
Dari remaja Okan sudah dikenal keras, Hara ingin anak sulungnya fokus mengurus bisnis keluarga, Hara justru meminta Okan untuk menjauhi Danis. Rupanya Okan mewarisi sikap Ayahnya tidak suka diatur-atur.
Setelah beberapa tahun masuk ke pusat rehabilitasi Danis dan Juna akhirnya dinyatakan sembuh. Namun, setelah mereka keluar dari pusat rehabilitasi. Hara tidak ingin putranya bergaul sama mereka. Apakah Okan mau? Jawabanya tidak.
Justru mereka punya markas di sebuah rumah kosong yang di sulap jadi sebuah markas rahasia untuk mereka, disana Okan belajar bagaimana memegang senjata, Okan belajar bela diri. Setelah Chelia diculik Okan tidak melaporkan sama Leon.
“Apa tidak sebaiknya kita laporkan sama om Leon?” tanya Jordan putra Hilda, lelaki itu juga tentara tapi karena diajak Okan bergabung dalam komunitasnya, ia juga ikut.
“Ya, ini menyangkut nyawa,” ujar Juna putra dari Toni.
“Tidak usah, kita lakukan sendiri, itu artinya organisasi ini terbentuk, kalau ada tindakan kejahatan kita atasi sendiri tidak perlu lagi ikut campur orang tua kita,” ujar Danis.
Sebagai ketua dari kelompok itu ia yang membuat keputusan, Jordan dan Juna tidak begitu setuju kalau mereka yang bertindak.
“Ini masalah nyawa Naira sama Chelia,” ujar Jordan.
“Lu penakut bangat sih Bro, ini bukan pertama kalinya kan kita beraksi, ingat saat kita menyelamatkan perampokan minimarket, mereka semua tidak berkutik kan di tangan kita,” ujar Danis menyakinkan mereka semua.
“Lu bagaimana Kan?” tanya Danis.
Lelaki berwajah tampan itu menghela nafas panjang, kalau Ibu sampai tahu, ia bisa sakit lagi, lebih baik kita saja yang bertindak,” ujar Okan setuju dengan Danis .
Setelah anak-anak mereka sudah besar, Leon lebih banyak di rumah mengurus istrinya, Hara sudah sakit-sakitan , penyakit yang dulu ia derita sudah sering kambuh. Namun Leon selalu setia menemani istrinya walau kecantikan Hara sudah mulai luntur dan sudah lebih sering duduk di kursi Roda, tapi perhatian dan kasih sayang Leon tidak pernah padam.
“Apa rencana kita untuk menyelamatkan Chelia dan Naira?” tanya Jordan.
“Masih rencana awal,” jawab Danis.
“Apa, tidak tahu apa rencana awal,” sahut Juna.
“Kita akan merampok kantor polisi,” ujar Danis dengan yakin.
“Apa?” mata kedua lelaki itu kaget, sementara Okan hanya diam, ia memikirkan nasib adiknya dan wanita yang disukai .
“Ya, ayo kita lakukan kalau memang itu bisa menyelamatkan nyawa adikku,” ucap Okan.
“Gila lu Bro, Harvis susah payah mengamankan barang itu, masak kita rampok,” ucap Juna.
Apa yang dikatakan Juna benar, Harvis dan rekan-rekannya sudah bersusah payah mendapatkan barang haram itu, bukan hanya Harvis orang tua mereka juga ikut membantu.
__ADS_1
“Hanya itu Cara untuk menyelamatkan mereka,” ujar Okan.
Sebagai abdi negara Jordan menolak melakukan hal yang membahayakan kariernya, itu hal yang wajar mereka membentuk organisasi itu untuk menolong orang lain bukan untuk merampok kantor polisi, apa lagi mengambil narkoba untuk diberikan pada penjahat. Bagi ia dan pasukannya, ia punya prinsip pantang untuk tunduk pada penjahat.
“Maaf Aku tidak bisa melakukan itu, kalau kalian bilang kita datang ke rumah perampok itu Aku akan maju paling depan, aku akan mengangkat senjataku untuk mereka, Namun kalau merampok kantor polisi lalu menyerahkan barangnya pada penjahat itu, maaf itu berlawanan dengan prinsipku,” ujar Jordan ia menolak dengan tegas.
“Dasar pengecut Lu,” ujar Jordan marah.
“Maaf merampok kantor polisi itu menyalahi aturan, masalah akan besar kalau kamu melakukanya,” ujar Jordan dengan tegas.
Tetapi Okan sudah terlalu takut, ia takut kehilangan Naira dan Chelia, makanya ia melakukan apapun demi menyelamatkan orang yang dicintai termasuk merampok kantor polisi.
“Kamu pikir Aku mau melakukan ini? Aku lakukan demi menyelamatkan Chelia!” teriak Okan marah, mereka saling bersitegang.
“Bro, mari kita katakan sama Om Leon, dia pasti akan memberikan solusi,” usul Jordan.
“Ibu sakit, kalau sampai tahu kalau Chelia diculik dia akan pingsan, Aku tidak mau seperti itu,” ujar Okan.
“Maaf Aku tidak bisa ikut, semoga kalian sukses,” ujar Jordan, ia meninggalkan markas itu lebih memilih pulang daripada mengikuti hal gila yang direncanakan Okan dan Danis.
“Ya pergilah, dasar pengecut!” Okan marah dan memaki-maki sahabatnya, padahal ia berharap Jordan sahabatnya akan mendukungnya. Ternyata Jordan orang yang berpikir panjang, ia tidak mau melakukan tindakan membahayakan keluarganya.
Malam itu mereka akan merampok gudang penyimpanan barang milik polisi, tindakan yang paling nekat. Tetapi mereka bertiga sudah bertekad.
“Tenang, Aku sudah meminta orang-orangku untuk mengawasi lokasi itu. Kita lakukan saat menjelang pagi,” ujar Danis.
“Apa tindakan kita ini sudah benar?” tanya Juna ia masih takut.
“Tenang kita akan mencoba.” Danis mencoba menyakinkannya.
Setelah menjelang subuh penjagaan sudah mulai kendor, orang suruhan Danis melemparkan asap bius ke para polisi yang sedang bertugas piket, saat mereka menghirup gumpalan asap itu, mereka pingsan.
“Ayo, ayo kita bertindak dengan cepat,” ujar Danis.
“Baru juga anak buahnya mengangkat satu kotak senjata, tiba-tiba mereka sudah dikepung.
“Sial, kita terjebak, sepertinya ada yang melaporkan,” ucap Danis, ia sudah panik.
“Apa kamu ada rencana?” tanya Juna menatap Okan.
__ADS_1
Ia menunjuk plafon.
“Apa kalian di dalam Bro, keluarlah,” ujar suara yang tidak asing bagi Mereka, itu adalah Harvis.
“Apa dia sudah tahu sebelumnya?” tanya Danis marah.
“Mungkin dia tahu saat Aku tadi memintanya membantu,” jawab Okan.
“Kalian lari ke belakang bawa barangnya, aku akan mengalihkan perhatiannya disini,” pintah Danis memerintahkan orang-orang nya.
“Baik Bos.” Empat orang berlari ke pintu belakang, Danis pura-pura angkat tangan.
“Saya perintahkan untuk menyerah … saya hitung mundur 123!”
Tiba-tiba entah kenapa Juna tiba-tiba jatuh menabrak pintu, secara spontan polisi menembak Juna.
Dor! Dor!
“Ayo kita pergi dari sini.” Danis menarik tangan Okan membawanya berlari dari pintu belakang yang sudah diledakkan.
“Tapi bagaimana dengan Juna!” teriak Okan ia ingin menolong Juna. Tapi Danis melarang.
“Dengar … kalau kita tertangkap, siapa yang akan menyelamatkan Chelia, kita harus selamat,” ucap Danis.
Dor!
Polisi mengejar mereka sampai ke belakang, Okan melompat ke goat sementara Danis melompat ke semak-semak dan berlari
Dor- Dor!
Satu tembakan mengenai lengan kiri Danis, tapi ia berhasil melarikan diri, sementara Okan masuk ke dalam selokan yang hitam pekat.
Harvis tahu kalau Okan masuk selokan demi persahabatan, ia rela berkhianat pada rekan-rekannya.
“Dia tidak ada di sini , saya sudah menyisir goat, kalian cari disemak-semak,” ujar Harvis, ia membawa orang-orangnya menjauhi Okan agar ia bisa bebas.
Apakah Okan mampu menyelamatkan adiknya tanpa bantuan Leon?”
Bersambung.
__ADS_1
Kakak bantu, kasih like komen