Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Semakin Dikejar Bos Semakin Menjauh


__ADS_3

Luna tidak menyadari kalau ada banyak orang yang mengambil gambar dirinya, tetapi Sinar melihat.


“Waduh kenapa mereka semua jadi foto-foto Luna. Bagaimana kalau mereka menjualnya,” ujar Sinar sembari garuk-garuk kepala.


Tidak lama kemudian kerumunan itu semakin banyak, satu kantor Luna ikut menonton, Okan memasang tatapan sinis saat banyak laki laki yang berdecak kagum melihat Luna jago main voli.


Luna tinggal di tepi pantai di ujung timur Indonesia, jadi  main voli, berenang, sampai berselancar Luna sangat jago.


‘Apa dia tidak merasa risih melepaskan pakaiannya di depan banyak orang ‘ ucap Okan dalam hati.


Ingin rasanya ia datang ke sana lalu menyeret tangan Luna membawanya menjauh dari kerumunan pria yang menatap dengan tatapan kagum . Sinar menarik tangan Luna memintanya menyudahi pertandingan karena orang satu kantor mereka semakin banyak datang.


“Lun, ayo kita pergi dari sini,” bujuk Sinar melihat situasi yang semakin rame.


"Kakimu bekas pasang pen sudah kuat?"


"Sudah kok sin."


“Kenapa?” Luna menghentikan permainan.


Ia juga baru menyadari permainan bola voli  yang mereka lakukan jadi tontonan banyak orang, saat ia menoleh ke samping ada Bayu dan rekan-rekan kantor yang lainnya. Mungkin untuk sebagian orang berbikini di depan orang banyak akan jadi hal yang tabu .


Bara dan Bayu menatap Luna tanpa berkedip, mungkin mereka semua kaget kalau Luna ternyata memiliki  bodi yang seksi  bagian panggul padat berisi lingkar pinggang kecil dan dada montok hanya kulit Luna esotis. Tetapi itulah yang membuatnya menarik dan berbeda dengan gadis-gadis cantik lainya.


“Lun, sudah Ayo, ada Pak Okan di sini,” bisik Sinar melirik seorang  lelaki mengenakan kaca mata hitam  melipat tangan di dada lalu menatap tajam ke arah mereka.


“Aduh … kok jadi rame begini,” keluh Luna, ia ijin pada gadis-gadis bule yang jadi teman bermain  bermain Voli tadi. Luna memungut pakaiannya yang ia lepaskan tadi lalu meninggalkan pertandingan, ia selalu menghindar dari Okan.


“Ah … dia sudah pergi, gak seru,” ujar beberapa laki-laki,  lalu meninggalkan pertandingan lapangan voli, jelas sekali Luna yang jadi objek utamanya di sana.


Mereka berdua  masih berjalan menyusuri tepi, ternyata  Okan ingin mendekat Luna dan Sinar.


“Lun … jangan melihat ke belakang,” bisik Sinar.


“Kenapa?” tanya  Luna panik.


“Ada Pak Okan. Dengar ya Lun … kita berdua sudah sepakat hanya kamu dan aku selama  liburan di Bali. Tidak ada orang ketiga kamu tidak boleh mendua dariku,” ujar Sinar seolah-olah mereka berdua pasangan kekasih.


“Ih... kamu membuatku merinding, memangnya kita kekasih?” tanya Luna memasang wajah jijik sembari memeluk kedua lengannya.


“Ya kamu dan Aku, Selamanya kamu milikku,” ujar Sinar mencolok  matanya dengan dua jari, lalu mengarahkan ke Luna.


“Memangnya kamu Lesboong,” ujar Luna, ia mengejar Sinar mereka berdua berlari dan meninggalkan Okan di belakang.

__ADS_1


*


Luna dan Sinar ingin suasana  yang berbeda, tidak ingin berada di dekat orang-orang satu kantor, maka itu mereka berdua menjauh dari resort. Karena hari itu agendanya masih bebas  nanti malam baru ada game.


“Lun, bagaimana kalau kita sewa motor, kebetulan hotel menyewakan motor,” ujar Sinar.


“Oke, aku setuju,” sahut Luna.


Setelah  membayar satu motor kedua sahabat itu akan melancong  mengelilingi Bali menggunakan motor bebek. Luna yang membawa motor Sinar yang duduk manis di belakang, sesekali ia memeluk Luna dari belakang dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Luna,


Saat sedang berhenti di sebuah  pom bensin ternyata anak-anak kantor melakukan hal yang sama, mereka akan menonton pertandingan peselancar di pantai Wisnu Bali.


“Lun mau ikut juga?” tanya Bara,


“Ngapain tanya-tanya?” balas Sinar, setelah lelaki berkacamata itu menyebabkan Luna dalam masalah, ia sudah mencoret nama Bara dari basis pertemanan mereka.


“Ya Ela lu galak amat sih,” sahut Bara.


Luna hanya tersenyum kecil, sejak kejadian waktu itu Luna juga tidak pernah bicara lagi pada Bara. Namun kalau di sapa seperti itu ia menjawab dengan sopan.


“Memang kalian  mau kemana?” tanya Luna menata rombongan motor tersebut.


“ Raka ingin mengajak kita  menonton peselancar,” ujar Bara,


Ia menatap ke arah jalanan di mana kekasih Sinar yang bernama Raka itu sedang membonceng cewek dan wanitanya tak lain dan tak bukan dari Intan. Wanita jahat itu seolah-olah ingin memanas-manasi mereka berdua.


“Apa karena Raka?” tanya Bara  memancing emosi Sinar.


“Gak juga, gue mah biasa saja,” sahut Sinar.


“Kalau tidak apa-apa Ayo. Aku dengar Luna  bisa main selancar. Bagaimana kalau kita adu … jika kamu bisa  mengalahkan  Raka aku akan berikan ponselku untuk kamu,” tantang Bara.


Entah apa yang terjadi antara Raka dan Bara , tetapi kedua pria terlihat saling bersaing.


“Apa kamu cemburu karena dia bersama Intan?” tanya Sinar.


“Tidak juga,” sahut Bara, tetapi tatapan matanya berkata lain.


Melihat sikap Intan yang  seolah-olah  meledek  mereka berdua, Sinar malah menerima tantangan Bara. Ia  membujuk Luna untuk mengalahkan  sang kekasih dan mungkin sebentar lagi akan jadi mantan kekasih sama Sinar.


Saat keluar dari pom bensin mereka berdua berhenti pinggir jalan.


“Lun, bukan kamu bilang kamu jag main papan selancar?” tanya Sinar dengan wajah mengeras.

__ADS_1


“Ya … tapi kenapa?”


“Ayo kalahkan laki-laki kurang ajar itu,” desis Sinar dengan wajah geram.


“Ayo, tapi aku tidak punya papan.”


“Biar aku yang beli,” ujar Sinar.


Akhirnya mereka sepakat akan bertanding bermain selancar untuk mengalahkan Raka.


*


Di sisi lain Fudo dan Shin juga datang, kedua pria tangguh itu  hobi main selancar, mendengar ada turnamen selancar antara negara mereka berdua datang. Namun Okan menikmati pemandangan laut dari  jendela kamarnya. Saat sedang menyeruput kopi sebuah pesan masuk dari Fudo.


Ting!


Sebuah notification, masuk ke panel pesan, ia mengusap layar dengan malas.


[Bos, yakin tidak mau ikut  ke sini? Saya sudah beli papannya]


[Tidak, lagi malas]


[Bagaimana dengan ini …]


Fudo mengirim Luna memegang papan  menunggu giliran akan bertanding dengan Raka dan empat orang lelaki lainya.


“Sial.” Okan terbatuk saat lagi menyeruput kopi.


Lalu dengan cepat ia menekan tombol panggil le ponsel Fudo.


“Kalian dimana?” tanya Okan dengan  panik.


“Bos … kalau mau ke sini datang saja pantai  Teluk  disini ombaknya sangat bagus dan Luna …-”


“Saya bilang dimananya?” tanya Okan setengah menggertak.


‘Ya Ellah Bos … kalau berselancar di pantainya lah masa di atas bukit,” gumam Fudo.


“Fudo saya tanya di pantai mana?”


“Pantai Teluk Bos.”


“Jawab itu saja kamu susah bangat,” ujar Okan marah lalu mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Fudo diam. Ia memang selalu salah di mata Okan, Kenapa? Karena Fudo yang lebih  sering mengobrol dengan Okan.


Bersambung


__ADS_2