
Setelah melakukan aktivitas panas, Shopia berdiri, ia mengajak Stanley untuk mandi bersama.
“Apa kamu mau mandi bersama?”tanya Shopia, ia memungut pakaiannya yang berserak.
“Tidak perlu, kamu saja.” Stanley mengantisipasi keadaan, ia menarik beberapa lembar tissu sebagai pengganti air.
Saat Shopia masuk ke kamar mandi, Billy datang menghampiri Stanley.
“Apa kamu mendapatkannya?”
“Aku tidak menemukan apa-apa, tapi ada beberapa berkas, aku sudah memfoto semuanya.”
“Bagus, kita harus segera keluar dari sini, aku merasa tidak tenang.”
Saat mereka sibuk di balkon dengan Shopia, ternyata Billy sibuk membongkar barang pribadi Shopia, ia mencari tahu keterlibatan wanita itu dengan Jhony, sebelum Shopia keluar darii kamar mandi Stanley memasukkan sebuah pil pencegah kehamilan ke minuman Shopia.
“Untuk berjaga-jaga, aku tidak ingin dia merepotkan di kemudian hari,” ucap Stanley.
Walau Stanley membuang benihnya di luar, ia tidak ingin wanita itu menutupinya jika suatu saat ia hamil, tidak lama kemudian wanita itu keluar dari kamar mandi melilitkan handuk di atas dada.
Stanley masih saja bersikap cuek padanya walau baru saja mereka saling berbagi air liur. Rupanya hal itu tidak lantas membuat Stanley jadi jinak.
Ia menyodorkan wine ke Shopia, tanpa pikir panjang wanita menyeruput sampai habis, itu artinya tidak akan ada benih Stanley di rahim Shopia.
“ Bagaimana kalau kita pesan Pizza untuk mengisi perut,” ujar Shopia, ia berjalan ke kamarnya dan berpakaian di sana tanpa menutup pintu, kedua pria itu bisa melihatnya dengan jelas berganti berpakaian.
“Aku sih belum lapar,” jawab Billy.
“Bagaimana dengan kamu Beb?” Ia melirik Stanley.
“Tidak, kami harus pergi dari sini, sepertinya mereka menemukan keberadaan kami,” ucap Stanley, ia menatap layar ponsel.
“Bagaimana kita keluar dari sini?” Billy ikut panik.
“Tapi itu tidak mungkin, tidak ada yang tahu tempat ini,” ucap Shopia, ia berharap kedua lelaki itu tidak meninggalkannya
“Kita pergi sebelum mereka datang.” Stanley berdiri diikuti Billy.
__ADS_1
“Tapi kalian kan bisa bersembunyi di sini, aku tidak akan memberitahu mereka,” ujar Shopia.
“Kami tidak ingin kamu terlibat dalam masalah kami Nona, terimakasih hari indah ini,” ujar Stanley, ia berjalan menuju pintu mengintip keadaan di luar .
“Aku berharap kalian berdua tetap di sini menemaniku,” bujuk Shopia dengan tatapan memelas, namun, Stanley tidak menggubris.
“Nanti kita akan bertemu lagi Mbak.” Billy menenangkan Shopia,”situasinya sangat berbahaya , kami tidak tahu siapa yang mengejar kami kali ini,” ucap Billy lagi, sementara Stanley sudah jalan duluan ke arah pintu.
“Tunggu …!” Ia berlari kecil ke arah Stanley memeluk leher lelaki itu dan mendaratkan bibirnya di bibir Stanley, “kita masih bertemu lagi kan?”
“Ya. Mudah- mudahan,” ucap Stanley.
Lalu mereka meninggalkan apartemen Shopia pura-pura berjalan, tetapi tidak lama kemudian Stanley dan Billy kembali ke atas dan bersembunyi di balik tembok menunggu siapa yang akan datang ke apartemen Shopia. Tidak lama kemudian seorang pria memakai jaket hody masuk keruangan Shopia.
“Siapa dia?” tanya Billy.
“Saya juga tidak tahu,” jawab Stanley.
Tidak lama kemudian lelaki itu keluar bersama, Stanley dan Billy masih diam di sana menunggu sampai mereka benar-benar keluar.
“Tunggu di sini aku akan masuk,” ucap Stanley, wajah Billy terkejut.
“Aku meninggalkan ponselku di dalam.
“AAA …??” Billy kaget dengan aksi nekat sang bos.
“Berikan aku ponselmu, aku lupa meletakkannya di mana, aku harus menemukannya dengan cepat sebelum mereka menemukannya, aku punya banyak file rahasia di sana.”
Dengan wajah panik Billy memberikannya, ia melihat kanan kiri, Stanley melihat Shopia memasukkan password pintu apartemennya, saat wanita itu keluar, ia menyelinap masuk mengambil ponselnya yang ia sembunyikan di balik vas bunga, ia merekam semua yang terjadi di sana selama mereka pergi. Ia juga membuka ponsel Billy lalu memindahkan semua file ke ponselnya.
Tidak berapa lama ia keluar dari sana, wajah Billy benar-benar takut.
“Aku menemukannya, kita harus pergi dari sini,” ucap Stanley.
“Ah.” Lelaki itu menghela napas lega.
“Kita turun menggunakan tangga saja, aku takut mereka menunggu kita di dekat lift, aku akan menggendong turun tangga,” ucap Stanley.
__ADS_1
“Ta-ta-tapi Bos … aku bisa jalan sendiri.” Billy menolak.
“Tidak apa- apa, kamu tidak boleh terluka, kamu sudah seperti adik bagiku, kita akan tetap saling menjaga,” ucap Stanley.
Karena kaki Billy masih sakit, tidak mungkin berjalan menuruni tangga, jadi Stanley menggendong laki-laki itu di punggungnya, berjalan menyusuri tangga.
“Bos … sebenarnya apa yang diinginkan semua orang darimu, kenapa ada banyak yang mengincar Bos, apa yan mereka inginkan?”
“Simbol yang aku miliki.”
“Sebelum menghilang beberapa tahun yang lalu kakak laki-laki saya mengirim sebuah simbol berbentuk kode yang aku yakini menunjuk sebuah tempat.”
“Apa Bos sudah menemukannya?”
“Menurut kamu, apa aku sudah mendapatkannya?” Stanley malah balik bertanya.
“Menurutku belum Bos,” jawab Billy menebak-nebak.
Stanley tidak menjelaskan apa ia sudah memecahkan simbol itu atau belum, Stanley mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain , ia tidak ingin membahas tentang rahasia yang diberikan Dave.
Setelah menuruni beberapa lantai akhirnya mereka tiba di lantai dasar.
Mereka mengawasi sekeliling sebelum keluar dari sana, melihat ada taxi yang sedang berhenti Stanley kembali memapah Billy untuk masuk, ruang gerak Stanley jadi terbatas karena ia harus membantu Billy. Saat duduk dua orang dari pintu samping tiba-tiba datang, dua orang lelaki berseragam masuk dan memepet tubuh mereka.
Billy kaget, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa, Stanley bersikap tenang walau dalam keadaan terdesak sekalipun, sebagai seorang yang sudah terlatih Stanley dengan cepat menyembunyikan ponsel miliknya, ia berpura-pura menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri tetapi satu tangan mengambil pistol dari pinggang komandan tentara tersebut, sementara supir masih diam menunggu empat penumpangnya yang tiba-tiba saling berdesakan. Lelaki itu berpikir mereka rebutan naik duluan. Namun, setelah ia melihat Stanley balik menodongkan pistol pada lelaki disampingnya.
Pak supir baru paham kalau mereka bukan rebutan kursi, melainkan rebutan nyawa.
“Aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama Pak Asta Stanley, saya ingin melindungi mu dari buruan penguasa,” ucap oknum berseragam tersebut.
“Saya tidak butuh bantuan siapapun, saya bisa menyelamatkan diriku sendiri,” balas Stanley dengan gayanya yang coll.
“Saya ingin membantu memecahkan kode tersebut.”
“Saya tidak tahu kode apa yang anda maksud Pak, tapi, maaf saya sumpek dalam mobil ini, saya ingin keluar.”
“Itu kode rahasia yang sangat penting yang bisa menghancurkan penguasa dan para koleganya.”
__ADS_1
“Maaf saya tidak tahu dari mana anda mendapatkan kabar tersebut,” ucap Stanley, ia menolak memberitahukan dan menolak ajakan kerja sama dengan mereka. Justru ia merasa ada sesuatu yang sangat berharga di balik kode rahasia yang diberikan sang kakak.
Bersambung