Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Cinta dan Luka


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Hidup Okan berubah total,  wajah dan bentuk tubuh juga berubah. Tubuhnya dipenuhi tonjolan otot-otot keras, tubuhnya dipenuhi  banyak bekas luka menunjukkan betapa keras perjuangan Okan  untuk berlatih agar bisa seperti ayahnya.


Bertahan hidup dalam hutan sudah ia lalui, ia bukan lagi Okan yang selalu hidup mewah. Jika dulu kebutuhanya  penuh kemewahan dan selalu di layani. Hutan mengajarkan Okan tentang mencari makan dari tumbuhan hutan untuk  bertahan hidup,ia bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan, selama  hidup di hutan , ia mendapatkan ketenangan dalam keheningan hutan.


“Kamu sudah bisa melangkah maju, jika kamu sudah yakin,” ujar pelatih Okan.


“Saya ingin  membalas pria yang membuatku hampir mati saat itu.”


“Bagus, lakukan yang terbaik,” ujar guru Okan.


“Baik Guru.”


Setelah  berlatih dengan keras akhirnya ia datang kembali ke hadapan kepala suku. Okan bahkan meminta pada lelaki tua itu untuk  mengadakan pertarungan  antara dirinya dengan Putra Penjaga yang bernama Veak. Lelaki yang membuatnya hampir mati.


“Kamu sudah kalah  anak muda. Jika saat pertunjukan tidak datang maka dianggap gugur,” ujar lelaki tua yang mereka hormati sebagai kepala suku.


“Lelaki itu bermain curang,” ujar Okan di depan semua orang.


“Apa yang kamu katakan?”


“Saat  kompetisi, Veak dan teman-temannya membawaku ke tepi sungai, dipukuli sampai terluka lalu ditinggalkan di sana. Apa seperti itu perbuatan seorang Putra penjaga? Ayahku bilang seorang Putra Penjaga salah  seseorang yang terlatih dan memiliki jiwa ksatria. Bukan mendapatkan kemenangan dengan cara curang,” ujar Okan,  ia mempermalukan lelaki yang hampir membunuhnya satu tahun yang lalu.


“Lalu apa yang kamu inginkan?” Pria  bertato yang bertugas sebagai Putra Penjaga itu  berdiri  menantang Okan.


“Aku ingin menantangmu  bertarung dengan adil. Jika Aku menang kamu harus melepaskan gelar tersebut dan meninggalkan kampung ini,” ujar Okan.


Penduduk desa saling berbisik karena Veak putra kepala suku yang paling mereka hormati. Tetapi mereka tidak tahu kalau lelaki yang sudah menikah itu melakukan kecurangan.


“Kalau aku menang,  kamu akan keluar dari desa ini saat  itu juga dan menghapus simbol suku kami. Kamu bukanlah bagian dari penduduk desa ini. Kenapa kamu mengukir simbol itu di tubuhmu.” tekan   si Veak.


“Baik setuju.” Ucap Okan melepaskan  kaos yang ia kenakan, ia seolah-olah  memamerkan tubuh atletisnya, Okan saat ini memiliki tubuh yang kekar sama seperti Leon.


“Wow …!” Gadis-gadis desa mengagumi tubuh atletis Okan.


Veak semakin kepanasan, saat semua wanita di desanya memuji ketampanan Okan.


*

__ADS_1


Di sebuah arena pertarungan, Okan dan Veak  sudah bersiap.


Pertarungan akan dimulai, pertarungan yang sangat sengit. Apa yang dilakukan pria Veak padanya saat itu meninggalkan dendam di hati Okan, ia terus berlatih dengan keras agar bisa mengalahkan pria congkak tersebut.


Mereka bertarung menggunakan tangan kosong atau pertarungan bebas. Setelah dilatih sama guru profesional, Okan jauh lebih unggul dari Veak, bahkan menguasai  semua tehnik pertarungan. Di menit terakhir Okan ingin menyudahi pertarungan dengan kemenangan.


Okan memutar tubuhnya dan mengangkat satu  kaki lalu menendang keras ke batang leher Veak. Satu teknik tendangan yang mematikan yang diajarkan guru pelatihnya.


Haaak!


Seketika tubuh Veak terhuyung-huyung dan jatuh ke depan dengan tubuh telungkup.


Suasana seketika  langsung hening, mata penduduk desa melonggo karena jenderal perang  mereka tumbang tak berkutik  di depan seorang pemuda.


Setelah dilatih akhirnya  ia mampu menyelesaikan rintangan pertama walau dengan waktu yang lama. Okan akhirnya berhasil menyelesaikan ujian yang diberikan Leon, bahkan  mengalahkan anak kepala suku yang pernah memukulnya, Okan keluar dari hutan.


“Bos … Pak Leon memintamu tinggal di mansion di Kalimantan ini.”


“Baiklah,” jawab Okan.


“Bos, aku baru saja mendapatkan  kabar, Dave sudah kembali ke Jakarta.”


“Kita ke Jakarta  sekarang siapkan helikopter.” Belum juga menginjakkan kakinya di mansion ia langsung terbang menuju Jakarta.


“Tidak, saya ingin cepat menyelesaikan misi yang diberikan, Aku tidak ingin menunda. Aku juga ingin bertemu Naira.”


“Bos … Pak Leon meminta untuk membereskan Star Hotel.”


“Nanti saya akan  lihat, kita ke Jakarta dulu,” ujar Okan, ia terpaksa akan berganti pakaian di helikopter.


“Baik Bos,” sahut Fudo dengan patuh.


Fudo mempersiapkan helikopter yang diminta Okan,  akhirnya Okan bisa melewati semua rintangan yang diberikan Leon dan ia siap menggantikan sang ayah.


*


Tiba di sebuah club di Jakarta, klub yang diberi julukan ‘Kandang Macan’ Okan duduk sembari menikmati segelas  Vodka ia sengaja memesan tempat duduk private,  ia hanya ingin duduk sendiri tanpa diganggu siapapun. Lama tinggal di hutan rupanya  telah mengubah sifat Okan Wardana, ia lebih suka keheningan dan ketenangan.


“Bos,  tidak turun dansa?”

__ADS_1


“Tidak, sepertinya Aku lebih suka duduk diam menikmati minuman ini,” ujar Okan menunjuk  botol Vodka yang menyisakan seperempat dari botol tersebut. Okan memang dikenal kuat minum.


Saat lagi duduk dengan Fudo, Shin datang.


“Bagaimana?”


“Bos, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku mendengar ada pertikaian antara dua gangster di depan.”


“Siapa mereka?”


“Black Moon dan Mortal.”


Kedua geng preman ini memang sering sekali bertikai dan membuat onar, Okan dan kedua anak buahnya  terpaksa keluar dari pintu belakang untuk menghindari bentrok antara dua kelompok tersebut,  tidak ingin terlibat.


Pembunuhan, kematian sudah hal biasa di klub tersebut. Namun sebesar apapun  pertempuran di sana polisi jarang ikut campur, karena itulah club itu disebut’ Kandang Macan’  banyak orang masuk dalam keadaan beryawa saat keluar dari sana tinggal nama. Bahkan banyak kabar yang beredar orang mati di sana, mayatnya tidak akan keluar,  kabarnya organnya akan dijual , lalu sisa tubuhnya akan  dikasih jadi  makanan macan peliharaan pemilik klub.


Mereka pulang ke apartemen Shin.


“Bos, Aku mendengar lelaki yang bernama Asta Stanley juga mencari tahu tentang Dave,” lapor Shin lagi.


“Apa kamu tahu di mana lelaki itu tinggal, sepertinya  Aku belum mengembalikan barang miliknya,” ujar Okan.


Sebuah korek gas berharga milik Asta Stanley masih ia pegang, saat  mereka ingin pulang sebuah pesan masuk ke ponsel Shin.


“Bos … orang suruhanku memberitahu  alamat apartemen, Dave.”


“ Ayo kita kesana!” pintah Okan bersemangat, ia berpikir akan menyelamatkan Naira.


“Shin mengeluarkan mobil dari apartemennya  dan menyetir menuju sebuah apartemen.”


“Apa kamu yakin di sini?” tanya Okan,  ia pernah ingat Chelia memintanya menjemput ke apartemen tersebut.


“Ya, orang suruhanku melihat  Dave keluar dari gedung apartemen ini.”


Saat ingin turun ,  mata Okan terpelongo ia melihat Naira berjalan berpegangan tangan dengan Dave.


‘Apa ini …. bukankah mereka bilang kalau dia culik , lalu kenapa mereka berpegangan tangan dan terlihat mesra? Apa  benar yang  aku lihat di bar saat itu?’ Okan terdiam  seperti patung.


Ia berlatih  mati-matian  agar bisa keluar dari hutan untuk menyelamatkan Naira, wanita yang ia cintai sejak lama. Tetapi saat ini Okan melihat wanita  itu berjalan mesra dengan  musuh besarnya bahkan lelaki yang menculiknya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Okan dengan wajah pucat,  apa yang lihat saat itu jadi satu pukulan  berat padanya. Bagaimana tidak? saat ia sangat mengkhawatirkan Naira, ternyata selama ini  wanita itu justru bersama pria yang menculiknya.


Bersambung


__ADS_2