Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Diselamatkan Nelayan


__ADS_3

Kapal motor yang di kendarai Stanley melaju dengan kecepatan tinggi, lalu menghilang dari pandangan mata, para tentara itu hanya bisa diam.


Lalu sang komandan meminta bawahannya untuk mengawasi Stanley di darat, tidak lama kemudian Stanley tiba di sebuah tepi pantai.


Pria yang sedang terluka itu berjalan tertatih menghampiri nelayan, tidak lama kemudian ia pingsan. Seorang nelayan yang baik hati membawanya ke dalam rumah mengobati luka di perut.


Saat malam, ia terbangun dengan wajah panik, melihat ke sekeliling ruangan , ia berada di rumah sederhana.


“Sudah bangun Nak?” tanya seorang pria paru baya, ia duduk di samping ranjang Stanley.


Ia ingin bangun, “saya di mana Pak?” tanya Stanley.


“Kamu di rumah saya, Nak, mari makan.” Lelaki itu membantu Stanley untuk duduk.


Saat ia duduk lalu menatap kanan -kiri’ Kemana pistolku?’


“Apa kamu mencari benda ini?” tanya pria tua itu menatap Stanley dengan tenang.


“Ya,  apa bapak tidak takut?”


“Apa yang harus ditakutkan orang tua sepertiku Nak, kalau memang sudah waktunya mati, pasti akan mati, siapa yang bisa menolak panggilannya,” ucapnya lagi .


“Terimakasih sudah menyelamatkanku Pak Tua.”


“Silahkan habiskan makanannya dan ikutlah dengan saya ke mesjid, apa kamu muslim?”


“Tidak.”


“Oh, baiklah tidak  apa-apa, apapun agamamu kita sama-sama manusia.” Lelaki  tua itu meraih peci yang diletakkan diatas lemari. Lalu ia  keluar menuju mesjid.


Stanley, menghabiskan makanan yang disuguhkan orang tua tadi, tidak makan  sejak dari kemarin membuat tubuhnya jadi lemah.


Ia  membuka jendela dalam kamar, hamparan laut  menyambutnya, ia ingat kalau ia tadi siang  dikejar para tentara dan pingsan di tepi pantai.


Didekat rumah pelayan itu hanya ada beberapa rumah yang jaraknya sekitar seratus meter ke tiap rumah. Sekitar rumah sepi,  penerangan dalam rumah itu hanya satu bola lampu sepupuh watt.

__ADS_1


Stanley semakin penasaran, ia keluar dari kamar rumah itu sepi .


“Apa kamu butuh sesuatu Nak?” tanya seorang wanita  beruban.


Stanley kaget, melihat sosok wanita berambut putih itu tiba-tiba datang dari dapur.


“Tidak Bu, saya hanya ingin melihat-lihat.”


“Pakailah ini, kalau kamu ingin melihat ke luar, udara di luar sangat dingin,” ucap wanita tua , sembari memakai selimut lusuh ke badan Stanley. Ia tiba-tiba tertegun dengan mata berkaca-kaca, apa yang di lakukan wanita itu persis seperti yang di lakukan almarhum ibunya.


“Apa Mamah sudah makan?” tanya Stanley,  ia merasa seperti bicara dengan ibunya sendiri.


“Sudah, kini kakiku sakit sebelah karena berjalan mondar-mandir,  untuk mengurus dia. Ibu ingin istirahat dulu.” Wanita itu membuka kamar, sekilas Stanley melihat wanita yang sedang berbaring di ranjang.


Ia tidak ingin ikut campur, jadi ia hanya  berjalan menuju tepi pantai, menikmati gelapnya malam di tepi pantai tersebut, walau sudah malam, ia masih tetap waspada tidak ingin para penjahat maupun polisi menemukannya di tempat tersebut, saat sedang menatap kearah lautan. Bapak pemilik rumah menghampiri Stanley,


”Ini minumlah, ini bagus  untuk memulihkan luka dari dalam,” ujar lelaki beruban itu menyodorkan  cangkir, di dalamnya ada cairan yang baunya bikin perut lelaki itu mual.


Ia meneguknya sampai habis, kalau biasanya ia selalu curiga sama orang lain, tetapi  tidak  untuk orang tua tersebut, tanpa bertanya apa jenis ramuan itu ia langsung menghabiskannya.


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Kalau aku bertanya dan mengetahui apa di dalamnya, aku tidak akan meminumnya.”


“Jadi, apa kamu tidak ingin tau apa yang kamu minum?”


“Tau atau tidak tau, tidak ada bedanya Pak, sudah ada dalam perut.”


“Itu rebusan daun kasma yang sudah dikeringkan dan dicampur sedikit arak, itu bisa menghangatkan tubuhmu,” ucap lelaki itu jujur.


“Terimakasih Pak Tua.”


Suasana hening, lelaki tua itu menatap laut dengan wajah lelah,”kamu pasti banyak pertanyaan di kepala.”

__ADS_1


Sekali lagi Stanley dibuat bengong  mendengar pria itu bicara, seolah-olah tahu isi kepalanya, tetapi ia tipe lelaki yang tidak suka ikut campur urusan orang lain.


“Apa kamu mau mendengar ceritaku?” tanya lelaki itu lagi.


“Ya, kita banyak waktu malam ini,” ucap Stanley, ia memungut beberapa ranting kayu dan menyalakan api.


“Dia putriku … anakku satu-satunya,” suara lelaki itu  bergetar sedih, “ pulang dari Jakarta ia sakit, sudah hampir dua tahun ia berbaring di sana dan aku tidak punya uang untuk membawa dia berobat, sebagai seorang bapak, aku sangat sedih melihat dia menangis tiap malam,” ucap lelaki itu lagi.


“Kenapa bapak tidak menggunakan kartu kesehatan yang diberikan pemerintah?”


“Bapak tidak punya uang untuk mencetak kartu.”


“Itu bukan di cetak, tapi di daftar.”


“Bapak tidak mengerti, bapak sudah membawanya ke rumah sakit tapi ditolak karena tidak ada kartu kesehatan dan tidak ada uang.”


Lelaki itu menceritakan , putrinya bekerja di Jakarta, ia lama tidak ada kabar, sekali ada kabar datang keadaan sakit. Ia juga  mengatakan kalau putrinya dulunya anak yang susah diatur.


Lelaki itu cerita panjang lebar tentang kehidupan anaknya dan kehidupan keluarganya masa lalu. Stanley hanya pendengar yang baik.


*


Saat sudah larut malam mereka masuk kembali ke rumah, suara tangisan wanita itu terdengar, mata Stanley tidak bisa terpejam. Ia duduk mengecek di ponselnya, beruntung sinyal di tempat itu stabil, Stanley bisa menggunakan untuk mencari rumah sakit yang bisa membantu. Saat  pagi tiba sebuah kapal  berlabuh di tepi pantai dan beberapa team medis dari rumah sakit terdekat datang, mereka akan membawa putri Pak Ahmat ke rumah sakit, tidak hanya itu,  melihat rumah  lelaki itu sudah mulai pada bocor, Stanley meminta tetangganya  mencari tukang.


Sebelum pergi, Stanley berjanji akan datang suatu saat nanti, kedua suami istri itu sangat bahagia, ketika putri mereka akhirnya bisa dirawat di rumah sakit dan mendapat pengobatan yang layak.


“Aku akan pulang hari ini Pak,” ujar Stanley bergegas.


“Kamu orang yang diutus Tuhan untuk menolong kami,” ucap wanita tua itu sembari menangis.


“Jangan khawatir Bu, putrimu akan sehat, jika terjadi sesuatu, bapak bisa telepon ke nomor saya,” ucap Stanley mencatat nomor miliknya dalam kertas dan menyerahkan pada Pak Ahmat, lalu ia pergi dari sana.


Besok harinya sebuah kapal datang lagi ke rumah Pak Ahmat membawa kebutuhan rumah tangga yang dibelikan Stanley, ia juga membelikan ponsel baru. Lelaki itu terharu sembari mengucap syukur, ia tidak tahu, lelaki yang ia selamatkan beberapa hari yang lalu akan mengubah kehidupan keluarganya.


Bersambung

__ADS_1


Bantu kasih masukan dan komentar untuk setiap babnya ya kakak. Terima kasih sudah baca karya saya semoga kakak suka dan terhibur


__ADS_2