Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Akibat Selalu Menolak Bos


__ADS_3

Setelah melihat Luna ada di bawa Okan langsung semangat, ia menandatangi semua berkas. Ia juga meminta Bayu datang ke ruangannya.


“Apa bapak   memangil saya?” tanya lelaki  dengan wajah takut-takut.


“Ya, mana berkas yang saya minta tadi?”


“Tapi … Pak Luna yang biasa mengerjakan, dia baru tiba.”


“Kalau  begitu suruh Luna datang ke sini,” ujar Okan tidak mengalihkan wajahnya dari  kertas di depannya.


“Baik Pak.”


Bayu keluar buru-buru mencari Luna ke kanti tidak ada , mencari  kemana-mana tidak ketemu, lalu  bertanya pada Intan .


“Kalau bapak  butuh bantuan saya bisa membantu Pak. Kenapa harus Luna sih,” dengus wanita itu dengan wajah kesal.


“Intan. Ini hal mendesak kamu tidak akan bisa melakukannya. Aku bertanya apa kamu melihat Luna?”


“Gak tau Pak, coba saja lihat di lantai bawah  mereka berdua biasanya makan di taman kantor, bawa bekal dari rumah.  Mereka berdua, kan, orang-orang kampung. Hari gini bawa bekal ke  tempat kerja norak,” ejek Intan karena Luna selalu bawa rantang bekal  ke kantor.


Wanita itu tidak tahu  menu dalam rantang itu sama seperti menu makan di restoran mahal.  Luna sangat pintar memasak  karena itulah Sinar selalu memintanya membawa  bekal ke kantor.


“Baik, baiklah.” Bayu  meninggalkan Intan


Wanita itu memperlihatkan tatapan licik. Dalam otak jahatnya ia sudah menyusun banyak rencana jahat untuk mengerjai Luna.


Saat Bayu tiba, Luna dan Sinar masih saling  tertawa bercanda, tawa mereka terhenti saat Bayu datang mendekat.


“Lun, tolong bapak!” ujar lelaki itu demgan napas terengah-engah dengan wajah setengah memelas.


“Ada ada, Pak?”


“Pak Okan meminta berkas kontrak kerjasa sama yang baru dengan Pt. Ozel.”


“Ya sudah, bapak kasih saja.”


“Masalah Bapak  belum mengerjerkannya, saya menunggu kamu.”


“Bapak bagaimana sih, kenapa tidak meminta orang lain dulu mengerjakan , biar gak repot seperti ini,” ujar Luna, dengan berani ia menegur sang atasan.


“Adu Lun, Aku paling malas mengajari orang bolak- balik, aku usah terbiasa dengan pekerjaanmu,” kilah Bayu.


“Lalu sekarang apa Pak?”


“Kamu kerjakan sekarang dan antarkan ke ruangan Pak Okan ya.”


Tapi saya baru juga nyampe Pak, belum juga duduk  di meja kerjaku.”


“Ya Pak, kasihan Luna capek dia dari perjalanan,”  bela Sinar.


“Karena itu kamu  harus mulai bekerja.” Bayu menyerahkan contoh isi kontrak yang akan Luna ketik lagi.

__ADS_1


“Tapi Pak saya mau istrirahat ,” keluh Luna lagi/


“Nanti saja istirahatnya Lun, kamu  kerjakan dulu apa yang dikatakan Pak Okan.”


“Baiklah Pak serahkan sama saya, akan saya bantu.” sahut Sinar.


“Bagus.” Ia mengangkat ke dua jempolnya ke arah mereka.


“Aduh Sinar,” rengek Luna.


Bayu meninggalkan mereka berdua di taman, Sinar  menarik tangan Luna untuk mengerjakan apa yang di minta Bayu tidak ingin sang sahabat dapat masalah.  Tiba di meja kerja dengan sikap buru-buru Sinar menyodorkan berkas.


“Kerjakan!” Sinar menarik kursi satu untuk dirinya.


“Aduh Sinar ini jam istirahat, tanganku masih belum kuat, kamu tidak tahu apa  yang sudah aku kerjakan pagi ini,” ujar Luna.


Mereka baru juga tiba dari Kalimantan, sebelumnya Luna sudah melakukan banyak hal di rumah tetua adat pagi itu, jadi ia merasa sangat lelah. Namun ia tidak pernah menceritakan pada Sinar apa yang ia kerjakan selama ini, karena itu bersikap rahasia.


“Aku belum kuat ya Ampun,” keluh Luna  meletakkan kepalanya diatas meja, melihat Luna seperti itu  Sinar merasa kasihan.


“Ayo kita kerjakan sama-sama, biar  Aku yang mengetik kamu yang baca biar cepat,” pungkas Sinar.


“Baik.” Luna bersemangat.


Sinar sudah lama bekerja di kantor jadi ia lebih cepat  mengetik dari Luna, setelah selesai mengerjakan.


“Kamu yang antar ya, Sin,” bujuk Luna.


“Kok Aku  … Jangan kamus yang ingin dilihat pak Okan,” tolak Sinar.


“Nanti bagaimana kalau Pak Okan tanya kamu?”


“Bilang saja sakit perut.” dalih Luna.


Padahal ia  tidak ingin bertemu dengan Okan, Sinar datang ke ruangan .


Benar saja Okan menatapnya dengan sinis


‘Lagi-lagi anak itu menghindar’ ia membatin.


“Kenapa kamu yang datang?” tanya Okan dengan ketus.


“Saya yang mengerjakannya Pak, kalau ada yang salah bisa bilang ke saya saj.”


“Kenapa kamu yang mengerjakannya bisanya saya menjelaskaskan sama Luna.”


“Hari ini Luna  tidak bisa Pak, dia lagi kurang enak badan.”


“Baiklah letakkan saja di sana, nanti saya periksa.”


“Baik Pak.”

__ADS_1


Wajah Okan terlihat sangat dingin, terlihat jelas ia kecewa karena Sinar yang datang bukan Luna. Ia menganti cara yang lain agar Luna bisa datang ke ruangannya tetap gagal. Padahal ia sudah meminta pengawalnya keluar agar ia bisa bicara santai dengan Luna ternyata semua caranya gagal.


“Luna kamu keras kepala,” uap Okan kesal.


Hari itu ia gagal mengajak Luna datang ke ruangannya, percobaan, pertama, kedua, ketiga selalu gagal. Besok harinya kesabaran lelaki tampan itu sudah habis. Ia mendatangi meja kerja Luna, semua mata karyawan melonggo.


‘Aku kamu lawan ‘ ucap Okan.


“Kamu bawa ke ruangan saya,” bawa berkas yang saya  minta kamu kerjakan.


“A-apa saya salah Pak?” tanya Luna kelagapana, ia panik saat Okan nekat mendatangi meja kerjanya.


“Saya tidak banyak waktu menjelaskan panjang lebar di sini Bu ALuna. Jadi, lebih baik kamu datang ke ruangan saya,  biar bisa jelaskan di mana dan apa saja salah kamu,” ujar Okan denga suara tegas.


“Baik Pak,” jawab Luna dengan suara pelan.


Melihat raut wajah kesal dari Okan Luna tidak lagi  membantah, ia pikir sudah melakukan hal besar yang menyebabkan perusahaan  dalam masalah.


“Apa aku salah mengerjakan?” tanya Luna menimang segala kemungkinan.


Luna merapikan berkas  akan membawanya  ke ruagan Okan.


“Apa yang terjadi Lun?” tanya Sinar, wanita berkaca mata itu ikut takut saat Luna di datangi Bos besar.


“Entah … perasaan  semuanya  aku kerjakan dengan benar,” ujar Luna,


“Cepat sana,  sebelum dia mendatangi kamu lagi,” usir Sinar.


Luna berjalan ke ruangan Okan, saat ia tiba  kedua lelaki itu tidak ada di sana.


“Ya Pak, ada apa?” tanya Luna tiba di ruangan Okan.


Okan duduk membelakanginya tidak lama kemudian ia memutar kursi dan menatap Luna dengan tatapan dalam.


“Kenapa susah  sekali menemui kamu Luna. Lebih susah dari pada bertemu pejabat penting,” ujar Okan.


“Tapi saya  kan mengerjakan dengan benar Pak. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan saya’ kan?”


Okan menghembuskan napas panjang, karena Luna tidak menyadari kalau ia  memanggilnya datang bukan  masalah pekerjaan,  tetapi ini lebih genting yakni   masalah hati dan perasaan


OKan  berdiri dari kursi kebesarannya,  lalu duduk di sofa.  Di atas meja sudah tersaji  beraneka makanan.


“Kemarilah temanin aku makan siang.”


“Ha? Bapak tadi panggil aku ke sana dengan marah-marah  hanya untuk menemani makan siang?”


“Ya, siapa suruh kamu selalu menghindariku. Kemarilah aku tidak  punya tenaga lagi  untuk marahin kamu , nanti saja kita bicara lagi setelah makan siang.”


“Tapi pak Okan.”


“Aluna … menemani atasan makan itu juga pekerjaan!” ujar Okan pura-pura tegas, karena dengan  begitulah Luna menurut.

__ADS_1


“Ok, baiklah.”  Ia akhirnya duduk.


Bersambung


__ADS_2