
Mereka menari mengelilingi lelaki tampan yang terluka parah itu dengan irama hu, hu, ha, ha dan menghentak-hentakkan hujur atau tombak runcing itu ke atas tanah, tarian ‘Sakimene’ atau tarian kemenangan karena berhasil menangkap musuh, saat Okan ingin berdiri sebuah tombak menghujam pangkal pahanya lagi.
“AAAAW”
Okan kesakitan darah segar memenuhi wajah dan tubuhnya, kekuatan dan senjata milik Okan tidak ada apa-apanya dibanding jumlah mereka, semakin ia bergerak semakin ia hajar dengan benda tajam dan balok, diam hal yang tepat.
‘Apa ini nyata? Jadi apa yang dikatakan ayah benar?’ Okan hanya bisa pasrah.
Setelah Okan disiksa, saat ia tidak berdaya tangannya diikat saling menyatu dan kaki juga demikian, lalu ia dibawa dengan cara diangkat pakai kayu seperti mengangkat binatang yang akan disembelih, ia dibawa ke sebuah tempat di tengah hutan, di dekat pohon besar sudah ada perapian seperti sedang mengadakan perayaan. Beberapa laki-laki menggunakan aksesoris bulu burung dan wajah diberi, coretan melakukan tarian-tarian pemanggil roh, tidak lama kemudian sebuah tunggu api menyala.
Lelaki angkuh dan keras kepala itu hanya bisa meringis menahan sakit atas luka di tubuhnya, matanya sudah sudah mulai sayup, tidak lama kemudian tubuh Okan diikat di dekat perapian.
“Apa benar Aku akan mati,” gumam Okan pelan.
Bayangan tentang Leon memberikan nasihat tadi siang melintas di benaknya.
“Ah sial, aku akan mati ,” gumamnya pelan.
Saat panas api sudah mulai membakar tubuhnya.
Dor!
Dor!
Sebuah tembakan beruntun menembak manusia-manusia yang sedang menari itu, tidak lama kemudian sebuah tangan kokoh mengangkat tubuh Okan, ia tahu bau dari lelaki itu dia adalah Leon.
Leon berlari membawa Okan menjauh dari sana, dibantu beberapa orang anak buah kepercayaannya, setelah mereka terkapar Leon dengan cepat membawa ke dalam helikopter diikuti anak buahnya. Lalu terbang, Okan sudah tidak sadarkan diri lagi, ia mengeluarkan banyak darah. Dalam helikopter itu, Leon memberi pertolongan padanya, ia mencabut anak panah itu dan menutup luka dengan ramuan, membuka mulut Okan memasukkan cairan dari botol kecil mulut Okan.
“Bagaimana Bos?” tanya Toni dengan wajah khawatir.
“Jangan khawatir dia akan selamat,”sahut Leon dengan tenang.
“Bos … apa ini tidak terlalu berbahaya?”
“Tidak, agar dia tahu apa yang saya ceritakan padanya bukan bualan semata,” ujar Leon.
Okan akhir merasakan apa yang pernah dialami Leon dulu.
__ADS_1
Terkadang diperingatkan dengan ucapan dan nasehat tapi masih diabaikan, Leon akhirnya membiarkannya merasakan bagaimana rasanya ditangkap dan siksa musuh.
“Bos, kita akan membawa pulang.”
“Tidak, tidak tinggalkan dia di hutan.”
“Bagaimana kalau dia tidak bisa bertahan Bos?”
“Biarkan saja, serahkan dia pada ketua.”
Toni dan Ken saling melihat, tidak menduga kalau Leon akan memberi Okan pelajaran seberat itu, mereka membawa Okan rumah ketua suku, awalnya lelaki itu menolak karena Leon sudah memutuskan tidak menjadi putra pilihan lagi. Namun saat memperlihatkan simbol tato Okan, mereka tidak bisa menolak.
“Baiklah saya akan merawatnya sampai sembuh,” ujar lelaki pemilik tato terbanyak tersebut, karena setiap satu ukiran tato bukti satu keberhasilan.
“Jangan biarkan kalau saya yang menyelamatkannya, Tuan,” mohon Leon dengan hormat.
“Baiklah, itu artinya kamu meminta kami melatih putramu?”
Leon hanya mengangguk dengan kepala selalu menunduk karena ia punya salah, ia memutuskan hubungan dengan sukunya demi keluarganya. Ia bagai kacang yang lupa akan kulitnya, di masa lalu ketua adat itulah yang beberapa kali menyelamatkan nyawanya saat ia nyaris mati karena dibantai musuh. Namun setelah mereka punya anak Hara meminta Leon meninggalkan semua yang berhubungan dengan masa lalu salah satunya meninggalkan agama lama Leon , ia tidak pernah lagi melakukan ritual penyembelihan sebagai wujud doa dalam agama mereka. Tapi kini Leon seolah-olah mendapat karma atas perbuatannya, Okan menyeretnya kembali pulang ke sukunya.
*
Bram akhirnya mendapatkan penghianat di lingkungan anak buahnya, ia membawanya ke gudang dan mengikat dengan cara tangan ke atas.
Tidak mau mengaku, Leon yang sudah dilanda kemarahan menghajar penghianat itu dengan tangannya sendiri, ia meraih sarung tinju miliknya, sarung tinju itu bahkan sudah lama tidak ia gunakan. Menjadikan lelaki itu jadi saksak tinju dan mengejarnya sampai wajahnya hancur dan muntah darah, saat pukulan terakhir, ia tidak berkutik lagi. Leon memukul tepat di ulu hati dan ia modar seketika.
“Singkirkan bajingan ini. Dengarkan saya! Siapa yang berani melakukan ini lagi saya akan mencincang tubuhnya!” seru Leon dengan wajah menghitam.
Puas melampiaskan kemarahannya ia kembali ke rumah untuk menemui istrinya.
“Bagaimana dengan Okan?” tanya Hara, setelah Leon kembali dari Kalimantan.
Leon menghela napas, ia tidak ingin marah pada Hara lalu menatap istrinya dengan tatapan lembut.
“Biarkan saja, dia ingin mandiri.”
“Kamu meninggalkannya di mana? Jangan bilang kamu meninggalkannya di tengah hutan itu.” Hara menatap Leon dengan wajah serius insting seorang ibu selalu benar, beberapa detik kemudian ia menutup mulutnya dengan satu tangan. “Kamu benar meninggalkannya di rumahmu yang di hutan itu?”
__ADS_1
Hara melotot tidak percaya.
“Itu pilihannya Bu?”
“Bagaimana kalau dia tidak bisa selamat?”
“Mulai hari ini dia akan belajar menyelamatkan hidupnya sendiri , tanpa kita melakukannya itu pun hidupnya dalam bahaya.” ketus Leon.
“Lalu apa?”
“Biarkan saja, kalau dia memang bisa melewati rintangan itu dan selamat, maka dia masih ditakdirkan untuk hidup. Kalau dia tidak bisa mengatasi rintangan itu, maka ikhlaskan saja, dia yang menginginkannya,” ujar Leon dengan wajah datar.
Ibu yang mana rela anaknya dalam bahaya, namun melihat kemarahan wajah Leon yang sangat marah, maka Hara memilih diam
Di sisi lain.
Okan terbangun dari tidur panjangnya, matanya menatap sekeliling .
“Dimana Aku?” tanya Okan saat melihat rumah beralaskan rumput kering dan kulit kayu.
Otaknya terus mengingat, hingga sebuah potongan kejadian saat ia mendapat hujaman tombak di kaki dan di pundak, tangan kirinya meraba perut yang terkena busur panah.
“Oh sial, ini sangat sakit,” ujar lelaki itu sembari meraba perutnya yang diberi obat ramuan untuk menutup lukanya di bagian perut.
“Apa kamu sudah bangun?” Seorang pria tua masuk ke dalam bilik.
“Siapa kamu?”
“Jangan banyak bergerak anak muda, racun di tubuhmu masih ada, tetaplah rebahan agar obatnya bekerja. Kamu sama seperti ayahmu, manusia sembilan nyawa.”
“Apa kakek mengenal ayahku?”
“Ya, tato di tubuhmu, Naga nama yang kami berikan padanya.”
“Lalu dimana ayahku? Bukannya dia menyelamatkanku?
”Aku yang menyelamatkanmu. Dalam ujian pertamamu kamu gagal, itu artinya waktunya diperpanjang lagi. Kamu akan tinggal di hutan ini-”
__ADS_1
“A-apa?” Okan panik.
Bersambung