kalau yang datang dokter palsu dan  melukai putrinya.


“Apa  gadis yang bernama Luna itu ikut ke sini?”  Hara mengangkat kedua alisnya.


“Ya Bu atas perintah Bos,” jawab dr. Billy lagi.


“Dokter benar tidak tahu apa-apa?”


“Ya Bu, saya mau pulang dulu. Ini dokter yang mau merawat Chelia sudah datang.” Billy memperkenalkan rekannya pada Hara, lalu ia meninggalkan rumah Leon.


‘Maaf Bu kalau saya berbohong, saya takut ibu shock saat mendengarnya’ ucap dr. Billy dalam hati.


Sebenarnya Hara tidak ingin Leon terlibat  lagi dengan dunia hitam itu, tapi kalau sudah seperti itu  ia hanya bisa pasrah, wajahnya sangat sedih melihat putri cantiknya  yang terluka parah karena para penjahat.


Zidan sudah tiba di  hotel Ichiro,  di sana akan di lakukan ucapan penghormatan untuk Zidan, Leon semakin sedih saat Danis tidak bisa di hubungi.


‘Apa kamu yakin Danis akan datang?” tanya Toni pada Bimo.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2