
Stanley benar- benar mengabaikan Dita gadis cantik yang ia sukai sejak dari dulu, sayang , cinta gadis cantik itu tidak mendapat restu dari sahabat, ia terpaksa mencari cara agar Dita marah dan membenci dirinya.
Cara yang dipikirkan saat itu membuatnya cemburu dengan kencan dengan temannya satu rumah. Namun, baru juga duduk sebentar dalam cafe, Pesan dari Neil masuk ke ponsel Stanley, lelaki itu kaget bercampur bahagia. Karena anak buah kepercayaannya masih hidup, kencan akhirnya berakhir, tanpa pikir panjang ia pamit pulang.
“Aku minta maaf jika kencan malam kita akan berakhir.” ucap Stanley.
“Apa yang terjadi?” tanya wanita itu memperlihatkan wajah kecewa.
“Temanku habis kecelakaan dia memintaku pulang ke Jakarta malam ini ini juga.”
“Oh, tidak bisa besok pagi saja?”
“Tidak, kamu pulang saja nanti aku telepon kamu lagi,” ucap Stanley.
Stanley keluar dari cafe, meninggalkan wanita itu sendirian, dengan sikap buru- buru ia mengusap layar ponsel, mengecek penerbangan ke Jakarta saat malam.
‘Ah syukurlah aku bisa langsung pulang’ ucap Stanley dalam hati, lalu menghentikan taxi menuju bandara.
Saat dalam mobil menuju bandara, ia menghela napas panjang dan menelepon Dorroty.
“Aku pulang ada urusan yang mendadak.”
“Apa ada masalah besar?”
“Tidak ada, katakan pada Luna aku pulang ke Jakarta karena ada urusan, kamu tinggallah di rumah yang aku beli.”
“Akan aku pikirkan, bengkel mobil yang aku beli agak jauh sini,” jawab Dorroty.
Sahabatnya tidak keberatan ia pergi dari sana, lelaki itu, seolah-olah menganggapnya pembawa bahaya untuk mereka semua, tidak berapa lama kemudian .
Luna sang adik mengirim pesan untuknya.
{ Apa benar kakak sudah pulang?}
[ Sudah, ada kerjaan yang yang sangat mendesak]
[Apa yang terjadi kenapa kakak bersikap seperti itu pada Dita … dia menangis di kamar]
[Itu yang terbaik …]
Stanley tidak ingin membahasnya lebih dalam dengan Luna tentang perlakuannya saat itu pada Dita, ia melakukan hal itu agar wanita cantik itu tidak berharap lagi dengannya.
__ADS_1
Malam itu juga ia terbang ke Jakarta.
*
Setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di Jakarta, saat menuju apartemen miliknya ia, ia berpikir ulang Neil tidak tahu nomor baru miliknya, ia baru mengasih tahu nomor itu pada Pak Ahmat, nelayan yang menolong dirinya saat itu.
‘Ada sesuatu yang tidak beres … ini bukan Neil’ Stanley tidak jadi datang ke apartemen yang lama.
Ia menuju sebuah hotel, saat berada dalam hotel orang yang menggunakan nomor Neil mengirim pesan lagi.
[Bos sudah di mana?]
Stanley ingin memastikan suara pemilik telepon, ia menghubungi nomor tersebut tetapi tidak diangkat, takut ketahuan dari suara, ia hanya berani mengirim pesan. Stanley menyadari kalau dirinya dalam bahaya lagi, sayangnya ia tidak membawa topeng penyamaran dari Surabaya. Tidak ingin mati di dalam hotel, Stanley pergi ke apartemen lama Billy, di sana ia bisa merasa tenang.
Saat ia masuk, ia merasa ada seseorang di dalam apartemen dia atas meja ada bungkus makanan dan botol minuman, Stanley dengan hati-hati menarik pistol dari pinggang dan seseorang keluar dari balik gorden.
“Billy …?”
“Bos ini aku,” ucap lelaki itu keluar dari balik gorden dan menyimpan pistol itu kembali ke balik jaket.
“Kamu selamat?” Stanley menyimpan pistol miliknya.
“Bagaimana Bos menemukanku di sini?”
“Tidak, tapi aku yakin Neil juga selamat. Aku sempat melihat dia dan Bos diseret ke dalam kapal hari itu.”
“Bagaimana dengan Azka?” tanya Stanley lagi.
“Hari itu saat mereka menghancurkan tempat tersebut, aku terjatuh ke jurang, terluka setelah beberapa lama aku keluar dari sana menggunakan pecahan kapal yang mereka hancurkan, saat di tengah laut sebuah kapal pengangkut barang menyelamatkanku, parah nyaris mati. Bos … aku minta maaf kalau sudah mengkhianatimu.”
“Maksudnya …?”
“Aku tidak punya siapa-siapa, jadi aku menelepon wanita itu.”
“Wanita yang mana?”
“Shopia, jadi dia sudah tahu tentang Bos, aku berjanji akan mempertemukan kalian, dialah yang menyelamatkanku dari rumah sakit dan membawa ke sini.”
“Tidak apa-apa, pada akhirnya juga dia akan mengetahui tentang siapa aku,” ujar Stanley.
Ada sedikit rasa lega dalam dirinya karena Billy anak buahnya masih hidup walau ia harus pincang karena luka tembak di kakinya belum begitu pulih, ia mendapat luka tembakan di kaki dan patah tulang di kaki karena terjatuh ke jurang, tetapi karena hal itu jugalah ia bisa selamat dari kepungan para musuh dan tentara yang akan menangkap mereka.
__ADS_1
Saat lagi berbincang dengan Billy suara bel pintu terdengar, Stanley mengintip Shopia datang membawa tentengan, tetapi jauh dari belakangnya Stanley melihat ada dua pria yang mengawasi.
“Siapa Bos?”
“Shopia tetapi ada dua orang yang mengikutinya dari belakang.”
Billy menelepon Shopia, “jangan masuk sekarang ada orang yang mengikutimu.”
Shopia berpura-pura salah kamar, ia menekan bel kamar sebelahnya yang ketepatan seorang pria asing, ia masuk dan bercerita kalau ia asal masuk karena dua orang asing mengikutinya. Stanley mengintip lagi dari lubang pintu, kedua pria itu masih d sana mengawasi.
“Kita dalam bahaya kalau masih di sini, kit harus cari tempat lain.”
“Kita tidak punya akses keluar, dengan keadaanku yang seperti ini, sangat sulit untuk kabur. Pergilah Bos aku akan hadapi mereka,” ucap Billy, ia gagah bersedia melindungi bosnya walau dirinya sendiri terluka.
“Jangan khawatir … kita akan cari cara lain. Hubungi Shopia untuk menunggu kita di dalam mobil di dekat lift.”
Mata lelaki berrambut cepat itu menatap dengan ragu, saat mendengar kata lift, mereka sudah pernah melakukannya dan itu saat sulit, apalagi dalam keadaan pincang, tetapi ia tidak membantah, walau hatinya sedikit ragu. Namun ia memilih percaya pada Bos yang sudah bersamanya hampir tiga tahun belakangan.
“Apa kita akan lewat jendela?”
“Tidak itu berbahaya, kita akan lewat pintu.”
Stanley menelepon keamanan apartemen, ia dan penjaga keamanan saling kenal meminta penjaga keamanan itu untuk mengusir pria penguntit tersebut. Saat mereka di bawa ke bawah untuk di mintai indentitas diri, Saat itulah Stanley turun membawa Billy menggunakan lift.
Shopia melongo saat melihat Stanley ada dalam mobilnya.
“Apa..? kamu kan..? jangan terus melongo Nona Shopia?”
“Oh Tidak. Mari kita pergi, aku hanya tak menyangka kamu ada di sini.”
“Aku tidak ingin berkelahi untuk saat ini, apa kamu bisa membawa kami ke tempat yang aman?”
“Oh tentu, bagaimana kalau ke apartemenku saja.”
“Kamu tidak berniat menyerahkan ku pada kekasihmu atau pada ayahmu kan?”
“Jangan khawatir, aku sudah putus dengan mereka.”
Shopia anak musuhnya membawa ke apartemen, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi saat itu yang ia pikirkan tidak ingin Billy terluka lagi, mereka akan bekerja sama mencari Neil dan Azka Stenly berpikir kalau kedua pria itu ditawan tentara untuk memaksanya untuk bekerja sama.
Apakah Stenly dan Billy bisa menyelamatkan Neil dan Azka dari tawanan tentara yang menginginkan Stenly?
__ADS_1
Bersambung.