Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Belajar Bertahan Hidup


__ADS_3

Okan dihajar ramai-ramai,  mungkin kalau satu lawan satu pria tanpa itu bisa mengalahkan mereka berempat. Namun mereka melakukannya dengan secara keroyokan menggunakan senjata tajam.  Okan  hampir mati di tengah hutan, empat orang lelaki suruhan itu ingin melenyapkannya, saat mandau atau parang panjang itu,  terangkat ke atas dan siap menebas leher Okan.


Jab!


Sebuah panah mengenai tangan salah seorang pemuda yang mengejarnya,  menyadari ada musuh. Pemuda yang memukuli Okan  berlari meninggalkan Okan yang terluka.


Dua lelaki yang ditugaskan Leon  menjaga putranya datang tepat waktu, dengan cepat kedua pria itu membawa Okan kembali ke rumah  bawah tanah.


Setelah  beberapa lama pingsan lelaki itu bangun, tubuhnya dipenuhi banyak luka baik sayatan ataupun bekas tusuk.


“Siapa kalian!” tanya  marah.


“Kami akan melatihmu Tuan Muda, agar kamu bisa  mengalahkan mereka.”


“ Berhenti memanggilku Tuan Aku, tidak mengenal kalian semua. Enyah lah dari sini!”


“Kami hanya ingin membantumu, Bos.”


“Aku bisa mengalahkan mereka. Aku bertanya siapa kalian?”


“Kami  pengawalmu.”


“Apa Ayah yang mengirimku untuk mematai-mataiku?”


“Kalau kami tidak mengikutimu,kamu sudah tidak ada hari ini, Bos,”  sahut salah satu dari pria yang mengenakan penutup kepala.


“Buka penutup wajahmu, Aku ingin melihat seperti apa tampang lelaki yang selama ini mengikutiku,” ujar Okan.


Shin  dan Fudo dua lelaki Jepang yang ditugaskan Leon untuk mengawal Okan secara diam-diam. Ternyata okan tahu kalau ayahnya mengawasinya  belakangan ini, mereka berdua melepaskan penutup wajah dan memperlihatkan pada Okan.


“Oh ternyata  ini orang yang selalu mengikutiku  belakangan ini.”


“Bukan  hanya belakangan ini Bos, kami sudah  mengawalmu selama tiga tahun,” ujar Fudo.

__ADS_1


“Apa?Tiga tahun?” Okan melongo tidak percaya, ia tidak pernah menyadari kalau kedua bodyguard itu sudah menjaganya selama tiga tahun secara diam-diam. Ia pikir hidupnya selama ini aman-aman saja, ia tidak tahu kalau Leon selalu melindungi dirinya.


“Ya, Pak Leon ingin kami mengawasi secara diam-diam.”


Fudo menceritakan semuanya, kalau selama ini Okan masih sering jadi  incaran para mafia musuh ayahnya di masa lalu, Leon  menyadari masih   banyak musuh  dari masa lalu yang masih berkeliaran karena itulah Leon  menugaskan pengawal profesional seperti mereka.


“Kami akan membawakanmu seorang pelatih, Bos,” ujar Fudo, mereka selalu menyebut Okan dengan panggilan bos dan Tuan Muda, karena Leon mempekerjakan mereka berdua  untuk Okan.


“Apa setelah Aku bisa  mengalahkan mereka aku bisa keluar dari hutan terkutuk ini?” tanya Okan merasa frustasi.


“Ya, memang itulah ujiannya.”


“Baiklah, Aku ingin  keluar dari sini, lalu mencari Naira.”


“Wanita cantik itu masih bersama Dave, lelaki yang bersamanya malam itu, Bos,” ujar  Shin.


“Benarkah?” Okan menggenggam kepalan tangannya dengan kuat, wanita yang ia suka diculik dan ditahan oleh Dave, lelaki yang ia yakini menyebabkan Chelia koma.


Okan bersedia dilatih agar ia bisa menangkap Dave, masih banyak yang belum diketahui Okan, ia bahkan belum  tahu pelaku yang sebenarnya yang melukai Chelia. Dalam  pikiran Okan adik kembarannya terluka oleh Dave.


“Itu  misi kedua Bos. Kita selesaikan dulu  ujian di hutan ini barulah bisa keluar dari sini. Sebenarnya Pak Leon menugaskan kami hanya mengawasimu. Tapi melihatmu dipukuli  tadi membuatku marah,” ujar Fudo.


“Kami akan melatih sampai benar-benar bisa,” ujar Shin lelaki pendiam  dan memiliki mata tajam bermanik hitam pekat. Leon menugaskan dua ahli bela diri sebagai pengawal putranya. Salah satu dari  mereka ternyata punya sikap dingin ia bernama Shin Onaya. Lelaki inilah  yang sudah disumpah akan mengabdikan hidupnya sebagai pengawal Okan seumur hidup . Sementara Fudo masih bisa memilih, ia akan pergi jika ia ingin kembali ke perguruan mereka.


“Baiklah saya mau,” jawab Okan dengan tegas.


“Baik. Kami akan membawakan seorang guru pelatih untuk melatih mu,” ujar Fudo.


Sejak hari  itu Okan dilatih dengan  keras,  bahkan ia tidak peduli jika tubuh Okan terluka ataupun tertusuk benda tajam. Pelatihan keras yang diberikan  guru akhirnya mengubah hidup Okan. Ia didik bagaimana untuk bertahan di hutan, dilatih bagaimana memilih tanaman hutan yang bisa dimakan.


Hari pertama Okan hampir mati karena memakan jamur beracun. Beruntung Fudo membawa penawar, hari ketiga ia akan menangkap ular, kodok untuk  bertahan hidup. Jika ia tidak makan maka tidak punya tenaga untuk berlatih, Okan melakukannya semuanya dengan sungguh-sungguh.


Berbulan-bulan tinggal di hutan dilatih berjuang hidup dan dilatih bagaimana menghabisi musuh, hingga Okan benar-benar kuat.

__ADS_1


“Kalau kamu ingin ingin cepat keluar dari sini, kamu harus bisa menghabisi mereka,” ujar guru pelatih memberinya sebuah tombak.


“Baik,” jawab Okan.


“Habisi mereka berempat,” bisiknya lagi.


Okan sengaja di bawa ke perbatasan antara wilayah suku Leon dan suku musuh, saat empat orang  musuh  yang saat itu bertugas menjaga wilayah mereka. Okan mengolesi tubuhnya dengan bubuk yang di bawa di pinggang lalu ia bertransformasi menjadi batang pohon besar.


Tidak lama kemudian Okan melemparkan  benda yang bisa menarik perhatian salah satu dari mereka, musuh mendekat saat melihat ada benda berkilau di bawah pohon. Saat ia menunduk dan memungut baru berkilau, Okan menarik lehernya dari balik pohon dan mencekiknya sampai tewas. Dendam karena dikhianati sahabat, merasa selalu diremehkan sang ayah membuat Okan sakit hati dan menumbuhkan satu kekuatan yang besar dalam dirinya  lalu berubah menjadi dendam. Dendam, sakit hati seolah-olah memberinya kekuatan yang besar, Okan tidak punya rasa takut pada apapun. Bahkan ia tidak punya rasa kasihan.


Ia mendatangi sarang musuh yang saat itu mereka ingin menjadikan Okan jadi daging panggang.


Setelah mencekik sampai mati, Okan  meletakkan tubuhnya di belakang pohon lalu ia naik keatas pohon menyamarkan tubuhnya pohon. Ia meniup sebuah seruling kecil yang menimbulkan suara yang bisa  menarik perhatian ketiganya, saat mereka mendekat ke arah pohon, dengan mengendap-endap dan menenteng  tombak.


Saat  mereka tidak melihat Okan melompat dari atas  mengarahkan tombak miliknya tepat di leher belakang.


Jap!


Darah segar muncrat ke wajah Okan, dengan gerakan cepat a menarik tombak.


“Hiaak!


Jap


Tombak itu mendarat tepat di dada musuh, tidak ingin musuh kabur meminta bantuan. Dengan cepat tangan tangannya mencabut pisau belati dari pinggang,


Haak!


Pisau kecil itu mengenai kepala bagian belakang, nyawa seolah-olah tidak ada artinya.


Antar suku  saling berperang dan saling berebut kekuasan. Nyawa manusia seolah-olah tidak ada harganya di mata mereka, mereka membunuh dengan cara yang kejam  memenggal kepala musuh lalu mengantarkan kepalanya pada kepala suku musuh, bukan hanya musuh, para pendatang  yang datang ke wilayah mereka juga dibunuh dengan cara kejam. Suku itu tidak menerima orang dari luar suku mereka. Tidak ada pendidikan  membuat mereka belajar dari alam yakni dari binatang  yang ada di hutan.


Semantara suku Leon sudah lebih moderen, mereka  mau menerima orang luar dan mereka juga membangun rumah dari kayu.

__ADS_1


Dendam pertama Okan akhirnya terlampiaskan, ia menghabisi empat orang dari suku yang pernah menangkapnya.


Bersambung…


__ADS_2