Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Ternyata Dia Bos Besar


__ADS_3

Saat menjelang sore Okan, Shin, Fudo  ada di gedung atap mereka baru tiba dari kunjungan bisnis. Setelah  helikopter itu pergi mereka bertiga  masih duduk di sana sembari membahas tentang  market gelap yang sedang dijalankan Okan.


Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba mereka  bertiga dikejutkan suara teriakan di  samping mereka.


“AAAA …! AAA ….!”


“Aku ingin Pak Bayu  tenggelam di lautan dan mati!” teriak wanita itu dengan sekuat tenaga, luapan kemarahan ia lepaskan melalui  teriakan yang keras. Setelah puas berteriak ia menarik nafas pelan-pelan  mencoba menenangkan  kemarahannya,  ia tidak menyadari ada tiga orang laki-laki sedang  melihat aksinya, karena  tubuh mereka terhalang bangunan  kecil Luna tidak  tahu kalau ada orang lain di sana.  Ke gedung atap sebenarnya hanya  memiliki jabatan tinggi. Kenapa Luna sampai  bisa naik ke gedung atap? Itu karena Bimo beberapa kali menjemput Luna dari sana menggunakan helikopter  kalau sedang mepet atau sedang macet.


Mereka bertiga hanya menonton wanita itu berteriak.


“Siapa dia?” tanya Fudo.


“Sepertinya salah satu pegawai di kantor,” sahut Shin, sementara Okan hanya diam, ia justru penasaran dengan lelaki yang bernama Bayu itu.


Setelah puas berteriak dan mengangetkan ketiga lelaki tampan itu, lalu Luna turun dengan tenang.


**


Pukul 07.00


Lampu di ruangan karyawan masih menyala.


Saat jam kantor sudah sudah usai dan semua rekan kerjanya sudah  pulang,  ternyata Luna masih duduk di di kubekelnya. Karena ulah Sinar yang  punya  memberi ide melamar Bara jadi kekasihnya dan berujung  memalukan. Sebab pria berkacamata itu tiba-tiba tidak mengajaknya bicara lagi.


Semua itu mengganggu pikirannya, ia jadi tidak bisa mengerjakan bekasnya dengan cepat dan kini  Bayu menghukumnya dengan lembur, saat  jemarinya berkutat di keyboard laptop sampai tidak menghiraukan perut yang keroncongan. Karena khawatir Luna tidak kunjung pulang Bimo menelepon.


“Apa kamu masih belum pulang?”


“Belum Om, Bayu memberiku pekerjaan segudang lagi.”


“Pulanglah, jangan terlalu malam bahaya.”


“Baiklah.”


“Saya sudah pesan mobil online, ia di sudah menunggumu di bawah.”

__ADS_1


“Om, gak jemput?”


“Tidak, saya lagi ada pertemuan dengan klien.”


“Baik Om.” Luna membereskan berkas dan bersiap pulang  mengangkut tumbukan berkas itu di tangannya, ia akan mengerjakannya di rumah. Ia bergegas dengan sikap buru-buru.


Sementara Okan dan kedua pengawalnya  bersiap ingin pulang, saat melewati ruangan staf, lampu ruangan masih  menyala menandakan masih ada orang di ruangan tersebut.


“Eh, sepertinya masih ada  yang masih kerja,” ujar Fudo saat melewati ruangan.


“Siapa yang  lembur jam segini?” Okan menoleh ke bilik meja para staf tapi tidak melihat siapapun karena Luna mencuci rantang  yang ia bawa dari rumah.


“Tidak tahu Bos, tidak ada orang.” Fudo mematikan lampu ruangan.


Saat mereka naik lift  dan pintu ingin tertutup seseorang tiba-tiba menekan  tombol buka dengan refleks Shin dan Fudo memegang senjata di pinggang mereka. Sebagai  orang pengawal yang  bertugas menjaga dan melindungi nyawa Leon,  wajar kalau mereka berdua  selalu bersikap waspada. Bahkan di tubuh  keduanya terselip lebih dari dua senjata.


“Bisa tolong tahan sebentar,” ujar seorang wanita  yang sedang  kerepotan karena membawa banyak barang di kedua tangannya.


Keduanya menurunkan tangan dari pinggang.


“Apa perlu bantuan, Mbak?” tanya Fudo


“Bisa tolong pegang sebentar?”  Luna menyodorkan  sebagian tumpukan  berkas itu pada  Fudo dan sebagian pada Shin.


“Tolong ini juga,” ucap Luna menyodorkan  rantang makan susun pada Okan.


Kedua pengawal itu saling menatap, Fudo menahan tawa karena bos besar itu diminta memegang rantang  model susun.


Shin heran karena Luna tidak mengenal  bos besar perusahaan mereka, Luna memang tidak tahu karena saat perkenalan tadi dirinya memang  tidak ikut heboh.


Luna bukan tipe penyanjung lelaki tampan seperti Sinar dan rekan-rekan yang lainnya.


Sinar dan beberapa  karyawan wanita memasukkan nama Okan dan kedua pengawalnya sebagai daftar orang-orang tampan di kantor. Hari itu Okan masuk top satu sebagai pemenang orang  paling ganteng di deretan gedung perkantoran. Bahkan Intan wanita  most wanted di kantor mereka menyebut Okan lelaki paling tampan sejagad raya. Luna hanya pendengar  saja tidak ingin terlibat dalam geng penggemar CEO mereka, Luna bahkan belum melihat wajah Okan hari itu.


Kembali ke Lift.

__ADS_1


Saat  Fudo ingin menegur Luna, ternyata  Okan melarang, ia memberi syarat  tidak apa-apa, ia memegang rantang makan Luna.


Mereka bertiga berdiri di belakang Luna, wanita itu sibuk merogoh ponsel di saku celananya untuk mendiamkan benda  berisik itu,  nada dering yang digunakan Luna bahkan sangat mengganggu pendengaran karena ia menggunakan model dering lama, yakni ayam berkokok, sepanjang Luna kerepotan menyodorkan barang-barang bawaannya, ayam  di ponsel Luna berkokok lama.


“Cepat diamkan ponselmu, sebelum ayam kamu mati kehabisan suara,” celetuk Fudo.


“Ya, Maaf Pak.” Luna mengusap tanda panggil  berwarna hijau dan menempelkan  benda pipih itu ke daun telinganya.


“Halo Sin,” jawab Luna setelah ia mendapatkan benda persegi empat itu.


“Kamu masih dikantor?” tanya Sinar terdengar di ujung telepon.


“Masih. Lelaki itu sialan itu  membuatku lembur lagi, Aku  kelaparan sekarang sampai aku tidak bisa mengangkat kakiku lagi,” ujar Luna memukul-mukul kepalanya ke dinding lift tubuhnya membelakangi ketiga


“Apa wanita ini yang berteriak di atas tadi?” tanya Okan setengah berbisik.


“Ya, sepertinya dia Bos.” Fudo menatap kartu identitas yang diletakkan di tumpukan berkas yang di tangan Shin.


"Apa dia tidak tahu siapa Aku?"


"A-a sepertinya ia tidak tahu Bos, kalau dia tahu pasti dia akan takut," sahut Fudo


"Ok, baiklah, biarkan dia puas," bisik Okan dengan suara kecil.


Kamu pulang saja Lun, besok lagi kita kerjakan aku janji, tadi Aku tidak bisa  bantu karena ayang bebku sudah jemput, maaf ya Lun meninggalkanmu sendiri tadi,” ucap Sinar


“Baiklah.”


Mereka bicara asyik di telepon sampai-sampai


Luna   melupakan ketiga lelaki tampan yang saat ini,  berdiri di belakangnya dengan tangan mengangkat barang-barang milik Luna. Mereka bertiga diam tanpa suara hanya menatap Luna  dari belakang,  tatapan  penuh penyelidikan. Hilang sudah harga diri lelaki  berkharisma itu saat karyawannya  memintanya memegang rantang makan.


Mana mungkin seorang karyawan rendahan seperti Luna meminta  Bos besar membawa barang-barang .


Apakah Leon  akan marah pada Luna atau ia akan diam saja  menenteng rantang susun itu sampai ke lantai bawah?|

__ADS_1


Bersambung


Kakak yang baik tolong bantuannya untuk dukung karya ini ya, kasih komentar tiap bab dan kasih ulasan buku terimakasih ya.


__ADS_2