Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Ide Merampok


__ADS_3

Hari kedua di Bali  saat  mereka berdua ingin keluar  hotel.


Namun  begitu sampai di lobby keadaan sedikit ramai oleh beberapa penjaga, usut punya usut lelaki yang ingin Luna saat di panggung  malam itu diusir  secara paksa dari hotel


Jadi pihak hotel memberikan penjagaan untuk sang CEO. Benar saja sosok pria tampan  dengan mengenakan setelan jas mahal turun dari kamar hotel menuju mobil.


“Kenapa dia harus diperlakukan seperti itu? perasaan kemarin dia biasa saja tidak ada penjagaan,” ujar Luna.


“Kabar yang aku dengar lelaki yang tadi malam yang diusir dari panggung sama Pak Okan ternyata orang penting  juga, katanya ia melakukan perlawanan dan membuat keributan dan pengancaman di hotel,” tutur Sinar.


Mereka berdua terpaksa menggunakan penyamaran karena kejadian tadi malam, saat mereka berdiri di antara  orang-orang yang berdiri di lobby satu kantornya membicarakan mereka.


“CEO kita sangat tampan, tapi kenapa dia tertarik pada dua gadis kampung itu?” tanya teman satu kantor  mereka lagi.


“Aku dengar Pak Okan sudah punya kekasih, Aku sudah beberapa kali melihat mereka makan bersama. Bisa saja dia hanya ingin menjadikan  wanita itu  hanya mainan setelah bosan nanti juga ditinggal,” ujar salah seorang dari mereka lagi.


“Dasar tukang gosip ,” rutuk SInar menarik tangan Luna ke arah pantai.


Luna juga  juga tahu diri, ia tahu Okan tidak akan mungkin tertarik dengan wanita sepertinya. Makanya ia tak  pernah sehisteris wanita wanita satu kantornya, ia  selalu bersikap biasa saja, jika dibanding Luna dan bosnya sudah pasti langit dan bumi, siang dan malam. Kalau bukan Okan yang memintanya bertemu ia juga tidak akan menemui.


Sinar menarik tangannya kembali ke pantai, mereka berdua kembali menikmati pantai  itu dengan situasi yang lebih tenang, sesekali mereka berdua  melakukan selfie dengan ponsel.


“Apa kamu marah dengan ucapan mereka?” tanya Sinar, melepaskan  alas kakinya  menginjak pasir dan menenteng sendal.


“Tidak, kenapa harus marah. Aku sudah biasa  mendengar hal-hal seperti itu maka itu hatiku sudah kenyang,” ujar Luna.


“Aku salut denganmu, wanita yang kuat,” puji Sinar.


“Biasa saja, wanita kampung memang  punya mental yang kuat,” ucap Luna lagi.


“Tapi Lun … Pak Okan mau pergi kemana tadi berpakaian rapi seperti itu?” tanya Sinar menatap Luna.

__ADS_1


“Entah … dia tidak bilang padaku, lagian itu urusan Bos, Kita sebagai karyawan biasa hanya mengikuti saja,” ujar Luna. Ia melepaskan  kain yang menutupi kepalanya,  ia juga melepaskan sendal dan menginjak pasir dengan bertelanjang kaki. Apa yang mereka lakukan saat ini mengingatkannya pada kedua saudara laki-lakinya. Dulu Dave selalu mengajaknya jalan-jalan pagi di tepi pantai dan memintanya melepaskan alas kaki.


‘Bagaimana kabar kalian berdua? Aku sangat rindu’ ucap Luna dalam hati, ia tidak tahu kalau kakak lelakinya  sudah meninggal.


**


Setelah mengadakan pertemuan  dengan beberapa Bos besar di Bali Okan  mendapat panggilan dari Stanley.


“Apa kamu sibuk?” tanya saudara Luna itu di ujung telepon.


“Tidak, kenapa?” Okan balik bertanya.


“Apa kamu ingin memancing  lelaki tua itu keluar dari sarangnya?”


“Lelaki tua yang mana?”


“Bos Black Moon. Jhon dan Danis laki-laki yang kamu cari itu anak buah  kepercayaan  lelaki tua itu.”


“Aku tahu, lalu kenapa?”


Wajah Okan mengeras mendengar hal tersebut, kemarahannya semakin memuncak pada Danis, sahabat masa kecil tersebut bukan hanya mencelakai dirinya,  ternyata ia juga yang memerintahkan orang untuk menculik Chelia  satu tahun  yang lalu. Padahal Chelia sangat mencintai Danis dari mereka kecil dulu. Danis  sudah berjanji pada Chelia kalau ia akan berubah


“Kenapa dia tega melakukan itu?” tanya Okan  dengan pundak bergetar.


“Bisa saja, kalau orang sudah dikuasai ambisi dan ingin kekuasaan, dia sanggup menukarkan nyawa orang yang dicintai, Jangankan wanita yang dicintai, dia bahkan  mampu menghabisi orang tuanya,” ujar Stanley.


Mata Okan langsung  memerah saat  penembakan  Zidan satu tahun yang lalu,  anak kepercayaan Leon itu menjadikan tubuhnya untuk melindungi Okan. Ia bisa melihat tatapan kecewa dari sang ayah.  Leon , Toni, Ken sangat terpukul atas kehilangan Zidan saat itu, karena Zidan orang yang  menemaninya Leon  dari masih  gembel sampai ia menjadi orang besar.  Okan masih ingat bagaimana Leon menatapnya dengan wajah kecewa.


Sejak saat itu Leon melupakannya dan tidak peduli padanya menganggap Okan sudah mati.


“Apa kamu masih mendengarku?” tanya Stanley diujung telepon.

__ADS_1


“Ya.”


“Aku punya rencana, terserah kamu mau ikuti apa tidak. Kalau kamu takut biarkan saya yang melakukannya,” ujar Stanley.


“Katakan apa?” tanya Okan dengan tatapan tajam.


“Merampok Brankas milik ketua,” ucap Stanley, memberikan ide  yang menantang adrenalin, seperti yang diketahui  rumah lelaki tua itu dijaga sangat ketat, dikelilingi para penjaga yang berjaga dua puluh empat jam.


“Kenapa  melakukan itu?”


“Aku ingin mendapatkan korek yang kamu hilangkan dulu, aku yakin dia yang mencurinya dan  menyimpannya,  tapi sepertinya  dia belum menyadari untuk apa korek tersebut. Apa kamu ingin membalas apa yang dilakukan padamu  saat kalian merampok  kantor polisi dulu?” Stanley membuat hati Okan semakin panas.


“Apa maksudnya?”


“Barang Dave yang kalian rampok  bersama  Danis dari kantor polisi, ada dalam brankas tersebut. Menurut anak buahku, itu barang dengan kualitas paling bagus.”


“Ayo kita ambil kembali,” ajak Staley


“Kurang ajar, dia telah menghancurkan hidupku,” ucap Okan  geram.


“Baik  saya setuju.” Okan mengangguk.


Perlahan-lahan kebenaran  mulai terungkap, siapa dalang penculikan Chelia  satu tahun yang lalu, ternyata semua itu kulakukan Danis. Demi bisa menjadi kepercayaan  bos penjahat itu ia rela melakukan semuanya, menghianati Okan dan mencelakai Juna, ia juga yang meminta Alex anak buah Dave untuk  berhianat . Lalu merencanakan penculikan untuk Chelia, pantas saja semua berjalan dengan mulus ternyata  Danis sudah merencanakan semuanya dengan matang. Okan mematikan telepon.


“Bos, tenang  dulu, pikirkan dengan baik,” ujar Fudo.


“Saya sudah memutuskan, saya akan melakukannya.”


“Bagaimana kalau pria itu hanya memanfaatkanmu Bos?” tanya Fudo, ia mengingatkan Okan.


“Saya tahu dia mungkin memanfaatkanku, tapi saya juga punya tujuan. Barang yang diambil Danis dari kantor polisi sebagian barang milik saya harusnya. Tapi bukan itu tujuanku, jika dia berusaha ingin jadi kepercayaan lelaki tua itu, maka aku yang akan menghancurkan kepercayaan itu.

__ADS_1


Okan sampai kapanpun tidak akan memaafkan Danis, lelaki yang sudah menghancurkan hidup Chelia, karena ulah Danis Chelia harus duduk di kursi roda. Makan ia setuju untuk merampok bos penjahat  yang paling sadis di Asia.


Bersambung.


__ADS_2