Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Chelia Diculik.


__ADS_3

Leon Wardana berpikir setelah ia pensiun dari dunia hitam kehidupannya akan baik-baik saja. Namun, masalahnya masih saja selalu ada, ia tidak bisa lepas dari bayang-bayanga kehidupan mafia di masa lalu.  Kali ini putranya yang  berbuat ulah.


Seorang pria bertubuh tinggi berbadan kekar barus saja membersihkan tubuhnya setelah bersenang-senang dengan tiga wanita sekaligus, ia menyudahi permainannya karena mendengar barang miliknya berhasil dibawa kabur, ia merasa senang ia tidak tahu kalau barang yang dibawa polisi itu hanyalah tepung dengan jumlah besar.


“Ini bayaran untuk kamu,” ujar Dave, mengibaskan uang segepok ke atas perut seorang wanita seksi berambut pirang.


“Terimakasih Bos,” panggil Aku saja jika membutuhkan kehangatan,” ujar wanita seksi itu sembari berdiri dan menekan dada bidang Dev dengan satu jemari lentiknya.


“Ini juga bayaran kamu malam ini,” ucap Dev  menepuk pinggul dua wanita yang  menunduk di depan meja rias.


Senyuman nakal diperlihatkan ketiga wanita itu pada Bos besar yang  mempunyai julukan si Elang hitam, manik matanya berwarna hitam pekat, tatapan matanya yang tajam seolah-olah ingin menelan lawan  bicaranya, sekali ia marah wajahnya terlihat beringas dan tidak bisa mengontrol emosi.


“Apa ada sesuatu yang baik Bos?”


“Ya, hari ini saya senang. Nikmati malam kalian para ladies,” ujar Dave, lalu meninggalkan mansion miliknya.


Ia keluar dari kamar setelah berpakaian rapi, berjalan bersama empat anak buah kepercayaannya.


“Bagaimana?” tanya Dave.


“Polisi itu bisa membawa barangnya kabur, Bos,” ujar lelaki  berkumis.


“Bagus, nanti berikan bonus lima kali lipat pada polisi itu.”


“Baik Bos.”


“Bagaimana dengan Alex? Apa dia juga ikut dalam misi  itu?”


“Ya, Bos.”


Mereka berkendara menuju sebuah gudang di dekat pelabuhan, polisi itu  membawa mobil dan barangnya  ke sana.


“Buka barangnya,” ujar Dave.


Empat orang buahnya mengangkat  karung, saat palasik di sobek ternyata isinya hanya tepung … wajah anak buahnya yang bernama Alex itu seketika langsung gemetar.


“Ada apa? Periksa ke sana,” ujar Dave meminta asistennya untuk mendekat, saat ia mencolek tangannya ke dalam bungkusan plastik, serbuk berwarna putih itu hanya tepung.


“Bos … ini hanya tepung.”


“Ha ….” Wajah mereka semua ketakutan.


“Apa maksudnya?”


“Tidak mungkin, jelas-jelas saya melarikan diri dari polisi,” ujar polisi penghianat itu dengan panik, bukan uang yang ia dapat, ia justru kehilangan nyawa.


“Dasar keparat tidak berguna!”


Dor-Dor!


Bos penjahat itu  menarik pistol dari pinggang bodyguardnya dan menembak tepat di kepala polisi yang berkhianat itu dan ia langsung modar di tempat, kini giliran Alex, setelah kehilangan jari telunjuk kemarin malam. Ternyata dia diberi hukuman yang menyakitkan, ditembak tepat di antara dua biji salaknya. Itu hukuman yang paling menyakitkan untuk lelaki, bisa dipastikan pistol miliknya tidak bisa bagun lagi alias mati suri.


Akan bertambah lagi satu banci kaleng di buka bumi ini akibat bos penjahat itu dengan tega membunuh burung perkutut milik Alex.

__ADS_1


“AU … AAA!” Lelaki malang itu itu memegang pangkal pahanya  yang sudah berdarah.


“Oh, kenapa kamu melakukannya Bos, lebih baik aku kehilangan sepuluh jariku, dari pada kehilangan keperkasaanku,” rintihnya berguling-guling di tanah.


Melihat rekannya menggelepar seperti ikan  mujair kehabisan air, rekan Alex panik ia ingin melarikan diri.


Dor-Dor-Dor!


Tiga tembakan mendarat di dada dan diperut, seketika ia pun menghadap sang pencipta, bos penjahat itu sangat benci orang yang melarikan diri dan benci penghianatan.


Seketika tiga nyawa pergi ke alam baka dan satu lagi meringis kesakitan memegangi burungnya yang sudah tidak berdaya lagi.


“Aku ingin memberi pelajaran pada polisi muda itu. Culik siapa saja anggota keluarganya , kekasihnya, adiknya, mamanya, tetangganya siapa saja!” bentak Dave dengan marah.


“Baik Bos.”


“Bawa  polisi muda itu ke hadapanku dengan apapun caranya,”


“Baik Bos.”


“Singkirkan mayat tidak berguna ini, jangan tinggalkan jejak apapun, polisi itu buat dia eolah-olah kecelakan,”


“Siap Bos.”


Semua anak buahnya hanya bisa menjawab dengan satu  dua kata’ Baik Bos’ selebihnya dianggap sebagai bantahan.


**


“Tidak apa-apa Dok?” tanya Selin.


“Tidak apa-apa di luar ada temanku juga.”


“Saat berjalan ke luar dari rumah sakit seorang gadis cantik berambut panjang melambai padanya.


“Celia!” panggil gadis cantik itu.


“Naura.” Chelia berlari memeluk sang sahabat.


“Aku kangen.” Naura memeluk kembaran Okan .


“AKu juga tau, kapan tiba di Jakarta?” tanya Chelia melepaskan pelukannya.


“Baru tadi malam, Aku kangen sama kamu,” ucap Naura.


“Kangen sama Aku apa kangen sama Kak Okan,” ujar Chelia  menggoda sang sahabat.


“Kamulah, Aku tidak ingat lagi sama Okan,” ucapnya sembari tertawa.


“Eh … ini kenalin teman, dia perawat di rumah sakit tempat Aku bekerja,” ujar Chelia memperkenalkan Celin.


Setelah saling melepas rindu dan saling berkenalan, mereka bertiga menuju parkiran menuju mobil Chelia.


Kring …!

__ADS_1


Harvis menelepon, melihat panggilan masuk dari Harvis Naura menggoda Chelia.


“Cie … Ayang ni.”


“Vis apa kabar!” teriak Naura.


“Ada Naura bersamaku kami mau pulang.”


“Oh ..ya, mau ngapain dia-”


Saat lagi menelepon tiba-tiba mobil berhenti di depan mereka bertiga dan menutup mata ketiganya menggunakan penutup mata berwarna hitam


“AAA! Tolong! “ Ponsel Chelia jatuh.


“Halo Che … Halo! Che.” Harvis langsung melotot, apa yang dikatakan Leon benar.


Lelaki itu panik saat ia mengetahui kalau sang kekasih diculik, ia tidak tahu harus berbuat apa . ia menelepon Cheli, ia ingin mengajak wanita cantik itu untuk makan malam, belakangan ini hubungan mereka semakin menjauh karena ia baik Chelia sama- sama sibuk. Hari ini ia sengaja minta izin pulang lebih awal karena ia tahu Chelia  shift jaga sampai siang. Sebagai seorang dokter dan polisi mereka berdua dituntut siap siaga untuk selalu sia jika ada panggilan.


“Astaga Apa yang harus Aku lakukan?” tanya Harvis memegang kepalanya.


Harvis tidak berani menelepon Leon, ia takut ayah Chelia itu menyalahkannya, jadi ia menelepon abang Chelia


“Ada apa Bro?”


“Kan … Bro, Aku.”


“Ada Apa?” Wajah Okan menegang mendengar suara Okan yang terengah-enagh seolah-olah ia habis lari marathon.


“Chelia diculik!”


“Sama siapa? Di mana?” Okan kembaran Cheli mencercanya dengan beberapa pertanyaan.


“Aku tidak tahu, saat  Aku menelepon mereka ingin pulang.”


“Tunggu Aku di sana, jangan katakan apapun pada ayah dan Om Beny, biar aku saja yang mengatakan sama Ayah, Ibu lagi sakit,” ujar Okan.


Dengan buru-buru ia mengeluarkan motor besarnya dan berkendara  menuju rumah sakit, petugas parkir yang melintas yang menemukan ponsel milik Chelia, tidak lama kemudian  Harvis juga sudah ada di sana.


Mereka berdua mencari melalui CCTV sayang sekali camera ke mobil Chelia lagi rusak.


“Sepertinya  mereka sudah mempelajari tempat ini dan tahu mana  tempat yang tidak terjangkau camera,” ujar Okan.


“Aku yakin  ini ada hubungan dengan barang kami sita.”


“Apa kamu yakin?”


“Ya.”


Tidak ingin adiknya dalam bahaya, Okan terpaksa memberitahukan Leon, lelaki itu bagai  setan yang sedang  marah, wajahnya memerah dan matanya melotot merah saat tahu putri kesayangannya diculik.


Apakah Laon bisa meyelamatkan putrinya dari cekraman penjahat yang menculik Chelia?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2