Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Menolak Perintah Atasan


__ADS_3

Setelah masa skors Luna selesai ia kembali masuk kerja, sebelum ia berangkat Bimo kembali mengingatkan agar menjauhi Okan dan kedua pengawalnya. Luna melakukannya, tepat saat Okan turun dari mobil dan Luna  juga baru datang, ia terpaksa bersembunyi di balik gedung, setelah Bos besar itu  berjalan pergi ia baru menyusul.


“Hadeh … kenapa seperti ini. Aku merasa tidak nyaman kerja di tempat ini. Aku harus bujuk Om untuk pindahin aku,” ujar  Luna sembari berjalan.


Okan sepertinya ingin mengerjai Luna ia tahu wanita itu selalu menghindarinya, lalu meminta kedua pengawalnya untuk naik duluan, ia pura-pura ke kamar mandi dilantai dasar saat Luna berdiri di depan Lift Okan juga berdiri di belakang.


Ting!


Pintu lift terbuka Luna masuk duluan dan ia bersandar di dinding lift , saat semua penghuni lit bisik-bisik karena ada bos tampan bersama mereka , penghuni lift itu kebanyakan karyawan perempuan. Luna tidak memperhatikan ia sibuk dengan layar ponsel di tangannya, tepat saat  semua orang turun dan Luna dan Okan penghuni terakhir karena  kantor Luna dan Okan berkantor lantai paling akhir.


Luna belum menyadarinya matanya sibuk  membaca pesan yang dikirim Sinar padanya.


Saat ia menoleh  ke samping ternyata Okan sudah bersandar di dinding kedua tangan dilipat di dada, lalu menatapnya Luna.


“Astaga Pak  Jhon kamu membuatku takut. Kenapa gak bersuara sih!” bentak Luna tertawa, sembari mencengkram lengan Okan dengan gemas, seperti itulah kebiasaan Luna kalau sudah merasa dekat sama orang lain


“Kok kamu kaget?” tanya Okan santai, ia menatap wajah luna dengan satu alis diangkat.


Namun, Semenit kemudian raut wajah  wanita hitam manis itu  berubah, ia baru ingat kalau Okan adalah bos besar.


“Oh, iya saya lupa … Pak Okan sekarang. Selamat pagi  Pak Okan,” ucap Luna dengan suara yang amat lembut sangat berbeda dengan suara aslinya ketika saat kaget.


Ting!


Kebetulan pintu lift terbuka,  secepat kilat langkah kaki Luna melangkah keluar,  berjalan tergesa-gesa meninggalkan Okan yang tersenyum kecil melihat sikap Luna barusan.


“Kenapa dia jadi menggemaskan seperti itu,” ucap Okan, ia juga keluar dari lift dan berjalan  gagah menuju ruang keruangannya  duduk  di meja dengan raut wajah yang berbeda,


“Apa terjadi hal yang baik sama si Bos,  habis kabar mandi wajahnya jadi terlihat senang,” bisik Fudo yang duduk di sopa  di ruangan Okan


“Gak tau,” jawab Shin lelaki dingin yang irit bicara, dalam satu hari  bisa dihitung dengan jadi tangan berani kali ia bicara.


Kedua asisten Okan sibuk mencari berkas-berkas lama, pekerjaan itu sudah mereka lakukan dari kemarin  berkas lama yang yang diinginkan Okan tak kunjung mereka dapatkan.


“Apa ada hal yang menarik Bos?”


“Kenapa memang?” Okan balik bertanya, tangannya dengan cepat menandatangani berkas yang sudah diletakkan di atas meja kerjanya.


“Bos dari tadi terlihat sangat senang.”


“ Itu karena pekerjaan pertamaku  berhasil,” jawab Okan. “Kalian  selesaikan  itu dengan cepat, Aku punya tugas untuk kalian berdua.”


“Siap perintah Bos, katakan saja.” Fudo berdiri.


“Perintahkan beberapa orang-orangmu untuk mencari tahu tentang  Naira. Laporkan  padaku.  Apa yang  dia lakukan dengan siapa dia bertemu,” ujar Okan


Walau Naira menolak Okan dan meminta  pergi, tetapi Okan tidak mau menyerah begitu saja, ia  juga belum tahu kebenarannya kenapa Dave meninggal? Kapan kejadianya? Ia belum tahu karena Stanley juga belum menceritakan semuanya padanya.


“Baik saya akan perintahkan mereka melakukannya Bos.” Shin menelepon  beberapa orang-orangnya untuk melakukan apa yang diperintahkan Okan.,

__ADS_1


Setelah selesai  menandatangani semua tumpukan berkas di atas meja,  Okan berdiri di jendela menatap taman. Ia tidak melihat Luna makan di sana, padahal ia ia sudah masuk hari itu.


‘Kenapa dia tidak disana lagi untuk makan siang?’


Okan duduk lagi di meja kerjanya, lalu menelepon Bayu.


“Pak Bayu, tolong bawa salinan proposal kemarin dan suru Luna yang membawanya ke ruangan saya.”


Shin dan Fudo saling melihat.


“Sepertinya bunga-bunga cinta mulai tumbuh,” bisik Fudo.


Shin hanya menanggapi dengan senyuman kecil lalu ia menjawab, “ Bos hanya penasaran sama gadis muda itu, Bos tidak akan bisa melupakan Non Naira,” bisik Shin.


Sementara Sinar kembali bersemangat dan bersinar setelah Luna sahabat baiknya kembali bekerja, mereka berdua tidak berhenti bercerita dari awal Luna datang sampai-sampai melewatkan makan siang. Bara akhirnya dipindahkan bagian lain  atas permintaan Luna, ia menganggap pria itu penyebab masalah untuk sahabatnya.


Saat sedang asyik  mengobrol.


Telepon di meja Luna berdering dan Bayu meminta datang ke ruangannya. Tidak ingin dapat masalah dari Bayu, Luna bergegas.


“Ada apa Pak?”


“Lun, kamu bawa ini ke ruangan Pak Okan.”


“Saya …?” tanya Luna dengan mata melotot.


‘Oh jangan aku, dia tidak boleh bertemu denganku’ Luna membatin.


“Oh, Pak Bayu … sesungguhnya Aku  belum makan siang,” ucap Luna dengan gaya alay dengan tangan memegangi perut.


“Luna, berhenti berakting, ini bawa ke ruangan Pak Okan.”


“Pak Bayu, apa bapak tahu  undang-undang untuk karyawan yang dipaksa kerja tanpa makan?”


“Aku tidak tahu. Sana buruan bawa!”


“Auh … auh sakit lapar bangat.  Aku tidak tahan lagi. Tolong ya pak Bapak yang antar.”


”Luna! Kamu  akan saya hukum lembur lagi nanti!” ancam Bayu.


“Tidak masalah Pak. Saya mau makan dlu.” Luna langsung keluar lalu kabur.


“Anak ini. Ada sih dengannya.”


Karena Luna tidak mau Bayu yang datang ke ruangan Okan, saat tiba di sana Okan menatapnya dengan tajam.


“Saya tidak meminta Anda untuk datang ke ruangan saya. Karena  kamu bilang yang mengetik berkas itu Luna,  berarti yang saya butuhkan orang yang mengerjakannya bukan Bapak.” ucap Okan.


“Maaf Pak tadi Luna lagi makan ja-”

__ADS_1


“Suruh antar kalau dia sudah selesai makan,” potong Okan.


“Baik Pak.” Bayu turun dengan wajah yang sangat kesal.


Sampai di ruangannya ia marah.


“Gara-gara Luna, Aku kena marah.” Ia mengangkat gagang telepon lalu menekan nomor telepon ke meja Luna.


“Ya Pak.”


“Kamu ke ruangan saya Luna!”


Padahal kedua wanita itu baru saja menyantap bekal makan yang dibawa Luna, mendengar suara tegas Bayu Luna buru-buru  mencuci tangan  dan datang ke ruangan Bayu.


“Kamu menyebabkan Aku dalam masalah, Luna ….”


“Maaf Pak Bayu, saya lagi makan.”


“Nanti saja kamu teruskan makannya bawa ini ke ruangan Pak Okan.”


Luna membawa  berkas itu dari ruangan Bayu dan meminta Luna yang mengantarnya.


“Kamu yakin Lun tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, siapa saja yang mengantar tidak apa-apa yang penting kan berkasnya bukan orangnya,” ucap Luna.


Saat Luna yang datang kedua pria itu menyebut Luna orang yang berani.


“Baru kali ini ada karyawan yang berani menolak perintah  atasannya. Katakan pada Luna, untuk datang ke ruangannya bila perlu paksa dia, anak itu,” ujar Okan marah.


“Pak Okan … Luna minta maaf saat itu dia tidak tahu kalau bapak Bos, sungguh … saat acara penyambutan dia sedang sibuk  mengerjakan laporan.”


“Lalu …?”


“Saya mewakilkan dia untuk minta maaf, Saat dia mengajak dia menikah dengan bapak dia bercanda,” ujar Sinar membela Luna.


“Ha menikah?” Fudo tertawa.


“Apa dia memintamu mengatakan itu?”


“Oh, tidak Pak, saya hanya tidak mau dia dapat masalah, karena gosip dia menggoda Bapak semua stap di bagian kami mengosippin dia,  bahkan memusuhinya , saya kasihan padanya,” ujar Sinar.


“Baiklah kamu  keluar.”


“Baik Pak.”


Sinar keluar, akhirnya Okan tahu kenapa Luna menghindarinya.

__ADS_1


Okan  juga keluar menuju gedung atap, mereka bertiga naik helikopter, ia akan bertemu Stanley. Saat itu suasana hatinya lagi buruk, ia berpikir kalau  bertemu Luna  akan mengembalikan moodnya yang hilang, ternyata Luna menghindari  wajah Okan kembali kaku seperti tiang listrik karena tidak bisa bertemu Luna.


Bersambung…


__ADS_2