
Luna masih di panggung setelah menyanyikan dua lagu barat, sesuai arahan manager ia harus membawakan lagu andalan dari grup musik tersebut, lagu bergenre rock hasil ciptaan sang vokalis mereka dan Luna dibantu sang gitaris biar mengimbanyi dan mengikuti dengan baik. Luna seperti seorang penyanyi yang sudah biasa tampil di panggung. Ia tahu kapan ia bertindak, saat lagu yang mereka kurang ia kuasai ia lebih banyak memberikan ruang untuk sang gitaris , lelaki itu yang membantu Luna untuk menggantikan tugas Vokalis yang tidak bisa datang.
“Wah Sinar keren bangat,” puji teman Intan mereka duduk bersama dengan Raka.
“Hebat apaan? baru nyanyi begitu doang,” ujar Intan sewot.
Intan semakin kesal saat Raka menatapnya tanpa berkedip, lelaki itu seperti menyesal memutuskan hubungan dengan Sinar yang sudah berjalan satu tahun.
“Di cantik Bro, kenapa lu gak pacaran sama Luna saja,” ujar salah seorang menyenggol Bara,
“Jangan, dia milik Bos besar,” ujar Bara.
“Lu serius … ,” tanya lakilaki itu dengan wajah kaget, ia bekerja di bagian manajemen hotel Ichiro.
Kabar tentang hubungan Okan dan Luna sepertinya akan kembali menyebar di kalangan semua karyawan yang bernaung di Wardana group.
“Gue lebih memilih Sinar,” ujar Bara, kalau sebelum-belumnya ia tertarik dengan intan, tetapi kali ini tatana dalam ia tujukan pada Sinar.
“Iya, lebih baik lu sama dia jangan sama Intan dia itu piala bergilir di kantor kita,” balas rekan Bara lagi
Saat Bara menoleh ke belakang ternyata Okan tidak jadi pergi, ia masih berdiri agak jauh dari depan panggung menatap Luna dengan tatapan mengawasi.
*
Pada lagu terakhir sesuai janji Luna ternyata membawakan lagu india yang biasa ia nyanyikan lagu mile ho tum humko kalau lagu yang terakhir Luna ikut karena mereka berdua sering menyanyikannya di kantor sama-sama tertawa, tidak ada lagi grogi di wajah Sinar . Namun saat mereka ingin turun panggung seorang lelaki tua naik panggung membawa segepok uang, tadinya ia ingin mendekati Sinar namun dihalangi sang gitaris. Ia ingin memberi saweran pada mereka berdua dengan cara memasukkan ke dalam pakaian mereka berdua . Tentu saja Sinar dan Luna menolak, mereka datang ke panggung bukan untuk dapat saweran yang seperti itu, Sinar hanya ingin menyalurkan bakat menyanyi yang sudah lama terpendam.
“Baiklah kalau saya tidak bisa memberi saweran biarkan wanita yang sana bernyanyi sekali lagi.”
“Maaf Pak, mereka juga pengunjung hanya ingin menyumbangkan beberapa lagu ,” jawab sang manajer.
“Saya akan bayar berapapun, asal dia tampil lagi,” ujar pria itu lagi bahkan memaksa ingin menyalam Luna dan Sinar.
Tentu saja kedua wanita itu mundur ke belakang berdiri di samping pemain keyboard. Ternyata keributan itu dilihat sama Okan, ia mengepal tangannya dengan kuat, ia ingin naik ke panggung dan menyeret lelaki berkepala botak itu.
“Memang kita apaan,” ujar Sinar mendumal.
“Dia siapa?” tanya Luna.
“Biasa bandot tua,” sahut Sinar.
__ADS_1
“Bandot apaan …?” tanya Luna.
“Hadeeh … Lun bandot juga kamu tidak tau? Ayo pergi dari sini.”
Sinar mengingat wajah pria itu saat ia bermain voli siang tadi, ia berdiri di barisan paling depan bahkan mengambil gambar Luna saat bermain voli.
“Saya akan membayar mahal!” ujar pria setengah mabuk itu saat ia dihalau turun panggung.
“Mentang-mentang kaya, main beli saja, dasar sombong,” ujar Sinar.
“Maaf mereka berdua bukan penyanyi kami, mereka pengunjung juga,” ucap penyelenggaraan acara tersebut.
“Tapi kamu mau kan bilang mereka tampil lagi! Saya bisa bayar berapapun!’ teriaknya dengan sikap sombong
Luna sama Sinar masih berdiri di panggung, mereka bahkan takut beranjak dari lelaki pemain keyboard tersebut karena lelaki botak itu ingin menghampiri mereka.
Okan kepanasan ia akhirnya maju ke depan, Fudo dan Shin hampir saja tersedak saat Okan baju .
“Bo-Bos,” ujar Fudo kelegapan mereka berdua berlari menyusul.
Keributan yang dilakukan pria itu menyita perhatian banyak orang, bahkan manager hotel sampai turun tangan.
“Pak Okan ini bapak ini memaksa kedua wanita itu untuk tampil lagi, padahal giliran mereka sudah selesai yang akan tampil selanjutnya penyanyi lain.”
“Saya tidak mau penyanyi lain! Saya pelanggan VIP di hotel ini, saya berhak mendapatkan yang terbaik saya akan membayar berapapun untuk kedua gadis muda ini.”
“Mereka berdua karyawan saya, kami datang ke sini karena acara kantor,” ujar Okan mencoba tenang tatapan mata tajam dan berkelas.
“Kamu siapa?”
“Pak Okan Wardana, pemilik Resort dan hotel ini,” jawab manager hotel.
“Saya tidak suka ada orang pengunjung membuat keributan di hotel saya. Usir pria ini,” pintah Okan dua orang petugas keamanan hotel menyeret lelaki botak itu keluar.
Lalu Okan berdiri di tangga panggung menatap kedua gadis yang ketakutan itu,”kalian berdua turun!”
“Ah akhirnya,” ujar Luna turun dengan santai, ia bahkan tidak menghiraukan Okan yang menatapnya dengan tajam, ia melewati Okan begitu saja dan duduk di kursi.
‘Astaga ini anak,’ ucap Okan memegang leher belakangnya
__ADS_1
“Terimakasih Pak,” ucap Sinar menunduk takut.
“Aku sangat haus kamu mau pesan apa?” tanya Luna pada Sinar.
“Kamu masih mikirin makanan. Aku takut Lun,” ucap Sinar greget.
“Kenapa takut. Memangnya ada penjahat lagi?’ tanya Luna dengan santai.
“Astaga, ini lebih menakutkan dari penjahat, tatapan tajam Pak Okan membuatku sangat takut,” ujar Sinar.
“Tenang saja, untuk bisa berpikir tenang kita harus makan dan minum,” ucap Luna ia pesan dan minum.
Tidak lama kemudian Shin datang.
“Mbak Luna dan Mbak Sinar di panggil Bos keruangannya.”
“Untuk apa?” tanya Luna dengan santai.
“Astaga apa kami kena marah?” Sinar langsung takut.
“Kita makan dulu saja-”
“Lun kita bertemu Pak Okan saja, kita pasti kena marah .” Sinar berdiri ia menarik tangan Luna untuk berdiri.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan di lantai dasar, benar saja di sana mereka sudah ditunggu bos besar yang sedang duduk di meja, kedua sikunya ia letakkan di atas meja menopang dagu.
“Bapak memanggil kami?” tanya Luna.
“Ya.”
“Maaf Pak atas tadi, Luna tidak salah saya yang salah, tadi saya yang memaksa Luna untuk naik ke panggung, tidak tahu harus begini kejadiannya,” ucap Sinar dengan kepala menunduk.
Sementara Okan menatap Luna, sebenarnya kemarahan terbesarnya ditujukan pada Luna, karena bandot tua itu tadi ingin Luna yang menyanyanyikan satu lagu lagi di atas panggung. Luna hanya diam, ia tidak tau harus mengatakan apa ‘
“Aluna Atasya … Apa kamu tidak mengatakan apa-apa?”
“Tidak Pak, kami tidak salah. Kita datang ke Bali ini ingin bersenang-senang kan? Sinar hanya ingin menuangkan hobi menyanyi nya di atas panggung walaupun ada keributan itu semua karena lelaki botak itu … a-a bandot tua tadi. Tapi bandot tua apaan sih?”
Sudah serius mendengar penjelasan Luna tiba-tiba dapat pertanyaan itu Fudo tiba-tiba tertawa di belakang disusul Shin tersenyum geli. Tadinya Okan sudah kesal sama Luna yang selalu menghindar darinya. Namun mendengar pertanyaan konyol itu, ia juga ingin tertawa.
__ADS_1
Bersambung