
Leon Wardana sadar tidak akan bisa memaksa Okan untuk memimpin perusahaan keluarganya, walau ia dan Hara punya harapan yang besar untuk Okan. Rupanya anak lelaki mereka punya impian yang lain. Setelah memberi pelajaran pada Okan. Ia meninggalkan putranya di sana. Zidan dan Ken yang mengawasinya di sana. Zidan meminta dokter datang ke gudang memberi pengobatan.
“Ayahmu memintamu untuk tinggal di sini sampai situasi benar-benar tenang,” ujar Zidan, ia tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Okan.
“Kamu membuat masalah,” timpal Ken, ia memberi Okan minuman kaleng.
“Om … minta maaf.”
“Untuk apa?” tanya Okan.
“Danis …. Dia menghianatimu, Aku tahu Bos pasti bingung untuk berbuat apa sama anak itu, mungkin kalau dia orang lain sudah dari dulu Bos melenyapkan anak sialan itu, karena dia ibunya meninggal, sekarang dia membuat aku dalam masalah. Jika aku dapat memilih, Aku ingin mati saja agar bisa bertemu Clara dan meminta maaf padanya. Sesungguhnya aku sudah lelah karena untuk apa aku hidup toh juga anak satu-satunya yang kumiliki memilih jadi penjahat,” ujar Zidan, wajahnya begitu sedih, ini pertama kalinya sniper hebat itu mengeluh dan terlihat putus asa.
“Jangan begitu Bro, bukan hanya kamu, Aku juga sampai saat ini aku belum tahu di mana Thiani, jadi kita jalani saja sisa hidup kita dengan begini,” ujar Ken.
Okan hanya diam melihat kedua lelaki berumur itu saling curhat, ia hanya jadi seorang pendengar.
“Kami ada misi untuk mengawasi persembunyian anak buah Dave, ada laporan kamu di sini saja sama Zidan, biar Aku saja yang pergi,” ujar Ken.
“Tidak, izinkan aku ikut Om , tolong latih Aku seperti kalian,” ujar Okan
“Kan … pekerjaan yang kami pilih ini tidaklah mudah,” ujar Zidan.
“Tolong ajarin Aku Om, berikan Aku kesempatan.” Okan memohon untuk ikut, Ken meminta izin ke Leon, laki-laki itu kembali menghela napas panjang, Okan sudah dihajar masih saja tidak kapok, padahal ia dikurung di gudang agar ia merenung atas kesalahannya, ternyata gagal.
“Baiklah.” ujar Leon.
*
Di tempat lain.
Hara begitu sedih dengan keputusan Okan yang memilih jadi hidup bebas daripada diperhatikan sama keluarga .
“Apa Aku terlalu keras?” tanya Hara berlinang air mata.
“Tidak, kamu tidak keras Bu.” Leon mengusap-usap pundak istri cantiknya, walau Hara sudah berumur tapi garis-garis kecantikannya masih terlihat,” jangan terlalu banyak pikiran, nanti kamu sakit lagi.” Leon meminta Hara duduk di sofa.
“Aku hanya ingin terbaik untuk dia, Yah,” lirih Hara dengan pundak bergetar, “Aku kaget kalau dia merampok kantor polisi dan jadi buronan. Apa yang dia pikirkan!”
Leon hanya diam, tangannya menepuk-nepuk pundak istrinya, Hara meluapkan semua kemarahan karena putranya. Sebagai seorang Ibu hatinya begitu hancur.
“Aku menyekolahkan Okan ke luar negeri untuk mendapat pendidikan yang bagus, tetapi ujung-ujungnya dia jadi penjahat juga,” ujar Hara, ia terus saja menangis di dada Leon.
__ADS_1
“Jangan sedih Bu, Ada Lucas yang akan menggantikanku memimpin perusahaan. Kamu harus kuat, Chelia membutuhkan kamu, kami semua membutuhkan kamu sayang,” ujar Leon mengusap wajah Hara dan mengecup kening.
“Aku akan melakukan apa yang dia inginkan agar dia tidak penasaran,” ujar Leon.
“Ayah, bagaimana kalau kalian gagal? Tidak bisakah kamu meminta orang lain yang melakukannya?”
“Tidak. Siapapun yang menyentuh putriku, Aku akan mematahkan tangannya,” ujar Leon.
Hara tidak ingin suaminya berperang lagi, ia tidak ingin melihat pertumpahan darah lagi. Tetapi Leon sangat marah karena penjahat itu menyakiti putrinya sampai terluka parah bahkan sampai koma, ia akhirnya pegang senjata lagi.
Di rumah sakit.
Luna akhirnya sadar, ia terbangun setelah beberapa hari koma, mereka berdua dijaga ketat sama anak buah Leon. Bram yang bertugas mengawasi rumah sakit mendengar Luna sudah bangun dan ingin bicara dengan Leon untuk mengabari.
“Ada apa?” tanya Hara saat wajah Leon menegang saat menerima telepon.
“Wanita itu sudah sadar.”
“Bagaimana dengan, Chelia?”
“Bu, tenanglah, nanti dia pasti akan sembuh. Kamu tetap di rumah, kalau ada perkembangan akan kami kabari, istirahatlah di rumah besok saja kamu ke rumah sakit,” ujar Leon
“Bagaimana?” tanya Leon .
“Dia bilang dia hanya ingin bicara dengan Bos.”
Leon masuk ke kamar Luna menatap wanita itu dengan wajah serius.
“Saya Ayah Chelia … apa yang kamu ingin katakan?”
“Benarkah bapak Leon Wardana?” tanya Luna matanya menatap wajah Leon
“Ya.”
“Pak, pelakunya bukan Dave … percaya padaku,” ujar Luna dengan panik.
“Maksudnya kamu ingin melindungi penjahat itu?”
“Bukan, hari itu setelah Dave tahu kalau Chelia anak Leon Wardana dia meminta anak buahnya mengantar kami pulang, ternyata anak buahnya berkhianat, dia ingin membawa kami ke Bos Taipan. Aku dan Chelia mendengar semua percakapan mereka, saat ingin membawa kami ke puncak, kami melarikan diri. Mereka ingin Bapak menghabisi Dave.”
Leon menatap dalam ke wajah wanita berkulit eksotis itu, mencoba mencari kebenaran di balik tatapan matanya, saat Leon menatapnya teman putrinya tersebut, Luna malah mengagumi wajah karismatik Leon.
__ADS_1
‘Ayah, Cheli sangat tampan. Apa benar dulu dia bos mafia yang paling ditakuti?’ ucap Luna dalam hati, Luna terpikat wajah misterius Leon.
“Apa kamu mengenalnya, Nona?” tanya Leon, seolah-olah lelaki itu seorang dukun.
“A-A-Aku tidak mengenalnya,” jawab Luna terbata- bata.
“Lalu, kenapa kamu membelanya.”
“Bukan kebenaran harus diungkapkan? Dia tidak sedikitpun menyakiti kami, saat Naira mengatakan kalau Chelia putri Leon Wardana, dia sangat takut, dia bilang tidak ingin berurusan dengan bapak. Namun, anak buahnya yang berkepala botak itu menghianatinya, kami bukannya dipulangkan justru ingin diserahkan bos Taipan, aku mendengar saat dia menelepon dia memanggil dengan sebutan ketua.”
“Ketua? Kamu yakin?” wajah Leon sedikit mengeras. Ia mengepal tangannya dengan kuat.
“Ternyata bajingan itu masih hidup setelah melarikan diri dariku beberapa tahun lalu.”
“Pak, Dave tidak salah,” ujar Luna dengan wajah sedih.
“Apa dia kekasihmu?”
“Bukan, dia saudaraku yang menghilang lima tahun lalu.”
“Apa?” Leon menyelidiki wajah Luna, tapi tidak ada kebohongan di sana.
“Dia tadinya seorang atlet tarung bebas. Namun tiba-tiba dia menghilang. Pertemuan pertama kami saat kami diculik,” ujar luna dengan tangisan.
“Apa dia mengenalmu?”
“Tidak,” jawab Luna.
Leon semakin menatap wajah Luna, wanita berambut pendek itu sampai gugup karena Leon menatapnya dengan dalam, Leon memang selalu melakukan hal seperti itu pada setiap lawan bicara, tidak akan memalingkan wajahnya sebelum selesai bicara.
‘Kenapa dia menatapku seperti itu, apa dia ingin melenyapkanku/ wanita itu membatin
“Sekali lagi Aku bertanya padamu. Apa kamu mengenal laki-laki itu atau kamu ikut terlibat dalam rencana penculikan ?”
“Tidak, Aku tidak terlibat sama sekali, Aku dan Chelia teman antara bos dan bawahan. Kalau saya terlibat saya tidak akan mengeluarkan peluru dari tubuh Chelia. Benar Pak, Saya tidak terlibat.” Luna sangat takut.
Mendengar Luna yang menyelamatkan Chelia, wajah Leon mereda.
“Aku akan menghabisi mereka semua nanti.” Leon melipat tangannya di dada dan tatapan tajam itu masih tertuju pada gadis yang duduk diatas ranjang.
Bersambung
__ADS_1