
Setelah melihat Luna ada di bawa Okan langsung semangat, ia menandatangi semua berkas. Ia juga meminta Bayu datang ke ruangannya.
“Apa bapak memangil saya?” tanya lelaki dengan wajah takut-takut.
“Ya, mana berkas yang saya minta tadi?”
“Tapi … Pak Luna yang biasa mengerjakan, dia baru tiba.”
“Kalau begitu suruh Luna datang ke sini,” ujar Okan tidak mengalihkan wajahnya dari kertas di depannya.
“Baik Pak.”
Bayu keluar buru-buru mencari Luna ke kanti tidak ada , mencari kemana-mana tidak ketemu, lalu bertanya pada Intan .
“Kalau bapak butuh bantuan saya bisa membantu Pak. Kenapa harus Luna sih,” dengus wanita itu dengan wajah kesal.
“Intan. Ini hal mendesak kamu tidak akan bisa melakukannya. Aku bertanya apa kamu melihat Luna?”
“Gak tau Pak, coba saja lihat di lantai bawah mereka berdua biasanya makan di taman kantor, bawa bekal dari rumah. Mereka berdua, kan, orang-orang kampung. Hari gini bawa bekal ke tempat kerja norak,” ejek Intan karena Luna selalu bawa rantang bekal ke kantor.
Wanita itu tidak tahu menu dalam rantang itu sama seperti menu makan di restoran mahal. Luna sangat pintar memasak karena itulah Sinar selalu memintanya membawa bekal ke kantor.
“Baik, baiklah.” Bayu meninggalkan Intan
Wanita itu memperlihatkan tatapan licik. Dalam otak jahatnya ia sudah menyusun banyak rencana jahat untuk mengerjai Luna.
Saat Bayu tiba, Luna dan Sinar masih saling tertawa bercanda, tawa mereka terhenti saat Bayu datang mendekat.
“Lun, tolong bapak!” ujar lelaki itu demgan napas terengah-engah dengan wajah setengah memelas.
“Ada ada, Pak?”
“Pak Okan meminta berkas kontrak kerjasa sama yang baru dengan Pt. Ozel.”
“Ya sudah, bapak kasih saja.”
“Masalah Bapak belum mengerjerkannya, saya menunggu kamu.”
“Bapak bagaimana sih, kenapa tidak meminta orang lain dulu mengerjakan , biar gak repot seperti ini,” ujar Luna, dengan berani ia menegur sang atasan.
“Adu Lun, Aku paling malas mengajari orang bolak- balik, aku usah terbiasa dengan pekerjaanmu,” kilah Bayu.
“Lalu sekarang apa Pak?”
“Kamu kerjakan sekarang dan antarkan ke ruangan Pak Okan ya.”
Tapi saya baru juga nyampe Pak, belum juga duduk di meja kerjaku.”
“Ya Pak, kasihan Luna capek dia dari perjalanan,” bela Sinar.
“Karena itu kamu harus mulai bekerja.” Bayu menyerahkan contoh isi kontrak yang akan Luna ketik lagi.
__ADS_1
“Tapi Pak saya mau istrirahat ,” keluh Luna lagi/
“Nanti saja istirahatnya Lun, kamu kerjakan dulu apa yang dikatakan Pak Okan.”
“Baiklah Pak serahkan sama saya, akan saya bantu.” sahut Sinar.
“Bagus.” Ia mengangkat ke dua jempolnya ke arah mereka.
“Aduh Sinar,” rengek Luna.
Bayu meninggalkan mereka berdua di taman, Sinar menarik tangan Luna untuk mengerjakan apa yang di minta Bayu tidak ingin sang sahabat dapat masalah. Tiba di meja kerja dengan sikap buru-buru Sinar menyodorkan berkas.
“Kerjakan!” Sinar menarik kursi satu untuk dirinya.
“Aduh Sinar ini jam istirahat, tanganku masih belum kuat, kamu tidak tahu apa yang sudah aku kerjakan pagi ini,” ujar Luna.
Mereka baru juga tiba dari Kalimantan, sebelumnya Luna sudah melakukan banyak hal di rumah tetua adat pagi itu, jadi ia merasa sangat lelah. Namun ia tidak pernah menceritakan pada Sinar apa yang ia kerjakan selama ini, karena itu bersikap rahasia.
“Aku belum kuat ya Ampun,” keluh Luna meletakkan kepalanya diatas meja, melihat Luna seperti itu Sinar merasa kasihan.
“Ayo kita kerjakan sama-sama, biar Aku yang mengetik kamu yang baca biar cepat,” pungkas Sinar.
“Baik.” Luna bersemangat.
Sinar sudah lama bekerja di kantor jadi ia lebih cepat mengetik dari Luna, setelah selesai mengerjakan.
“Kamu yang antar ya, Sin,” bujuk Luna.
“Kok Aku … Jangan kamus yang ingin dilihat pak Okan,” tolak Sinar.
“Nanti bagaimana kalau Pak Okan tanya kamu?”
“Bilang saja sakit perut.” dalih Luna.
Padahal ia tidak ingin bertemu dengan Okan, Sinar datang ke ruangan .
Benar saja Okan menatapnya dengan sinis
‘Lagi-lagi anak itu menghindar’ ia membatin.
“Kenapa kamu yang datang?” tanya Okan dengan ketus.
“Saya yang mengerjakannya Pak, kalau ada yang salah bisa bilang ke saya saj.”
“Kenapa kamu yang mengerjakannya bisanya saya menjelaskaskan sama Luna.”
“Hari ini Luna tidak bisa Pak, dia lagi kurang enak badan.”
“Baiklah letakkan saja di sana, nanti saya periksa.”
“Baik Pak.”
__ADS_1
Wajah Okan terlihat sangat dingin, terlihat jelas ia kecewa karena Sinar yang datang bukan Luna. Ia menganti cara yang lain agar Luna bisa datang ke ruangannya tetap gagal. Padahal ia sudah meminta pengawalnya keluar agar ia bisa bicara santai dengan Luna ternyata semua caranya gagal.
“Luna kamu keras kepala,” uap Okan kesal.
Hari itu ia gagal mengajak Luna datang ke ruangannya, percobaan, pertama, kedua, ketiga selalu gagal. Besok harinya kesabaran lelaki tampan itu sudah habis. Ia mendatangi meja kerja Luna, semua mata karyawan melonggo.
‘Aku kamu lawan ‘ ucap Okan.
“Kamu bawa ke ruangan saya,” bawa berkas yang saya minta kamu kerjakan.
“A-apa saya salah Pak?” tanya Luna kelagapana, ia panik saat Okan nekat mendatangi meja kerjanya.
“Saya tidak banyak waktu menjelaskan panjang lebar di sini Bu ALuna. Jadi, lebih baik kamu datang ke ruangan saya, biar bisa jelaskan di mana dan apa saja salah kamu,” ujar Okan denga suara tegas.
“Baik Pak,” jawab Luna dengan suara pelan.
Melihat raut wajah kesal dari Okan Luna tidak lagi membantah, ia pikir sudah melakukan hal besar yang menyebabkan perusahaan dalam masalah.
“Apa aku salah mengerjakan?” tanya Luna menimang segala kemungkinan.
Luna merapikan berkas akan membawanya ke ruagan Okan.
“Apa yang terjadi Lun?” tanya Sinar, wanita berkaca mata itu ikut takut saat Luna di datangi Bos besar.
“Entah … perasaan semuanya aku kerjakan dengan benar,” ujar Luna,
“Cepat sana, sebelum dia mendatangi kamu lagi,” usir Sinar.
Luna berjalan ke ruangan Okan, saat ia tiba kedua lelaki itu tidak ada di sana.
“Ya Pak, ada apa?” tanya Luna tiba di ruangan Okan.
Okan duduk membelakanginya tidak lama kemudian ia memutar kursi dan menatap Luna dengan tatapan dalam.
“Kenapa susah sekali menemui kamu Luna. Lebih susah dari pada bertemu pejabat penting,” ujar Okan.
“Tapi saya kan mengerjakan dengan benar Pak. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan saya’ kan?”
Okan menghembuskan napas panjang, karena Luna tidak menyadari kalau ia memanggilnya datang bukan masalah pekerjaan, tetapi ini lebih genting yakni masalah hati dan perasaan
OKan berdiri dari kursi kebesarannya, lalu duduk di sofa. Di atas meja sudah tersaji beraneka makanan.
“Kemarilah temanin aku makan siang.”
“Ha? Bapak tadi panggil aku ke sana dengan marah-marah hanya untuk menemani makan siang?”
“Ya, siapa suruh kamu selalu menghindariku. Kemarilah aku tidak punya tenaga lagi untuk marahin kamu , nanti saja kita bicara lagi setelah makan siang.”
“Tapi pak Okan.”
“Aluna … menemani atasan makan itu juga pekerjaan!” ujar Okan pura-pura tegas, karena dengan begitulah Luna menurut.
__ADS_1
“Ok, baiklah.” Ia akhirnya duduk.
Bersambung