
Dalam taxi kedua tentara tersebut menahan Stanley dan Billy, meminta Stanley menyerahkan simbol kode yang diberikan Dave, tangan masih mengarahkan pistol ke kepala salah satu oknum. Tidak terima komandannya di ancam, lelaki di samping Billy juga mengarahkan pistol ke kepala Billy.
“Kamu pikirkan lagi,” bujuk lelaki itu menatap Stanley, “Saya tidak ingin ada pertumpahan darah jika masih bisa dibicarakan, kalau kamu menolak kamu akan menyesal.” Ia mengancam Stanley, pria berwajah dingin tersebut masih bersikap tenang.
“Sekali aku bilang tidak, maka selamanya tidak.”
“Kalau begitu, kamu memaksaku melakukannya ….” Ia menatap bawahannya memberi kode perintah seketika ….
Dor!
“AAAH ….!”
Billy meringis kesakitan, ia memegang kaki kiri, mereka tidak menyakiti Stanley tetapi mengancamnya dengan menyakiti anak buahnya.
Supir taxi panik ingin kabur dari mobil, saat ia melihat mereka memiliki senjata berbahaya, dan parahnya lagi saling mengancam dan menembak. Mobil yang ia kendarai berhenti, ia sudah melepaskan sabuk pengaman, tiba-tiba suara barito bernada tegas membentaknya agar tetap disana
“Tetap di sini kami tentara, hanya ingin membawa mereka.”
“Baik Pak,” jawab lelaki itu dengan takut.
“Apa kalian ingin menekanku?” tanya Stanley saat tertakap seperti itu, ia tidak ingin para oknum mendapatkan ponsel miliknya, ia tidak ingin mereka melihat data-data dalam ponsel Stanley. Lelaki itu memikirkan cara untuk menyembunyikan ponsel, ia pura-pura menggeser tubuhnya dengan cepat tangannya merogoh saku mendapatkan ponsel menekan panel tanda of dengan lama, tidak lama kemudian ponsel mati. Lalu menjatuhkan ponsel ke arah kaki, sebelumnya sudah membuka sepatu , menjepit benda pipih itu dengan jari menyembunyikannya di bawah Jok.
“Kita berhenti depan,” ucap lelaki itu .
Taxi berhenti di sebuah belakang mobil yang berhenti, sementara Billy masih meringis kesakitan, satu timah panas masih bersemayam di kaki, mereka berdua digiring ke sebuah mobil tentara. Dibawah ke sebuah banker, luka di kaki Billy akhirnya diobati. Namun Stanley tidak mengatakan apa-apa.
“Katakan di mana kode tersebut?”
“Kalau kamu menginginkannya ambil saja sama ketua,” ucap Stanley, wajah mulai terlihat sangat kesal.
__ADS_1
“Kalau ada sama dia, lelaki itu tidak mungkin ingin melenyapkan mu.”
“Justru karena dia sudah tau, aku tidak lagi dibutuhkan,” ucap Stanley.
“Berikan ponselmu.” salah satu tentara memeriksa kantung celana jaket, namun, tidak menemukan ponsel Stanley.
“Saya juga tidak tau, mungkin pas turun tadi saya menjatuhkan tidak sengagaja,” ucap Stanley.
Untuk mendapatkan ponsel milik Stanley lelaki itu meminta anak buahnya terjun ke lokasi.
“Aku tidak tahu apa yang anda inginkan dari ponsel milikku, tetapi percayalah kamu tidak akan mendapatkan apa-apa di sana.”
“Baiklah, kalau kamu yakin di sana tidak ada apa-apa, tapi saya yakin di kepalamu pasti mengingat simbol itu bukan?”
“Aku sudah katakan, aku sudah memberikannya pada lelaki itu.”
“Kamu membuatku kehabisan kesabaran Bung, aku tunggu waktu untuk kamu satu jam untuk memberitahukan semuanya ini demi kebaikan kita semua,” ucapnya lagi.
“Itu sama saja kamu mencari masalah dalam kesatuan anda, lelaki itu akan mengirim pasukannya untuk memburuku, apa kamu sudah siap berperang?”
Lelaki bertubuh gemuk itu tidak percaya, ia menahan Stanley di dalam satu ruangan dan Billy di ruangan yang berbeda. Ia sudah tahu kalau ketua akan mengirim pasukannya untuk menghabisinya dengan Billy. Tidak butuh berapa jam, suara tembakan terdengar di luar banker.
Stanley ternyata mempunya tehnik melepaskan diri dari borgol, ia merusak kunci saat pasukan itu saling menembak, kesempatan itu mereka gunakan untuk melarikan diri dari sana.
“Pergilah Bos, tinggalkan saja saya, yang mereka incar adalah Bos, aku tidak mau terhalang karena aku.”
“Kita akan pergi bersama-sama,” ucap Stanley, melihat ada motor terparkir, ia mendekati ia menarik kabel dan menyatukan antara beberapa elemen, motor tersebut langsung menyala. Ia mambantu Billy dan menabrak pagar pembatas di belakang gedung tersebut dan motor model cros tersebut menerjang kebun dan mereka berhasil kabur, walau ia harus mendapat luka-luka di sekujur tubuh. Tetapi kali ini ia selamat lagi.
Stanley melaju jauh dan meninggalkan tempat tersebut, sementara di tempat Stanley ditahan tadi, masih terjadi pertempuran antara tentara dan anak gangster suruhan Ketua. Apa yang dikatakan Stanley benar, meraka akan banyak yang terluka sebab para penjahat itu sudah memakai senjata yang jauh lebih canggih dari mereka, melihat mereka kalah jumlah dan anak buahnya terluka.
__ADS_1
“Aku sudah bilang kamu tidak percaya, tanggung lah sendiri,” gumam saat ambulance berpapasan dengan mereka.
Menyadari Stanley melarikan diri, mereka mengejar, aksi kejar-kejaran terjadi, Stanley mengarahkan motor ke gang yang tidak bisa dilewati mobil dan penjahat yang mengejar mereka akhirnya berhenti dan mereka akhirnya selamat lagi.
“Kita kemana Bos?”
“Kita akan ke apartemenku, kita butuh banyak senjata untuk menghabisi para keparat ini,” ucap Stanley sangat marah.
Ia semakin marah saat Luna mengirim pesan kalau ada dua orang yang mengikuti mereka beberapa hari ini, ia tidak ingin kehidupan adik kesayangannya terusik .
Stanley berencana menghabisi orang suruhan Ketua, mengantar Billy ke sebuah klinik pengobatan, lalu setelah malam tiba, ia pergi mencari anak buah ketua ke sebuah Bar.
Ia sudah tahu kalau mereka akan di sana, untuk melakukan transaksi, Stanley tahu karena ia dulu mantan dari sana, bahkan semua pekerja bar mengenal Stanley, dengan sorot mata yang tajam penuh dendam ia mematikan CCTV lalu masuk sebuah ruangan pertemuan. Tanpa pikir panjang ia masuk lalu menembak semua orang yang sedang bertransaksi di ruangan itu.
Tidak pandang bulu senjata laras panjang tipe 6-34T menumbangkan mereka semua.
“Tolong,” lirih salah satu dari anak buah ketua.
“Katakan, di mana adikku lalu aku akan memberimu kesempatan,” ujar Stanley dengan tangan terkepal kuat menahan amarah.
“Bos tidak pernah menculik adikmu,” ucapnya dengan terbata-bata luka tembakan yang Stanley
“Lalu, siapa yang melakukannya?”
“Aku tidak tahu,” ucapnya kemudian tewas.
Setelah menghabisi semua anak buah ketua, ia mengambil ponsel salah satu dari mereka, Stanley memasukkan senjata itu kembali ke dalam tas penyimpanan, lalu menentengnya di punggung sekilas terlihat seperti seorang sniper yang berhasil melaksanakan misi. Ia keluar dari bar dan berkendara menuju sebuah bar terbesar di Jakarta Selatan, saat ia tiba mengawasi dan mengecek ponsel milik anak buah Ketua, tidak lama kemudian sebuah transaksi terjadi di parkiran, ia tidak ingin menunggu lama, Stanley melenyapkan semua.
Bersambung
__ADS_1
Kakak tolong bantu, dukung karya ini ya dengan cara masukkan ke dalam rak buku, berikan juga like, komen di setiap Bab dan berikan hadiah jika kalian berkenan terimakasih banyak.