
Zenajah Zidan sudah tiba di hotel , di sana sebagai rumah duka akan di lakukan ucapa penghormatan untuk Zidan, Leon semakin sedih saat Danis tidak bisa di hubungi.
“Apa kamu yakin Danis tidak akan datang?” tanya Bimo menatap Toni.
“Aku yakin bajingan tengil itu tidak akan datang,” sahut Toni, memperlihatkan wajah kesal.
Lelaki bermata dipit itu yakin orang yang ia tembak di hutan tadi adalah Toni. Ia juga berpikir kenapa Zidan memilih ditembak dari pada menghabisi putranya yang berhianat. Tatapan Mata Toni penuh dengan amarah.
“Kami semua orang setia kenapa putra mereka semua orang yang tidak berguna,” ujar Toni.
“Ada apa?” tanya Bimo berbisik.
Toni menarik rekannya keluar dari gedung dan mereka berbicara di luar.
“Aku yakin … peluruku menembus kaki bajingan itu tadi,” ujar Toni.
Toni semakin dendam pada Danis karena sampai saat ini Juna masih berbaring di rumah sakit karena di penghianatan Danis, lelaki itu menjadikan Okan dan Juna jadi tumbal untuk polisi semantara ia melarikan diri membawa sabu.
“Kamu yakin Bro?” tanya Bimo.
“Ya, aku bisa mengenalinya walaupun dia menyamar,” ujar Toni dengan yakin.
“Apa karena itu Zidan …?” Bimo menatap Toni dengan serius.
“Bisa jadi karna dia yang memegang teropong hari itu.”
“Pantas, tembakan Zidan tidak pernah meleset karena itulah bos menyebutnya penembak jitu, ternyata dia memilih-”
“Dia melindungi Okan dengan tubuhnya,” potong Toni.
Bimo terdiam , ia meirik ke arah Leon dan ia bertanya lagi. “ Apa Bos tau itu?”
“Tau, Apa kamu tidak mendengar saat ia bicara.” Toni menunjuk alat komunikasi di kuping.
“Milikku tiba-tiba hilang saat saat Aku meletakkannya di atas meja saat ingin mandi tadi,” ujar Bimo, tiba-tiba ia mengingat ada yang berhianat di lingkungan mereka, Bimo menatap semua anak buah Leon satu-satu persatu.
“Ada apa?” Toni menatap wajah Bimo yang tiba-tiba menegang.
“Kalau earponku hilang, itu artinya penghianat itu ada bersama kita,” ujar Bimo.
“Kamu benar, kita harus waspada.” Toni membuang napas pendek dari mulutnya.
Leon masih duduk menunggu dokter melakukan tugas mereka untuk mengganti pakaian Zidan. Toni mendekati Leon.
__ADS_1
“Bos .. Apa Hara tidak perlu di kasih tahu?”
“Aku bigung apa mentalnya akan kuat?”
“Tenang saja Bos, orang-orangku sudah mendapatkan posisi Okan dia akan dibawa ke rumah.”
“Jangan ke rumah bawa dia ke mansion kita yang di Kalimantan , kita akan menempa mental anak itu. Kabarin Nana di Kalimantan.”
“Baik Bos,” sahut Toni.
Toni menghela napas panjang, ia berbisik pada Leon tentang penghianat di lingkungan mereka.
“Baiklah, kita akan urus sampah itu nanti setelah kita makamkan Zidan,” ujar Leon.
Toni mengangguk.
Mansion di Kalimantan menyimpan segudang kenangan, rumah itu sudah sempat terbakar dan di jual jadi pabrik. Ternyata Leon tidak bisa melupakannya ia kembali membeli dan membangun sebuah mansio yang lebi megah dan pengamanan yang super cangih dari sebelumnya, semua itu tanpa sepengatahuan Hara, bapak tiga anak itu sepertinya sudah memprediksi kalau keluarganya akan jadi incaran para mafia.
“Bagaimana dengan Zidan Bos …?”
“Kita akan anatar dia ke Kalimantan dan dimakamkan di samping putraku Aku ingin dia menjaganya,” ucap Leon matanya berkaca-kaca.
“Apa dia tidak dimakamkan di samping Clara?” tanya Toni menghela napas.
Ia duduk melipat tangan di dada pikirannya berkecamuk, ia takut memberitahukan Hara. Namun ia juga takut kalau istrinya marah bila tidak diberi tahu. Leon memutuskan menelepon .
“Halo, Bu.”
“Ayah di mana?” tanya Hara, ia khawatir karena suara Leon terdengar berbeda.
“Sayang … ada yang ingin aku katakan kamu jangan panik dulu Ya … tenang dan tarik napas,” ujar Leon.
“Kenapa?” tanya Hara tidak sabaran.
“Pokoknya Ibu tenang dulu, lakukan seperti yang aku katakan tadi.”
“Baiklah … Sudah. Katakan Apa?”
“Zidan tidak selamat, dia tertembak karena melindung Okan.”
“APA?” Hara tidak bisa menahan air mata, ia menangis.
“Sayang … tadinya Aku ingin mengajakmu untuk melihat ke sini, tapi, aku tidak ingin kamu meninggalkan Chelia. Dengar … ada anak buah Bram yang berhianat , di sini lagi berbahaya. Ada orang yang sengaja yang menjebak mereka. Kamu jangan pergi kemana-mana tetap di sana,” ujar Leon.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Okan …?”
“Anak nakal itu selamat, dia tidak apa-apa. Aku ingin membawanya ke Kalimantan Aku ingin mengajarinya tentang hidup yang sebenarnya,” ujar Leon dengan tatapan datar. “ Satu hal lagi … kami akan memakamkan Zidan di samping Ichiro, agar dia bisa melindunginya.”
Mendengar nama almarhum putra pertamanya Hara semakin menangis.
“Baiklah, lakukan apapun yang terbaik, Aku akan mendukungmu mulai sekarang,” ujar Hara, ia tahu betapa hancur hati Leon saat itu. Ia kehilangan sahabat terbaiknya demi putranya yang nakal.
“Terimakasih Hara, termakasih karena kamu selalu di sisiku dan mendukungku,” ujar Leon menghela napas panjang. Wajah leon sangat sedih bercak dara Zidan masih menempel di pakaiannya, ia menatap telapak tangan darah itu sudah mulai mengering, setelah ia selesai menelepon dr. Billy muncul.
“Kemarilah Bro,” ujar dr. Billy membawa Leon ke salah satu ruangan.
Ia mebuka kotak obat dan mengeluarkan gunting lalu merobek celana Leon di bagian betis, mengobati luka tembak di kaki.
“Apa kamu tidak merasa sakit?” tanya dr. Billy hanya dokter itu yang berani bicara santai sama Leon karena mereka berdua sahabat.
“Sakit, tapi Aku pikir lebih sakit kehilangan dia,” ujar Leon mengalihkan wajahnya, ia takut menangis di depan Billy.
“Setiap manusia akan meninggal Bro, hanya cara dan jalannnya yang berbeda.”
“Masalahnya dia meninggal karena melindungi Okan.”
Billy terdiam, ia tidak tahu tentang hal itu dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Ia hanya meminta Leon berbaring agar ia bisa mengeluarkan peluru di kakinya. Leon menurut , akhirnya pak dokter itu melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan sebutir peluru di kaki Leon.
*
Beberapa lama menunggu Danis tidak ada kabar, akhirnya jenazah Zidan di terbangkan ke Kalimantan dan akan di makamka di sana. Tidak ada keluarga tidak ada sanak suadara yang mendampingi hanya Leon dan anak buahnya yang mengantar ke rumah terahirnya.
Sebelumnya Toni sudah mengabari pemilik panti kalau Zidan akan di makamkan di sampin putra Leon. Sebenarnya Zidan selalu bilang ingin meminta maaf dan ingin bersama Clara. Tapi saat dikomfirmasi pada keluarga Clra, mereka tidak mau menerima jenazah Zidan jadilah di makamkan di samping Ichiro putra Leon dan Hara yang meninggal saat masih di kandungan saat mansion Leon di bakar di Kalimantan.
“Kalian tetap siaga,” pinta Bimo pada semua anak buahnya.
“Baik Pak.”
“Jangan Lengang, kalau ada yang mencurigakan segeralaporkan,” ujar Toni.
Ken ikut ke pemakaman sang sahabat, ia memakai tongkat, ia menangis menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Zidan, ia hanya diam duduk membisu. Ken tidak pernah menduga kalau hari itu mereka akan di jebak, saat itu bahkan ia tidak punya persiapan apa-apa. Niatnya mereka hanya ingin mengawasi rumah kosong itu dari jauh, karena itulah Kinan membawa laptop miliknya ke sana. Tapi saat mereka baru saja turun dari mobil, langsung ditembak membabi buta dan musuh sudah mengepung mereka.
Tidak lama kemudian Zidan akhirnya dimakamkan di samping makam kecil itu.
“Selamat jalan Bro maaf tidak bisa melindungimu,” lirih Ken menangis sedih di atas gundukan tanah itu. Leon hanya diam ia tidak mengatakan apa-apa tetapi tatapan matanya menunjukkan kalau ia sangat sedih.
__ADS_1
Bersambung