
Sebagai Bos, Leon tidak ingin salah mengambil keputusan , saat Luna mengaku kalau pelakunya bukan Dave, ia ingin menyelidiki dan memastikan apa yang dikatakan wanita itu kebenarannya.
Leon masih mengintrogasi Luna, ia ingin tahu apa wanita itu kerja sama dengan para penculik tersebut.
“Pak, mereka berhianat,” ujar Luna masih berusaha menjelaskan kalau pelakunya bukan Dave.
“Siapa berhianat?” tanya Leon lagi.
“Aak buahnya Dave.”
“Dari mana kamu tahu kalau dia anak buahnya?”
“Aku mendengar Dave memerintahkan mereka, menagatakan seperti ini’ Bawa mereka pulang’ lalu anak buahnya menjawab seperti ini ‘Baik Bos’ artinya mereka anak buahnya kan?” tanya Luna.
“Itu artinya kamu tidak terlibat dalam peculikan?”
“Ya, saya tidak terlibat, Pak.”
“Aku akan menghabisi mereka semua siapapun yang terlibat dalam penculikan putriku. Sekali lagi Aku tanya apa mereka juga mengenalmu?” Leon melipat tangannya di dada dan tatapan tajam itu masih tertuju pada gadis yang duduk diatas ranjang.
“Saat aku memanggil namanya dia kaget, namun, dia tidak mau mengakui kalau Aku adiknya,” ujar Luna menangis, “Aku dan saudra laki-lakiku sudah lama mencari dia, mama kami meninggal dia belum tau,” ujar Luna tiba-tiba curhat sama Leon.
“Baiklah, Akan saya selidiki kebenaran ceritamu Nona, tetapi kalau kamu terbukti ikut dalam menculik putriku maka kamu dan semua saudaramu akan saya lenyapkan,” ujar Leon.
“Aku mendengar lelaki berkepala botak itu menyebutkan sebuah kata kunci saat menelepon . Aku juga melihat sebuah simbol di laptop miliknya saat kami di sekap dalam van berwarna putih,” ujar Luna, “ Tunggu … saat Aku koma aku samar-samar mendengar suara yang mirip sama saat lelaki botak itu, aku masih ingat suara dia saat menelepon seseorang,” Ini simbol yang aku lihat Leon memberikan kertas dan pulpen Luna mengambarkan simbol dan kode yang ia lihat itu pada Leon.
Wajah Leon menegang, matanya melotot karena kaget, ia buru-buru merogoh kantong celananya dan menelepon .
“Panggilkan Kinan ke sini,” ujar Leon. Kinan anak buah Leon yang diberi julukan si manusia computer yang bisa membobol data semua orang hanya dengan satu petunjuk yang di berikan padanya, lelaki itu bisa mebongkar data target.
“Bos … kinan ikut Zidan, Ken dan Okan untuk melaksanakan misi.”
“Oh, aku lupa sambungkan sama Zidan!” ujar Leon panik, ia merasa ada penhianat diantara anak buahnya karena sinmbol itu hanya dimiliki anak buah Leon.
Leon keluar dari ruangan Luna, dengan sikap tergsa -gesa ia menelepon Zidan.
“Ada apa Bos?” tanya Zidan kaget.
“Kalian di mana?”
__ADS_1
“Sudah di tujuan Bos bersama Okan dan Ken dan Kinan.”
“ Cabut. Cabut! dari sana! Misi dibatalkan, kalian dijebak!” seru Leon dengan tegas.
“Apa yang terjadi?” Baru juga ia bertanya
Door!
“Akkk …!”
Zidan memegang dadanya yang yang sudah berlumuran darah.
Tembakan dari atas pohon mengenai tepat di dada Zidan, ternyata mereka sudah dikepung.
“Halo …!”
“Halo. Apa yang terjadi? Apa kamu masih mendengarku?”
“Bos benar … ini jebakan, kami sudah di kepung,” ujar Zidan dengan suara tersendak-sendak.
Ternyata para penembak sudah mengepung mereka, wajah Leon panik karena di sana ada Okan yang memaksa ikut dalam pengintaian.
“Bertahanlah, bantuan akan datang.”
“Bos apa yang terjadi?” tanya Bimo ikut panik.
“Kamu awasin wanita itu, anak buahmu ada yang berhianat.”
Wajah Bimo kaget saat mendengar ada yang berhianat di kelompoknya.
“Apa yang aku harus Aku lakukan Bos?”
“Katakan pada Billy untuk memindahkan Chelia amanankan Luna, saya akan menolaong mereka.”
“Baik Bos.” Bimo menghela napas panjang, ia tidak tahu siapa orang berhianat tersebut. Ia tidak ingin Chelia dalam bahaya, ia meminta dokter Billy untuk memindahkan Luna dan Chelia ke sebuah ruangan khusus, kedua lelaki jepang itu akhirnya diturunkan menjaga Chelia dan Luna, mereka berdua ditempatkan di ruangan sayang sama .
**
Leon bersama Toni dan Bram terbang untuk membantu Zidan yang terkepung oleh penjahat. Wajah Leon menegang karena di sana ada Okan.
__ADS_1
“Kami mendapatkan posisi Bos, ternyata mereka ada di Bogor”
“Baik, kita kesana.” Leon mengkokang senjata miliknya dan menyelipkan di pinggang.
“Bos jumlah mereka kalah banyak dari kita. Apa kita menunggu anak-anak tiba?” tanya Bram.
Leon bukan orang yang suka menunggu.
“Turunkan saya!”
“Baik Bos!”
Sementara Zidan walau sudah sekarat, ia masih berusaha menyelamatkan Okan, saat mereka berlindung di balik batu, ternyata terlihat sama musuh, ketika ia melihat ada sinar membidik tubuh Okan, tanpa ragu ia menggunakan tubuhnya untuk melindungi anak dari sang bos.
Satu tembakan menembus pundaknya lagi, wajah Okan panik melihat darah membanjiri tubuh Zidan anak buah kepercayaan ayahnya, akhirnya anak lelaki keras kepala itu bisa melihat betapa berbahayanya jadi ayahnya.
“O-Om …,” ucap Zidan terbata-bata.
“Diamlah jangan berbegerak agar mereka mengira kamu sudah mati,” ujar Zidan ia menindi tubuh Okan untuk melindunginya dari penembak yang berada di atas pohon mereka terkepung, seseorang dari anak buah Bimo memberikan informasi palsu dan mereka dijebak, misi mereka hari itu hanya ingin mengawasi target bukan untuk bertarung.
“Om maafkan Aku,” ujar Okan.
“Untuk seperti Ayahmu kamu butuh kerja keras. Tidak mudah seperti Bos, dia sudah melewati banyak rintangan dan sudah puluhan bahkan ratusan kali lolos dari kematian … dia sudah ditakdirkan jadi Bos di masa lalu. Okan jangan membantah apun yang dikatakan Bos, jangan seperti Danis yang berhianat sama Papinya sendiri demi sebuah ambisi,” ujar Zidan.
Ia begitu kecewa pada putra semata wayangnya, ia sudah berjuang menyekolahkan Danis jdi dokter ternyata anak lelaki itu lebih memilih bos penjahat daripada keluarganya sendiri. Bagi seorang ayah itu sangat menyakitkan.
“Om, Aku minta maaf,” ujar Okan ia ingin melawan para musuh , sayang ia tidak punya senjata.
“Tidak apa-apa Okan.”
Wajah Leon semakin menghitam saat menyadari Zidan terluka dan melidungi Okan, ia bisa mendengarnya karena alat komunikasi itu masih terhubung.
“Zidan … Kamu mendendarku?”
“Ya Bos, Aku minta maaf karena Danis jadi penghianat, mungkin ini yang terbaik untukku, lakukan apapun yang menurutmu baik, Aku serahkan semua padamu,” ujar Zidan.
Selama ini ia merasa bersalah sama Leon karena putranya sendiri jadi penghianat, Leon juga tidak tega menyakiti Danis karena menjaga perasaan Zidan anak buah yang paling setia Zidan, Toni, Ken sudah seperti adik sendiri untuk Leon mereka bersama mulai dari mereka masih remaja dulu. Kini Zidan membuktikan kesetiannya sampai akhir hayatnya, ibahkan diujung kematiannya ia menunjukkan kesetiaannya melindungi Okan dengan tubuhnya.
“Tidak, kamu harus selamat,” ujar Leon.
__ADS_1
Bram menerbangkan helikopter itu ke sebuah rumah di sebuah perkebunan di arah puncak.
Bersambung