
Setelah mengantar Okan untuk menginap di kantornya, ia masih duduk di di seberang kantor Okan, Stanley duduk di cafe sembari menikmati segelas kopi panas, ia bisa melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Stanley selalu menggunakan penyamaran untuk keluar karena bos penjahat mengincar dirinya.
“Apa dia beneran akan tidur di sana?’ tanya Stanley, ia khawatir dengan luka di tangan Okan.
Lelaki yang mengenakan topi hoodie itu bertarung dengan pikirannya sendiri.
“Apa Aku minta ijin ke penjaga gedung itu, lalu naik ke atas sekedar menemani Okan minum kopi?” Stanley masih memainkan sendok dalam gelas kopi, ia terus mengaduk-aduk kopi hitam itu berulang kali, ia berpikir untuk menemani Okan di ruangannya,
“Ah, dia pria hebat, nanti juga dia meminta anak buahnya menjemputnya naik heli,” menyeruput kopi dalam gelasnya sampai habis, lalu meninggalkan cafe.
Andai saja Stanley ikut menemani Okan ke ruangannya, ia pasti sudah bertemu adik perempuanya yang sudah lama ia cari. Namun, lelaki berkumis itu tidak melakukannya. Ia menyetir ke sebuah cafe ia ingin membalas penjahat yang bernama Jhon yang menjebaknya masuk penjara.
Seorang pria bermanik hitam pekat, matanya dipenuhi dengan awan gelap, seolah - olah ingin mengeluarkan kilatan petir dari sorot matanya yang tajam. Tidak lama kemudian
Stanley menyelipkan dua pistol di pinggangnya dan masuk ke sebuah bar.
Dalam ruangan private room, tampak seorang pria dengan rambut dikuncir kuda sedang bersenang-senang, ia memangku gadis seksi yang menemaninya minum.
Door …!
Door…!
Dua orang pria berkepala plontos yang bertugas menjaga pintu terkapar bersimbah darah, lalu Stanley masuk.
“Halo Jhon, apa kabar,” ucapnya sembari duduk di depan pria yang bernama Jhon.
“Oh … Asta Stanley, kamu sudah bebas dari penjaraha rupanya Bung, aku pikir kamu akan membusuk di sana selamanya. Ha, Ha.” Ia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Tertawalah Bro, selagi kamu masih bisa tertawa.”
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Jhon kemudian, melihat anak buahnya terkapar, mental pria itu seketika menciut, ia masih sayang dengan nyawa sendiri, berbeda dengan lelaki di depannya, pria dingin yang tidak mengenal rasa takut dan tidak punya hati.
Kerasnya hidup penjara telah mengubah hidup Stanley, ia sudah bolak -balik masuk penjara, nyawa tidak ada arti baginya, entah berapa nyawa yang sudah sudah ia lenyapkan di penjara untuk bertahan hidup.
“Aku harap kamu tidak lupa dengan janji kita Bung, kamu menghianatiku dan menjebak ku Bung, aku ingin menagih janjimu, berikan aku informasi tentang Bosmu,” ujar Stanley.
Stanley memberikan kertas itu ke hadapannya, melihat hal itu, wajah Jhon langsung berubah, terlihat jelas ada ketakutan di wajahnya, “ saya tidak mengenalnya, saat itu saya hanya diminta meneleponmu untuk datang ke rumah Dave,” kilah lelaki yang bernama Jhon tersebut.
Ia kaki tangan dari bos penjahat Black Moon, lelaki itulah yang memerintahkan Chelia dan Luna untuk diculik. Jhon musuh Stanley dan Okan.
“Come on Bung, berhentilah berbohong,” ucap Stanley masih menahan diri.
“Tidak tau,”bantah Jhon.
“Aku akan membongkar semuanya pada polisi,” ancam Stanley.
Dengan marah ia mendorong kedua wanita itu dengan kekuatan tangannya, dan tubuh mereka berdua terhempas ke sisi meja, lalu Stanley berlari mengejar Jhon.
Saat ingin turun, dua orang berbadan besar anak buah jhon memukulnya dengan tinju kuat, tepat mengenai wajahnya, Stanley yang ahli dalam bela diri melawan mereka dengan tangan kosong, lalu mematahkan tangan salah seorang dari mereka, perkelahian di satu club malam sudah hal biasa, saat mereka saling baku hantam , orang-orang dalam bar, hanya menghindar lalu kembali berjoget mengikuti alunan musik.
Tidak lama kemudian terdengar suara tembakan dari pintu masuk.
“Semuanya diam, ini polisi!” teriak seorang pria berbadan tegap memakai jaket kulit, pria itu mengarahkan moncong pistol ke atas.
Dor! Dor!
__ADS_1
Terdengar suara tembakan membuat musik dalam ruangan itu seketika berhenti, semua orang diminta duduk berjongkok.
Polisi sudah mengepung tempat tersebut, tidak ingin masuk penjara lagi, Stanley mencari akal untuk lepas dari penangkapan polisi, ia melompat dari jendela kaca dan terjatuh ke bawah, beruntung ia terlempar ke depan mobil seorang gadis cantik, ia membantu Stanley masuk ke mobilnya lalu melarikan diri dari bar. Mobil melaju membelah jalanan ibu kota, saat sedang berkendara wanita yang berpakaian minim itu menyodorkan tangan. Stanley terdiam, ia tahu kalau wanita cantik itu kekasih Jhon.
‘Um … kamu juga akan tahu bagaimana rasanya dikhianati’ ucap Stanley menatap wanita cantik di depannya. Ia akan mengajak wanita itu tidur agar penjahat itu tahu bagaimana rasanya dikhianati.
“Hai, gue Shopia,” ucap wanita seksi itu menyodorkan tangan.
“Hai … Stanley,” ucapnya dengan tersenyum kecil sembari mengedipkan sebelah mata, lalu Stanley sengaja melepaskan jaket hoodie miliknya karena kebetulan basah juga karena Jhon mendorong dua wanita yang memegang minuman tadi.
Gadis yang bernama sophia itu langsung menggigit bibir bawahnya saat melihat badan sixpack Stanley di tambah lagi tato yang menghiasi tubuhnya yang berotot.
“Macho,” ujar kekasih Jhon itu, dengan tatapan menggoda.
‘Kena kau’ ucap Stanley ia tersenyum licik saat wanita itu masuk dalam perangkapnya.
**
Saat Stanley bertarung mengejar penjahat yang menghianatinya malam itu. Maka di tempat yang berbeda di waktu yang bersamaan. Okan bertarung dalam game dengan karyawannya. Gadis muda yang selalu membuat suasana hatinya baik setiap kali bersama Luna , Okan merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Sebab hanya bersama gadis muda itulah ia bisa tampil apa adanya melakukan apapun tanpa ada beban.
“Tapi kalau bapak mau menyerah sih tidak apa-apa. Ayo kita akhiri disini,” ucap Luna menutup mulut menahan tawa, melihat wajah bosnya penuh dengan coretan lipstik dan rambut dikuncir di mana-mana, diam-diam Luna mengambil gambar Okan dengan diam-diam.
“Saya bukan orang yang mudah menyerah Luna, saya harus bisa mengalahkanmu. Saya tidak pernah menerima kekalahan dengan muda,” ujar Okan, menatap papan permainan di depannya dengan wajah serius, mereka berdua duduk di lantai beralaskan kardus.
“Tapi ini sudah jam satu Pak. Apa bapak mau saya buatkan kopi lagi?” tanya Luna.
“Ya, boleh, boleh,” ujar Okan masih menatap papan game, ia memikirkan cara bagaimana mengalahkan Luna dalam game tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua menghabiskan malam bersama dengan cara mereka sendiri, bermain segala macam game. Siapa yang kalah akan dicoret wajahnya menggunakan lipstik dan apesnya Okan yang selalu kalah, alhasil wajah tampannya penuh dengan coretan berwarna merah, diam-diam Luna mengambil foto Okan dengan wajah penuh coretan merah .
Bersambung