
Okan berpikir lebih baik tidur di kantor, ia tidak ingin Fudo dan Shin merasa bersalah, berpikir gagal menjaga keselamatannya. Okan sadar ini kesalahanya sendiri, sebelumnya Shin sudah mengingatkannya agar hati-hati.
“Ok, baiklah kita ke sini saja dulu,” ujar Okan berjalan menuju ruangannya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti di bagian staf, ia melihat lampu masih menyala di ruangan tersebut. Ia berjalan mendekat, lalu ia terdiam, detik kemudian kedua sudut bibirnya saling bertarikan membentuk senyuman yang paling mempesona. Okan terlihat sangat tampan kalau ia tersenyum.
Ternyata ia melihat Luna tertidur di atas meja di depan laptopnya yang masih menyala, lelaki berbadan kekar itu menatap wajah gadis yang tertidur pulas di atas meja, meletakkan kepalanya diatas lengan yang saling bertumpu, dengkuran halus terdengar halus dari bibir Luna, Okan semakin tersenyum saat mendengar dengkuran halus Luna.
Baru kali ia merasa sangat bahagia bertemu dengan seseorang, karena ia merasa tidak sendirian. Okan mengambil ponselnya dan mengambil gambar Luna yang tertidur .
‘Sepertinya Bayu benar-benar membuatmu lelah’ ucap Okan dengan gerakan hati-hati ia menarik kursi dan duduk di sebelah Luna, melihat wanita itu tertidur , Okan merasa terpanggil untuk ikut tertidur, ia menarik kursi agar lebih dekat ke arah Luna, ia juga tiduran menggunakan satu lengan jadi bantal dan tangan yang terluka ia biarkan menggantung karena terasa sangat sakit.
Matanya menatap Luna yang masih tidur, tidak lama kemudian hujan turun semakin deras bercampur petir.
Saat ada petir lampu tiba-tiba mati, Luna terbangun dan kaget melihat ada orang lain disampingnya, tanpa sengaja memukul lengan Okan yang terluka dengan buku.
“Aau …auh tanganku.” Okan meringis kesakitan
“AAA siapa kamu!”teriak Luna mundur.
“Tenanglah ini Aku,” Okan ingin maju.
“Mundur, mundur jangan mendekat!” teriak gadis itu panik, lalu ia memberikan serangan yang mematikan ia menendang kedua biji Okan.
“OH sial jangan yang itu,” suara Okan tertahan karena kesakitan.
Tidak lama kemudian lampu menyala lagi, ditangan Luna sudah bolpoin dan satu gelas yang siap jadi senjata. Namun, ia tiba-tiba terdiam melihat lelaki yang tak asing meringkuk memegang bagian juniornya.
“Ha …? Pak Okan?”
Luna meletakkan termos kecil di atas meja, lalu ia jongkok dengan wajah panik karen lengan Okan berdarah bahkan darahnya menetes ke lantai.
“Lunaaa … kamu sialan. Kamu membuatku kesakitan,” ujar Okan masih menjepit anuhnya yang ditendang Luna.
“A-aku minta maaf Pak Okan, aku hanya ingin membela diri.”
__ADS_1
“Kalau anuku tidak berfungsi lagi kamu harus bertanggung jawab,” ujar Okan dengan suara tertahan.
“Maaf Pak Okan pasti burung bapak berfungsi lagi, kalau tidak bangun-bangun nanti kita bawa ke dokter, jadi bapak tenang saja,” ujar Luna.
“Oh, ini sakit sekali, Luna!” ujar Okan menahan sakit.
“Apa perlu saya ambil es batu, Pak?”
“Untuk apa?” tanya Okan.
“Untuk kompres burung bapak biar dia sadar kembali, bukannya bapak bilang dia pingsan?”
“Apa? Pingsan?”
Okan merasa lucu saat Luna menyebut burungnya pingsan.
‘Gadis yang lucu … dia pikir burung perkutut bisa pingsan’ ucap Okan dalam hati, ia masih menatap wajah Luna yang bingung melihatnya meringkuk.
“Lalu saya harus melakukan apa dong?”
“Bapak berdarah? Apa saya juga yang melakukannya?” tanya Luna panik, ia menatap kanan-kiri , tapi ia tidak menemukan benda tajam atau benda berbahaya lainnya di sana.
“Tenanglah, itu bukan karena kamu,” tutur Okan, matanya menatap wajah Luna dengan dalam, ia baru menyadari kalau Luna memiliki hidung yang mancung.
Luna menoleh, untuk sesaat mereka saling eye contact, Luna langsung mundur, ia membuat jarak dengan bosnya tersebut.
“Saya akan mengobati luka Bapak, tunggu sebentar.” Sebagai mantan perawat ia tahu apa yang harus ia lakukan, lalu ia berlari mengambil otak obat, Meminta Okan duduk di kursi lalu mengobatinya dengan tenang, Okan tidak tahu kalau Luna mantan perawat tapi cara dia memberi pengobatan padanya membuatnya yakin.
“Maaf ya pak, Aku tidak tahu kalau bapak sakit.”
“Kamu terlihat biasa saja saat melihatku terluka. Apa kamu tidak takut?”
“Untuk apa takut? Aku itu mantan perawat sebelum kecelakaan,” ujar Luna menunjukkan kakinya yang sakit. Luna sudah tahu kalau lelaki itu Okan Wardana jadi akan lebih berhati-hati saat bicara dengannya.
“Apa yang terjadi dengan kakimu?” tanya Okan, tatapan matanya tidak lepas dari wajah Luna.
__ADS_1
“Ditabrak penjahat,” ujar Luna.
“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini. Kamu tidak takut ada orang jahat datang menyakitimu?”
“ Saya sudah minta Pak Maman jaga pintu. Tadinya lembur sampai jam tujuh. Tapi hujan di luar, mobil Omku yang mau jemput terjebak macet, di tol ada truk yang terbalik,” ujar Luna, ia menatap luka di tangan Okan, ia tahu luka itu bekas tembakan.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Okan.
“Belum, Apa bapak mau saya masak mie instan?”
Okan jarang makanan cepat saji, tapi saat darurat seperti ini ia mau, setelah membereskan semua yang berserakan Luna mengajak Okan ke pantry di sana selalu disediakan makanan ringan dan mie instan untuk anak-anak kantor. Luna membuka kulkas bahannya masih lengkap, OB di kantor itu sangat rajin bahan-bahan makanan dalam kulkas selalu tersedia.
Luna memang dikenal jago masak karena itulah Sinar selalu meminta bawa bekal sama Luna karena masakan Luna enak, Luna mengolak makanan mie instan itu dengan sehat membuang rebusan pertama mie agar pengawetnya hilang dan tidak sakit perut saat makan. Okan terus mengawasi Luna memasak. Hingga akhirnya masakan itu tersaji dua bangkok di atas meja,
“Silahkan dimakan,” ucap Luna bersemangat, Okan menyantap dengan lahap, walau hanya mies intans tapi saat Luna yang masak ia bisa mengolah dengan jadi makanan yang nikmat .
“Ini enak bangat. Apa yang kamu tambahkan?” tanya Okan.
“Seperti biasa masak mie Pak, hanya saja saya menyajikan jadi menu yang sehat,”
Setelah selesai makan Okan dan Luna duduk menunggu hujan, lelaki berharap hujan semaki deras agar Luna bisa bersamanya satu malam itu. Malam sudah semakin larut ia merogok tasnya ingin menelepon.
“Apa kamu mau pulang?” tanya Okan.
“Ya ni, sudah malam.”
“Tinggallah bersamaku di sini,” ujar Okan.
“Apa?” Luna menatap wajah lelaki berotot itu, ia terlihat sangat sedih.
“Jangan salah paham, saya tidak akan melakukan apa-apa, Aku hanya butuh teman,”
“Maaf pak Okan, saya tidak bisa,” ujar Luna.
Tapi karena hujan semakin deras mobil Bimo juga masih terjebak di jalan, akhirnya ia bermalam dengan bosnya di kantor.
__ADS_1
Bersambung