Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Kepergian Anak Buah


__ADS_3

Stanley  bukan hanya ingin  mengetahui keberadaan adiknya yang menghilang, ia juga baru mengingat Okan membawa korek miliknya, ia ingin mengambilnya dari Okan, sebuah korek gas, bukan hanya korek gas biasa, ternyata di dalam korek gas itulah chip itu disimpan oleh Stanley, saat  mereka dikejar penjahat malam itu, Stanley menyodorkan rokok untuk Okan dan mereka sama merokok, mengobrol sebentar di belakang bar malam itu.


Ternyata Okan tidak sengaja membawa korek berharga milik Stanley, itu semua terjadi karena anak buah ayahnya tiba-tiba menangkapnya, itulah salah satu alasan harus menyelamatkan Okan.


‘Apa mereka tahu kalau  benda itu ada di tangan Okan makanya mereka ingin melenyapkan pria ini?’ tanya Stanley dalam hati.


Stanley juga ingin tahu,  ada hubungan apa  Okan dengan Naira, karena malam itu ia masih sempat melihat Okan sangat marah saat seorang wanita duduk mesra dengan lelaki bertopi dan berkaca mata hitam.  Stanley tidak tahu kalau itu adalah Dave kakak laki-lakinya yang ia cari selama ini, Apakah misteri itu  bisa terungkap?


Tetapi mereka berdua sama-sama menyembunyikan identitas masing-masing, maka itu mereka tidak tahu satu sama lain. Asta Stanley juga  dalam bahaya karena  memegang sebuah kode rahasia yang dikirim Dave padanya beberapa tahun lalu.  Siapa sangka kode rahasia yang dipegang Asta Stanley ternyata ada hubungannya dengan  organisasi ilegal yang diikuti Danis.


Asta Stanley menyimpan sebuah chip  berharga dalam korek gas yang terbawa oleh Okan, karena itu jugalah hidupnya dalam bahaya,  ia juga diincar para mafia yang menginginkan chip tersebut. Asta Stanley tidak percaya sama polisi  makanya ia menyimpan sendiri ia berharap ada seseorang yang bisa dipercaya yang bisa membantu menghancurkan organisasi berbahaya itu.


“Tapi sebelumnya … berikan korek gasku dulu,” ujar Stanley menyodorkan tangannya.


“Semua barang-barangku saat itu disita, ayah,” jawab Okan.


‘Apa? Mati Aku.” Wajah Stanley menegang setelah menyadari benda berharga yang  ia jaga dengan mempertaruhkan nyawa itu tidak ada.


“Lalu barang kamu ada dimana?”


“Di rumah.”


‘Ah sial, bagaimana ini?’ Stanley panik tapi ia tidak ingin menunjukkan pada Okan kalau korek berlambang  naga itu  barang berharga, ia pura-pura tenang, tetapi siapa yang tahu, ia berteriak   ingin marah karena kehilangan barang penting.


“Aku buronan polisi, Aku tidak bisa pulang.”


“Benda  berharga apa yang ingin kamu ambil dari polisi?” tanya Stanley.


“Barang sitaan bea cukai, senjata yang dikirim dari luar negeri.”

__ADS_1


“Untuk apa kamu ingin memiliki senjata?”


“Untuk melindungi diriku sendiri dari penjahat,” jawab Okan, wajahnya sudah mulai terlihat kesal karena Stanley  mencercanya dengan banyak pertanyaan, kalau saja lelaki itu tidak sedang mengobati kakinya yang terluka Okan sudah pasti akan meninggalkannya Stanley yang  banyak  ingin tahu tentang hidupnya.


“Aku belum bisa mengerti Bro, kenapa kamu masih butuh senjata saat orang tuamu memberi pengawal.”


‘Mereka bukan pengawalku, mereka anak buah Leon Wardana’ ujar Okan dengan tatapan sinis.


“Kalau saja Aku ada senjata , Aku akan menghabisi orang yang menembak Om Zidan tadi,” ujar Okan.


Karena Okan enggan menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya Stanley tidak memaksa, ia membawa Okan keluar dari hutan .


*


Saat Okan   melarikan diri,  Leon juga turun dari pesawat, lelaki itu akhirnya  murka setelah tahu Zidan terluka parah, ia mengganti senjata Lalu ia menenteng senjata  laras panjang  tipe ZH -5 salah satu senapan tercanggih buatan Rusia,  senjata canggih milik Leon, bahkan  salah satu senjata paling kompleks yang dilengkapi dengan penglihatan elektronik,  ia akan  bisa melihat musuh walaupun bersembunyi di dalam tanah sekalipun.


Benar saja melihat Zidan terluka ia sangat sedih  memeluk sahabatnya tersebut.


“Zidan … .” Leon  menyentuh wajah Zidan yang berlumuran darah, ia muntah darah karena luka tembakan  di bagian perut.


“Bos … jangan khawatir Okan selamat dia sudah lari menjauh.”


“Baiklah jangan bicara … gunakan tenagamu untuk bertahan, bertahanlah kawan, bertahanlah …” ujar Leon air matanya menetes tanpa permisi, ia sedih menyaksikan sahabatnya, bukan hanya sahabat Zidan sudah seperti saudara sendiri untuknya, melihat Zidan sekarat apalagi itu di lakukan demi melindungi putranya, hati Leon terasa  hancur.


“Bos biarkan Aku pergi, Aku ingin bertemu Clara  … Aku ingin minta maaf padanya karena aku gagal jadi bapak  yang baik,” ujar Zidan, ia terbatuk-batuk  lagi darah  segar mengucur dari mulutnya, tembakan penjahat itu ternyata menembus lambungnya sampai ke belakang.


“Bagaimana denganku kawan … Aku masih membutuhkanmu,” ujar Leon meletakkan tubuh Zidan di pangkuannya, sementara Bram dan Toni  dan orang-orangnya masih saling menembak.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Suara senjata anta mafia itu saling beradu di  di sebuah rumah di tengah perkebunan jauh dari pemukiman.


Dibunuh dan membunuh sudah hal biasa untuk Leon, Namun kepergian anak buahnya  membuat sangat sedih, Leon meneteskan air mata, kepergian Zidan  kembali mengingatkannya pada Rikko dan Iwan yang juga meninggal karenanya. Kelima anak buahnya yang sudah bersamanya dari mereka masih remaja dan hidup di jalanan sebagai gelandangan. Zidan, Ken, Rikko, Iwan, Toni d  sudah bersama sejak lama, ke lima orang ini sudah seperti kaki tangan dan mata untuk Leon, tanpa mereka berlima Leon Wardana tidak akan bisa menjadi orang yang hebat tanpa Kesetiaan anak buahnya tersebut, kini,  tiga orang sudah meninggalkannya.


“Bos … maaf aku tidak bisa membantumu lagi, lakukan yang terbaik,” ujar Zidan dan menutup mata.


Melihat kepergian Zidan mereka semua yakin kalau Leon akan mengamuk dan menghancurkan tempat tersebut, ia akan menguliti  anak buahnya yang berkhianat itu.


seolah-olah ia meminta pada Leon untuk menghancurkan bisnis   berbahaya putranya, seperti yang diketahui Danis dan beberapa orang -orang jenius ingin menciptakan senjata berbahaya yang akan mereka perjual belikan secara ilegal.


“Zidan …! Bangun Kawan Ayo kita pulang,” ujar Leon, lelaki itu sudah benar-benar perg selamanya.


“Bro … jangan pergi,” bisik Ken yang  saat itu terluka di bagian kaki, sementara Kinan ingin tertembak di bagian lengan.


Menyadari Zidn sudah pergi, Leon  marah besar.


“AAA … BAJINGAN !”


Ia menenteng serapan itu  menembak ke atas


Dor-dor-dor!


Suara letusan iu cukup keras bahkan mengagetkan burung-burung yang hinggap di pohon mereka terbang menjauh. Leon kembali menunjukkan kemampuanya ia mengarahkan senjata laras panjang itu ke arah musuh dan menembaknya mereka tanpa ampun. Para penjahat itu sama saja membangunkan singa yang tertidur, Leon akan berubah jadi monster pembunuh yang tidak mengenal rasa kasihan.


Bersambung


Hai kak, bantu like ya

__ADS_1


__ADS_2