
Setelah bertemu Stanley, Okan mendapatkan alamat rumah Naira, lelaki berwajah tampan itu akan menemuinya bahkan ia tidak sabar lagi ingin bertemu.
“Aku berharap Dia tidak marah padaku,” ujar Okan menatap dirinya di pantulan kaca dengan napas berat. Saat mengeluarkan mobil ia melihat kedua lelaki itu tetap saja mengawal dirinya.
“Aku akan pergi sendiri, tidak usah mengikutiku,” pintah Okan, ia menelepon kedua anak buahnya, walau tadi malam ia memarahi Fudo. Namun kedua pengawal itu mengikutinya diam-diam.
“Bos, kami takut ada yang mengikutimu,” ujar Shin.
“Jakarta- Sentul tidak terlalu jauh, biarkan Aku pergi sendiri, ini urusan hati,” ujar Okan. Lelaki bertubuh tinggi itu memakai pakaian santai kaos straight dipadukan jeans, pakaian itu memperlihatkan otot-otot tubuhnya, ucapan tepat untuk penampilan Okan saat itu, keren dan Cool.
Ia berkendara sendiri ke alamat yang diberikan Stanley padanya.
Saat ia tiba ternyata ada Harvis mengobrol bersama Naira. Mereka berdua duduk santai di depan sebuah rumah mewah.
“Akhirnya bertemu kamu juga Nai," ujar Okan, berjalan menuju mereka.
“Okan?” Mata Naira terkejut.
“Bro … Kemana saja.” Harvis dan Okan melakukan tos ala anak muda.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Okan menatap buku catatan penyelidikan di tangan Havis.
“Aku hanya ingin bertanya sesuatu pada Naira atas sebuah kasus, lain waktu kita akan bahas. Kamu darimana saja? setiap kali Aku menghubungi nomormu tidak aktif,” ujar Harvis, lelaki yang berprofesi sebagai polisi itu kekasih Chelia adik kembaran Okan.
“Nanti kita akan bahas semuanya, Aku ingin bicara dengan Nai,” bisik Okan.
Okan melirik Harvis memberi kode untuk membujuk Naira agar mau bicara dengan nya.
“Biar aku telepon dokter untuk mengubah jadwal kontrolnya Nai,” ujar Harvis, Okan tidak tahu kontrol apa yang dimaksud, tapi ia juga tidak mau terlalu banyak bertanya.
“Aku minta maaf … aku masih ada urusan sebentar lagi.” Naira menolak bicara dengan Okan.
“Apa kamu ingin bertemu orang lain selain dokter?” tanya Harvis lagi.
“Kami sudah janji akan bertemu hari ini, aku tidak ingin menunda-nundanya. Aku juga tidak mau berjanji kalau belum yakin bisa melakukannya,” ujar Naira, kata-kata itu ia tunjukan pada Okan yang berjanji akan menjemputnya di bandara saat ia baru pulang dari luar negeri.
“Menemui siapa?” Harvis menatap mereka berdua .
“Seseorang, Aku tidak bisa menyebutkannya disini.” Naira menatap Okan dengan dingin, ia seolah-olah tidak peduli dengan lelaki tampan tersebut. Padahal Okan sudah berharap bisa bicara dengannya, bahkan berharap mendapat satu pelukan rindu, Tapi itu sepertinya berat karena Naira terlihat sangat kesal padanya.
__ADS_1
“Apa perlu kami temanin?”
“Tidak usah, aku jalan sendiri takut kelamaan.” Naira meninggalkan mereka.
“Ada apa. Apa Naira masih marah padamu?”
“Aku punya hutang maaf padanya,” ujar Okan.
Okan tidak mau kehilangan kesempatan lagi ia menarik tangan Naira untuk bicara, sementara Harvis pamit pulang.
“Ayo kita bicara sebentar,” pungkas Okan, menahan tangan Naira agar tidak melarikan diri.
“Bicara apa apa lagi?”
“Nai maafkan Aku, sungguh minta maaf.”
“Minta maaf tidak bisa mengubah apapun dalam hidupku Okan.”
“Aku tidak bisa menyelamatkan kamu hari itu. Ayah mengurungku,” ujar Okan.
“Kamu mengingkar janji. Pertama hari itu kamu bilang akan menjemputku di bandara tapi tidak, saat Aku diculik semua orang berusaha bahkan anak buah om Leon juga datang lalu kamu di mana? Jangan salahkan aku bila hari ini berubah,” ujar Naira
“Haaa …!?” Naira menatap mata melotot
“Kamu masih egois Okan, dulu dan sekarang situasinya sudah berbeda, kamu harus tahu itu,” ujar Naira.
“Aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Aku akan menjagamu seumur hidupku,” ujar Okan.
“Maaf cari saja wanita yang tepat, aku tidak mau,” ucap Naira masuk ke dalam rumah , Okan mengikutinya dan memeluk Naira mencium bibir wanita cantik itu dengan paksa.
“Apa yang kamu lakukan.” Naira mendorong tubuh Nicolas dengan paksa.
“Kamu yang bilang kalau kita akan menikah setelah kamu pulang ke Indonesia, dan sekarang kamu sudah pulang Nai … ayo kita menikah. Aku sudah lama menanti--nantikan ini,” ujar Okan.
“Kenapa kamu tidak mau menikah denganku, bukannya dulu pernah mengatakan cinta padaku?”
“Itu dulu Okan, Aku tidak ingin kembali ke masa lalu semua itu sangat menyakitkan bagiku. Tolong jangan memaksaku seperti ini, pulanglah, jangan biarkan Aku semakin membencimu,” ujar Naira matanya berkaca-kaca. Tidak ingin memaksa Okan menurut ia pulang, ia terluka karena cinta dan tidak tahu apa
*
__ADS_1
Di sisi lain
Luna merasa kesal karena rencana Sinar yang ingin menjomblo kanya dan Bara, ternyata jadi bahan olok-olokan rekan kerja Luna di kantor. Ternyata Bara mulut seperti wanita apa yang sebab, ia memberitahukan pada rekan kerja mereka.
alhasil Luna menjadi bahan gosip di kantor.
"Lagian siapa yang mau sama wanita seperti dia, mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa, apalagi ngurusin pacar, mimpi kali," ujar Intan wanita yang paling cantik di divisi mereka.
"Lihat aja rambut seperti tidak disisir satu bulan," timbal yang lain.
Luna bukan gadis yang cengeng, wanita berkulit hitam manis itu cuek dengan semua suara -suara gosip di dekatnya.
"Lun , Aku minta maaf ya, karena aku kamu jadi bahan pembicaraan mereka.” Sinar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kamu santai aja, Aku sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu," ujar Luna sibuk dengan pekerjaannya.
Ia mengacuhkan pria bermulut tipis di sebelahnya, tadinya ia pikir laki-laki itu bisa jadi teman untuk saling membantu ternyata Bara yang jahat.
"Lelaki mulut kok ember sih," sindir Sinar menatap wajah pria di sampingnya.
Lelaki itu seperti tidak malu dikatai mulut seperti wanita, ia hanya diam dan pura-pura fokus menatap laptop di depannya.
Luna pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan, ternyata Intan dan kedua rekan-rekannya mengikutinya dan membuat masalah, hari itu akan jadi hari yang buruk untuk wanita itu.
"Apa benar kamu melamar Bara jadi kekasihmu?" tanya Intan menghalangi tubuh saat ingin keluar dari kamar mandi.
"Itu bukan urusanmu,” ujar Luna.
“Itu akan jadi urusanku karena Aku suka dengan anak baru itu.” wanita bertubuh sintal itu masih berdiri di depan Luna.
“Kalau kamu mau ya uda pacarin saja, repot bangat hidup kamu. Jangan bersikap seperti anak-anak,” ketua Luna.
Intan memiliki sikap sombong dan suka bersikap semene-mena pada anak-anak baru maupun orang yang penampilannya tidak menarik.
Luna sebenarnya cantik manis, hanya ia tidak mau dandan dan selalu tampil sederhana. Intan sebenarnya hanya cemburu pada Luna karena semua atasan-atasan mereka senang pada Luna karena ia punya sikap humoris dan ramah.
Kemarahan Intan semakin parah saat ia mendengar Bayu akan mengangkat Luna jadi kepala bagian perencanaan, wanita itu semakin panas hati dan mencari gara-gara padanya.
Bersambung…
__ADS_1