Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Terluka


__ADS_3

Okan dan Stanley masih berjuang  keras agar bisa bebas dari kejaran penjahat tersebut, Okan  tidak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu,  mereka berdua sudah sepakat tidak ingin  berurusan sama polisi. Jadi untuk saat jalan terbaik melarikan diri.


Namun saat  tiba di parkiran tanpa diduga.


Dor!


Sebuah tembakan mengenai lengan Okan, Stanley dengan cepat berlari ke dalam mobil miliknya.


“Masuk, Masuk!” teriak lelaki itu.


Membuka pintu mobil depan dan Okan masuk ke dalam. Stanley langsung tancap gas meninggalkan apartemennya.


“Sial!Aku tertembak,” ujar Okan menahan luka di tangannya.


“Apa kamu masih kuat?” tanya Stanley, lelaki bertato itu sangat khawatir, ia sudah tahu siapa Okan sebenarnya jadi tak ada niat untuk macam-macam lagi pada Okan. Karena Toni sudah pernah memperingatkannya jangan memanfaatkan Okan. Stanley juga tidak ingin berurusan dengan Leon.


“Jangan khawatir hanya luka  kecil,” Okan menarik beberapa lembar tissu dan menahan luka di tangannya agar tidak banyak kehilangan darah.


“Bertahan Bro, Aku akan membawamu ke dokter,” ujar Okan, ia memutar balik kendaraannya  mencari klik .


“Sebaiknya kita ke klinik saja,” usul Okan.


“Ya, kamu benar, mereka pasti sudah tahu kamu terluka.”


Stanley  membawa Okan ke sebuah klinik,  bukan ke rumah sakit untuk mengantisipasi anak buah  Ketua menyisir rumah sakit di sekitar apartemen.


Saat mereka tiba tatapan dokter itu takut melihat wajah Stanley, ditambah tato yang memenuhi tubuhnya.


‘Perampok , penjahat kalau tidak begal’ itulah yang dipikirkan dokter tersebut. Bukannya memberi tindakan pengobatan, mereka hanya berdiri menyelidiki penampilan Stanley. Lelaki itu kebetulan  hanya mengenakan singlet  berwarna putih, memperlihatkan seni ukur di tubuhnya. Tubuh Okan juga sebenarnya dipenuhi tato, hanya saja tertutup dengan pakaian.


Dokter wanita yang masih muda itu menolak menangani Okan, ia membuat banyak alasan meminta Stanley membawa Okan ke rumah sakit  yang lebih besar,  dokter dan kedua perawat tampak ketakutan melihat Stanley memiliki pistol di pinggang , kecurigaan  dokter itu semakin terbukti kalau  mereka kumpulan perampok. Ia tidak tahu kalau kedua orang itu lebih dari perampok. Okan dan Stanley dua mafia yang sukses merajai bisnis gelap.


“Tenang Dokter …  kami tidak membunuh wanita cantik seperti kamu, kami hanya meminta agar Dokter  merawat rekanku sebelum dia mati kehabisan darah,” tutur Stanley dengan tenang, tetapi dibalik sikap tenang itu sebenarnya ia sudah sangat marah, ia meletakkan pistol di atas meja kasir.

__ADS_1


“Sa-saya tidak punya alat,” ujar wanita itu  ketakutan, jelas sekali terlihat kalau ia berbohong.


“Klinik kalau tidak ada alat-alat kesehatan atau peralatan rumah sakit, itu namanya bukan klinik Dokter … tapi warteg,” ucap Stanley geram, ia menyisihkan jaketnya dan memperlihatkan pistol yang lain di pinggangnya,  seolah-olah ia ingin mengatakan kalau ia punya benda berbahaya dan  meminta mereka menuruti semua permintaannya.


“Baiklah,  saya akan menangani dia, bisa tolong keluar??” tawar wanita itu meminta Stanley keluar dari kliniknya.


“Tidak, saya tetap di sini. Dengar …! Tidak ada yang boleh menelepon polisi.” Stanley menatap tajam pada kedua perawat.


Mereka hanya mengangguk, wajah mereka semua ketakutan.


“Setelah dokter memberi penanganan padanya, barulah kami keluar ,” ancam Stanley pada dokter dan kedua perawat,  Okan hanya diam  tenang dan santai.


Stanley duduk di kursi menatap salah seorang perawat. Tapi, bukan karena ia cantik,  itu karena  bayangan adik perempuan mengingatkannya pada wanita yang berdiri di samping dokter, bayangan adiknya tiba-tiba melintas di benaknya saat itu Luna baru lulus dari sekolah perawat. Sikapnya yang selalu ceria dan jahil selalu membuat semua orang terhibur dengan tingkahnya.


“Kakak Aku jadi perawat!” teriak Luna memegang jarum  suntik mengarahkan pada Stanley, ia lari ketakutan, Luna tertawa ceria.


‘Lun, kamu di mana?’ tanya Stanley menghela napas dadanya terasa sesak setiap kali ia memikirkan adik perempuannya. Bagi Stanley hanya  Luna lah keluarga satu-satunya yang ia miliki, kedua orang tua mereka sudah meninggal dan Dave saudaranya juga sudah meninggal.


Saat Stanley melamun, suara dokter membangunkannya


“Baik, Dok.”


Wanita berseragam perawat itu kesal saat menyadari Stanley melihatnya dengan penuh penyidikan, ia tidak tahu,  kalau Stanley  membayangkan adik perempuanya, bukan melihatin dirinya.


Setelah berhasil mengeluarkan serpihan peluru dari lengan Okan, Tidak perlu menunggu lama Stanley ingin membawanya keluar dari sana.


“Biarkan saja dia istirahat sebentar lagi,” ujar dokter, dari wajahnya Stanley tahu kalau dokter itu akan menghubungi polisi.


“Kalau kamu menelepon polisi aku akan membakar tempat ini, jadi, matikan teleponnya,” ucap Stanley, ia mengajak Okan keluar.


“Kalian belum tahu apa yang terjadi, jangan sok telepon polisi, Kami yang korban.”  ketus Stanley kesal, melihat wanita yang masih berusa menghubungi polisi, ia mengajak Okan pulang.


“Untungnya kalian perempuan, kalau saja laki-laki sudah saya aja berantem,” ujar Stanley lagi.

__ADS_1


“Santai Bro, mereka hanya takut,” Okan membela ketiga wanita itu.


Ketiga wanita itu akhirnya diam tidak berani menelepon polisi lagi. Okan membuka dompet membayar biaya perawatan.


“Kami buka perampok nona cantik,” ujar Okan, ia bergegas setelah serpihan peluru itu berhasil dikeluarkan dari lengannya.


“Kita mau ke mana?” tanya Stanley  sembari mengendarai mobil sport hitam itu.


“Antarkan saja Aku ke kantor.”


“Tap ini sudah malam. Hujan deras lagi.”


“Justru sudah malam, Saya yakin tidak ada orang lagi di sana,” ucap Okan.


“Kenapa tidak pulang saja ke apartemenmu?”


“Saya tidak ingin kedua orang itu mengetahui saya terluka.”


“Apa  kedua pengawalmu pasu-”


“Ya.” potong Okan dengan tegas.


Fudo dan Shin berasal dari perguruan Kuno dari Jepang, di mana mereka berdua disumpah untuk setia pada majikannya, kalau orang yang mereka jaga terluka maka mereka juga akan menyakiti diri mereka agar merasakan sama-sama sakit. Sebagai  satu bentuk kesetian.


“Baiklah, saya akan mengantarmu kesana.”


Akhirnya mobil mereka tiba di kantor Okan,  Okan menutup tangannya yang terluka, ia berjalan dengan santai menuju kantor.


“Eh, Pak Okan apa ada yang ketinggalan?” tanya  penjaga gedung.


“Ya Pak.” Okan berjalan dan menuju ruangannya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti di bagian staf saat ia melihat lampu masih menyala di ruangan tersebut. Ia berjalan  menuju dan terdiam.

__ADS_1


Luna tertidur di atas meja di depan laptopnya yang masih menyala, Okan tersenyum . Baru kali ia merasa sangat bahagia bertemu dengan seseorang, karena ia merasa tidak sendirian. Okan mengambil ponselnya dan mengambil gambar Luna yang tertidur .


Bersambung…


__ADS_2