
Saat menjelang sore Okan, Shin, Fudo ada di gedung atap mereka baru tiba dari kunjungan bisnis. Setelah helikopter itu pergi mereka bertiga masih duduk di sana sembari membahas tentang market gelap yang sedang dijalankan Okan.
Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan suara teriakan di samping mereka.
“AAAA …! AAA ….!”
“Aku ingin Pak Bayu tenggelam di lautan dan mati!” teriak wanita itu dengan sekuat tenaga, luapan kemarahan ia lepaskan melalui teriakan yang keras. Setelah puas berteriak ia menarik nafas pelan-pelan mencoba menenangkan kemarahannya, ia tidak menyadari ada tiga orang laki-laki sedang melihat aksinya, karena tubuh mereka terhalang bangunan kecil Luna tidak tahu kalau ada orang lain di sana. Ke gedung atap sebenarnya hanya memiliki jabatan tinggi. Kenapa Luna sampai bisa naik ke gedung atap? Itu karena Bimo beberapa kali menjemput Luna dari sana menggunakan helikopter kalau sedang mepet atau sedang macet.
Mereka bertiga hanya menonton wanita itu berteriak.
“Siapa dia?” tanya Fudo.
“Sepertinya salah satu pegawai di kantor,” sahut Shin, sementara Okan hanya diam, ia justru penasaran dengan lelaki yang bernama Bayu itu.
Setelah puas berteriak dan mengangetkan ketiga lelaki tampan itu, lalu Luna turun dengan tenang.
**
Pukul 07.00
Lampu di ruangan karyawan masih menyala.
Saat jam kantor sudah sudah usai dan semua rekan kerjanya sudah pulang, ternyata Luna masih duduk di di kubekelnya. Karena ulah Sinar yang punya memberi ide melamar Bara jadi kekasihnya dan berujung memalukan. Sebab pria berkacamata itu tiba-tiba tidak mengajaknya bicara lagi.
Semua itu mengganggu pikirannya, ia jadi tidak bisa mengerjakan bekasnya dengan cepat dan kini Bayu menghukumnya dengan lembur, saat jemarinya berkutat di keyboard laptop sampai tidak menghiraukan perut yang keroncongan. Karena khawatir Luna tidak kunjung pulang Bimo menelepon.
“Apa kamu masih belum pulang?”
“Belum Om, Bayu memberiku pekerjaan segudang lagi.”
“Pulanglah, jangan terlalu malam bahaya.”
“Baiklah.”
“Saya sudah pesan mobil online, ia di sudah menunggumu di bawah.”
__ADS_1
“Om, gak jemput?”
“Tidak, saya lagi ada pertemuan dengan klien.”
“Baik Om.” Luna membereskan berkas dan bersiap pulang mengangkut tumbukan berkas itu di tangannya, ia akan mengerjakannya di rumah. Ia bergegas dengan sikap buru-buru.
Sementara Okan dan kedua pengawalnya bersiap ingin pulang, saat melewati ruangan staf, lampu ruangan masih menyala menandakan masih ada orang di ruangan tersebut.
“Eh, sepertinya masih ada yang masih kerja,” ujar Fudo saat melewati ruangan.
“Siapa yang lembur jam segini?” Okan menoleh ke bilik meja para staf tapi tidak melihat siapapun karena Luna mencuci rantang yang ia bawa dari rumah.
“Tidak tahu Bos, tidak ada orang.” Fudo mematikan lampu ruangan.
Saat mereka naik lift dan pintu ingin tertutup seseorang tiba-tiba menekan tombol buka dengan refleks Shin dan Fudo memegang senjata di pinggang mereka. Sebagai orang pengawal yang bertugas menjaga dan melindungi nyawa Leon, wajar kalau mereka berdua selalu bersikap waspada. Bahkan di tubuh keduanya terselip lebih dari dua senjata.
“Bisa tolong tahan sebentar,” ujar seorang wanita yang sedang kerepotan karena membawa banyak barang di kedua tangannya.
Keduanya menurunkan tangan dari pinggang.
“Apa perlu bantuan, Mbak?” tanya Fudo
“Bisa tolong pegang sebentar?” Luna menyodorkan sebagian tumpukan berkas itu pada Fudo dan sebagian pada Shin.
“Tolong ini juga,” ucap Luna menyodorkan rantang makan susun pada Okan.
Kedua pengawal itu saling menatap, Fudo menahan tawa karena bos besar itu diminta memegang rantang model susun.
Shin heran karena Luna tidak mengenal bos besar perusahaan mereka, Luna memang tidak tahu karena saat perkenalan tadi dirinya memang tidak ikut heboh.
Luna bukan tipe penyanjung lelaki tampan seperti Sinar dan rekan-rekan yang lainnya.
Sinar dan beberapa karyawan wanita memasukkan nama Okan dan kedua pengawalnya sebagai daftar orang-orang tampan di kantor. Hari itu Okan masuk top satu sebagai pemenang orang paling ganteng di deretan gedung perkantoran. Bahkan Intan wanita most wanted di kantor mereka menyebut Okan lelaki paling tampan sejagad raya. Luna hanya pendengar saja tidak ingin terlibat dalam geng penggemar CEO mereka, Luna bahkan belum melihat wajah Okan hari itu.
Kembali ke Lift.
__ADS_1
Saat Fudo ingin menegur Luna, ternyata Okan melarang, ia memberi syarat tidak apa-apa, ia memegang rantang makan Luna.
Mereka bertiga berdiri di belakang Luna, wanita itu sibuk merogoh ponsel di saku celananya untuk mendiamkan benda berisik itu, nada dering yang digunakan Luna bahkan sangat mengganggu pendengaran karena ia menggunakan model dering lama, yakni ayam berkokok, sepanjang Luna kerepotan menyodorkan barang-barang bawaannya, ayam di ponsel Luna berkokok lama.
“Cepat diamkan ponselmu, sebelum ayam kamu mati kehabisan suara,” celetuk Fudo.
“Ya, Maaf Pak.” Luna mengusap tanda panggil berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.
“Halo Sin,” jawab Luna setelah ia mendapatkan benda persegi empat itu.
“Kamu masih dikantor?” tanya Sinar terdengar di ujung telepon.
“Masih. Lelaki itu sialan itu membuatku lembur lagi, Aku kelaparan sekarang sampai aku tidak bisa mengangkat kakiku lagi,” ujar Luna memukul-mukul kepalanya ke dinding lift tubuhnya membelakangi ketiga
“Apa wanita ini yang berteriak di atas tadi?” tanya Okan setengah berbisik.
“Ya, sepertinya dia Bos.” Fudo menatap kartu identitas yang diletakkan di tumpukan berkas yang di tangan Shin.
"Apa dia tidak tahu siapa Aku?"
"A-a sepertinya ia tidak tahu Bos, kalau dia tahu pasti dia akan takut," sahut Fudo
"Ok, baiklah, biarkan dia puas," bisik Okan dengan suara kecil.
Kamu pulang saja Lun, besok lagi kita kerjakan aku janji, tadi Aku tidak bisa bantu karena ayang bebku sudah jemput, maaf ya Lun meninggalkanmu sendiri tadi,” ucap Sinar
“Baiklah.”
Mereka bicara asyik di telepon sampai-sampai
Luna melupakan ketiga lelaki tampan yang saat ini, berdiri di belakangnya dengan tangan mengangkat barang-barang milik Luna. Mereka bertiga diam tanpa suara hanya menatap Luna dari belakang, tatapan penuh penyelidikan. Hilang sudah harga diri lelaki berkharisma itu saat karyawannya memintanya memegang rantang makan.
Mana mungkin seorang karyawan rendahan seperti Luna meminta Bos besar membawa barang-barang .
Apakah Leon akan marah pada Luna atau ia akan diam saja menenteng rantang susun itu sampai ke lantai bawah?|
__ADS_1
Bersambung
Kakak yang baik tolong bantuannya untuk dukung karya ini ya, kasih komentar tiap bab dan kasih ulasan buku terimakasih ya.